Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Campur tangan ayahnya Logan


__ADS_3

Dalam sekejab, rumor pun menyebar. Setiap langkah, Sifa melihat beberapa karyawan berkumpul, atau berjalan sambil berbisik mengenai keributan tadi.


"Mbak Anna pasti merasa malu," gumamnya dalam hati. Gita berjalan cepat memasuki ruang kerja Anna.


Hampir saja, ia menjatuhkan botol minuman yang dibawa oleh Sifa karena tak sengaja menyenggol lengannya. Gita terkejut sekejab. "Sori. Sifa, mana Anna?"


"Di meja kerjanya," jawab Sifa.


Kedua gadis itu menghampiri meja Anna. Kini gadis itu tengah memijat kepalanya yang pening. Anna menyadari keberadaan mereka, lalu menoleh sambil mengulas senyum hambar.


"Kak, ini saya bawakan minum," kata Sifa, memberikan botol minuman air mineral itu pada Anna.


"Terima kasih," kata Anna dengan suara pelan karena tubuhnya merasa lemas.


Anna sempat melirik Gita ketika menerima botol itu. Ia tak sanggup berlama-lama menatapnya balik, karena kelihatannya gadis itu seperti akan menerkamnya oleh pertanyaan.


"Benar yang gue dengar dari orang, kalau lo ... hamil?" cecar Gita, seakan ragu untuk mengatakannya.


Anna menenggak minumnya sambil memikirkan jawaban apa yang harus dikatakan. Namun, Gita sepertinya tidak sabar mendengarnya. Jadi, ia hanya minum sedikit air, dan menjawab:


"Semua orang mendengarnya dengan jelas. Jadi, itu bukan rumor." Setelah itu, Anna melanjutkan minum.


"Terus, benar kalau kamu berselingkuh sama bos Logan?" Pertanyaan yang tiba-tiba, dengan seruannya yang agak keras membuat Anna terkejut bukan main, sampai menyemburkan air. Untung saja, semburannya tidak mengenai kedua gadis itu. Sifa dan Gita terkejut dan cemas. Lantas, Sifa memberikan sehelai tisu untuk Anna.


"Gosip!" bantah Anna tegas, setelah selesai mengelap bibirnya. Nada suaranya meninggi, jelas kalau ia marah karena tersinggung.


"Terus, kok bisa lo hamil anaknya si bos?" tanya Gita lebih frontal. Jadi, dia meragukannya?


Anna mendengus. "Gita, kita berteman nggak setahun dua tahun! Lo tahu kan kalau gue anti selingkuh?" sahutnya penuh penekanan. Iya, juga.


Gita jadi meragukan gosip itu. Hanya saja, ia penasaran. Kenapa kehamilan ini terjadi? "Terus, apa lo menggoda pak Logan?" tanya Gita lagi, yang kepalanya masih menyimpan sejuta pertanyaan.


Namun, Anna malah semakin jengkel padanya. Anna pun tak menjawab, mengurut kembali keningnya. Menyahuti pertanyaan Gita malah membuat otaknya semakin sakit.


Sifa mengerti akan keadaan Anna, dan ia meluruskan masalah ini dengan berkata sambil melirik Gita. "Lebih baik, kita dengarkan dulu cerita yang sebenarnya, Kak. Jangan asal menuding sembarangan."


Anna setuju, tetapi saat ini ia sedang tidak ingin menceritakan apa pun. Yang diperlukan adalah menenangkan diri. Entah, apa ia akan mendapatkannya sekarang atau tidak.


Sayangnya, apa yang diinginkannya tidak terkabul. Telepon di meja kerjanya berdering. Anna mendecak, melirik telepon itu dengan mata sayu. Meski sedang tidak minat berbicara dengan siapa pun, akhirnya tetap saja telepon itu diterimanya.


"Iya, halo. Dengan saya Anna."


