Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Jarak Yang Ingin diputuskan


__ADS_3

Kenapa Anna bisa bertemu dengannya di sini? Dunia kan tidak sempit, dan Logan jarang ke Korea. Takdir macam apa ini?


Anna tak terlalu merisaukan hal itu, hanya saja sikap pria tadi setelah pertemuan. Begitu Anna berjalan masuk ke dalam restoran, baru beberapa langkah Anna berhenti dan menoleh. Anna melihat Logan urung untuk masuk ke dalam restoran, lalu pergi berbalik arah.


Apa Anna virus, sampai dia enggan untuk di satu tempat yang sama? Ah! Anna lupa. Bukannya wajar jika Logan seperti itu? Anna yang menginginkan perpisahan, dan kepergiannya ke Seoul juga karena ingin menghindari Logan.


Tapi....


Anna menekan dadanya yang terasa nyeri. Setelah makan malam, Anna memintanya untuk diturunkan di jalan yang akan menuju rumahnya. Alasannya ingin mencerna makanan yang di perutnya dengan berjalan-jalan. Padahal, ia ingin me-refresh otaknya yang berkabut akibat tatap muka perdana dengan Logan.


Dan ketika pikirannya semakin tak menentu, Anna memutuskan rehat di sebuah ayunan yang ada di taman bermain. Anna merenung di sana, memegangi dadanya yang ngilu akibat rasa sedih yang tak tertahankan. Namun, air mata tak mau mengalir, ia menahannya seperti rasa rindu yang selalu tersimpan untuk Logan.


Mungkin terlalu kacau hati dan pikirannya, Anna tak memperhatikan di sekitar, bahkan bunyi gesekan sendal seseorang yang sedang mendekat.


"Sunbae?" panggil seseorang, Anna terpegun mendengar suara tak asing itu.


Anna pun mendongak, menatap sosok pria berkacamata yang sedang tersenyum lembut padanya.


Lagi-lagi! Kenapa harus dia yang muncul? Mana waktunya kurang tepat. Apa Woojin sengaja mengikutinya?


Woojin tak menyadari betapa tak senangnya Anna di dekatnya. Ia tertegun, lalu cemas melihat Anna yang kembali memegangi dadanya seraya mendesis pelan.


"Sunbae nggak apa-apa?" cecarnya, hendak menyentuh punggungnya.


Anna mengacungkan telapak tangan, sehingga Woojin berhenti mendekat. "Kamu ... sedang apa di sini? Memangnya, kamu tinggal dekat sini?"


"Ah, iya! Aku tinggal di Geuimo di sebelah sana," tunjuk Woojin polos, menunjuk ke arah belakang.


Anna menoleh. Ya, ia tahu tempat itu. Apartemen kelas rendah, yang harga sewanya di atas harga sewa Goshiwon yang ditempatinya. Tapi, Anna tak menimpali ucapannya itu. Ia menegakkan badan, berusaha terlihat baik-baik saja di depan Woojin.


"Tadi kenapa nggak masuk kerja? Aku kan butuh desain iklan yang aku suruh buat!" Anna mengomel, ingin menguatkan aktingnya itu.

__ADS_1


Tatapan polos Woojin bagai anak kucing yang menggemaskan. Pria itu termenung sejenak, sebelum sebuah alasan dengan disertai kekehan kecil keluar.


"Ah, maaf Sunbae. Aku ada urusan tadi. Dan soal desain, aku akan kirimkan besok. Sunbae tenang aja."


Anna memalingkan wajah seraya mencibir. Entah kenapa ia jadi ikutan tak menyukai Woojin seperti teman sekantornya hanya karena tingkahnya aneh dan serba kebetulan yang terjadi padanya.


"Oke, besok kamu harus masuk. Dan jangan lupa kirimkan desainnya!" kata Anna hanya melirik tanpa menatapnya dengan agak ketus dan tegas.


Alih-alih tersinggung, Woojin tersenyum renyah seraya menyahut. "Ageseumnida, Sunbaenim!(Saya paham, Anna)."


"Berhenti panggil aku 'sunbae'!" tukas Anna berseru jengkel. "Aku lihat di datamu, umurmu lebih tua 3 tahun dariku."


Tiga tahun? Anna tertegun saat mengingat bahwa perbedaan umur Logan dengan dirinya juga terpaut 3 tahun. Kebetulan yang sama lagi?


"Ah, iya sih?" timpal Woojin terkekeh. "Tapi, kan biar sopan aja. Soalnya, memang aku junior Sunbae di tempat kerja."


