Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Tanda-tanda


__ADS_3

Kehidupan tenang Anna berlangsung selama seminggu setelah pesta pertunangan Logan dan Nina. Logan tidak mengusiknya lagi dengan tuduhan penipuan.


Senyum Anna tampak, bersemangat untuk bekerja ke kantor pada Senin ini. Ia bangun lebih pagi, bahkan mendahului bunyi alarm. Setelahnya, ia mandi, lalu berpakaian. Ia menuruni tangga dengan agak melompat kecil. Namun tiba-tiba, ada aroma tak sedap menusuk hidungnya hingga ia merasa mual.


Anna menutup mulutnya, mencari asal bau, yang ternyata berasal dari dapur. "Tasya, lo lagi masak apa?" tanya Anna.


"Mau bikin sayur kangkung," jawabnya sambil menumis bawang putih.


Aroma bawang itu menyeruak sampai menembus hidungnya yang sudah ditutup. "Huek!" Anna mual lagi, suaranya sampai membuat Tasya terkejut.


Tasya menoleh. "Kenapa lo, Kak?"


Anna tak sempat menjawab karena rasa mual yang tak tertahankan, dan ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang masih kosong. Tasya khawatir, tetapi tidak bergeming karena tidak bisa meninggalkan masakannya.


Setelah merasa lega, Anna menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Sepertinya, tadi keadaannya baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba malah begini? Aneh.


"Kayaknya, masuk angin deh," gumamnya menduga. Habis, apalagi kalau bukan masuk angin? Nggak mungkin kan kalau ia....


Anna mendelik. Tidak mungkin! Barusan, yang terlintas dalam pikirannya itu, tidak mungkin terjadi, 'kan? Ah, tidak! Hampir saja ia menjerit mengatakan hal itu.


"Hamil? Nggak mungkin!" gumamnya sepelan mungkin, lalu spontan menutup mulutnya, takut kalau Tasya atau siapapun mendengarnya.


Suara ketukan pintu membuatnya tersentak, dan menoleh ketakutan. Lalu, terdengar Tasya berseru:


"Lo kenapa, Kak?"


Anna bingung harus menjawab apa, karena rasa ketakutannya akan penyebab kekhawatiran yang belum pasti menyergap pikirannya. Tasya mengetuk pintu, semakin gemetaranlah ia.


"Kak, lo lagi ngapain? Kok nggak dijawab?" tanya Tasya, menempelkan telinganya untuk mendengarkan suara di dalam kamar mandi.


Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka, Tasya terkejut dan spontan beringsut mundur. Ia menunggu Anna muncul dalam ketercengangan. Gadis itu perlahan menampakkan wajahnya, menatap Tasya dengan ekspresi tegang.


"Kak, lo kenapa?" tanya Tasya cemas, begitu melihat wajah Anna pucat dan berkeringat.


Anna bergeming sejenak, masih gugup dan kalut. Namun, ia tidak lama seperti itu, sampai menemukan sebuah alasan. "Cuma masuk angin aja kok," jawabnya, agak tercekat di akhir kalimat.


Tasya tidak yakin, apalagi melihat ekspresi Anna yang seperti itu. Duganya, pasti telah terjadi sesuatu, tetapi Anna tidak mau cerita. Kadang, kakaknya itu suka sekali menyembunyikan perasaannya.


Anna takut Tasya membaca rona wajahnya, makanya ia beranjak dari sana sambil memikirkan topik pembicaraan untuk mengalihkan gadis itu. "Lo nggak kerja?" tanyanya sambil menuju rak piring untuk mengambil sebuah gelas.


"Kerja, tapi agak siangan," sahut Tasya, meneliti Anna yang sedang mengambil air di dispenser. "Kak, lo lagi nggak sakit, 'kan? Muka lo pucat."


Anna terhenyak, hampir tersedak. Sampai saat ini, ia tidak tahu entah ini karena sakit atau karena hamil. Huh! Ia harus mengenyahkan pikiran buruk itu! Ia menegaskan bahwa ia cuma "masuk angin"!


"Lo nggak mudeng atau lupa? Tadi kan gue bilang kalau gue masuk angin," sahut Anna sedikit gemas.


