
Anna tidak bisa tidur. Malam itu juga, ia membereskan semua barang-barangnya ke dalam koper. Ia akan pulang ke rumah orangtuanya besok juga. Tak baik semakin lama di sini, hatinya selalu menantikan Logan dan membuatnya berubah pikiran.
Air mata merembes setiap Anna meletakkan baju ke koper. Kenangan demi kenangan berputar di kepalanya, sehingga hatinya iba tanpa henti.
Elina membuka pintu kamarnya perlahan, lalu bergeming di ambang pintu seraya menatap punggung Anna yang terguncang karena sedang menangis. Air matanya ikut tergenang, sedih melihat keadaan pernikahan anaknya hancur begini. Dan ia juga tak rela melepaskan menantu baik seperti Anna. Baginya, Anna seperti anak sendiri.
Elina menyeka air matanya, lalu mengetuk pintu kamar itu. Buru-buru Anna menghapus air matanya tanpa tahu siapa yang mengetuk pintu. Lalu, Anna menoleh, tersenyum pada Elina yang kemudian menghampirinya.
"Tidurlah, besok saja beres-beresnya," saran Elina, suara parau.
"Nggak, Ma. Aku harus pergi besok," jawab Anna, sengaja mengalihkan perhatiannya pada pakaian yang sedang dibereskannya ke dalam koper agar Elina tak melihat air matanya tergenang. Mertuanya juga salah satu alasan mengapa Anna berat pergi dari sini.
Elina terdiam. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa lagi, tapi karena sejujurnya ia sedang menahan kesedihannya yang bergelung di hati.
"Anna, Mama tahu apa yang telah terjadi. Tapi, apa kau tidak memikirkannya lagi?" tanya Elina, dan Anna tiba-tiba bergeming.
Sejak tadi, Anna sendiri berubah pikiran terus. Namun, memikirkan demi kebaikan keluarga ini, Anna akhirnya terpaksa menerima keputusannya.
"Nina akan menjadi istri yang bisa memberikan keturunan pada Logan," jawab Anna getir, mengingat dirinya tak bisa hamil lagi.
Elina menghela napas. "Logan tidak mempermasalahkan itu, 'kan?" tukasnya, nyaris memekik karena kesal pada jawaban itu.
"Tapi, keluarga ini membutuhkannya." Anna menatap Elina, berusaha tersenyum walau hatinya pedih. "Perusahan sedang mengalami kebangkrutan. Cuma Nina yang bisa membantu."
Kondisi Anna saat ini mengingatkannya pada dirinya saat kisah cintanya dengan Matthew mengalami rintangan yang cukup berat. Elina paham, pengorbanan Anna juga demi orang yang dicintai, meskipun rela menderita.
"Lalu, bagaimana dengan orangtuamu? Mereka pasti syok mendengar perceraian kalian," tanya Elina, setelah diam sejenak.
"Aku akan bilang kalau perceraian ini karena keinginanku," jawab Anna, tawanya dipaksakan. "Aku akan mengatakan alasan yang sama, seperti yang kukatakan pada Logan."
"Mereka pasti akan marah besar," timpal Elina cemas. "Kenapa tidak katakan saja yang sebenarnya?"
Anna tertawa palsu lagi. "Ayah dan mama tahu aku memang suka melakukan hal yang nekat dan buat mereka marah. Mama tenang aja, kemarahan mereka paling hanya beberapa hari. Ya ... paling lama seminggu."
Elina diam sejenak, menatap Anna yang terlihat tegar tapi sebenarnya hatinya tengah hancur. "Kenapa kau lakukan ini?"
__ADS_1
Anna menarik napas sejenak, lalu dihelanya. "Logan tidak salah, tapi kondisinya saat ini yang membuat kami terpaksa berpisah. Aku tidak mau membuat Logan buruk di mata orangtuaku."
Hati Elina semakin terperosok, hingga air matanya tak kuasa mengalir. Lantas, ia memeluk Anna, sesegukan seraya mengelus lembut punggungnya.
"Kamu baik hati, Anna," gumamnya.
...💍...
Anna berpamitan dengan Matthew dan Elina. Perpisahan yang berat ini penuh dengan air mata kesedihan. Sebelum pergi, Anna memeluk mertuanya dengan berusaha tak menangis, lalu masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan untuk mengantarnya.
Barulah, Anna menangis sepuasnya di dalam mobil, sampai akhirnya tangisan itu berhenti. Sekitar hampir satu jam, Anna sampai di rumah orangtuanya. Anna langsung menyeret kopernya, begitu sopir menurunkannya dari bagasi mobil.
Anna berjalan menuju pintu, mengetuknya, hingga mama muncul membukakan pintu. Mama terkejut sekaligus senang melihat kedatangannya. Namun, begitu melihat barang yang dibawa Anna dan sopir, mama tertegun.
"Ini ... kamu mau ngungsi?"
Anna tersenyum lebar. "Ma, boleh nggak aku masuk dulu?"
"Ya ... silakan," kata mama masih terheran-heran sambil bergeser memberikan jalan pada Anna dan sopir itu.