Dengan siapa Anna berbicara, sampai dahinya perlahan mengernyit begitu? Sifa dan Gita saling menatap penasaran. Lalu, Gita mendekati telinganya ke arah telepon, mencoba mendengarkan ucapan si penelepon. Namun, Anna tak suka dengan kelancangan Gita. Maka, ia menghela kening Gita dengan jari telunjuknya secara perlahan, dan menjauh sedikit.


"Baik, Pak. Saya akan segera ke sana," kata Anna, mengakhiri telepon itu.


Sifa akan bertanya, tapi Gita yang agresif menyerobotnya. "Siapa, Na?"


Anna beranjak dari kursi. "Gue dipanggil ke ruang CEO," jawabnya, seakan pasrah jika terjadi sesuatu.


Lalu, Anna pergi, tetapi Gita mengamit lengannya, mencegahnya beranjak. "Anna, emang ada apa? Kok kamu dipanggil ke sana? Emang, tadi pak CEO bilang apa?"


Firasat Anna, mungkin soal kejadian tadi. Rumornya sudah menyebar, dan pastinya sudah sampai ke telinga CEO. Tapi, belum tentu juga soal itu. Soalnya, asisten CEO yang meneleponnya tadi hanya mengatakan bahwa CEO perusahaan ini ingin bertemu dengannya.


Anna menaikkan kedua bahunya, rada cemas juga sebenarnya. "Nggak tahu." Lalu, ia menghela napas. "Gue pergi dulu."

__ADS_1


Pikirannya berkecambuk. Mungkin Logan ingin membicarakan kesepakatan lagi soal bayi ini? Atau dia masih berniat untuk membujuknya melakukan aborsi? Anna berhenti melangkah, mulai ragu lagi.


Kalau memang begitu, ia tidak akan pergi ke sana. Tapi ... bagaimana kalau bukan hal itu yang ingin dibicarakan?


Ah! Pergi sajalah! Apa pun yang mau dikatakannya, ia tak perlu gentar meskipun alur detakan jantungnya cukup kencang bahkan sampai sesak.


Sesampainya di sana, ia berhenti melangkah. Tangannya dinaikkan ragu, jemarinya membentuk kepalan, akan mengetuk pintu ruangan ini. Namun, ia malah mematung, gugup dan gemetaran. Rasa takut akan penolakan menyeruak di dalam dadanya.


Tidak, ia tidak ingin sakit hati lagi karena itu! Apa ia tidak perlu menemuinya?


Perlahan, tangannya diturunkan. Keberaniannya sudah surut. Akhirnya, ia berbalik. Namun, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Anna menoleh dan tertegun, kemudian kembali membalikkan badan.


"Selamat siang, Pak," sapa Anna menundukkan kepala dengan kikuk, pada seorang pria.


"Anda Nona Anna?" tanya pria yang umurnya kisaran 30 tahunan itu dengan ramah dan kaku. "Pak Matthew sudah menunggu Anda di dalam."


Pak Matthew? Setahunya, pria itu adalah ayahnya Logan, 'kan? Jadi, yang mau menemuinya adalah pria itu? Tapi, kenapa?


Dan pertanyaan akan jawaban itu terjawab di dalam ruangan itu. Anna melangkah masuk dengan langkah kaku karena sangking gugupnya. Saat ia di dalam, terlihat seorang pria tua bule berumuran kisaran 60 tahunan sedang duduk di kursi kebesaran milik Logan.


Logan sedang duduk di hadapannya, menoleh sejenak pada Anna dengan tatapan tajam yang membuat bulu romanya merinding. Tidak seperti anaknya, Matthew sangat baik. Anna disambut dengan senyuman, mempersilakannya duduk di kursi yang ada di sebelah Logan dengan sopan.


Anna jadi segan sewaktu duduk di kursi itu. Sikap pria itu membuatnya terpana. Kenapa kelakuan ayahnya beda sekali dengan anaknya? Jangan-jangan, Logan bukan anak kandung Matthew?