Tasya tercengang beberapa saat. Bukannya lupa, ia ingat sih. Akan tetapi, ia merasa kurang yakin. Tapi jika memang kakaknya menegaskan hal itu sekali lagi, ia terpaksa mengakuinya saja.


"Oya! Lupa gue," serunya seraya terkekeh. "Em ... mau sarapan, nggak, Kak?"


Bau bawang putih masih seliweran di dekat hidungnya, takutnya ia mual lagi gara-gara itu. Pasalnya, ia masih paranoid dengan dugaanya tadi.


"Kayaknya, nggak sempat deh," kata Anna, menengok ke arah arlojinya sejenak. "Udah jam 7, gue sarapan di kantor aja."


Tasya tak memaksa. Ya sudah, kalau kakaknya memilih untuk tidak sarapan. Ia kembali ke dapur untuk menggoreng ikan tongkol dan sambal.


Sambil berjalan keluar, Anna menyapuh leher dan keningnya dengan minyak angin. Meskipun kepala terasa agak pusing, ia melajukan motornya ke kantor—tentunya, sempat mampir ke warung nasi uduk dekat rumah yang super enak dan murah untuk membeli sebungkus nasi uduk plus gorengan tempe mendoan.


Dikira, ia akan membaik setelah sarapan, nyatanya ia malah mual lagi. Minyak angin tak dapat menyembuhkan pening di kepalanya. Padahal, ia sedang mengerjakan sebuah laporan yang deadline-nya hari ini.


"Aduh, pusing banget!" keluh Anna sambil memegang keningnya, berhenti mengerjakan pekerjaannya.


Seorang karyawati, yang umurnya terlihat masih muda, menghampiri meja kerjanya. "Kak, punya persediaan pembalut, nggak?" bisiknya.


Gadis yang bernama Sifa itu memang sudah akrab dengannya karena Anna baik dan mau membantunya jika ada pekerjaan yang tidak dimengertinya.


"Ada. Butuh berapa?" tanya Anna.

__ADS_1


"Satu aja."


Anna memutar kursi, membuka sebuah laci di sebelah kirinya. Ia tertegun melihat satu pak pembalut pemberian Logan beberapa minggu yang lalu masih utuh.


Lalu, Anna memberikan dua bungkus pembalut pada Sifa. "Yang satunya buat ganti," bisiknya, tersenyum lebar.


"Terima kasih, Kak," serunya girang.


Anna termenung menatap kepergian gadis itu sambil terpikirkan sesuatu. Lalu, buru-buru ia mengecek ponselnya, masuk ke aplikasi "Pencatat Menstruasi".


Matanya membulat, heran. "Sudah telat seminggu?"


Selama itu? Kenapa ia belum datang bulan juga? Jangan-jangan….


Hatinya berdetak kencang ketika memikirkan hal buruk itu terlintas kembali. Ditambah lagi terlintas dalam benak, mimpi buruk yang terjadi seminggu yang lalu.


"Ah, tidak, tidak, tidak!" bantahnya cepat, menghela semua pikiran negatif itu.


Bu Eka keluar dari ruangannya dengan terburu-buru, lalu menghampiri meja Anna. "An, ibu saya sakit. Tolong, gantikan saya memimpin rapat nanti siang, ya?" katanya, lalu pergi tergesa-gesa.


Anna menghela napas, memijat keninganya. "Baiklah—" Ia akan berdiri, tetapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh kalau saja tangannya tidak refleks menyentuh meja.


Dalam kondisi seperti ini, apa ia sanggup memimpin rapat nanti?


Sifa yang beranjak dari kursi sambil membawa berkas melirik pada Anna. "Kak, yuk, mulai rapatnya."


"Hah!" Anna menoleh. "Iya…."


Gadis itu cemas dan langsung menghampiri Anna begitu melihat wajahnya yang pucat dan dipenuhi oleh keringat dingin.


"Kakak sakit?" tanyanya.


"Aku tidak apa-apa…," lirih Anna suaranya parau, tubuhnya terasa lemas sekali.


"Apanya yang tidak apa-apa," omel Sifa sambil menghela tubuh Anna untuk duduk di kursinya. "Wajah Kakak pucat banget. Aku ambil minum dulu, ya—"


"Nggak usah." Anna mencegah dengan menyentuh lengan gadis itu, lalu dengan perlahan berdiri kembali. "Kita harus rapat. Tolong papah aku sampai ke ruang rapat, ya."


