
Kacau! Gosip itu menyebar dan Matthew memberinya sebuah pilihan yang sulit. Logan kembali ke rumah dengan wajah lelah sambil mengacak-acak rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan itu. Rencananya, ia akan mengisap sebungkus rokok malam ini untuk mengenyahkan kegalauan.
Namun, ketika ia memasuki ruang tamu, ia tertegun. Seorang wanita duduk di salah satu sofa sambil nenyesap teh. Mengetahui keberadaan Logan, wanita itu berdiri sambil tersenyum.
Logan menghela napas panjang. Elina pasti sudah mengetahui semua yang terjadi hari ini berkat Matthew. Ah! Apa tidak cukup papa yang menginterogasinya? Sekarang, mamanya juga ikutan?
"Logan, kamu bersih-bersih dulu. Mama akan menunggumu. Ada yang harus kita bicarakan sekarang," kata Elina, lembut.
"Ma," desah Logan, memelas sambil berjalan menuju wanita paruh baya itu. "Apa tidak bisa kita bicaranya besok saja?"
Elina melirik ke arah lain seraya berpikir. Jika ia bisa menahan diri untuk membicarakan hal ini, untuk apa ia datang ke sini sekalipun sudah larut?
"Mandilah dulu." Elina tersenyum, meskipun terdengar lembut tapi penuh penegasan. "Kita bicara sekarang."
Pasti mau membujuknya untuk menikah dengan Anna? Kalau soal itu, sepertinya Logan sudah angkat tangan. "Ma, sebaiknya Mama bicara dengan Anna," sarannya seraya mengambil tempat duduk di samping Elina. "Aku tidak mempermasalahkan lagi keputusan papa. Tapi Anna sepertinya masih tidak setuju."
"Benarkah? Kamu tahu dari mana?" Elina mengernyit, menelengkan kepala.
Gadis keras kepala itu diajak pulang dengan mobil mewah Logan saja tidak mau, apalagi menikah dengannya?
"Tadi aku bicara dengannya," bohong Logan. Kenapa? Karena sebenarnya Logan ingin wanita itu segera pulang.
Sebenarnya, Logan memang tidak berminat menikah dengan Anna. Tapi, sekarang ia sudah pasrah. Tidak ada pilihan lagi baginya. Jadi, jika ingin membicarakan soal pernikahan, ia lebih baik menghindar.
"Oh, jadi begitu?" gumam Elina, setelah beberapa saat berpikir. "Tapi kamu yakin dia bilang begitu?"
Ternyata firasat wanita itu kuat sekali kalau Logan sedang berbohong. Tapi bukan berarti ia akan mengakuinya. "Mama sudah mendengar semua ceritanya dari papa, 'kan?"
"Em ... iya," sahut Elina mengangguk.
"Anna bahkan memberikan ide lain cara mempertanggung jawabkan bayi yang ada di dalam rahimnya," ujar Logan, provokatif.
"Ya, Mama tahu itu."
"Nah!" tukas Logan langsung. "Jadi, menurut Mama, siapa yang tidak setuju kami menikah?"
Entah Elina terpengaruh atau tidak, tetapi wanita tampak berpikir dulu, menelaah semua cerita Matthew satu per satu sebelum menyahut.
"Oke. Tapi, memang kamu setuju menikah dengannya?"
Pertanyaan menohok yang membuat Logan mati kutu. Tapi kalau boleh jujur, Logan terjebak di antara dua pilihan itu. Ia menolak pernikahan karena tidak mau menikah dengan wanita yang tidak dicintai, bukan karena menolak tanggung jawab pada bayi itu. Kalau saja Nina yang hamil, dengan senang hati ia mau bertanggung jawab.
Namun, ia terpaksa setuju menikah karena papanya. Jadi ia bingung apa yang harus dijawab. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menoleh ke arah lain sambil mendesah. Sementara itu, Elina menunggu jawaban dari Logan.
"Hmm? Nggak dijawab?" tagih Elina.
"Ma," Logan mendesah, menghela rambut depannya. "Bagaimanapun, aku tetap akan menikah dengannya."
Elina tersenyum puas mendengarnya, tak perlu meminta penjelasan lagi pada Logan. Teh yang tersisa di cangkir disesapnya dengan tenang. Tanpa ia tahu, Logan mengomeli dirinya sendiri di dalam hati. Menyesal juga akhirnya, mengatakan hal itu dengan terpaksa. Tumben sekali ia berkata tanpa dipikirkan lagi.
...🍀...
Karena tidak bekerja, Anna bisa bangun siang. Kehamilan ini membuatnya jadi malas untuk melakukan apa pun. Di rumah hanya ada Anna dan ibunya. Semua orang sudah melakukan kesibukannya seperti biasa.
