Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Terjerat 2


__ADS_3

Logan tersentak, lalu mengernyit begitu merasakan kepalanya sakit. Ia melihat ke sekeliling kamar, bau alkohol yang menyengat membuatnya sontak menutup hidung.


"Apa yang terja ... di?" Ia mendelik, menyadari bahwa dirinya sudah tidak berpakaian. Ia menemukan pakaiannya berserakan di lantai. "Apa yang terjadi? Apa yang ... terjadi?" gumamnya panik, merasa ada yang salah.


Logan berusaha mengingat kejadian semalam, tetapi sulit sekali untuk memutar ingatan itu di saat kepalanya masih sakit. Suara pintu terbuka, membuatnya sontak menoleh ke arah itu. Ia melihat Nina keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh terbalut oleh piyama mandi warna merah muda dan rambut yang basah.


Logan tercengang, sekelebat ingatan langsung muncul di dalam otaknya. Memori di mana ia datang ke kamar ini, minum segelas bersama dengan Nina, lalu jatuh tak sadarkan diri. Sudah, tidak ada ingatan lainnya.


Nina tersenyum lebar, seakan telah terjadi sesuatu yang membahagiakan dalam hidupnya. "Pagi, Sayang? Kamu sudah bangun?"


Logan terus memandang Nina sambil mengernyit. Gadis itu membuatnya tidak nyaman, apalagi saat Nina menyandarkan kepalanya di bahunya. Sontak, Logan menjauhkan diri, dan Nina kecewa dengan penolakan itu.


"Apa yang terjadi semalam? Kau menjebakku?" tanya Logan, setengah berteriak marah.


"Kau tidak ingat, Sayang? Semalam itu, kita berdua telah jadi pasangan yang sempurna. Kau telah memilikiku seutuhnya," jawab Nina, tersenyum malu dengan hati yang berbinar.


"Apa maksudmu?" tanya Logan, syok, tapi masih berusaha menyangkal bahwa yang dipikirkannya tidak sama dengan yang dimaksud oleh Nina.


Namun sayangnya, perkiraannya benar! "Baiklah kalau kau tidak mengingatnya," sahut Nina, jantung Logan mendadak berdebar hebat melihat senyuman sensual gadis itu.


Nina beringsut maju ke depannya. Jari telunjuknya di arahnya ke dadanya, membelai lembut dari dada hingga ke perut Logan yang berkotak-kotak.


"Semalam, kita melakukan hubungan intim selayaknya pasangan suami-istri."


Logan kaget bukan kepalang. Katakan, apa yang diucapkan Nina bohong, 'kan? Tidak mungkin mereka melakukan itu semalam. Buktinya, tidak ada ingatan kejadian semalam dalam benaknya.


"Kau bohong," gumam Logan syok, terus-menerus, hingga akhirnya ia menjerit marah. "KAU BOHONG!"

__ADS_1


Nina mendekat dan meraih pinggang Logan untuk dipeluknya. "Itu benar, Sayang—"


"Hentikan!" sergah Logan, menghela Nina. "Aku yakin, semalam kita tidak melakukannya!"


"Mana mungkin kau ingat, kau sendiri dalam keadaan mabuk," bantah Nina cepat, dan Logan praktis menoleh padanya dengan dahi mengernyit kesal.


"Aku cuma minum segelas," balas Logan, suaranya parau dan dalam. Dan ketika ia menyadari sesuatu, matanya menyipit tajam. "Apa kau menjebakku?"


Nina mendelik, wajahnya memucat. Tatapannya goyah, lalu memalingkan wajah. "Apa maksudmu...?"


Ucapan yang menggantung itu membuat Logan yakin. Kemurkaannya membuat Logan tak lagi bersikap lembut. "Kau, pasti memasukkan sesuatu ke dalam minumanku supaya aku tak sadarkan diri. Ya, 'kan?"


Bibir Nina dikatupkan rapat, enggan menatap Logan. "Mana mungkin aku melakukan hal itu. Kau lihat sendiri 'kan? Aku juga minum anggur yang sama denganmu, tapi aku tidak mabuk. Mungkin ... kau minum wine di tempat lain. Makanya, kau jadi mabuk," sangkalnya kikuk.


Ya, Logan ingat telah minum 2 gelas wine di restoran saat makan malam dengan Mr. Morelli. Tapi, keadaannya saat itu masih 100% sadar dan tidak mabuk.


"Apa kau yakin?" tukas Nina, cepat menoleh pada Logan. "Kau saja tidak ingat telah memperkosa Anna—" Gadis itu tersentak dengan mulut ternganga dan mata mendelik.


