
Brak!
Pintu kayu reyot itu dibuka dengan kencang, berdiri sebuah siluet yang dengan cepat masuk ke dalam ruangan yang gelap, menghampiri lemari kayu jati yang warnanya telah pudar.
Napas sosok itu memburu, memasukkan asal beberapa pakaian dan barang-barang berharga ke dalam sebuah tas. Ia terhenyak kala mendengar suara pintu dibuka paksa. Semakin paniklah ia, mempercepat pekerjaannya, lalu pergi dari pintu lainnya.
Beberapa detik kemudian, pintu rumah ini terbuka, beberapa pria berjas hitam masuk ke dalam dan mulai menggeledah rumah ini.
"Tidak ada di manapun, Pak," lapor seorang pria pada atasannya, setelah selesai menggeledah.
"Berarti, dia sudah kabur," gumam si atasan berbadan besar dan berkumis tebal itu. "Cepat, cari di luar! Kemungkinan dia belum lari jauh dari sini!"
Perintah itu segera dilaksanakan. Mereka bergerombol mencari di gang sempit yang ada di daerah pinggiran ibu kota. Matahari terik membakar semangat mereka untuk mencari pria bernama Septian Halim itu.
Pria yang mereka cari sedang berlari dengan wajah pucatnya di sebuah lapangan bola yang dipenuhi oleh anak-anak yang sedang bermain.
Salah satu pria berseragam itu berhasil menemukannya, dan menyusulnya ke sana. "Jangan lari!" teriaknya, hingga anak-anak yang ada di lapangan menoleh padanya.
Laju pria yang diburunya itu larinya semakin kencang sambil memegang erat tas hitam di dadanya. Oleh karena itu, pria berseragam tadi mengeluarkan sebuah pistol, lalu ditembakkannya ke atas.
Sontak, bukan hanya pria itu, tetapi orang-orang yang mendengarnya menutup telinga. Pria itu jongkok, menutup matanya erat dan gemetaran.
Saat pria berseragam itu menghampirinya, Septian Halim bergumam ketakutan, "Tolong, ampuni saya ... saya tidak tahu apa-apa, Pak. Tolong jangan tembak saya...."
Kedua tangan Septian dibekuk dan diikat oleh pria berseragam itu tanpa perlawanan.
Salah seorang pria berjas hitam, lalu menghubungi atasannya. "Pak, saya sudah membekuk Septian Halim," lapor pria itu.
"Kerja bagus! Nanti teman-teman kamu yang lain akan menyusul, lalu bawa dia ke mobil," kata si atasan.
"Baik, Pak."
Kejadian ini mengundang beberapa orang datang untuk melihat. Septian Halim hanya menundukkan kepala, mendengar beberapa bisikan dari orang-orang yang menontonnya dan melirik mereka dari ujung matanya.
"Ada apa sih? Ada penangkapan *******?" kata seorang ibu berjilbab merah muda.
Ibu yang di sebelahnya menggeleng, lalu menimpali. "Nggak tahu. Tapi, bukannya itu si Tian, si cleaning service itu? Masa tampangnya bloon gitu jadi *******? Nggak percaya saya."
"Ya, bisa saja!" sahut pria setengah baya, yang hanya memakai singlet putih dan sarung itu. "Mungkin, dia pura-pura bloon supaya nggak ketahuan kedoknya."
Gosip itu menyebar, membuat hati Septian mendidih. Di dalam hati, ia membantah tuduhan itu. Namun apa daya, tidak ada gunanya ia meneriaki bantahannya itu.
Tak berapa lama kemudian, beberapa mobil datang ke lokasi. Lantas, Septian Halim digiring masuk ke sebuah dalam mobil dengan pasrah.
...🍀...
Anna merenung, membiarkan mesin fotocopy menyalin beberapa buah kertas berisi data. Nada dering ponselnya membuyarkan lamunan itu, sebuah telepon masuk dari Kenan.
"Halo."
"Nanti aku jemput, ya?" kata Kenan.
"Nggak usah, Pak. Saya kan bawa motor," tolak Anna, setelah menghela napas.
"Ditolak lagi," keluh Kenan, tapi tetap terdengar nada ceria. "Jadi, kapan kita bisa pulang dan makan bareng lagi? Apa nggak bisa kita jadi lebih dekat?"
Mungkin tidak untuk saat ini, pikir Anna. Namun, ia tak akan ungkapkan hal itu. Makanya, ia terdiam beberapa saat untuk mencari kata yang tepat.