Pada pukul 9 Anna baru bangun. Mama mengetuk pintu kamar, pasti untuk menyuruhnya sarapan. Akan tetapi, Anna tetap tidak mau beranjak. Ia membuka mata sejenak, lalu menjatuhkan kembali kepalanya ke bantal.
Namun, mama terus-terusan mengetuk pintu. Jiwa malasnya terusik. Ia mendecak, terpaksa menyingkirkan selimut.
"Iya, Ma! Kenapa?" Ia serunya, tapi masih duduk di ranjang.
"Itu ada tamu buat kamu!" sahut mama, berhenti menggedor pintu.
Anna membuka matanya lebar-lebar. "Tamu? Siapa?" gumamnya.
Mungkin Anna lupa kalau saat ini sedang hamil, main melompat dari ranjang dan berlari membuka pintu. Mama terkesiap sekilas saat pintu tiba-tiba terbuka.
"Siapa, Ma?" cecar Anna langsung.
"Nggak tahu." Mama menaikkan kedua bahunya, lalu turun ke bawah sambil berkata lagi, "Temuin orangnya, Mama buatin minum dulu."
Sambil berjalan menuruni tangga, Anna mengernyit penuh tanda tanya. Baru kali ini, ia mendapatkan tamu yang tidak dikenal mamanya. Apa debt colector? Nggak mungkin ah!
__ADS_1
Anna jadi penasaran, lantas bergegas ke ruang tamu. Akan tetapi, tidak jempui seorangpun di sana. Anna tercengang, menatap ke sekeliling sambil bergumam heran. "Mana orangnya? Kok nggak ada?"
Mungkin ada di teras depan? Ya, saat ia melangkah ke sana, memang ada seorang pria berseragam sopir. Pria berkulit sawo matang itu berdiri dan tersenyum saat Anna muncul dari balik pintu.
"Bapak siapa?" tanya Anna tercengang, alisnya naik sebelah.
"Saya sopir dari keluarga Jonathan. Nyonya Elina memerintahkan saya untuk membawa Anda ke kediaman keluarga Jonathan," jawab pria itu dengan senyum ramahnya.
Mata Anna membulat. Ke kediaman keluarga Jonathan? Seperti kena durian runtuh di siang hari. Tapi ada apa, ya? Kenapa mamanya Logan mencarinya?
"Eng ... sebentar, ya, Pak. Saya bersih-bersih dulu."
.
.
.
Ini rumah atau istana? Anna memandang takjub sejak kakinya melangkah masuk ke kediaman keluarga Jonathan. Sepertinya, rumah ini banyak kamar. Tapi, kenapa Logan tinggal di vila sendirian?
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, seorang pelayan berusia 40 tahuanan menyambutnya dengan senyum ramah sambil membungkuk. Anna tersenyum sungkan, mengganggukkan kepala dengan kikuk.
"Mari, Nona Anna. Saya akan membawa Anda menemui Nyonya Elina," katanya.
Nyonya Elina. Anna masih penasaran dengan wanita itu. Siapa dia? Ah, simpan saja pertanyaan itu nanti, sampai ia menemui sosok itu. Kini, ia mengikuti pelayan tadi, memasuki ruang tamu yang luasnya 3 kali lipat dari luas ruang tamu rumahnya.
Anna tercengang, melihat-lihat seluruh ruangan itu. Di tengah-tengah ruangan ada foto keluarga berbingkai besar. Ada sepasang suami-istri yang sudah tua, di mana ia mengenal sosok pria itu. Matthew, ayahnya Logan. Sedangkan wanita cantik yang duduk di sebelahnya pasti ibunya Logan. Sementara Logan, dia berdiri di belakang orangtuanya.
Keluarga yang sempurna. Pantas saja Logan tampan—dia memiliki orangtua yang cantik dan tampan. Anak yang lahir dengan perpaduan bibit yang sempurna. Ngomong-omong, apa anak ini juga akan terlahir tampan atau cantik?
Pikirannya sudah melantur ke mana-mana, apalagi sambil terpana oleh rumah bagai istana ini. Anna sampai tak sadar, bahwa si pelayan berhenti melangkah dan berkata:
"Nyonya sedang di dapur. Nona tinggal di sini, biar saya panggilkan Nyonya dulu."
Anna tertegun, sontak menatap pelayan itu dan mencerna kata terakhir yang didengarnya. Kalau tidak salah, wanita itu bilang kalau nyonya yang memanggilnya ke sini sedang ada di dapur?
"Maaf, Bu," panggil Anna, menghentikan langkah wanita itu.
"Bisa antarkan saya ke dapur?"
