Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Logan Mulai Bertindak


__ADS_3

Luar biasa dongkolnya Diana setelah membaca berkas yang diberikan Nina di pagi hari yang cerah. Berkas itu Diana lempar kasar di atas meja bening, lalu duduk di kursinya seraya mendengus.


"Apa dia menantang kita? Dia lupa kalau kitalah yang membantu perusahaannya?" rutuk Diana, mendengus lagi karena sangking murkanya.


Nina termangu di tempatnya tanpa ekspresi. Diana menoleh pada sang anak, semakin frustrasi melihat ekspresinya itu.


"Apa lagi yang kau lakukan sampai Logan berani melayangkan surat cerai padamu?" tanya Diana jengkel, sepertinya dia tahu sumber dari masalah ini.


Mata Nina semakin menyendu. "Aku hanya menyingkirkan benalu dalam rumah tanggaku," jawabnya bergumam datar.


Pasti yang dimaksud adalah Anna? Diana menghela napas gusar. Anaknya ini hanya bisa buat kacau saja!


"Nina, kenapa kau malah semakin membuat runyam? Mama sudah bilang, jangan usik Anna! Logan pasti akan menurutinya karena dia sudah tahu risikonya jika dia melanggar. Tapi, kau malah membuat Logan semakin menjauhimu dengan mengusik Anna. Kau ini..." Diana mendecak. "Mama capek bilangnya. Berkali-kali Mama bilang, kamu hanya perlu memikat Logan."


Nina meremas jemarinya, emosi di dalam jiwa menggebu, tetapi tak bisa dikeluarkan seolah ia letih menjelaskan.


"Ma, sejak awal Logan sudah menjauhiku. Hanya aku pengantin wanita yang ditinggal saat malam pertama, dan tidak pernah bersama dengan suaminya," ucapnya lirih dan muram, hingga air mata tak kuasa dibendung. "Cara apa pun telah dilakukan, tapi nyatanya ... diliriknya saja tidak."


"Malang sekali nasibmu, Nak," gumam Diana, mencelus. "Mama juga tidak tahu harus apa. Apa kita hancurkan saja mereka?"


Nina mengangkat kepalanya, matanya mendelik. Nina memang tersiksa dengan perlakuan Logan, tapi ia tak mau melihat pria itu terpuruk. "Nggak, Ma. Aku tidak bisa," tukas Nina memekik frustrasi. "Aku mencintai Logan, aku tak mau dia hancur."


"Tapi dia menghancurkanmu!" sahut Diana gusar. "Kau masih berbaik hati padanya? Apa kau kehilangan akal? Apalagi yang mau kau pertahankan, Nina? Coba lihat!" Diana menunjuk pada berkas perceraian di meja. "Dia mengirimkan ini padamu! Dia sudah tak tahan lagi denganmu. Sadarlah, Nina!"


Ucapan Diana semakin membuat Nina terpuruk. Nina menghela napas, tatapan goyahnya, terlihat depresi, yang kemudian disusul oleh rasa sakit di bawah perutnya.


Nina memegangi perutnya seraya membungkukkan badannya sedikit. Ucapan "aduh" terdengar pelan dari mulutnya. Diana beranjak dari kursinya dengan cemas.


"Ada apa, Nina? Kau kenapa?" tanya Diana panik, mendekati anaknya.


Rasa sakit ini membuat suaranya seakan tercekat di tenggorokkan. Nina hanya cuma mengeluh dan merintih. Diana semakin cemas, lantas meminta sekretarisnya untuk menghubungi dokter.


...💍...

__ADS_1


Logan telah bersiap dengan memakai kemeja dan celana panjang hitam. Ia bediri di depan cermin panjang seraya memakai jam tangannya.


Ponselnya yang tergeletak di samping kacamata berbingkai agak tebal berdering. Tangannya yang panjang meraih ponsel, lalu mengangkat telepon.


"Halo, Gerry," sahut Logan.


"Pagi, Pak. Maaf jika mengganggu. Seperti yang Anda perintahkan, saya sudah mengirimkan surat gugatan cerai pada nyonya Nina," cetus Gerry di ujung sambungan telepon.


"Bagus. Apa ada perkembangan baru soal perusahaan?" tanya Logan, berjalan menuju rak sepatu, lalu meraih sepatu pantofel hitam.


Gerry hening sejenak, Logan pun mengernyit. "Em ... Pak. Kapan Anda kembali ke Jakarta?"


Logan berpikir lalu menyimpulkan kegamangan Gerry yang terdengar dari pertanyaan itu. "Apa ada masalah?" cetusnya lugas.


"Hanya saja, saya khawatir jika nyonya Nina membuat masalah karena Anda menceraikannya," jawab Gerry sangsi.