"Em—"
__ADS_1
"Jangan bilang next time lagi, ya?" sela Kenan, kemudian terkekeh. "Yang kreatif dikit dong."
"Aku nggak pengin bilang itu kok," tepis Anna, tak mengakui bahwa memang ucapan itulah yang sebenarnya ingin dikatakan tadi.
"Em, oke. Jadi, mau bilang apa?" goda pria itu dengan nada mencemooh.
Anna mengatupkan bibirnya rapat. "Kenan, beri aku waktu untuk mengenalmu. Bisa?"
Tak ada suara di seberang sana. Anna cemas kalau pria itu menjadi kecewa. Namun, tidak seperti pikirannya, tawa Kenan terdengar kemudian.
"Tentu saja. Aku akan sabar menunggumu, Anna," ucap Kenan seolah menghembuskan angin segar yang melegakan hati Anna. "Tapi, aku mau jujur padamu."
Anna tersenyum. "Jujur soal apa?"
"Sejak awal, aku suka sama kamu."
Rasa apa ini? Pipi Anna memerah, dan hatinya terasa hangat mendengar pernyataan cinta yang sering didengarnya dari pria lain. Sungguh, kini ia kehilangan kata.
Namun, apa ini benar-benar tulus? Pasalnya, mereka baru saja berkenalan, bahkan belum ada sebulan. Masa sudah langsung suka? Tidak, Anna. Hati kamu jangan mudah tersanjung oleh ucapan itu.
"Oke, udah dulu, ya. Pulangnya hati-hati." Kenan menambahkan. "Jangan melamun. Soal ini, nggak usah dipikirin, oke?"
Jangan dipikirkan? Setelah Anna menutup teleponnya, ucapan itu terngiang-ngiang di telinganya. Jadi kurang konsen kerja.
Apa ia mulai suka sama cowok itu?
"Ah, tidak!" sanggah Anna sembari menggeleng.
Daripada memikirkan hal itu, lebih baik Anna meraih sebuah dokumen untuk diselesaikan. Namun, ia termenung lagi sambil memangku dagu.
"Kenan memang baik, tapi—"
Jika ia membuka hatinya untuk Kenan, dan kami menjalin hubungan, apa Kenan akan menerimanya setelah mengetahui bahwa dirinya sudah kehilangan kesuciannya. Bagaimana reaksinya?
Anna menghela napas berat.
Pasti sulit menerima wanita yang sudah tidak perawan lagi. Lihat saja para pria yang dijodohkannya waktu itu. Mereka langsung memutuskan perjodohan, setelah Anna mengatakan bahwa dirinya tidak suci lagi.
Mungkin Kenan juga sama.
"Anna!" seru seseorang yang membuatnya terlonjak.
"Iya!" sahut Anna, langsung menoleh.
Gita tertawa kecil karena berhasil membuat Anna terkejut. Namun, karena kejahilannya itu, Anna jadi kesal dan memprotes.
"Ih, Gita!"
"Bengong aja. Nggak pulang?" tanyanya sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Anna sambil tersenyum renyah.
"Ah!" Anna terkesiap, langsung melirik arlojinya. Ternyata sudah jam 6 sore dan suara adzan Magrib berkumandang. Cepat sekali hari menjemput senja.
"Ya, gue beres-beres dulu, ya," kata Anna, mengumpulkan beberapa berkas, mematikan komputer, dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Ya, udah. Aku turun ke bawah duluan, ya," kata Gita, akan beranjak.
"Tungguin aku dong," seru Anna, buru-buru menyambar tas, lalu berlari ke arahnya.
Gita berhenti dan menoleh sedikit. "Aku mau bareng sama Jojo."
__ADS_1
"Jojo?" gumam Anna heran, dahinya mengernyit sambil mengamit lengan kanan Gita. "Bukannya kamu sama dia udah putus? Jangan bilang, kamu balikan lagi sama dia?"
Anna pernah mendoktrinnya, bahwa balikan sama mantan bakal jadi hubungan yang beracun dan keputusan yang bodoh. Namun, Gita memiliki keyakinan lain yang begitu kuat pada cintanya.
Maka, ia membalas Anna dengan nada sedikit memelas. "Iya, tapi dia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Lagian, aku masih sayang sama dia."
"Tapi dia bakal nyakitin kamu lagi, Gita Asmarani," tegur Anna, gemas.