Wanita itu tidak bertanya, meski penasaran dengan maksud permintaan Anna. Namun pada akhirnya, ia mengangguk setuju, lalu mengantarkannya ke tempat di mana Elina berada.
Jarak antara dapur dengan ruang tamu cukup jauh karena sangking besarnya rumah ini. Anna sampai hampir lelah untuk mencapai ke sini. Untuk ukuran dapurnya, sangat luas sekali—mungkin tiga mobil muat masuk ke tempat ini. Anna dibuat terpana lagi karenanya, sampai ia bertatap muka dengan wanita paruh baya yang sedang mengaduk sup di dalam sebuah panci.
Sambil melangkah, Anna meneliti wanita paruh baya itu. Apa wanita itu yang bernama Elina? Rupanya mirip seperti wanita di foto tadi. Apa dia ibunya Logan?
Wah, Anna semakin kagum padanya. Selain cantik, Elina juga pandai memasak. Aroma sup itu yang dibuatnya menggiurkan—sepertinya rasanya enak, Anna jadi tidak sabar ingin segera mencicipinya.
"Nyonya, Nona Anna sudah datang," kata si pelayan, ketika sudah sampai di dekat Elina.
Elina meletakkan sendok supnya, berbalik seraya tersenyum pada tamunya. "Halo Anna," sapanya.
Anna tersenyum canggung. "Selamat pagi, Nyonya." Lantas, dihampiri Elina.
"Kamu duduk saja dulu di sana. Saya akan membersihkan diri dulu," kata Elina, suaranya lembut dan tenang. Selain itu, gerakan yang dilakukannya sangat anggun.
"Memangnya, sudah selesai masak?" tanya Anna, tertegun.
"Hampir. Tapi karena kamu sudah datang, biar sisanya pelayan saja yang menyelesaikan."
Anna manggut-mangut. Elina mempersilakan dirinya untuk duduk di sebuah kursi yang ada di meja, yang terdapat beberapa bahan makanan yang belum diolah. Elina duduk di depannya, mengulurkan tangan pada Anna.
"Saya Elina, ibunya Logan," kata, memperkenalkan diri.
Anna meraih tangan wanita dengan segan dan menjabatnya. Ia terpana karena tangan Elina begitu halus. "Saya Anna. Kalau boleh tahu, kenapa Anda mengundang saya ke sini?"
"Langsung saja, ya, Anna," ujar Elina tanpa basa-basi. "Saya sudah tahu soal kejadian di kantor, yang akhirnya kehamilan kamu terungkap. Suami saya pasti sudah membicarakannya pada kamu dan Logan. Dan saya ingin membahasnya lagi dengan kamu, karena saya dengar kalau kamu menolak menikah dengan Logan."
Anna tertunduk, menatap cangkir teh yang baru saja dihidangkan oleh pelayan. Elina meliriknya, mengerti bahwa mungkin gadis itu merasa enggan untuk membicarakan hal yang membuat hatinya terluka.
"Anna, silakan minum tehnya," kata Elina kemudian, merentangkan tangannya sedikit ke arah cangkir. "Kamu tak perlu bicara sekarang. Tenangkan diri kamu dulu. Kalau sudah siap, kamu boleh bicara."
__ADS_1
Sebenarnya, Anna sama sekali tidak ingin minum teh. Namun, demi menghormati tuan rumah, Anna mengangguk menginyakan, lalu menyesap tehnya sedikit. Elina juga meminum tehnya sambil menunggu Anna angkat bicara, meskipun cukup lama gadis itu membuka mulut.
"Maaf, Nyonya," ucap Anna pelan, jemarinya mengusap telinga cangkir dengan hati bimbang dan gelisah. "Saya memilih keputasan seperti itu karena ada rintangan di antara kami."
Rintangan? Elina mengernyit. "Apa maksud kamu perbedaan keyakinan, lalu kalian tidak saling mencintai? Apa itu yang kamu risaukan?"
Semua yang disebutkan tidak perlu dibantah. Anna sendiri mengangguk, membenarkan faktor-faktor itu. Elina berpikir sejenak, lalu mengangguk paham.
"Oke. Tapi, apa kamu sudah memikirkan ini masak-masak?" tanya Elina mulai serius.
"Saya sudah memikirkannya, Nyonya". Anna menunduk sambil tersenyum pahit. "Meskipun sulit menjadi seorang ibu tunggal, tapi saya akan berusaha."
Elina speachless sesaat. Ucapan ini seperti membawanya pada masa lalu. Cukup lama baginya berada dalam lingkaran lintas kenangan itu sambil menatap Anna.
"Bagaimana dengan orangtua kamu?" tanya Elina, kemudian.