Barang-barang diletakkan di ruang tamu. Ayah yang baru masuk ke ruangan itu tercengang seperti mama melihat barang-barang itu. Setelah selesai, Anna menawarkan secangkir kopi pada sopir itu.
"Apa maksud semua ini, Anna? Barang-barang kamu ... apa rumah mertuamu sedang direnovasi?" cecar mama, yang sejak tadi menahan diri untuk bertanya.
"Ma, boleh aku minum dulu tehnya?" sela Anna, entah ini sedang mencemooh atau menghindari pertanyaan.
"Dasar anak ini!" seru mama kesal, tangannya sudah terangkat, ingin menoyor lengan anak jahil ini.
Anna tertawa kecil seraya mendekatkan cangkir ke bibirnya. Diseruputnya teh itu, sengaja diperlambat karena ia sendiri agak ragu menjawab pertanyaan sang mama.
"Lama banget minumnya!" celetuk mama, lebih jengkel dari yang tadi.
"Oke, oke." Anna terkekeh seraya meletakkan cangkir tehnya. "Jadi ... aku mau kasih kabar yang mengejutkan pada Mama dan Ayah. Siap-siap, ya?"
"Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaan mama?" sahut ayah.
__ADS_1
Anna mengangguk. "Aku dan Logan ... resmi bercerai," ucapnya ringan, bahkan di akhir kata ia tersenyum.
Bercerai? Ayah dan mama saling menatap dengan tercengang, seakan tak percaya dengan apa yang didengar barusan.
"Kamu ngomong apa sih, An?" sahut mama setengah sewot.
Jemarinya dijalin, lalu diletakkan di atas pangkuannya seraya menjawab santai. "Pokoknya, Ayah sama Mama nggak usah ngomongin soal Logan lagi. Kami udah bercerai!"
Mama memegang keningnya, ayah yang ada di sampingnya menyuruhnya untuk istirahat. Namun, mama menolak sebab ingin tahu alasan perceraian ini.
Dengan bijaksana, ayah pun bertanya pada anaknya itu. "Anna, coba ceritakan lebih detil. Kenapa kalian bercerai? Memangnya ada masalah apa di antara kalian?"
Anna diam sejenak dengan hati mencelus. Di dalam hati ia berdoa agar Tuhan memaafkannya karena ia akan berbohong pada orangtuanya. "Aku udah nggak tahan dengan pernikahan ini, apalagi aku nggak mencintai Logan," jawabnya dengan raut wajah tak bersalahnya.
"Apa?!" pekik mama, matanya melotot marah. "Nggak cinta sama Logan? Alasan apa itu? Mama dan ayah lihat sendiri kalian berdua bermesraan. Apa itu yang disebut nggak mencintai dia?"
"Ya ... aku pura-pura mesra supaya Mama, Ayah, dan mertuaku percaya kalo aku bahagia sama Logan."
Mama lebih murka lagi. "Alasan apa itu? Bocah gendeng ini ngomong apa, Yah? Dia salah makan atau kesurupan? Panggil ustadz, Yah! Anak ini dirukiah sekarang juga!"
Ayah kewalahan meredakan kerewelan mama yang begitu marah akan jawaban Anna. Namun, Anna sendiri terus berakting pura-pura tak peduli, sementara hatinya begitu sedih melihat kedua orangtuanya syok atas keputusannya.
...💍...
Logan tidak masuk kerja hari ini. Ia menghabiskan waktu di vila seraya meminum wine. Pada malam hari, ia kembali ke rumah. Penampilannya acak-acakkan, masih memakai baju yang sama dengan kemarin, dan tubuhnya bau alkohol.
Logan beranjak ke lantai atas, menaiki anak tangga dengan perlahan dan lunglai. Mungkin karena terbiasa, ia menghampiri kamarnya. Ia membuka pintu, menyalakan lampu, tetapi tak langsung masuk ke dalam kamar. Ia bergeming, termenung menatap kamar yang kosong.
Dulu, tempat ini dihuni olehnya dan Anna. Ranjang itu menjadi tempat mereka bercengkrama penuh cinta. Pelukan, kecupan, dan candaan dilakukan di tempat ini. Suara tawa Anna yang memenuhi ruangan terngiang-ngiang di telinga.
Elina yang melihatnya naik ke atas, mengikutinya, lalu menghampiri. Ia berdiri di belakang Logan beberapa saat, sebelum akhirnya Elina menempatkan sentuhan lembut di pundaknya.
"Anna sudah pergi sejak pagi," katanya lirih.
Logan tertegun. Mendengar ucapan itu, sontak hatinya getir. Namun, ia memperlihatkan perasaannya, menimpali dingin ucapan Elina. "Baguslah. Itu yang dia mau."
__ADS_1
Elina diam di tempat dengan kesedihan mendalam melihat anaknya berpura-pura tak terjadi peduli dengan semua yang terjadi. Logan masuk ke dalam kamar dengan langkah goyah. Sejujurnya, ia tengah menangis tanpa suara, dan menyembunyikannya dengan berdalih menghampiri kamar mandi.
Di sanalah Logan kembali menangis, menghidupkan shower hingga tubuhnya basah kuyup. Rasa ini begitu sakit. Ia sampai memukul-mukul tangannya ke dinding karena kesedihan yang bercampur kemarahan.[]