Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Operasi Menangkap Diana


__ADS_3

Diana resah karena anak buahnya tidak memberi kabar apa pun pada dirinya. Diana mematikan ponsel seraya mendecak kesal karena pria itu tak mengangkat teleponnya. Setelah itu, ia pergi ke sebuah ruangan tempat Nina dirawat.


Di depan ruangan itu, Diana memperbaiki sikap, menghilangkan keresahannya, barulah ia membuka pintu. Diana tersenyum melihat Nina yang sedang memandangnya seraya duduk di atas ranjang. Lantas, Diana menghampiri, menggenggam tangan Nina yang pucat.


"Nina, kamu siap dioperasi, 'kan? Kamu nggak boleh takut. Soal yang lain, kamu nggak usah pikirkan," kata Diana yang terus mencerocos.


Nina malah menganggap Diana yang merasa sedang ada masalah. Ketenangan Diana menguap bersama dengan ucapannya. Nina merasa bahwa ucapan itu lebih cocok untuk Diana.


"Ma," sahut Nina, setelah memperhatikan ibunya lamat-lamat. "Nggak ada yang terjadi pada Mama, 'kan? Maksudku, Mama nggak dalam masalah, 'kan?"


Diana menegang dan membeku menatap anaknya. Apa kecemasannya terlihat jelas di depan Nina? Padahal, ia sudah berusaha keras menyembunyikannya.


"Mama nggak ada masalah apa-apa kok...."


Di saat itu, dokter dan dua orang suster masuk ke dalam ruangan. Dokter mengatakan bahwa persiapan operasi sudah selesai, jadi Nina bisa dioperasi sekarang.


Diana menyambut setengah bahagia kabar itu. Dia menyuruh dokter untuk segera melakukan operasinya.


Kedua suster itu mendorong ranjang Nina, yang kemudian dibawa ke ruang operasi. Diana menunggu di luar semenjak ruang operasi ditutup. Ia duduk di sebuah kursi yang tersedia di depan ruangan dengan harap-harap cemas.


Tamu yang tak diharapkan datang. Gerry dan tiga orang lainnya menghampiri Diana yang tengah sibuk menghubungi anak buahnya berkali-kali. Begitu menyadari keberadaan Gerry, buru-buru Diana memasukkan ponselnya ke dalam tas, berusaha bersikap biasa.


"Selamat pagi, Nyonya Diana," sapa Gerry begitu berada di hadapan wanita itu.


Diana melirik waspada seraya beranjak dari kursi. "Pagi. Ada apa?" jawabnya sinis.


"Saya menyampaikan pesan dari pak Logan, untuk mempertemukan Anda dengannya," kata Gerry datar dan lugas seperti biasanya.


"Logan ingin bertemu denganku? Apa dia di Singapura?"


Gerry tak langsung menjawab karena ponsel di dalam saku jasnya bergetar. Nomor Logan tertera di layar ponsel, lalu ponselnya itu diberikan pada Diana.


Diana menaikkan alisnya sebelah, heran sekaligus ragu. Namun, Diana mengambilnya, lalu mengangkat telepon itu. "Halo."


"Sebaiknya kau ikut dengan Gerry, atau aku menyuruh mereka menyeret paksa Anda," sahut Logan tanpa basa-basi.


Diana mendelik, geram. "Apa maksudmu? Sebagai menantu kau benar-benar tidak sopan!" bentak Diana agak dipelankan suaranya. "Kalau kau mau bertemu denganku, sebaiknya kau ke sini, supaya kau lihat bagaimana penderitaan Nina karenamu!"


Logan tersenyum sinis. "Yakin, Anda mau membahas kejahatan Anda di sana? Saya tahu apa yang terjadi pada Nina, tapi itu bukan kesalahan saya. Nina mendapat karma karena telah memisahkan saya dengan istri saya, mengejeknya karena tidak bisa hamil lagi," balas Logan begitu tajam sampai, Diana semakin geram.

__ADS_1


"Apa katamu?!" seru Diana marah, nyaris berteriak.


"Turuti kataku," ulang Logan, tersenyum menang.


"Tapi ... bagaimana dengan Nina? Dia sedang...."


"Aku menempatkan Kenan di sana. Sebentar lagi dia akan datang. Jadi, ikutlah dengan Gerry," pungkas Logan, lalu telepon ditutup tanpa memberi kesempatan bagi Diana untuk berkata-kata lagi.


Diana memberikan ponsel itu kembali pada Gerry seraya tertunduk lemas. Gerry memberi isyarat agar mengawal Diana pergi bersama mereka ke sebuah hotel yang diperintahkan oleh Logan.


Logan sudah menunggu di hotel itu, duduk di dekat beranda seraya menatap ke jendela kamar yang mengarah pada pemandangan kota Singapura.


Gerry mengantarkan Diana ke hadapan Logan setelah sampai di kamar hotel, kemudian Gerry berdiri di dekat Logan yang masih bergeming di sana.


"Apa kabar, Tante Diana? Sudah lama saya tidak menyapa Anda," mulai Logan, bernada sarkastik.


"Tak perlu berbasa-basi. Kau bilang, kau mau mengungkapkan kejahatanku?" timpal Diana, dengan percaya diri melawan sang menantu.