Anna terhenyak. Hal itu pernah ia pikirkan, tetapi belum ada keputusan pasti akan langkah yang diambilnya. "Mereka belum tahu. Saya akan memberitahukan semuanya nanti."
Elina tak bicara lagi untuk beberapa saat. Matanya yang indah, dengan bulu mata lentiknya, menatap ke arah panci sup, merenungi lintasan kenangan yang berputar di otaknya. Bibirnya yang merah muda itu bergumam, melantunkan sepenggal kisah.
"Saya dan suami dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis. Sosok ayah yang sangat mengecewakan, membuat kami tumbuh jauh dari kebahagiaan."
Anna mendongak, menatap wajah Elina dengan mata membulat. Ia tertegun dan merasa sedikit tertarik pada ceritanya itu. Lantas, beringsut menghadapnya, melipat kedua tangannya di meja.
"Makanya, kami bertekad untuk memberikan kebahagiaan untuk anak kami kelak. Meskipun suami sibuk, dia tetap memberi perhatian pada putra kami, menghabiskan waktu bersama, dan bergantian mengasuh. Kami berpendapat, bahwa kasih sayang dari orangtua lengkap sangat berpengaruh bagi perkembangan anak."
Elina menoleh seraya tersenyum. Dia berhasil memengaruhi Anna. Gadis itu termenung sambil memikirkan ucapannya, dan membandingkan kehidupannya dengan orangtua lengkap yang sama-sama memberinya kasih sayang.
Meski tumbuh jadi gadis keras kepala, Anna hidup dengan baik dan bahagia tanpa kekurangan. Namun....
"Nyonya, maaf. Saya tahu kalau Anda ingin saya menikah dengan Logan, tapi masalahnya kami berbeda keyakinan," lirih Anna, mengingatkannya kembali pada rintangan lainnya.
"Perbedaan keyakinan bukanlah masalah berat untuk membuat dua insan menyatu," timpal Elina.
Anna menelan air liurnya. "Tapi, sejak awal Logan tidak menginginkan anak ini." Ia menunduk, mengelus perutnya yang masih rata dengan mata menyendu. "Kasihan anak ini. Dia hanya akan mengenalnya sebagai ayah, tetapi dia tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang darinya."
Elina tidak berkata apa pun setelah mendengar ucapannya. Semua pembicaraannya dengan Anna siang ini diceritakan pada Matthew ketika mereka akan beranjak tidur.
"Bagaimana pendapat Papa?" tanya Elina.
Matthew sejak awal mendengarkan, termenung sambil berpikir. Tak disangka Anna begitu keras kepala. Tapi ia tak menyalahkan alasan Anna, karena kemungkinan hal itu pasti terjadi. Kasihan bayi itu kalau Logan tak menyayanginya.
Ia menghela napas panjang, memijat keningnya dan memejamkan mata. "Entahlah."
...🍀...
Sudah hari Sabtu, biasanya rumah akan ramai karena seluruh anggota keluarga ada di rumah. Pagi-pagi, mama sudah memasak. Anna sampai terbangun mencium aroma rendang dari lantai atas. Akhirnya, ia turun ke bawah, ingin menghampiri mamanya ke dapur.
Namun, langkahnya menuruni anak tangga terhenti. Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Elina waktu itu muncul dalam benaknya.
"Kapan aku bisa memberitahukan pada Mama dan Ayah? Aku takut, penyakit Mama akan kambuh karena syok mendengar kehamilanku."
Air mata menggenangi pelupuk matanya. Entah mengapa ia jadi cengeng begini? Bahkan, bergelayut manja, memeluk mamanya dari belakang.
"Anna!" seru mama, tersentak. "Bikin kaget Mama aja."
Anna terdiam beberapa saat. Percuma menyeka air matanya, kalau menggenang lagi di matanya.
"Ma ...," lirihnya kemudian.
"Hmm...."
"Ma ... af." Suaranya tiba-tiba tercekat karena isakan yang ditahannya.
"Ngomong apa sih?" protes wanita itu, jengkel.
"Nggak ada." Anna buru-buru menjauh, mengelap air matanya, dan berusaha bersikap biasa.
Adnan tergesa-gesa memasuki dapur, membuat mama dan Anna tercengang. "Ma, Kak. Ada tamu," serunya.
Tamu? Di pagi ini? Setelah mematikan kompor, Anna dan mama keluar dapur menuju ruang tamu. Di sana ayah dan Tasya sedang duduk berhadapan dengan Tuan dan Nyonya Jonathan, serta Logan.
__ADS_1
Jantung Anna berdetak tak keruan, sampai rasanya ingin copot. Kedatangan mereka merisaukan hatinya, meski belum tahu apa tujuan mereka.[]