Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Irremplaçable


__ADS_3

Matahari tak begitu terik, langit dipenuhi awan putih di London hari ini. Salju enggan turun. Udara dingin membuat seseorang untuk beranjak dari kamarnya, termasuk Nina.


Gadis itu termenung di kamar, duduk di tepi ranjang sambil menghadap jendela kamarnya yang besar dan gorden telah tersingkap. Matanya menyendu, menatap pada pohon yang tertutup salju.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka, tapi ia tak terhenyak apalagi menoleh. Tania muncul di ambang pintu, menghela napas mendapati Nina bergeming di ranjang dengan masih berpiyama.


Tita menghampiri sembari menghentak-hentakkan kaki. Sesampainya di depan Nina, diraih dan ditariknya lengan Nina seraya berseru gusar.


"Mau sampai kapan kayak gitu terus? Sebulan waktu yang cukup buat istirahat!" Tak kunjung beranjak, Tita menghempaskan lengan itu dengan kasar karena sangking kesalnya.


Nina menatap lurus lagi ke arah yang sama dengan ekspresinya yang tak berubah. Ia terbungkam lama, lalu menghela udara dari bibirnya.


"Apa ini salahku, ya? Coba aja aku dulu datang ke kapal pesiar untuk sekadar ikut menemani Logan menghadiri pesta pernikahan partner bisnisnya. Aku yang pasti tidur dengannya, mengandung anaknya, dan menikah dengannya," gumamnya lirih, lalu menunduk muram seraya menghela napas.


Igauan yang buat Tita mati kesal. Ini lagi yang diucapkan? Tidak habis pikir! Seberapa hebatnya Logan sampai Nina sebucin ini padanya? Berapa banyak cinta yang Logan berikan pada Nina, hingga untuk melupakannya begitu sulit?


Tita mendengus dan berkacak pinggang. Terdiam sejenak untuk mengatur emosinya. "Lalu, lo nggak bisa memenangkan kompetensi piano yang jadi impian lo? Lo sendiri yang berambisi untuk meraih impian lo! Kenapa sekarang lo jadi menyesal?"


Benar, yang dikatakan Tita tidak ada yang salah. Tapi, ada yang Tita tidak ketahui. Nina menoleh pelan padanya dengan air mata terngenang, lalu berkata, "Tapi, impian utama gue adalah Logan."


Tita membeku dengan ekspresi tercengang. Setelah kata itu terucap, suara isakan keluar dari bibir Nina. Dia mengusap air mata yang mengalir dengan punggung tangannya, kembali menatap pohon yang ditutupi salju.


Setelah berpikir cukup lama, Tita menghela napas panjang. Iba mendengar, apalagi melihat sahabatnya menangis seperti itu. Kemarahan jadi surut. Tita menghampirinya, duduk di sampingnya, dan mengusap punggung Nina, lalu menghelanya dalam dekapan.


"Waktu nggak bisa diputar balik, lo harus terima kenyataan dan melupakan penyesalan lo," ucap Tita lembut. "Simpan Logan dalam kenangan. Lo harus maju melanjutkan hidup."


"Gue nggak tahu apa gue bisa ngelakuin ini," rengek Nina, mengusap pipinya yang berair.


"Hei! Lo punya sahabat. Kalau lo terpuruk, ada gue yang setia menemani lo," seru Tita, mencoba membujuk dengan membangkitkan keoptimisan Nina.


Setidaknya, ucapan Tita membuat perasaan Nina agak membaik, walaupun kesengsaraan di hatinya masih belum lenyap. Tita tidak akan memaksa Nina untuk latihan piano yang seperti dijadwalkannya.


Seusai melepas pelukannya, Tania minta izin untuk keluar kamar. Tita akan memberi Nina waktu lagi sampai merasa pulih, baik kesehatan tubuh dan perasaannya.


Ketika Tita keluar dari kamar, ponselnya berdering. Resah, mendapati nomor mamanya Nina muncul di layar. Wanita itu pasti menagih informasi mengenai anaknya hari ini.


Tita berjalan agak menjauh, menghela napas panjang, lalu menjawab telepon itu. "Halo? Iya, Tante?"


"Bagaimana keadaan Nina?" Pertanyaan itu langsung tercetus dari wanita paruh baya itu. Kadang, anak dan ibu ini sama-sama tidak sabaran.


"Nina ... masih galau, Tante," jawab Tita suaranya memelan dan getir.


Wanita itu tak kalah getirnya. Suara helaan napas yang menunjukkan kesedihan terdengar pada ujung sambungan telepon. "Nina, Nina. Kenapa sebegitu cintanya dia sama Logan? Mau sampai kapan dia begitu?" dengusnya.


"Tante nggak usah khawatir, aku akan coba membangkitkan semangat Nina lagi, supaya Nina kembali berlatih piano," timpal Tita, agak berseru optimis.


