Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Pegawai baru yang menarik perhatian


__ADS_3

"Dari mana kau dapatkan kalung ini?"


Anna mengernyit, kasar sekali pria ini, tiba-tiba meraih kalungnya dan bertanya dengan dingin begitu. Memangnya, dia bisa menganggap rendah dirinya, hanya karena mentang-mentang dia bos?


"Maaf, kenapa Anda menanyakannya?" tanyannya dengan sikap menantang, menghempaskan tangan pria itu dari kalung. "Saya menemukannya di sebuah restoran cepat saji."


Logan tercengang. Berani sekali gadis itu bersikap seperti ini? "Tadi kau bilang apa? Nemu?" Logan mengernyit.


Tunggu sebentar. Logan teringat akan ucapan jawaban Nina saat ia menanyakan soal kalungnya yang hilang. Dan Nina menjawab begini:


"Entah, aku tidak ingat jatuh di mana. Sudah aku cari di semua tempat, tapi tidak ketemu. Mungkin di restoran MD?"


Kenan melihat Logan dengan heran, lalu bertanya. "Kenapa, Logan? Apa ada yang salah?"


Logan tertegun dan menoleh pada pria keturunan Turki itu. "Kalungnya seperti kalung yang kuberikan saat jadian dengan Nina," gumamnya.


Anna terkejut. Jika kalung ini sama dengan kalung yang disebut oleh Logan, berarti pria dan wanita yang bertengkar di restoran waktu itu adalah Logan dan Nina?


Meski kecewa, tapi Anna mesti mengembalikan kalung ini. Maka, dilepaskannya kalung itu dari lehernya, yang kemudian ia berikan pada Logan.


"Pak, Kalung ini punya sejarah yang sangat berarti buat Bapak dan pacar Bapak," ujarnya. "Jadi, saya kembalikan kalung ini ke Bapak. Maaf, kalau saya telah lancang memakainya."


Logan menerimanya dengan tercengang. Memang, gadis ini sangat lancang, dan ia sangat geram.


Anna menganggukkan kepala singkat seraya berkata, "Maaf, saya permisi dulu."


Logan yang baru saja hendak memarahinya, tercengang dan semakin jengkel dengan Anna. Benar-benar pegawai yang lancang! Apa gadis itu tidak punya sopan santun?


Berbeda dengan Logan yang mengecap buruk Anna, lain lagi dengan Kenan. Kesan pria itu justru kagum pada Anna. Ia tersenyum semringah, terus mengarahkan pandangannya pada gadis itu sampai sosoknya menghilang dari balik dinding lorong.


"Dia cewek yang jujur," gumamnya memuji.


Logan langsung menoleh kaget pada sahabatnya itu. "Jujur?" dengusnya. "Jangan bilang, kamu suka sama dia?"


"Apa salahnya?" sahut Kenan, protes, langsung menoleh. "Dia cantik, baik...."


"Kalau lihat cewek, jangan dari luarnya aja," sindir Logan sambil kembali melanjutkan langkahnya.


"Kayak nggak gitu aja." Kenan balas menyindir, dan ternyata berhasil membuat Logan tersinggung. Kenan tersenyum menang, lalu ia mulai menyerang lagi. "Dengar, ya, Logan Angsana. Aku pastikan padamu, kalau cewek itu bukan cuma cantik, tapi berhati malaikat."


Terserah padanya sajalah! Logan selalu menganggap semua ucapan Kenan itu konyol dan bagai angin lalu. Ia terlalu jengkel untuk membalas ucapan itu.


Kini, mereka sampai di depan lift, dan langsung masuk ke dalamnya. Tak ada lagi pembicaraan mengenai Anna sejak pintu lift itu tertutup. Kenan tahu, Logan dalam keadaan merajuk, dan waktunya berhenti untuk menggodanya.


"Oh, iya, Logan," seru Kenan tiba-tiba. "Bagaimana kabar Nina? Apa kalian masih marahan lagi, atau sudah putus?"


Ups! Kenan lupa rupanya. Tatapan mengerikan Logan langsung membidik ke arahnya. Kenan terhenyak, menutup mulutnya dan memukulnya pelan sambil bergumam sangat pelan:


"Eh, salah pertanyaan rupanya."


