
Apa ini? Semalam mereka melakukan itu?
Anna terbangun di pagi hari dengan tidak percaya. Tubuhnya ditutupi oleh selimut, tercengang melamunkan kejadian tadi malam.
Logan ... benarkah dia melakukan semua itu dengan sadar? Dan kenapa ia terbuai untuk melakukannya juga?
"Aku pasti sudah gila," guma Anna bergidik.
Suara gesekan selimut menghentakkannya. Perlahan, ia menoleh pada Logan yang masih tertidur dengan posisi menghadap ke arahnya. Pria itu ... atas dasar apa melakukan semua ini? Kenapa tiba-tiba? Bukankah dia tidak mau menyentuhnya?
Sudah Subuh, waktunya bangun. Seperti biasa, Anna mandi, shalat, dan mempesiapkan pakaian Logan untuk ke kantor. Meskipun tak banyak yang dilakukan, Anna tetap membantu pelayan untuk menyiapkan sarapan pagi.
Sekiranya pukul 6, Logan bangun. Ia tak terkejut jika Anna sudah tidak ada di sampingnya. Namun, ia tersenyum karena mengingat kejadian tadi malam. Meski terlambat, ia menyadari bahwa seperti inikah rasanya menjadi pengantin baru?
Logan tak mau berlama-lama stay di tempat tidur karena akan ada banyak pekerjaan menanti di kantor. Akan tetapi, ia akan terus larut dalam kebahagiaan ini dan mengenangnya sepanjang hari.
Anna masuk ke dalam kamar sebab baterai ponselnya tinggal sedikit. Eits! Kakinya tiba-tiba berhenti di batas ambang pintu, lalu berbalik resah.
"Apa Logan sudah bangun? Biasanya jam segini dia masih mandi," gumamnya cemas. Tubuhnya menegak, ekspresi cemas tadi menghilang seketika. "Ih! Kenapa harus takut? Kan cuma mau nge-charge hape?"
Dengan berusaha bersikap tenang, Anna berjalan masuk ke dalam ke kamar. Ia menghela napas lega karena Logan ternyata masih di ruangan tidur yang terpisah. Sebelum pria itu keluar, Anna mencari charger-nya di seluruh ruang itu.
Ah, sial! Ia lupa kalau charger-nya ada di dalam ruang tidur. Bagaimana ini? Apa ia akan mengambilnya atau nanti saja charge ponselnya?
Ya, nanti saja! Anna memantapkan hati. Ia pun berbalik, akan menuju ke arah pintu keluar. Namun, pintu ruang tidur terbuka, Anna pun mendelik dan tak bergerak. Lalu, terdengar suara seruan Logan.
"Anna? Kamu lagi ngapain?"
Anna menghela napas sambil memelas. Terpaksa ia harus berbalik untuk berhadapan dengan Logan. Apalagi, pria itu tengah menghampirinya sambil menenteng tas dan jasnya.
Anna tersenyum paksa. "Kamu udah selesai berpakaian?" tanyanya, berusaha tidak kikuk. "Ah, dasi kamu kok miring gitu?"
__ADS_1
Logan melirik ke arah dasinya. Seingatnya, ia memakai dasinya sudah betul kok letak. Ia tak menyadari bahwa Anna yang sangking gugupnya, jadi salah tingkah. Anna berpura-pura membetulkan letak dasi yang sudah benar, lalu menegak sambil tersenyum aneh.
Anna melihat tas dan jas Logan yang sedang ditentengnya. Lalu, Anna meraih jas itu, langsung memakaikannya pada Logan. Gelagat yang aneh, tapi membuat Logan tersenyum akhirnya. Apalagi, ia bisa puas memandang wajah Anna yang tengah merapikan jasnya yang sudah terpasang. Pulasan make-up tipis itu membuat Anna terlihat cantik seperti biasanya.
"Sudah," gumam Anna, menempelkan telapak tangannya di dada Logan, tetapi tidak berani memandangnya.
Tatapan Logan terhadapnya masih belum lepas, menimbulkan gejolak tak biasa dalam dirinya. Tangannya mulai merayap ke pinggang Anna, lalu menghela lembut tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.
Anna terhenyak, spontan mendongak. Semakin tak terkendali perasaan gugup ini, ditambah detak jantung yang semakin kencang. Ia tahu pasti akan terjadi sesuatu di antara mereka, tetapi sisi lain di otaknya berusaha menyangkal.
Logan mendekati wajahnya ke arah wajah Anna yang membeku. Sasaran lirikannya pada bibir ranum merah jambu milik istrinya. Perlahan, jaraknya semakin dekat. Anna menunggu dengan gugup; matanya terpejam, dan kedua tangannya terkepal. Sedikit lagi, bibir Logan akan menyentuh bibirnya. Namun....
