Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Terjerat


__ADS_3

Logan merutuk dalam hati, tapi tak bisa menyalahkan Mr. Morelli yang ingin bertemu. Bagaimanapun juga, ia harus profesional dalam pekerjaannya, meskipun harus mengorbankan rencana yang buatnya.


"Logan, ada apa?" tanya Anna, matanya membulat, heran.


"Mr. Morelli ingin bertemu di kamar hotelnya, tapi hanya berdua. Nggak apa-apa kan kalau aku pergi ke sana?" kata Logan, antara kesal dan kecewa.


Anna menggeleng seraya tersenyum simpul. "Nggak apa-apa. Ya udah, pergi aja."


"Aku akan mengantarkanmu ke hotel dulu, baru aku pergi ke sana."


Saran bagus yang langsung disetujui oleh Anna dengan anggukkan kepala. Logan mengantarkan Anna bahkan sampai di depan kamar mereka, lalu bergegas pergi ke kamar hotel Mr. Morelli, yang bedanya hanya satu lantai saja.


Logan mengetuk pintu kamar yang ditempati Mr Morelli, lalu seorang pelayan muncul di balik pintu untuk menyambutnya masuk ke dalam kamar. "Silakan masuk, Tuan. Anda sudah ditunggu di dalam," kata pelayan itu seraya merentangkan tangan.


Sebelum melangkah masuk, Logan melongok sedikit ke dalam. Lampu bercahaya temaram yang terasa mencurigakan. Namun, ia enyahkan dugaan buruk itu, meskipun langkahnya agak waspada.


Ia dituntun ke sebuah ruang tidur. Matanya mendelik. Alih-alih mendapati Mr. Morelli, justru yang ditemuinya adalah Nina.


Gadis itu duduk di sebuah sofa tunggal, menyilangkan kaki sambil memegang gelas wine. "Hai, Logan," sapanya, tersenyum sensual sembari mengangkat gelasnya.


Tidak seperti yang diharapkan, Logan menanggapinya dengan dingin. "Apa-apaan ini, Nina?" tanya, suaranya dalam dengan geram tertahan.


"Kenapa?" Nina meletakkan gelasnya, ekspresi polosnya sengaja menggoda Logan. Kemudian, dia beranjak mendekati pria itu, berkata seraya mengelus lembut pipi Logan. "Aku sengaja datang ke sini untuk menikmati waktu romantis kita."


Logan risi, menjauhkan wajahnya dari sentuhan jemari Nina dengan dahi mengernyit tak suka. Nina tertegun dan kecewa, tetapi tak menyerah untuk menaklukan Logan.


"Logan, aku tahu kamu marah karena aku berbohong," ucap Nina, kepalanya disandarkan ke dada bidang Logan. "Tapi, aku lakukan itu untuk memberikan kejutan buat kamu."


"Nina, please!" desis Logan, tak tahan lagi mengeluarkan kekesalannya. "Aku—"


Bagaimana mau mengatakannya, jika hati merasa tak tega. Niatnya untuk mengungkapkan tentang pernikahannya dengan Anna hanya sekadar ucapan. Hatinya mempertimbangkan kemungkinan yang Anna katakan pada Logan soal nyawa Nina yang terancam jika hal itu dilakukannya.

__ADS_1


Logan menghela napas, lalu berbalik pergi daripada mulutnya keceplosan. Namun, Nina tak rela. Gadis itu secepatnya meraih pinggang Logan, memeluknya erat dari belakang seakan tak ingin melepaskan pria itu.


"Logan, aku sengaja ke sini untuk bertemu denganmu. Apa kau tahu, aku sangat sangat merindukanmu. Please, jangan marah. Please, stay with me," mohon Nina, merayunya dengan memelas dan isakan kecil.


Berhasil? Tentu! Logan akhirnya menyerah, tapi bukan karena rayuan, lebih karena kasihan. Dekapan tangan Nina di pinggangnya ia hela pelan. Langkahnya diseretnya dengan malas ke arah sofa, terpaksa ia ladeni apa maunya gadis itu.


Nina tersenyum senang sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan Logan. Lalu, ia menjetikkan jari, seketika pelayan tadi datang menghampirinya.


"Tolong tuangkan wine-nya untuk kami!" perintahnya.


Pelayan itu dengan sigap melakukan perintahnya, sekalian menghidangkan makanan yang telah dipesan Nina sejak tadi. Nina mengangkat gelasnya, menyerukan agar mereka bersulang. Meski malas, Logan melakukan keinginan Nina itu.


"Cheaaaars!" seru Nina, lalu meneguk wine setelah mereka saling membenturkan gelas.


Aroma wine yang sedap menyeruak hidung Logan, tapi tak membuatnya tergoda. Ia hanya menyeruputnya sedikit, ia tidak akan menenggaknya lebih dari satu gelas.