"Sakit hati? Hadapi saja. Toh, itu risiko percintaan. Aku itu bukan pengecut, tahu! Cuma gara-gara sakit hati aja. Paling, cuma nangis sebentar, terus lupa lagi."
Anna melepaskan pegangannya tangannya dari lengan Gita, dan memalingkan wajah ke depan. "Kayak hatinya terbuat dari baja aja!" sindirnya. "Hubungan kamu sama Jojo itu udah nggak sehat. Buat apa pertahanin cowok yang nggak baik begitu?"
Gita termenung, berjalan lebih pelan sambil menghela napas panjang. "Kalau hati memilih untuk berhenti mencintai dia, bakal aku lepasin."
"Huuu!" seru Anna meledek. "Mau sampai kapan? Kiamat?"
Gadis manis berkulit sawo matang itu terkekeh. "Hati itu Tuhan yang mengatur, walaupun adanya di dalam diri kita. Jadi, kalau Tuhan ingin menyuruh hati ini berhenti mencintai seseorang, ya, aku juga akan melepaskan Jojo."
Iya juga sih. Tapi Anna tetap tergelak mendengar ucapannya itu. "Tapi Gita, butuh waktu bagi hati untuk berhenti melepaskan cinta itu. Harus dibantu juga sama pikiran sehatlah. Kalau kamu sadar bahwa cinta itu cuma membuat kamu tidak bahagia, maka hati dan dengan campur tangan Tuhan, bisa menghilangkan cinta itu secara perlahan. Bagaimanapun juga, manusia harus membantu mengendalikan hati yang Tuhan pinjamkan."
Gita terdiam, sulit menjawab ucapan Anna, hingga akhirnya cuma menimpalinya begini: "Hmm ... terserahlah."
Anna tersenyum, Gita kalah debat. Lalu, Anna mengamit lengan Gita, tak peduli kalau gadis itu bermuka masam karena argumennya berhasil dipatahkan olehnya.
.
.
.
Anna berjalan di tempat parkir sendirian karena Gita sudah pulang bersama dengan Jojo, dan ia sembahyang dulu di mushola kantor. Suasana tempat itu sangat sepi, hanya ada beberapa kendaraan. Perasaannya biasa saja, tak berpikiran akan terjadi sesuatu padanya.
Ia tak mengindahkan suara langkah di belakangnya. Pikirnya, ada seseorang karyawan yang baru keluar kantor. Namun, tiba-tiba tangan Anna ada yang menggenggam dan menariknya dengan kasar.
Langsung saja, Anna menoleh cepat. "Hei!" Matanya terbelalak, lantas tercengang setelah melihat sosok yang melakukan hal ini padanya. "Pak Logan?"
"Ikut saya! Sini!" sergah Logan menarik paksa Anna.
"Maaf, Pak. Tapi bisa kan secara baik-baik?" Ronta Anna.
"Perempuan macam kamu, tidak perlu bicara baik-baik!"
"Apa maksud, Bapak?" tanya Anna, mengernyit kesal.
"Jangan banyak tanya!"
Logan menyeretnya, tak peduli seberapa kerasnya Anna melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Anna dipaksa masuk ke dalam mobil.
"Aduh!" Anna meringis ketika tubuhnya dihempaskan secara kasar. "Pak! Kalau Bapak masih ingin meminta penjelasan soal kejadian malam itu, saya tetap akan menjawab: saya juga korban, dan Bapaklah yang memperkosa saya!"
Logan sudah bosan dan jengkel mendengarnya. Apa pun jawaban yang dikatakan Anna, akan percuma karena Logan hanya mempercayai teorinya sendiri.
"Saya tahu wanita seperti apa kamu," geramnya tertahan. "Kamu akan melakukan semuanya, bahkan melakukan skenario menjijikkan demi mendapatkan uang!"
Anna menggeleng putus asa. Apalagi yang harus dikatakan agar pria itu percaya padanya?
Logan merasa menang dengan terdiamnya Anna. Wajahnya didekatkan ke arah wajah Anna, sehingga gadis itu beringsut mundur karena terintimidasi. Apalagi, pria menyeringai, semakin membuatnya gemetar.
"Dengar! Untuk membuka topeng seseorang, aku membutuhkan umpan. Dan aku sudah menangkap orang yang bisa mengungkap kedok kamu sebenarnya."[]
__ADS_1