Celotehan Woojin membuat Anna kembali ke tempatnya. Ia sempat mendengar sebagian ucapan itu dan mencernanya. Sehingga ia bisa membalas pria itu dengan berkata:


"Panggil kamu Anna-ssi?" potong Woojin gembira sekali, seakan tengah mendapatkan sesuatu hal yang sangat dinantikan.


Anna mendesis lagi seraya membuang muka. Woojin berhasil menggelitik hatinya meski hanya sedikit hingga melupakan sejenak kecurigaan padanya.


Melihat Anna sedikit membuka diri padanya, Woojin duduk di ayunan di sebelah Anna. Ia menyodorkan sekaleng soda. "Ini Sunbae."


Anna melirik dan terkesima sejenak. "Apa nih? Soju?"


"Bukan. Aku tahu kalau Anna-ssi muslim," bantah Woojin cepat. "Jadi, aku memberikan minuman soda. Tenang aja, ini halal kok. Lihat saja logonya di belakang kaleng."


Anna melakukan saran Woojin setelah menerima kaleng soda itu. Ternyata logo "halal" memang tertera di sana. Tapi, ia ragu untuk meminumnya karena tingkat kewaspadaannya pada pria itu masih cukup tinggi.


Woojin memperhatikan keengganan Anna saat meminum sojunya. Pria itu rupanya paham dengan reaksi itu, lalu berkata setelah setelah memikirkannya. "Aku tidak berniat jahat kok padamu."

__ADS_1


Mata Anna yang membulat ditunjukkan pada Woojin. Kepekaan Woojin membuatnya jadi grogi, dan buru-buru membantahnya agar pria itu tak tersinggung. "Ah, bukan begitu maksudku."


Woojin tersenyum getir seraya mendongak, lalu meminum soju kalengannya lagi. "Aku menyadari bahwa kau berusaha menjaga jarak denganku," gumamnya. "Sikap dinginmu ... yah! Sudah terlihat jelas."


"Woojin..." desau Anna risau.


"Tidak apa. Mungkin karena aku memang pria aneh," ucapnya seraya menghela napas panjang, lalu tersenyum simpul pada Anna.


Namun, Anna malah semakin galau. Ia merasa tak enak hati, sekaligus bimbang. Haruskah ia melonggarkan sedikit kecurigaannya, sekalipun ia belum tahu pasti bahwa pria itu benar-benar tulus.


Anna terpikir untuk mengenyahkan kekecewaan Woojin. Dibukanya segel soda itu, lalu meminumnya sedikit. Woojin menatapnya tercengang, dan tertegun kala Anna menatapnya setelah itu.


"Maaf, jangan tersinggung. Tadi itu aku meragukan kehalalan minum ini," kata Anna, menyunggingkan senyumannya sedikit. "Woojin ... aku menjaga jarak bukan hanya padamu, tapi juga pada pria lain. Dan itu ada alasannya."


Woojin terdiam mencerna ucapan Anna, lalu mengangguk paham. "Apa pun alasannya, aku akan menghargainya," ucapnya. "Setidaknya, aku lega karena sudah tahu penyebab sikap dinginmu. Tapi, Anna-ssi...."


Anna menatap lamat-lamat, menunggu Woojin melanjutkan ucapannya. Pria itu beranjak dan meletakkan kantong bawaannya di tanah, kemudian berlutut di depan Anna. Senyuman lembutnya terulas, Anna terkesima melihatnya.


"Aku tidak akan menyerah padamu."


Hah? Maksudnya apa? Anna tercengang, hingga tak sadar berpikir terlalu keras mencerna ucapan itu.


Pria itu sedang merayunya atau apa? Dan kenapa hati Anna malah mudah sekali berdebar?


...💍...


Meski tak tahu di mana jejak suaminya, Nina memutuskan untuk bertindak tegas. Pada tengah malam, di dalam kamarnya yang bercahaya temaram, Nina berdiri di samping jendela kamar seraya menggenggam ponsel.


Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Nina akhirnya mengetik sebuah pesan yang dikirimkan pada Logan.


"Logan, jangan salahkan aku jika aku mengusik Anna nanti, entah kau sedang berusaha mencarinya atau sedang menghindariku!"

__ADS_1


Pesan sudah dikirim, ponsel itu Nina lempar ke ranjang seolah seperti benda yang tak berguna. Di kegelapan, matanya mengkilat penuh dendam. Tangannya terkepal kuat, menahan semua kesabarannya yang siap meluap.[]


__ADS_2