Logan melirik sekejab. Ia sangat tahu bahwa pertanyaan Kenan itu sama sekali bukan bermaksud menyindir. Maka, ia tetap akan menjawabnya:


"Dia sangat bahagia sejak kembali ke Jakarta lusa lalu." Pria itu mengulas senyum tipis.


Kenan menoleh heran. "Bahagia? Memang ada apa?"


"Mau tahu banget," celetuk Logan, lalu keluar lift ketika pintunya terbuka.


Kenapa Logan selalu meninggalkan jejak misteri pada setiap kalimatnya? Kenan jadi menduga-duga, dari keluar lift sampai memasuki ruangan Logan.


"Apa akan ada kabar baik?" tebak Kenan, bertepatan saat Logan duduk di kursi kebesarannya.


Logan tersenyum, menjalin jemarinya, lalu meletakkannya di bawah dagu. "Nanti kamu juga tahu."


🍀


Matanya berbinar saat jemarinya menari di atas tuts piano. Melodi dari sebuah lagu klasik mengalun indah memenuhi ruangan. Bibirnya melengkungkan senyum, lalu memejamkan mata menikmati setiap nada.


"Kapan mau balik ke London?" Pertanyaan itu membuatnya berhenti memainkan piano.


Jemarinya dijauhkannya dari tuts piano, lalu ia memutar kursi ke arah seorang gadis berambut panjang itu dan diwarnai pirang itu. "Kenapa? Kangen banget sama Stuart?" godanya seraya terkekeh.


"Nina!" tegur gadis bernama Tita, agak tersipu. "Aku ngomong serius nih. Sebentar lagi kan mau lomba."

__ADS_1


Seolah ucapan Tita dianggap enteng, Nina, kembali memainkan piano sambil berkata, "Santai aja. Lagian, aku udah bilang akan ada rencana."


"Rencana tunangan sama Logan?" tukas Tita, melipat kedua tangannya di dada. "Yakin mau tunangan sama dia? Huh! Sejak kapan Nina yang anggun nggak berpendirian begini?"


"Piano, logan, keduanya sangat berharga bagiku. Aku tidak mau kehilangan Logan, ataupun impianku," balas Nina. "Ini hanya tunangan, menikah bisa kapan saja. Asal aku sudah mengikat Logan, aku tidak perlu merisaukan semua rencanaku."


Tita menghela napas, menghempaskan diri di sofa. "Logan itu tipe tidak sabaran. Dia pasti akan mendesak kamu untuk nikah sama dia, sementara kariermu baru dimulai."


Satu tuts nada rendah ditekan oleh Nina. Ia merenungkan ucapan Tita, yang memang benar adanya. Namun, hatinya selalu memercayai apa yang telah terpatri dalam ingatannya soal Logan.


"Kamu nggak tahu, Logan itu pria paling sabar di dunia," ucapnya lembut, tapi penuh penegasan. "Tita, jangan coba-coba membuatku goyah, ya."


Memang, ya, kalau sudah dibutakan cinta segalanya jadi benar di matanya. "Huft! Terserah kamu sajalah." Tita beranjak dari sofa.


Begitu suara sepatu hak tinggi yang dipakai oleh Tita terdengar sedang melangkah, suara piano terdengar kembali.


Ucapan Tita mengganggu pikiran Nina, hingga menciptakan nada lagu yang semula lembut berubah menjadi cepat dan penuh emosional. Ponselnya yang bernada dering lagu "Nocturne" berbunyi di atas meja rias. Nina pun beranjak ke sana, meraih ponsel itu.


"Logan!" serunya girang ketika melihat nama sang kekasih yang muncul di layar ponsel. Lalu, buru-buru menjawab telepon itu. "Halo, Sayang."


"Nina, aku mau mengajakmu makan siang. Apa kamu—"


"Ya, aku mau," sahut Nina, menyela.


"Oke, aku akan menjemputmu nanti."


"Oke, Sayang."


Ia tersenyum sambil akan berjalan menuju pintu keluar. Bertepatan saat pintu dibuka, munculah sang ibu di depannya. Nina terkejut sejenak, lalu bibirnya melengkungkan senyum kikuk.