"Sebelum aku mengungkapkannya, sebaiknya Anda yang mengaku terlebih dahulu." Logan bergeser ke arah kursi, kemudian duduk. Logan meletakkan gelas anggur ke meja Diana, mengisinya dengan wine seraya berkata, "Mungkin aku akan mempertimbangkan hukuman ringan untuk Tante."


"Kau mengancamku?!" pekik Diana, matanya menyalang marah.


"Jika kau menganggap aku ibu mertuamu, kau tidak akan memfitnahku!"


"Fitnah?" Logan tersenyum mendengus, kemudian menoleh pada sekretarisnya. "Gerry, berikan buktinya!"


Gerry mengangguk singkat sembari berkata, "Baik, Pak."


Gerry melangkah tegak menuju bilik di samping kiri Logan. Tak lama kemudian, Gerry keluar sembari menyeret pak Juan, lalu menghempaskannya di depan Diana.


Rona wajah Diana berubah pucat, memalingkan wajah agar tak tampak oleh Logan bahwa dirinya terkait dengan pria itu. Namun, Logan sudah melihat ekspresi itu, lalu tersenyum mencemooh.


"Masih tidak mau mengaku? Baiklah, biar pria itu saja yang berbicara," kata Logan mengertak, Diana sontak gugup dan kikuk.


Gerry menepuk bahu pak Juan sebagai isyarat. Pria itu sontak terhenyak, lalu berkata dengan grogi di bawah paksaan. "Saya ditawarkan sejumlah uang oleh bu Diana, agar saya merugikan JH GRUP, dengan mengkorupsi sejumlah uang, lalu menyebarkan rumor palsu kepada investor."


Diana gemetaran dengan mata mendelik. Tangannya yang sejak tadi dikepal, ia benturkan dengan keras ke meja. "Bohong! Itu tidak benar! Orang rendahan sepertimu beraninya memfitnah saya!" bentaknya membantah.


Pak Juan menggeleng dengan wajah memelas mengarah pada Logan. "Tidak, Pak. Saya sudah memberikan rinciannya pada Pak Logan, 'kan? Saya tidak merekayasanya." Ia membela diri sembari menangkupkan kedua tangannya

__ADS_1


Logan menegadahkan tangannya pada Gerry, yang kemudian memberikan sebuah kotak rekaman kecil padanya. Diana tercengang dan menegang melihat kotak rekaman itu. Logan menikmati ekspresinya sembari menekan tombol "play" pada kotak rekaman. Dan beginilah isi rekaman itu.


J: "Maaf, maksud Nyonya Diana apa, ya?"


D: "Mudah saja, kamu hanya menyebarkan rumor palsu dan mengambil sejumlah uang perusahaan sehingga mereka mengalami kerugian besar."


J: "Kenapa saya harus melakukan itu? Bagaimana kalau saya ketahuan?"


D: "Kamu tidak perlu khawatir, saya akan membuatmu lolos dari mereka. Dan keluarga kamu juga akan saya lindungi. Jadi bagaimana? Tertarik?"


Diana jatuh terduduk dengan wajah memucat setelah rekaman itu selesai diputar. Bibirnya terbungkam, tak ada lagi alasan baginya untuk mengelak. Logan menenggak anggurnya dengan wajah puas. Logan menang, dan masalah selesai!


...đź’Ť...


Operasi pengangkatan rahim telah selesai, Nina tertidur cukup lama, dan baru sadar keesokkan harinya. Kenan menunggu di luar ruangan seperti yang diminta oleh Logan kemarin. Kenan rela melakukannya, apalagi setelah tahu alasan dibaliknya.


Nina yang tersadar, tak bertanya kala melihat Kenan di sampingnya. Ia tak mencari ibunya, berpikir bahwa Diana tengah sibuk menyelesaikan masalah.


Keesokkan harinya lagi, keadaan Nina mulai agak lebih baik. Kala bosan berbaring, Nina duduk di atas ranjang, menatap ke arah jendela seraya termenung.


Kenan masuk ke dalam ruangan, lantas tertegun sejenak melihat Nina. Kemudian, Kenan menghampirinya dengan sembari membawa piring dan buah-buahan yang sudah dicuci.


"Bagaimana keadaanmu? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?" tanya Kenan, duduk di kursi dekat ranjang.


Nina tak melirik, tetap bergeming seperti itu. "Ada kabar dari mamaku?" tanyanya bergumam.


Kenan terkesiap, kikuk melirik ke arah lain. "Nanti saja kita bahasnya. Makan buah dulu, yuk." Kenan berkilah, mengubah arah topik pembicaraan.


"Apa Logan yang memintamu menjagaku? Aku sudah tahu, tidak mudah menyembunyikan apa pun dari Logan," gumam Nina, tersenyum pahit.


Kenan resah, tidak tahu harus mengatakan apa pada Nina. Ia terlalu cemas pada keadaannya, jika Nina tahu apa yang terjadi pada ibunya.


"Nina, tolong kamu—"


Ucapan Kenan terpotong karena ponselnya berdering. Kenan merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya. Logan menelepon, dan itu terlihat oleh Nina.


Nina sontak menyambar ponsel itu tanpa mampu Kenan cegah. Kemudian, telepon itu dijawab olehnya.


"Halo, Logan. Apa mamaku bersama denganmu?"[]

__ADS_1


__ADS_2