
Tita memasuki sebuah ruang inap berfasilitas mewah yang ada di rumah sakit wilayah London Utara. Sahabatnya yang tak lain adalah Nina, sudah seminggu terbaring koma di ranjang yang dingin ini.
Matanya menatap sendu, lalu meraih jemari Nina yang lentik. Tangkup oksigen sudah tidak dipakainya lagi, kondisi Nina ada kemajuan dari sejak kecelakaan itu.
Namun, Tita masih saja merasa sedih. Kapan gadis itu bangun dari komanya?
Tuhan seperti mendengar rintahan itu. Tita tersentak merasakan jemari Nina bergerak. Ia mendongak, melihat kedua mata Nina perlahan terbuka sedikit. Senyumnya terkembang, begitu bahagia.
"Nina! Nina! Kamu udah sadar?"
Namun, panggilannya itu tidak direspons oleh Nina. "Sebentar, aku panggil dokter dulu." Tita menekan sebuah tombol yang ada di dekat ranjang.
Selama dokter menuju perjalanan ke kamar ini, Nina menatap kosong pada langit-langit kamar berwarna putih. Kemudian, seorang dokter dan seorang perawat menghampirinya, langsung menangani Nina. Sementara itu Tita di samping kiri Nina, memperhatikan para medis memeriksa keadaan gadis itu.
Setelah selesai, ia langsung mencecar dokter itu, menanyai keadaannya. Namun, dokter itu menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti CT scan.
Tita tidak ragu menyetujui saran itu, karena kedua orangtua Nina memberi tanggung jawab penuh padanya selama Nina di rumah sakit. Dengan dibantu seorang perawat, Nina duduk bersandar di ranjang. Tita melirik padanya seraya tersenyum, kakinya akan melangkah ke arahnya. Namun, ia mematung kala Nina berkata:
"Tita, Logan mana?" Kemudian, ia menatap jemari rampingnya. "Mana cincin tunanganku?"
Dahi Tita mengkerut dengan mulut ternganga. Ia melirik ke arah dokter dengan penuh tanda tanya.
...****************...
Tubuhnya lemas duduk di kursinya dengan tangan sibuk mengupas apel dengan pisau. Nina menatapnya, menunggu Tita memberikan potongan apel merah yang menggiurkan.
"Nih!" Tita memberikan sepotong apel yang sudah dikupas. Nina menerimanya dengan riang, dan langsung mengunyahnya. Tita memotong apel lagi, lalu diletakkan di atas sebuah piring bening.
"Tita, apa kau sudah menghubungi Logan?" tanya Nina, sontak gerakan Tita berhenti.
Tita menghela napas sambil memejamkan mata. Memelas menatap Nina. "Nin, kamu sama Logan itu—"
"Tita, cepat carikan cincinku!" Nina menyela, seakan tak peduli dengan ucapan Tita. "Nanti Logan kecewa kalau aku nggak pakai cincinnya—"
"Nina!" tegur Tita, membentak, tak tahan mendengar ocehan ngaco Nina. Ia seakan tak percaya pada ucapan dokter bahwa Nina amnesia. "Kamu sama Logan itu sudah putus!"
Wanita itu tercengang dengan mulut ternganga. Kepalanya menggeleng, meski merasa syok mendengar ucapan sahabatnya itu. "Nggak ... itu nggak mungkin. Kamu pasti bohong, 'kan?"
Tita meletakkan pisau dan apelnya di atas piring, dengan cepat meraih kedua pundak Nina. "Nin, aku nggak bohong. Kalian udah putus! Logan udah menikah sama perempuan lain—"
Nina menghempas kasar kedua tangan Tita dari pundaknya. Ia tak percaya dengan yang didengarnya. "Bohong! Kamu bohong!" jeritnya, menutup kedua telinganya dengan tangannya.