"Mama?"


"Mau ke mana kamu, Nina? Mama ingin bicara sebentar," kata wanita berambut pendek sebahu dan agak ikal itu.


"Mau bicara apa, Ma?" tanya Nina, matanya membulat.


"Soal ucapan kamu waktu makan malam kemarin." Mamanya berjalan masuk, kemudian Nina mengikutinya. "Benar, kamu ingin bertunangan dengan Logan?"


Kedua wanita itu kini duduk di sofa, saling berhadapan. Nina berpikir sejenak, awalnya agak bingung dengan maksud mamanya. Ia hampir lupa dengan ucapan semalam itu. Namun, begitu ia mengingatnya, ia langsung berkata sambil tersenyum riang.


"Em ... tidak," jawab sang mama tercenung sejenak. "Mama dan papa senang dengan keputusan itu. Tadi, mamanya Logan menelepon, katanya mereka akan mengajak kita makan malam untuk membicarakan soal acara pertunangan kamu dengan Logan."


Senyum Nina semakin lebar dengan mata berbinar. Bahagia sekali mendengar hal itu sambil menggenggam erat tangan mamanya. "Benarkah? Aku senang banget, Ma."


Nina langsung mendekap tubuh ibunya, meluapkan kebahagiaan yang ditunggunya selama 5 tahun hubungan antara dirinya dan Logan.


🍀


Kenan menghentikan mobilnya ke sebuah salon khusus pria setelah mengunjungi kantor Logan. Ia celingak-celinguk sambil berjalan masuk, melihat kegiatan para chapster yang sedang melayani pelangganya.


Seorang pria kemayu menghampiri dan menyapa, "Halo, Pak. Mau potong rambut?"


Kenan terhenyak, menatap skeptis pria berambut merah itu. "Di sini bisa cukur jenggot dan kumis?" tanyanya seraya mengelus bulu halus yang tumbuh di pipi dan dagunya.


Pria itu terkekeh sambil akan memukul bahunya. Sontak, Kenan mengelak, dan ikut terpaksa tertawa.


"Oh, soal itu sih ada, Pak. Mari, ikut saya."


Kenan ditunjukkan ke sebuah kursi kosong, di mana di depannya ada meja rias dengan bermacam-macam alat. Setelah ia duduk, pria itu memakaikan apron ke leher Kenan.


"Apa cuma dicukur aja kumis sama jenggotnya, Pak?" tanya pria itu.


Kenan memperhatikan dirinya di cermin hias sambil berpikir. Em ... betul juga kata pria kemayu itu. Sepertinya, ia harus lebih 'oke' lagi kalau mau menarik perhatian wanita.


"Kayaknya, bikin rambut saya lebih stylish lagi deh," katanya.


"Siap!"


Pria itu mulai mengambil gunting dan sisir yang ada di dalam laci meja hias. Untuk yang pertama, ia akan merapikan rambut Kenan dulu. Sementara ia melakukan pekerjaannya, Kenan mengambil sebuah majalah untuk dibacanya.


Tidak hanya wanita, pria itu pun sama lihainya menggunting tipis dan mengubah gaya rambut Kenan agar lebih bergaya. Kenan sempat meliriknya sejenak, dan bahkan memuji keahlian pria itu.


Setelah selesai menata rambut, tanpa banyak bicara pria itu melakukan tugas keduanya.

__ADS_1


"Maaf, ya, Pak. Saya betulkan posisi kursinya dulu. Biar agak mudah saya mencukur jenggot Bapak," kata pria itu, ramah sekali.


"Oh, silakan." Kenan tertegun, lalu meletakkan majalah di meja.


Kemudian, pria itu meraih sebuah kaleng yang berisi sebuah krim untuk dioleskan ke sekitar pipi, bawah hidung, dan dagu. Setelah itu, ia menyalakan pisau cukur elektrik, menyapukan benda itu ke bagian wajah yang diberikan krim dengan lembut dan hati-hati.


"Wah, Pak. Pakai kumis sama jenggot aja udah kelihatan ganteng, apalagi kalau dicukur," kata pria itu. Biasa, basa-basi chapster pada pelanggannya.


"Bisa aja sih, Mas," celetuk Kenan, terkekeh.