Logan tahu bahwa hal seperti itu tidak menutup kemungkinan. Berkali-kali Nina mengancamnya agar Logan kembali padanya. Tapi kali ini, Logan tidak akan membiarkan wanita itu menggertaknya lagi.


"Aku akan segera kembali secepatnya. Ada yang ingin aku lakukan di sini," jawabnya, setelah mempertimbangkannya.


"Siapa?"


"Tuan Park Jiwon."


...💍...


Anna menghela napasnya beberapa kali di setiap langkahnya yang lambat menuju kantor. Tubuhnya yang kuyu bukan karena belum sarapan, tetapi ia merasa enggan dan malu jika bertemu dengan Woojin karena kejadian malam itu.


Bisa tidak ia menghindarinya? Sepertinya tidak. Anna dan Woojin duduk bersebelahan, kontak mata pasti terjadi meski tak sengaja.


Huh! Resahnya.


Gaeun telah sampai di kantornya lebih dulu. Anna melirik sejenak pada meja kerja Woojin yang masih kosong, lalu duduk di kursinya. Apa sekarang sudah waktunya merasa lega? Baiklah. Anna akan bersikap seolah di sampingnya tidak ada orang saat Woojin datang.

__ADS_1


Gaeun selalu memperhatikan semua orang. Ia heran melihat Anna yang memelas. Ia langsung mencari tahu; menggeser tempat duduknya, mendekati Anna.


"Eonni," panggilnya agak berbisik. "Waeyo? Eonni apeuda? (ada apa? Kakak lagi sakit?)"


Anna terkesiap, langsung kikuk. "Anniyo. Keundae, Woojin-i ajig an wasseo? (BTW, Woojin belum datang?)."


Gaeun menaikkan bahunya. "Molla. Naneun geuui yeoja chinguga aniya. Na hante mudjima (Nggak tahu. Aku bukan pacarnya. Jangan tanya aku, oke?)."


Anna tergelak. "Wae? Neon da aneungun (kenapa? Kamu kan tahu semua hal)," godanya sembari menyenggol lengan Gaeun.


"Igeoji jinja jinja animyeon (kalau yang ini aku benar-benar nggak tahu)," sambar Gaeun, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke laptop.


Ke mana lagi pria itu. Dalam sebulan, Woojin lebih sering tidak masuk. Anna menghela napas resah. Kalau dia terus begini, lama-lama Woojin bisa dipecat.


...💍...


Setelah diberitahu bahwa Park Jiwon akan menemuinya, Logan langsung menghubungi Matthew. Logan marah karena ayahnya membuat jadwal temu sebelum mendapatkan persetujuannya terlebih dahulu.


Matthew punya cara cerdas untuk menimpalinya tanpa banyak debat. Dia mengatakan bahwa Elina yang memintanya agar Logan bertemu dengan ayah kandungnya itu.


Jika sudah berhubungan dengan sang ibu, Logan cuma bisa menghela napas pasrah. Apalagi, Matthew membiarkan Elina membujuknya langsung lewat sambungan telepon. Alhasil, tidak ada penolakan dari Logan. Ia terpaksa menemui pria itu di sebuah restoran pada malam harinya.


Park Jiwon sudah sampai di sana tepat waktu, tetapi Logan tak kunjung datang. Anak perempuannya yang duduk terpisah darinya menyarankan untuk pulang saja, dan membuat janji temu di hari lain. Park Jiwon tidak menyetujuinya, memintanya untuk memberi waktu sekitar setengah jam lagi.


Melihat kegigihannya untuk bertemu dengannya, Logan luluh juga. Logan turun dari mobil dengan setengah hati, lalu memasuki restoran itu dan menemui pria tua bertongkat yang telah menunggunya sejak tadi.


Melihat Logan dari kejauhan, Park Jiwon sontak beranjak dari kursi. Logan menghampiri tanpa tersenyum. Park Jiwon mengulurkan tangan, tetapi Logan membungkukkan badannya sekejab, lalu duduk di kursinya dengan acuh tak acuh.


Park Jiwon tersenyum getir, paham bahwa dirinya akan disambur dingin oleh anak yang telah dibuangnya 30 tahun yang lalu. Lantas, Park Jiwon duduk kembali di tempatnya, dan memulai dengan sebuah pertanyaan untuk menghilangkan kecanggungan.


"How are you? You must be busy. Sorry if I... (apa kabar? Kamu pasti sibuk. Maaf jika saya...)."


"Palliwa. Neowa eoullil sigani eobseo (cepat katakan. Saya tidak punya waktu berbasa-basi dengan Anda)," tukas Logan dingin dan menusuk.

__ADS_1


Park Jiwon cukup terkejut, tapi kemudian bergeming dengan rasa sakit yang cukup dalam.[]


__ADS_2