__ADS_1
Tak hentinya Nina menjerit dengan kata yang sama, sampai akhirnya ia berhenti sambil memejamkan matanya erat. Denyutan di kepalanya terasa menyiksa, membuatnya tak dapat mengeluarkan sepatah katapun.
"Nin, kamu kenapa?" tanya Tita cemas, melihat wajah Nina semakin memucat.
"Tita ... kepalaku ... sakit...," gumam Nina, ucapannya tersendat-sendat karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Gegas Tita menekan tombol yang ada di dekat ranjang. Akan tetapi, Nina sudah keburu terkulai tak sadarkan diri di atas ranjang.
...💍...
Logan sudah pergi ke kantor, dan Anna kembali ke kamarnya. Tidak ada yang dilakukannya lagi selain duduk, baca berita di ponsel, ataupun berkirim pesan dengan temannya.
Bosan di kamar, ia beranjak ke luar, berjalan memasuki ruang tamu yang sepi, entah pada ke mana seluruh penghuni rumah. Ia berhenti sejenak untuk melihat berbagai bingkai foto yang terpajang di sebuah nakas panjang yang ada di ruang tamu.
Foto-foto Logan dan kedua orangtuanya cukup menarik perhatian. Ia meraih satu bingkai, tersenyum gemas melihat foto itu. "Lucu banget sih, Logan kecil," gumamnya.
Kemudian, foto itu diletakkan kembali karena ia melihat sebuah bingkai foto lainnya. Foto sosok seorang anak laki-laki tampan berusia 5 tahun yang ada di dalam pangkuan Elina adalah bingkai foto selanjutnya yang dilihat.
Namun, ia mengernyit, rupa anak itu tidak sama seperti Logan. Dia memiliki wajah khas bule persis seperti ayah mertuanya. "Ini ... bukan Logan, 'kan? Apa kakaknya?" gumamnya heran.
Suara langkah sepatu sekaligus sapaan lembut, membuat Anna terhenyak dan langsung meletakkan bingkai foto ke tempatnya. Ia tersenyum grogi menghadap Elina yang semakin mendekat.
"Anna, ikut sama Mama, yuk! Kamu pasti bosan ya, di rumah seharian?"
"Ke mall."
Ke mall? Lumayan sih? Daripada tidak melakukan apa pun di rumah. Lantas tanpa ragu, Anna mengangguk setuju sambil tersenyum. "Mau, Ma. Kalau begitu, aku siap-siap dulu sebentar ya, Ma."
"Ya. Mama tunggu kamu di teras, ya." Angguk Elina.
Tak ada yang dipersiapkan Anna selain meraih sebuah mantel warna cokelat susu, dan mempertebal sedikit bedaknya. Lalu, ia terbirit-birit keluar karena tidak ingin ibu mertuanya menunggu terlalu lama.
Bertepatan dengan keluarnya Anna dari dalam rumah, mobil yang akan membawanya, Elina, dan seorang pelayan sudah tiba di depan teras. Elina menghela lembut pinggang Anna, supaya dia masuk duluan ke dalam mobil, lalu Elina menyusul.
"Pak Yohan, antarkan kami ke mall tempat saya biasa berbelanja, ya," kata Elina, pada pria paruh baya, yang telah setia menjadi sopir kepercayaan di rumah ini selama bertahun-tahun.
"Siap, Bu." Angguk Pak Yohan, lalu pria itu melajukan mobil ke tempat yang ingin dituju oleh Elina.
Sesampainya di sana, Elina mengajaknya ke lantai basement untuk membeli barang-barang keperluan bulanan seperti bahan-bahan makanan. Anna mendorong troli yang telah penuh dengan berbagai macam sayuran dan buah.
"Anna, susu kamu sudah habis, 'kan?" tanya Elina ketika berhenti di antara dua rak. Gadis itu berpikir sejenak.
__ADS_1
"Iya ... tinggal dikit, sih," jawab Anna ragu, soalnya lupa juga. Elina pun sedikit berbalik menghadap pelayannya.
