Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Aku berharap bisa terus bertahan


__ADS_3

"Tetaplah di sini, bersama denganku." Anna tertegun, lalu menatapnya heran.


Pria ini benar-benar mabuk atau dalam keadaan sadar?


Lantas, Anna mendekatkan wajahnya, memperhatikan wajah Logan dengan seksama. Ya, Tuhan! Anna tersentak dan spontan mundur kala Logan tiba-tiba membuka matanya. Dia sadar!


Wajah Anna seketika memucat. Kalau memang begitu, berarti Logan mendengar semua gerutuannya. "Ah! Gawat," gumam Anna panik, memalingkan wajahnya.


"Kau kenapa?" tanya Logan, suaranya agak parau. Anna langsung menoleh, mencoba bersikap tenang.


"Ah! Nggak ada," sahutnya sambil menggelengkan kepala.


"Tadi, kau mengatakan sesuatu?"


"Mengatakan sesuatu?" ulang Anna, melirik dengan ekspresi tegang. Kemudian, ia tertawa dipaksakan sambil mengibaskan tangan. "Oh! Kamu salah dengar kayaknya. Ah! Mau aku ambilkan minum? Minuman apa yang bisa menghilangkan pengar?"


Logan mendesah, lengannya diletakkan di keningnya sambil memejamkan mata. "Aku hanya butuh tidur."


"Oh? Ya udah. Silakan tidur, lalu ... lepaskan tanganku." Perlahan, Anna menarik tangannya. Akan tetapi, Logan mempererat pegangan tangannya. Anna pun terhenyak.


"Aku bilang 'tetap di sini'!" lugas Logan.


Anna menghela napas, memalingkan wajah lagi, menggerutu lagi. "Memangnya dia anak kecil yang minta ditemani?"


Kali ini, sepertinya telinga Logan berfungsi dengan baik, sampai bisa mendengar gerutuannya yang kecil itu. "Aku tidak ingin kau ke sana, dan Kenan mengambil kesempatan untuk mendekatimu."


Mulut Anna ternganga lebar dengan mata membulat. Lalu, menoleh perlahan pada Logan. Pria itu menatap padanya sejenak, sebelum menutup matanya lagi.


"Aku bukannya cemburu," ralat pria itu buru-buru, sebelum Anna berpikir seperti yang dikatakannya. "Aku hanya ingin menyelamatkan wajahku di depan om dan tanteku."


Jadi semuanya hanyalah akting? Dengusan Anna sambil menoleh ke arah lain begitu kencang, sampai pria itu kembali membuka matanya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau kesal? Kau berharap banyak dariku?" tanya Logan dingin dan sinis.


Rahang Anna mengeras, mata yang menatap pria itu seakan ada api yang menyala-nyala. "Kamu tidak perlu melakukan hal ini untuk menyelamatkan mukamu!" sahutnya geram tertahan, menghempaskan kasar pegangan tangan pria itu sampai terlepas. Anna menghela napas kencang, sigap berdiri. "Aku tahu harus bersikap apa di depan orang, meskipun aku bersama dengan Kenan."


Logan menatap Anna seksama, dengan ekspresi dingin dan datarnya. "Kau berani mengomel?"


"Aku tidak tahan dengan sikapmu!" sambar Anna cepat, kekesalannya dua kali lipat. "Kenapa kau harus peduli aku sedang bersama dengan siapa, sementara kau tidak memiliki perasaan padaku? Kau pikir, aku tidak tahu tugasku? Aku tidak semurah yang kau pikir. Orang lain juga tidak akan berpikir buruk seperti yang ada di dalam otakmu. Kau lakukan hal tadi karena dendammu pada Kenan."


Anna jeda sejenak, cerocosannya membuat napasnya terengah-engah, apalagi saat ia sedang marah begini. "Jangan libatkan aku dalam pertengkaran di antara kalian. Berhentilah bersikap kekanak-kanakkan!"


Setelah kata terakhir terucap, Anna berbalik, akan melangkahkan kakinya. Namun, Logan kembali berseru: "Berhenti! Kataku, tetaplah di sini!"


Ya, Anna berhenti melangkah, memejamkan mata sambil menghela napas perlahan karena mencoba menahan rasa geramnya. Ia melirik pria itu dari atas pundaknya.


"Aku mau ambil air wudhu, mau shalat," sahut Anna, tegas dan dingin.


Logan tak bisa berkata-kata sejenak karena kesalahpahaman yang dipikirkannya. "Oh ... silakan."