"Ih, kok 'mas' sih?" protes pria itu, berhenti mencukur. "Panggil saya 'Miss Rere'!"


Iya sajalah. Kenan tidak mau kena semprot lagi sama waria itu.



"Pukul 12 siang," gumamnya sambil melirik arlojinya.


Kenan keluar dari mobil, berjalan menuju pintu masuk gedung. Sejak tadi, ia memang berada di dalam mobilnya. Padahal, urusan pekerjaan dengan Logan sudah selesai sejak tadi.


Ia menjelajahi sebuah ruangan khusus karyawan sambil memperhatikan beberapa wanita yang ingin dicarinya. Kebetulan, waktu menunjukkan jam makan siang, para karyawan berbondong-bondong keluar kantor.


Dua orang wanita berpapasan dengannya. Senyum mereka menandakan ketertarikan pada pria berdarah Indonesia-Turki itu. Lantas, mereka menghampirinya.


"Hai, Pak Kenan," sapa keduanya berbarengan.


Kenan menoleh, dan tersenyum seperti biasa. Alhasil, membuat kedua gadis itu makin mabuk kepayang.


"Bapak ganti gaya rambut? Ganteng banget sih?" salah satu gadis yang bernama Caca mulai menggoda.


"Iya, nih. Oh, iya!" Kenan berseru, teringat pada tujuan awalnya. "Kamu tahu pegawai baru yang kerja di sini?"


"Pegawai baru?" gadis bernama Dita membeo, lalu berpikir sejenak. "Kayaknya, nggak ada pegawai baru di sini?"


"Masa? Coba kamu ingat-ingat," seru Kenan, heran. "Dia tidak terlalu tinggi, cantik, rambutnya hitam panjang seketiak, tapi di bawahnya ikal. Terus ... Ah! Ada lesung pipi di sini." Ia menunjuk pada pipi kanannya.


"Aaaaa...."


"Dita, Caca!" Seseorang memanggil gadis tadi, lalu menghampiri mereka. Menyadari ada Kenan, ia tersenyum sopan, lalu menoleh lagi pada kedua gadis itu. "Dita, tolong print data yang aku kirim dari e-mail. Nanti dicek dulu, oke!"


Dita telah pergi, Kenan langsung bertanya pada gadis berkulit sawo matang itu, yang bernama Nia.


"Maaf, apa kamu tahu pegawai perempuan yang baru masuk kerja hari ini?"


"Oh, mungkin Anna. Dia asisten manager baru," jawab gadis itu.


"Aku nggak tahu namanya. Tapi dia ada lesung pipi di sebelah kanan, 'kan?"


"Benar, Pak."


Kenan tersenyum lebar. "Kalau begitu, bisa kasih tahu di mana ruangannya?"


Gadis itu melirik arlojinya. "Kalau jam segini, dia biasanya sedang ke mushola, Pak."


"Kok kamu tahu?" Alis Kenan meninggi sebelah. "Kan dia baru masuk kerja."


Bibir gadis itu tersenyum hangat. "Saya kenal dia sejak kami bekerja di kantor yang sama, dulu."


Kenan mengangguk mengerti. "Terima kasih, ya," ucapnya ramah.


.


.


.


Setiap hari, Anna selalu beribadah shalat Zuhur, sebelum makan siang. Anna begitu khusyuk, larut dalam suasana sunyi mushala. Di sana, hanya ada berapa orang yang sedang beribadah.


Kenan berdiri di ambang pintu mushala, memperhatikan Anna. Senyumnya terkembang, lalu masuk ke dalam mushala tanpa suara.


"Assalamualaikum warohmatullah," gumam Anna sambil menoleh ke kanan, lalu ke kiri.


Sedetik kemudian, ia tersentak melihat seorang pria berada di dekatnya, menatap dengan senyuman, terpesona.

__ADS_1


"Bapak ... sedang apa di sini?" tanya Anna, menatapnya aneh. "Ini shaf buat perempuan."


Kenan terdiam, begitu lama menatapnya, kemudian berucap, "Waktu saya melihat kamu begitu khusyuk shalatnya, saya berpikir: kapan saya bisa menjadi imam kamu?"[]


__ADS_2