"Bu Rima, saya mau ke rak sebelah dulu, ya. Ibu pergi ke rak lain untuk memilih bahan makanan yang belum dibeli. Nanti, saya tunggu di kasir sebelah sini," katanya sambil menunjuk pada tempat kasir, yang antreannya cukup panjang.
Pelayan itu mengangguk paham, dan Elina langsung mengamit lengan Anna ke rak samping kanannya. Kedua wanita itu perlahan menyusuri rak susu yang terpajang, melihat-lihat berbagai merek susu.
Ponsel Anna berdering. Elina melirik arah suara itu, dan Anna langsung merogoh saku mantelnya. Anna menghela napas, begitu melihat nama si penelepon tertera di layar ponsel. Kenan. Untuk apa sih, dia menelepon? Angkat tidak, ya? Anna jadi ragu.
Elina melihat gelagat Anna dengan heran, tak jadi meraih sekaleng susu hamil merek terkenal di TV. "Kenapa nggak diangkat, Anna?"
Anna menyeringai hambar. Entahlah. Apa baik menerima telepon dari pria lain, sementara ia sedang bersama dengan ibu mertuanya?
"Udah, angkat saja. Siapa tahu penting." Elina menyarankan, tanpa tahu siapa yang sedang menghubungi menantunya itu.
"Sebentar ya, Ma." Akhirnya, Anna mengiyakan, lalu berbalik dan menjauh sedikit dari tempat Elina berdiri. "Halo, Kenan. Ada apa menelepon?" sahut Anna cepat, seakan ingin buru-buru mengakhiri pembicaraan ini.
Suara tawa renyah khas Kenan menyapa duluan. "Kenapa? Kok nanyanya gitu? Kayak orang yang ditagihin utang aja."
Anna tak bisa tertawa karena rasa cemas yang menggelayutinya. "Sori. Jadi, ada apa kamu telepon aku?" Suara Anna kini melunak.
"Nggak penting, sih. Cuma mau tanya kabar kamu aja kok, Anna." Pria baik. Bahkan, suaminya saja tidak menanyakan hal itu padanya. Namun, tetap saja Anna mengeluh. Pembicaraan basa-basi ini tidaklah penting untuk saat ini.
"Kabar aku baik," jawab Anna. "Kamu teleponnya nanti aja, ya. Aku sedang bersama dengan mama Elina."
"Oh." Kenan menyahut dengan suara parau yang terdengar kecewa. "Yah, padahal aku mau ngajakin kamu makan siang. Ya udah deh, Anna. Next time bisa, nggak?"
"Em ... aku—"
"Kenapa kamu masih ada di sini?"
Anna tersentak saat mendengar bentakan di ujung telepon. Suara pria yang tak asing itu, tak lain dan tak bukan adalah suara Logan. "Aduh gawat!" gumam Anna tanpa suara sambil menepuk keningnya.
"Kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Kenan balik, suaranya terdengar agak jauh dari telepon.
"Ini kantor aku! Mau di mana aja ya, terserah aku!" sahut Logan ketus. "Aku dengar kamu menelepon Anna. Ya, 'kan?"
"Memang kenapa? Apa salahnya?"
Anna menghela napas resah. "Aduh, malah ditantangin begitu lagi?" gumamnya, masih mendengarkan pertengkaran kedua pria itu di telepon.
"Tidak tahu malu! Masih saja gangguin istri orang!" sindir Logan, dingin dan dalam, begitu menusuk.
__ADS_1
"Apaan sih?" gerutu Anna, lelah mendengarkan percakapan itu. "Matiin ajalah!"
Anna menekan tombol merah pada layar ponsel, lalu berbalik sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku mantel. Ia tertegun heran, tidak ada sosok ibu mertuanya di sepanjang lorong rak ini. "Lho? Mama pergi ke mana?"[]