"Anna, bagaimana keadaanmu? Saya harap, kamu tidak sakit hati pada perlakuan Logan?" tanya Matthew, kemudian melirik pada Logan dengan sinis.


Anna tercengang sejenak. Jadi bingung mau bicara apa karena sangking terpukaunya dengan sikap ramah pria itu. "Saya baik-baik saja, Pak. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."


"Saya sudah melihat semuanya tadi," mulai Matthew, menegakkan badannya dan meletakkan jemarinya yang saling terjalin di meja. "Tapi saya masih belum paham dengan apa yang terjadi. Jadi, tolong ceritakan biar permasalahan ini bisa diselesaikan."


"Baik, Pak. Jadi—"


"Biar aku saja yang menjelaskan," serobot Logan.


Pria itu melirik sinis pada Anna, yang juga sedang menatapnya. Dengan tatapan serius Logan menceritakan kejadian awal saat di kapal pesiar satu bulan yang lalu. Matthew mendengarkan dengan seksama dan tanpa menyela sambil meletakkan jalinan jemarinya di dagu. Setelah itu, ia membuat kesimpulan.


"Jadi, ini bukan perselingkuhan?" tanya Matthew.


"Bukan, Pak," sahut Anna, langsung mengelak. "Ini hanya 'kesalahan satu malam' saja, Pak."


"Dan Logan menolak bertanggung jawab?"


"Iya, Pa," timpal Logan seraya mengangguk. Matthew menghela napas, ekspresi tenangnya berubah menjadi gusar.


"Logan, Papa kecewa sama kamu. Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk jadi pengecut begini!"


Baik Logan maupun Anna, keduanya saling menunduk menyesal. Dari pengamatan Anna, Logan tampak tak kuasa melawan papanya.


"Papa tahu, ini memang bukan yang kalian inginkan, tapi kamu tidak boleh menggugurkan bayi itu!" Omelan Matthew ditunjukan pada Logan.


Logan mendongak cepat. "Hanya itu cara satu-satunya, Pa. Kami tidak mungkin menikah karena kami berbeda keyakinan."


Benar sekali. Dan Anna menimpali, "Sebenarnya, saya punya cara lain, Pak."


"Cara apa?" tanya Matthew, tertarik.

__ADS_1


"Saya hanya ingin Pak Logan membiayai saya selama kehamilan sampai melahirkan. Kalau Pak Logan tidak mau membesarkannya, biar saya saja yang melakukan. Asal, Pak Logan mau membiayai semua kebutuhan anak itu, termasuk pendidikannya."


Bukan ide yang buruk. Dan Logan langsung menimpali, "Saya setuju! Cara itu terdengar lebih baik."


"Tapi Papa tidak setuju!" tukas Matthew tegas. "Kasihan Anna, keluarganya harus menanggung aib itu. Lagi pula, anak butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya."


Anna pun yakin, kalaupun ia dan Logan menikah, anak itu hanya mengenal Logan sebagai ayah tanpa merasakan belaian sayang darinya. Logan menghirup napas dalam-dalam, dihembuskan dengan kencang sebagai tanda ketidaksetujuannya.


"Pa, kami tidak saling mencintai. Percuma menikah, kalau pada akhirnya kami pasti akan bercerai."


Matthew terdiam, menatap lamat-lamat kedua insan muda yang pikirannya masih belum matang itu. Kemarahan tidak ada gunanya untuk menghadapi mereka. Lambat laun, ekspresi dan sikapnya berubah tenang.


"Logan, Anna, tidak ada yang tahu takdir seperti apa yang akan kalian hadapi nanti. Cinta tidak menjamin pernikahan bakal awet." Setelah itu, Matthew beranjak dari kursi. "Coba kalian pikirkan lagi," lanjutnya. "Logan, antarkan Anna pulang! Selama seminggu ini, Anna tidak boleh bekerja dulu."