"Tolong!" jerit Sifa, panik.


Karyawan yang ada di sana mendengar jeritan itu dan bergegas menghampiri mereka. Melihat Anna pingsan, mereka terkejut, bahkan ada yang menanyakan penyebabnya.


Seorang pria yang berambut klimis maju ke depan untuk menggendong tubuh Anna. Mereka membawa tubuhnya ke dalam ruang rapat dan merebahkannya pada sebuah sofa.


"Sifa, ambil minyak angin!" perintah pria itu. "Dita, tolong ambilkan air putih!"


Sifa datang membawa sebotol kecil minyak angin, lalu membalurkannya ke dahi, dan dada Anna. Ia juga meletakkan minyak angin itu ke dekat hidung Anna.


Tak lama kemudian, Anna bereaksi, mengernyit dan mulai membuka matanya perlahan.


"Alhamdulillah, udah sadar," ucap Sifa, lega, yang diikuti oleh karyawan lain.


"Mbak Anna," kata pria tadi, setelah Anna membetulkan posisi duduknya. "Biar rapat ini saya yang pimpin. Lebih baik, Mbak Anna istirahat aja."


Anna merasa tidak enak hati. Tapi apa boleh buat, ia harus menurut kali ini, mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan untuk bekerja.


Ia menganggukkan kepala. "Terima kasih, Pak Rudi," kata Anna.


🍀


Biasanya, lantunan piano bergema di ruangan baca, tetapi yang terdengar hanya isakan lirih dari bibir Nina.


Tita yang khawatir, menjenguknya. Ia memasuki ruangan, menemuinya yang tengah duduk di depan piano. Namun, ia tak langsung menyapa, dan berhenti melangkah karena mendengar suara getar ponsel tanpa dering milik Nina.


Ia pun berjalan ke sana, memeriksa ponselnya. Ia menghela napas melihat 20 panggilan tak terjawab dan 10 pesan masuk yang tertera di layar ponsel. Dan semua itu berasal dari satu nomor: Logan.


"Mau sampai kapan kamu begini? Sudah seminggu kamu menghindari Logan," kata Tita.

__ADS_1


Sebenarnya Nina mendengarnya, tapi ia masih tetap bergeming.


Tita lelah begini. Sambil membawa ponsel itu, dihampiri Nina, lalu menyodorkan benda itu. "Telepon dia! Tanyakan kebenarannya!"


Nina hanya melirik sambil berpikir, tapi kemudian memalingkan wajah. "Semua sudah jelas. Kamu lihat sendiri kan, pria yang di video itu adalah Logan?" Ketika menyebut nama pria itu, dada Nina terasa sakit, hingga ucapannya tercekat di tenggorokannya.


"Terus kamu mau gantungin dia kayak gini?" sahut Tita gusar, kemudian ia mendengus kencang. "Begini aja, kamu buat keputusan, terus sampaikan ke dia tanpa harus dengar penjelasannya. Jangan sia-siakan waktu dan air mata kamu cuma buat ini!"


Tita meletakkan kedua tangannya di bahu Nina, memutar tubuhnya ke hadapannya, dan menatapnya serius. "Nin, kamu ingat kan, tujuan kamu ke sini?"


Nina mengangguk. Tujuannya adalah untuk memulai karier sebagai pianis, yang dimulai dari perlombaan piano yang diadakan satu minggu lagi.


"Gara-gara masalah itu, kamu jadi tidak konsentrasi berlatih," kata Tita lagi. "Apa kamu mau usaha kamu sia-sia, dan cita-cita kamu pupus gara-gara ini?"


"Nggak. Aku nggak mau …," lirih Nina sambil menggelengkan kepala.


"Kalau gitu, kamu ikutin saran aku!"


Tita menyodorkan ponsel yang digenggamnya sejak tadi pada Nina. Dengan ragu, Nina mengambilnya. Nina terdiam, berpikir beberapa saat, sebelum mencari kontak Logan dan menghubunginya.