Logan mengernyit, lalu dugaan lainnya muncul. "Kau ... bagaimana kau tahu soal itu?" tanyanya dengan tatapan curiga. "Apa kau ... sudah ingat semua masa lalumu?"


Nina tak bisa menghadapi Logan lagi. Tak sanggup baginya untuk berkata, apalagi menatap pria itu. Terdiamnya Nina, bagi Logan sudah cukup membuktikan dugaannya itu.


Sungguh kecewa! Logan beranjak sambil menutupi tubuhnya dengan selimut, memungut semua pakaiannya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian, ia keluar dari sana dengan sudah berpakaian. Nina yang sedang meratapi diri di ranjang, bergegas menghampiri Logan dan memeluknya. "Logan, please! Jangan pergi." Nina memelas, terdengar suara isakan—entah itu sungguhan atau dibuat-buat.


Kemurkannya tak bisa diluluhkan oleh apa pun. Dihempaskan tangan Nina yang melingkar di pinggangnya dengan kasar. "Ini terakhir kalinya kita bertemu. Mulai detik ini, jangan pernah memperlihatkan wajahmu di hadapanku!" gumamnya dengan geram tertahan.

__ADS_1


Hatinya bagai terhantam oleh suatu hal, Nina bergeming dengan mata mendelik. Sebegitu marahnya Logan, sampai dia tak ingin melihat Nina lagi? Ia jatuh terduduk.


Logan tega pergi meninggalkannya dan membiarkannya dalam seperti itu. Derap langkah Logan kencang menjauhi kamar itu. Namun, lambat laun laju jalannya memelan, kemudian berhenti. Tubuhnya terhuyung begitu saja, bersandar pada tembok, mengepalkan tangan, lalu meninju tembok itu sambil berteriak keras.


Gadis yang ia kenal baik, ternyata melakukan hal seperti ini. Benar-benar tidak disangka olehnya. Ia begitu murka. Kenapa ia bisa terjebak dalam kebohongan Nina? Karena hal itu, ia membuat Anna menderita, membiarkannya sendiri, melihat dirinya dirangkul mesra oleh Nina.


Logan menghela napas sambil memegangi keningnya. "Mungkin memang karena salahku. Aku telah menyakiti kedua wanita itu," gumamnya.


Lantas, sekarang bagaimana caranya ia bisa menghadapi Anna? Semalaman ia tidak pulang. Apa Anna akan marah padanya? Ia pasrah. Mau tidak mau ia beranjak dari tempat itu menuju kamarnya sambil pelan-pelan mencari sebuah alasan.


Akhirnya, ia sampai di depan kamarnya. Tangannya memegang sebuah kartu, akan ditempelkan di dekat alat pindai yang ada di atas knop pintu. Namun, ia mematung, urung untuk masuk seperti seorang pria yang takut pada istrinya.


Ini sudah pukul 6 pagi, Anna pasti sudah bangun. Jika dia menemukannya dalam keadaan begini, pasti dia akan bertanya-tanya.


"Tapi, dia bakal marah, nggak ya?" gumamnya cemas. "Ah! Kenapa harus takut? Dia pasti juga tidak akan peduli aku pergi ke mana semalam."


Ya! Logan pun memutuskan untuk masuk dengan keberanian yang menggunung. Jika Anna bertanya, ia sudah punya alasannya. Akan tetapi, semua hal kata-kata yang dipersiapkannya tak jadi dikeluarkannya. Karena, saat ia melangkah menuju ruang tidur, Logan menemukan Anna masih terbaring di ranjang.


Logan tertegun, langkahnya memelan menghampiri ranjang. Sejenak, ia berdiri di sana, memperhatikan Anna yang sedang terlelap. Ia menghela napas, agak melegakan jika Anna belum bangun.


"Tapi, kok tumben masih tidur?" gumamnya kemudian, curiga. "Apa dia ketiduran dan melewatkan solat Subuh? Atau dia sudah bangun, tapi tidur lagi habis solat?"


Dugaan Logan yang terakhir membuatnya bergidik. Jika benar begitu, ia harus mempersiapkan alasan yang tadi dipikirkannya kalau Anna bertanya nanti.


Logan berlutut di samping ranjang, matanya menyendu dan wajahnya memelas menatap Anna. Tangannya meraih wajah cantik itu, mendekapnya perlahan sambil berkata agak berbisik dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Anna, maafkan aku."

__ADS_1


Sebagai bentuk penyesalannya yang tulus, ia memberikan sebuah kecupan lembut di kening Anna. Kemudian, Logan beranjak ke kamar mandi. Hal yang harus dilakukannya sebelum Anna menyadari keberadaannya adalah membersihkan diri dari bau alkohol dan aroma parfum Nina di tubuhnya.[]


__ADS_2