Namun, Tuhan memberinya kesabaran karena Anna selalu berdoa agar bisa terus menahan diri. Hal itulah yang dimintanya dalam setiap doanya, selain kesehatan kedua orangtua, mertuanya, dan bayi di dalam kandungannya.


Setelah selesai berdoa, Anna menoleh pada Logan. Pria itu sudah tertidur pulas. Sekarang, apa yang harus dilakukannya, apa harus tetap berada di sini? Saat ia melipat mukena dan sajadahnya, ia menguap lebar. Mungkin tidur siang boleh juga, begitu pikirnya. Anna melirik pada sofa dan ranjang sambil berpikir.


"Kalau tidur di ranjang ... agak risi karena ada Logan. Tapi, kalau tidur di sofa ... badanku sakit-sakit nanti. Em ... apa tidur di lantai saja? Ah! Apa kau mau mati di tangan Logan? Dia bakal menganggap aku sengaja membahayakan bayinya."


Tidak ada pilihan lain. Anna menatap sisi ranjang yang kosong dengan wajah memelas. Mau tidak mau, ia harus tidur seranjang dengan pria itu. Maka, ia naik ke atas ranjang, berbaring, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Untuk berjaga-jaga agar pria itu tidak memeluknya seperti malam-malam sebelumnya, tidak lupa Anna letakkan dua bantal guling di antara mereka. Barulah, Anna bisa terlelap dengan tenang.


...☘ ...


Jeane dan Jane bermain kejar-kejaran di taman dengan diawasi oleh Aurellie, Kenan, dan Juan yang duduk di meja untuk piknik tadi. Ketiganya mengobrol sambil menyesap minuman kaleng.


Kenan melirik ke arah pintu yang menjadi akses masuknya ke dalam rumah, menanti kehadiran Anna yang tidak muncul-muncul. "Anna lama sekali?" gumamnya kecewa.

__ADS_1


"Mungkin, sedang tidur siang," timpal Aurellie, yang mendengar gumamannya. "Dia pasti kelelahan. Oya! Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa berjalan dengan lancar?"


Kenan mengangguk. "Alhamdulillah, tidak ada kendala," jawabnya sambil tersenyum renyah.


"Lalu, bagaimana dengan perusahaan kakakku? Aku tidak sempat mendengar banyak cerita dari Logan. Kau tahu, 'kan? Anak itu sangat tertutup. Putusnya pertunangannya dengan Nina saja aku tidak tahu. Eh, tiba-tiba menikahi Anna."


"Kan kau sudah mendengar ceritanya dari kak Elina," cetus Juan, ikut nimbrung.


"Iya, sih. Oya, Kenan, apa kau tahu soal ini?"


"Iya, saya tahu," jawab Kenan, mengangguk pelan.


"Em ... jadi, bagaimana keadaan soal perusahaan kak Matthew? Tidak mengalami kendala apa pun, 'kan?" cecar Aurellie, firasatnya yang kuat terus mendesak Kenan agar bercerita.


Air muka Kenan yang muram, membuat Aurellie berdebar, apalagi pria itu cukup lama untuk menjawabnya.


"Kenan, ada apa?" desak Aurellie, semakin cemas.


Tidak ada gunanya menyembunyikan hal ini, meskipun yang ia dengar dari papanya, bahwa Matthew ingin menyembunyikan masalah ini dari Aurellie.


Kenan menyerah, dan ia pun berkata, "Nyonya Charlote menggugat hak harta warisan pada om Matthew."


Benar ternyata! Aurellie tidak terkejut akan hal ini, karena Charlote sempat menghubunginya sekitar 2 minggu yang lalu. Jadi, ibunya serius untuk meminta hak warisan yang lebih besar dari kakaknya? Keterlaluan! Rutuknya dalam hati.


...☘ ...


Entah, ada sekitar 7 orang, yang terdiri dari 5 pria dan 2 wanita paruh baya, memasuki sebuah ballroom mini di sebuah restoran. Raut wajah mereka bingung meski sudah disuguhi oleh segelas anggur yang enak.


Mereka saling bertanya dan berdiskusi tentang undangan makan malam, yang digelar oleh seorang janda William Jonathan. Orang yang sedang mereka bicarakan itu datang dengan memakai gaun hitam bawahan ketat dan blazer yang menutupi punggungnya, lalu ditemani oleh seorang pria yang berusia lebih muda darinya.


Seorang pelayan membuka blazer-nya, lalu digantung di sebuah tempat. Semua orang terdiam, menoleh pada Charlote yang sedang duduk di kursinya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau datang. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kalian."[]


__ADS_2