Logan menggerutu, ponselnya yang berdering mengganggu di saat seperti ini. Anna menghela napas lega, walaupun tak bisa dipungkiri bahwa ia sempat merasa kecewa.
Anna meraih tas Logan, dan akan beranjak keluar kamar sesudah berkata, "Aku turun duluan, ya."
Logan hanya mengangguk, lalu membelakanginya sambil berbicara dengan sekretarisnya. Anna turun ke ruang makan, kedua mertuanya telah berada di sana sambil menunggu anak dan menantunya bergabung dengan mereka.
Keduanya menoleh seraya tersenyum dan membalas sapaannya. Elina yang tengah mengisi piringnya dengan nasi goreng putih, lantas bertanya padanya. "Logan masih di kamar?"
"Iya, Ma," jawab Anna, meraih tempat duduk yang berhadapan dengan ibu mertuanya. "Dia lagi menjawab telepon."
"Pagi-pagi dia sudah sibuk. Telepon dari siapa?" tanya Matthew, menggeleng heran.
"Nggak tahu, Pa. Tapi, kayaknya penting."
Orang yang dibicarakan oleh mereka memasuki ruangan. Logan tersenyum pada Anna, menyapa kedua orangtuanya, lalu duduk di samping Anna.
"Anna," kata Logan, sementara istrinya mengambilkan makanan untuknya. "Aku ada pekerjaan di Bali. Jadi, bereskan barang-barangmu, aku mau kamu ikut."
Tumben. Anna menoleh dengan mulut setengah terbuka. Bukan hanya gadis itu, kedua orangtuanya juga tercengang.
__ADS_1
"Kamu mengajak Anna?" tanya Elina, hampir tak percaya kalau Logan seperti ini pada Anna.
"Iya, kenapa? Bukannya usia kandungannya sekarang masih aman untuk berpergian dengan pesawat, 'kan?" tanya Logan, matanya membulat polos.
Sepertinya, ia tidak menyadari arti dari pertanyaan ibunya, yang bernada sarkas. "Iya ... nggak apa-apa sih?" jawab Elina ragu sambil melirik suaminya sekejap. "Ya ... cuma tumben aja."
Di sinilah Logan baru menyadari maksud ibunya. Sontak, ia jadi tersipu dan salah tingkah, apalagi melihat kedua orangtuanya yang diam-diam tersenyum geli melihat tingkah tak biasanya ini.
"Ya ... memangnya salah kalau saya mengajak Anna? Hitung-hitung sekalian jalan-jalan. Anna belum pernah pergi ke Bali, 'kan?" kata Logan, gugupnya tidak terlalu kentara.
"Sering," sahut Anna, santai, sesudah satu suapan habis dalam mulut. "Waktu kerja di perusahaan lama, sudah beberapa kali ke Bali untuk melakukan perjalanan bisnis dengan bos saya."
"Wah, benar kah?" seru Elina, takjub, sementara Anna hanya tersenyum.
Merasa kalah, Logan tetap tak mau menyerah. "Tapi, kan itu perjalan bisnis. Aku mau sekalian bawa kamu jalan-jalan."
Ya, ya. Anna terkekeh melihat pria itu ngotot, meskipun tidak tahu apa tujuannya. "Baiklah, aku akan ikut. Jadi, kapan kita berangkat?"
"Hari ini!" sahut Logan langsung karena sangking semangatnya.
Anna menoleh dengan mata membulat. "Hari ini? Mendadak banget?"
"Ya, aku dapat infonya tadi," jawab Logan tenang dan santai sambil menyendokkan nasi. "Karena investornya akan kembali ke Italia besok pagi, jadi aku harus pergi ke sana sekarang."
"Kenapa nggak suruh Gery aja. Dia kan lagi ditugaskan di Bali, 'kan?" timpal Matthew, merasa tak sepaham dengan sikap investor itu.
Logan menghela napas dengan wajah memelas. "Jika semudah itu, aku tidak akan repot-repot ke sana," sahutnya. "Mr. Morelli hanya ingin menemui aku, dan tak boleh diwakilkan."
"Ya, kalau memang seperti itu, mau tidak mau kamu harus menunjukkan keprofesionalan kamu," ujar Elina, mendukung.
Anna juga setuju, meski masih canggung berduaan dengan Logan karena kejadian semalam. "Ya udah, habis makan aku akan siapkan pakaian yang mau dibawa," katanya, beberapa saat terdiam.
__ADS_1
Diam-diam Logan memalingkan wajah, tersenyum sambil bersorak dalam hati. "Yes! Honey moon kedua!"[]