Apa? Anna langsung mendongak, memprotes, "Saya tidak apa-apa kok, Pak. Saya masih kuat bekerja."


"Tidak, kamu harus istirahat. Anna, tolong jaga cucu saya," sahut Matthew, tatapannya melembut. Namun, ketika pandangannya dialihkan pada Logan, tatapannya berubah tegas. "Logan, cepat antarkan Anna pulang!"


Pulang bersama? Anna dan Logan saling tercengang. "Nggak usah, Pak. Saya bawa motor kok," sahut Anna, bersikeras menolak.


Namun, Matthew tak mau mendengarkannya dan malah berkata, "Kalian juga belum makan siang, 'kan? Logan, bawa Anna ke restoran, pesankan makanan yang Anna suka!"


"Tapi, Pa—"


"Nggak ada tapi-tapi!" potong Matthew. "Anak itu akan jadi pewaris utama keluarga Jonathan. Jadi sebagai ayahnya, kamu harus menjaga dan memberikan yang terbaik buat Anna dan bayi itu."


Matthew pun melangkah pergi, membiarkan Anna dan Logan yang tak berdaya pada keputusan itu.


"Cepat beres-beres!" perintah Logan pada Anna. "Aku akan mengantarkanmu pulang."


"Tidak perlu, saya masih ada pekerjaan," sahut Anna. Anna terhenyak sekejab ketika tatapan tajam Logan mengarah padanya.


"Bisa tidak, kamu menurutiku?"


Ayolah! Apa dia benar-benar akan melakukan perintah papanya? Dikira, Anna tidak tahu bahwa Logan tidak ingin melakukan hal itu?


"Bapak tidak akan kehilangan warisan hanya karena tidak melakukan perintah pak Matthew," kata Anna sedikit menyindir. "Nanti, tinggal bilang saja kalau Anda sudah melakukan semua yang dimintanya. Beres, 'kan?"


Sadar tidak bahwa Anna semakin membuat pria itu kesal. Logan menghampirinya dengan tatapan bengis, membuat Anna gemetaran dan tanpa sadar beringsut mundur. Logan terus melangkah maju, hingga akhirnya Anna pun terpojok dan tak bisa mundur karena ada tembok. Atmosfir dingin ini, membuat firasat Anna tidak enak.


"Semua itu karena kamu!" "


Sa ... sa ... saya? Kenapa saya yang disalahkan?"


"Kalau saja kamu bisa menahan mulut kamu untuk tidak mengadu pada Kenan, pasti tidak akan seperti ini!" tuding Logan, meninju tembok.


Anna tersentak, spontan menutup mata. Memang harus ia akui hal itu benar, dan ia menyesali keputusannya untuk bercerita pada Kenan.


"Tapi," Anna memberanikan diri untuk menatap wajah Logan, "saya nggak tahu kalau Kenan akan membongkarnya."


"Alasan!" bentak Logan. "Kamu sengaja mengatakannya supaya dapat simpati dari Kenan, kan? Sebenarnya, dari awal kamu berencana ingin memanfaatkannya dan membujuknya agar dia yang bertanggung jawab atas bayi itu. Iya, 'kan? Heh! Dasar gadis picik!"


Sudah Anna duga, pria itu pasti akan menudingnya seperti ini. Ia tak bisa menahan hinaan ini lagi! Tangannya terkepal kuat, ingin rasanya meninju wajah pria itu, tak peduli jika ketampanannya berkurang.


Namun, ia tak melakukannya, malah menyindirnya sambil mengetuk-ketuk dinding, "Amit-amit jabang bayi! Semoga anak ini sifatnya nggak sama kayak Bapaknya!" Kemudian, Anna menginjak kaki Logan dan mendorongnya. Logan menjerit kesakitan, berseru memanggil Anna yang sedang keluar dari ruangan ini.

__ADS_1


"Rasain!" gumam Anna kesal.[]


__ADS_2