Nina menghela napas selama nada panggil terdengar, tetapi ia kembali tercekat kala mendengar suara pria itu. Padahal, ia sudah mempersiapkan hatinya tadi.


"Halo, Nina. Kenapa baru diangkat teleponnya? Apa kamu sibuk?" tanya Logan, di ujung sana.


Nina terdiam, tak dapat membendung air mata yang menetes di pelupuk matanya. Cukup lama ia bergeming seperti ini, hingga Logan kembali bersuara.


"Nina? Nina? Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu baik-baik saja?"


Tangisannya semakin deras. Kata "sayang", semakin membuat hatinya teriris. Ia tak sanggup mendengarnya, apalagi pria itu telah berkhianat.


Tita meletakkan tangannya di bahu Nina untuk menenangkannya, kemudian ia berbisik, "Kalau kamu nggak sanggup, biar aku aja yang ngomong."


Nina mengacungkan telapak tangannya sambil menggeleng. Tidak, masalah ini dia sendiri yang menyelesaikannya. Tita mengerti akan hal itu, dan memilih meninggalkan Nina agar bisa bebas berbicara dengan Logan.


"Logan," ujar Nina, setelah bersusah payah menenangkan diri. "Aku sudah melihat video itu. Kamu dan wanita itu … dia ... kamu telah memperkosanya, 'kan—"


Logan mematung, mencerna maksud Nina yang tadinya masih belum dipahaminya. Sebenarnya, apa yang dibicarakan Nina? Pemerkosaan? Apa yang dia maksud....


Wajahnya seketika memucat, tapi kemudian mencoba menenangkan diri untuk menanyakan lebih lanjut. Siapa tahu, mungkin yang dimaksud Nina bukan seperti yang ada di dalam pikirannya.


"Video apa, Sayang? Coba jelaskan," ujarnya, perlahan dan berusaha perlahan menenangkan diri.


Nina semakin nelangsa dalam kesedihannya. Logan masih belum mengaku. Tapi jika memang dia minta penjelasan, maka Nina akan mengatakan semuanya dari awal penemuan sebuah flasdisk pembawa petaka itu sambil terisak.


Bagai ledakan yang dahsyat menghantam dada Logan hingga matanya mendelik. Tak pernah ia duga bahwa rahasia yang disimpannya rapat-rapat, akhirnya diketahui juga oleh Nina.


"Nina, aku bisa jelaskan. Semua itu hanya kecelakaan, dan aku tidak—"


Nina pun menyela, "Logan, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini…."


Tangis Nina pecah, dan Logan membeku karena terkejut. Hati mereka hancur berkeping-keping. Cinta yang dijaga selama 5 tahun pupus karena kesalahan satu malam.


Tak tahan lagi membahas soal ini, Nina menutup teleponnya tanpa mengatakan apa pun.


"Nina! Nina!" jerit Logan, ketika tiba-tiba sambungan terputus.


Tubuh Logan seketika lunglai. Baru kali ini, ia merasakan sakitnya patah hati dan menangis karena hal ini. Iya! Cintalah yang membuatnya lemah.


🍀


Semua yang terjadi hari ini membuat Anna semakin cemas.


"Mungkinkah aku …," gumamnya seperti itu terus menerus.


Daripada menduga, Anna lebih memilih memastikannya. Sebelum ke rumah, ia mampir ke apotek untuk membeli 5 buah alat tes kehamilan dari berbagai merek. Mungkin ini terlalu over, tetapi lebih baik mencari tahu kebenarannya, 'kan? Menduga-duga terus membuatnya stress.


Anna mencoba alat itu sebelum azan Subuh berkumandang, dengan memakai air kencing pertama yang keluar di pagi hari. Pada tes pertama, dua garis merah tertera jelas di alat itu. Anna menggigit bibir bawahnya, mulai cemas.

__ADS_1


"Nggak! Mungkin saja salah! Kan alat ini bisa aja nggak akurat," gumamnya pelan. "Tenang Anna, kita coba lagi pakai test pack merek lain."


Baik test pack kedua dan ketiga, hasilnya tetap sama. Anna mulai lemas, menyerah, tak mau lagi melakukan tes kehamilan itu. Hasilnya pun tetap "positif", tidak bisa dibantah lagi kalau ia memang sedang mengandung.[]


__ADS_2