"Logan, aku senang karena kita bisa menikmati makan malam yang pernah kita lakukan dulu," ucap Nina setelahnya. Lalu, ia memajukan badannya, memangku dagu dengan kedua punggung tangannya, membuat pose imut. "Karena sekarang kita ada di Bali, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan."


Sudah cukup! Detik ini juga, Logan berhenti meladeni gadis ini. Tanpa kata, Logan beranjak, tetapi ia membeku, lalu terhuyung sambil memegangi kepalanya.


Pusing! Entah kenapa tiba-tiba kepalanya terasa berat.


"Logan, kau kenapa?" tanya Nina, cemas, seraya mendekati Logan.


Pria itu mencoba membuka matanya, tetapi pandangannya kabur. "Tidak apa-apa, i'm ok..." jawabnya terputus-putus sambil mengibas-kibaskan tangannya ke arah Nina.


Entah ada apa ini, rasanya sulit untuk membuat mata tetap terbuka. Tubuhnya juga seakan terasa melayang dan hampir jatuh, jika saja tidak sigap berpegangan pada meja.


Nina merangkul lengan Logan, membantunya untuk duduk kembali ke kursi. Akan tetapi, Logan menepis tangan itu dengan kasar, kemudian mencoba berjalan dengan sisa kesadaran yang tinggal sedikit.


Sia-sia, baru tiga langkah, Logan sudah terjatuh tak sadarkan diri di atas karpet berludru berwarna merah. Gegas, Nina menghampirinya, membalikkan tubuh Logan yang tertelungkup.

__ADS_1


"Logan, Logan, bangun!" seru Nina pelan, menepuk ringan pipi pria itu. "Hmm! Dia sudah pingsan."


Senyuman misterius di bibir Nina terulas. Ia mendongak, melihat pada pelayan tadi, dan memerintahkannya untuk membawa Logan ke ranjang sendirian.


Logan dibaringkan di ranjang itu, lalu Nina duduk di sampingnya. Tangan mungil yang lincah menari di atas tuts piano itu diarahkan ke pipi Logan, mengelusnya lembut sembari perlahan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Logan.


"Logan, aku tidak akan melepaskanmu. Aku sangat mencintaimu," bisiknya, jari telunjuknya menyentuh bibir Logan.


Nina tergoda, apalagi teringat pada sentuhan bibir Logan yang menghanyutkannya. Ia ingin merasakannya lagi, meskipun Logan dalam keadaan tidak sadar. Ia mulai bergerak, mengarahkan bibirnya ke bibir Logan.


"Anna...." Igauan Logan membuat Nina mematung. Di saat seperti ini, bisa-bisanya Logan menyebut nama wanita lain? Nina mengigit bibir bawahnya, meremas selimut dengan kemurkaan yang membara dalam hati.


"Logan, tidak ada yang boleh memilikimu. Hanya aku yang boleh!"


...đź’Ť ...


Sudah pukul 10 malam, Anna masih terduduk di ranjang, berselimut sambil menghitung detik yang terlewat pada jam dinding. Ia melirik pada ponselnya, menunggu sebuah pesan atau telepon dari suaminya.


Resah? Pasti. Pasalnya, sudah cukup lama Logan belum juga kembali. Apa ada kendala dengan kerjasama yang telah disepakati Logan dengan Mr. Morelli?


Anna mengatupkan mulutnya, cemas. "Semoga kontrak kerjasamanya tidak dibatalkan," gumamnya.


Mulut Anna menguap lebar. Sebetulnya, matanya memang sudah lelah sejak tadi. Namun, ia bersikeras untuk menunggu Logan pulang. "Lama nggak, ya, pulangnya?"


Kemudian, ia menguap lagi setelah bergumam. Anna melipat kedua tangannya, kemudian termenung. Ia putuskan untuk menunggu pria itu. Dan caranya adalah dengan memutar kilas balik semua yang terjadi beberapa hari belakangan ini.


Dimulai dari sikap aneh Logan di ruang dokter kandungan. Tiba-tiba, ia tersenyum malu. Kenapa pria itu tiba-tiba melakukan hal itu? Sikap perhatiannya lucu, tapi terlihat manis meski sikap dinginnya masih ada.


"Logan, kenapa kamu melakukan semua itu? Nggak mungkin kan kamu...." Ia tercenung, wajahnya muram.


Tidak mungkin Logan mulai menaruh hati padanya. Tidak mungkin! Ia tak mau mengharapkan hal seperti itu. Logan mungkin masih memiliki sisa rasa pada Nina. Hubungan mereka juga baru berjalan selama 2 bulan. Mana mungkin bisa mengalahkan hubungan Logan dan Nina yang sudah terjalin selama 3 tahun?[]

__ADS_1


__ADS_2