"Bukan soal kariernya yang Tante cemaskan." Wanita itu kembali menghela napas resah. "Takutnya, dia melakukan hal nekat yang lebih berbahaya."


"Maksudnya ..." Tita tidak bisa meneruskan kata-kata itu. Jika ia mengucapkan "bun*h diri", wanita itu bisa-bisa bertambah cemas.


Jangan membuat masalah lagi, Tita. Sebagai sahabat sekaligus manager Nina, seharusnya mencari solusi terbaik dan menyelesaikan masalah!


"Tante, tenang aja. Nina akan kembali jadi dirinya lagi, dia tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Saya akan jaga dia. Akan saya pastikan dia dalam keadaan baik," sahut Tita setelahnya dengan bersungguh-sungguh dan penuh tekad, yang dapat terlihat dari sinar mata cokelatnya.


"Iya, saya percaya. Tita, tolong jaga dia, ya?"


Padahal sedang berbicara di telepon, tapi tanpa sadar Tita menganggukkan kepala. "Baik, Tante."


Percakapan usai. Meski Tita menyatakan kesanggupannya untuk menjaga anaknya, ibunya Nina tetap saja resah. Seraya meletakkan ponsel di atas nakas, wanita itu menghela napas dengan ekspresi murung.

__ADS_1


"Sepertinya, aku harus mengunjungi Nina," gumamnya.


Wanita itu beranjak, berjalan anggun menuju jendela kamarnya. Ia termenung di sana, menatap rumput hijau berembun yang tumbuh di pekarangan rumah. Matanya menyendu, lalu lambat laun berubah dingin. Tangannya terkepal menggenggam rok gaun biru mudanya dengan kuat.


Sebuah ide terbesit. Gegas tubuhnya berbalik, melangkah lebar menuju nakas untuk meraih ponselnya di atas nakas. Jemarinya mengetik cepat di atas layar, kemudian mendekatkannya ke telinganya.


Matanya bergerak gelisah menanti seseorang yang dihubunginya mengangkat telepon. Dan ketika terdengar sahutan, ia langsung menyambar tak sabar.


"Ada yang harus kamu lakukan!" katanya, sinar matanya berkilat misterius.


...🦋...


Sebelum ke rumah ibu mertuanya, Anna singgah di rumah orangtuanya dulu. Saat itu, hari hampir menjelang siang. Keadaan rumah terlihat sepi kala ia memasuki rumah.


"Pada ke mana, ya? Sepi banget? Masih pada masak?" gumamnya seraya menaikki anak tangga menuju pintu rumahnya.


Anna menggetuk pintu beberapa kali. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Ia tersenyum senang dan langsung mencium tangan sang ayah. Disambarnya lengan sang ayah dan melingkarkannya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Ayah apa kabar?" tanya Anna.


"Baik. Kamu ke sini sendirian?" Ayah menanyakannya karena tak terlihat menantu tampannya.


"Iya, Logan lagi sibuk. Tapi, nanti sore dia ke sini kok buat jemput aku."


Anna tertegun, di ruang tamu tidak ada siapa pun, aroma masakan juga tak menguar dari dapur. Apa mama tidak masak?


"Mama mana, Yah?" tanya Anna selepas menegok dari arah dapur.


"Di kamar atas. Mau dipanggilin?"


Senyum jahil Anna terkembang, sebuah ide muncul. "Nggak usah, Yah. Biar aku ke sana yang panggil mama."


Sementara ayah kembali ke ruang tamu, Anna menaiki anak tangga pelan dan tanpa suara. Ruangan yang dimaksud ayah ada di pojok depan kamar Anna. Pintunya sedang terbuka, dan Anna bisa melihat punggung mama.


"Mama!"


"Eh kaget!" pekik mama terlonjak sambil memegangi dadanya. Ia menoleh, melihat Anna yang setelah itu duduk di hadapannya seraya tertawa jahil.


"Kamu tuh ngapain sih? Demen banget ngagetin Mama," omel wanita itu, kembali melipat selembar kain berwarna biru dan bermotif binatang.


Anna tertegun melirik kain yang dilipat mama, lalu menoleh pada tumpukan baju-baju berukuran kecil yang ada di dekat mama. "Wah, Mama habis ngebongkar baju-baju bayi bekas Adnan? Aku pikir udah pada dikasih tetangga?"


Mama tersenyum simpul. Baju-baju bayi ini dibeli lagi pada saat mama mengandung Adnan karena baju-baju bayi bekas kakak-kakaknya dihibahkan pada sepupu mereka. Dikira, mama tidak akan punya anak lagi, ternyata Tuhan memberikan seorang anak lagi.


"Iya, Mama mau mencucinya buat nanti dipakaikan ke anak kamu," jawab mama, senyuman di bibirnya menyiratkan sebuah kebahagiaan besar. "Oiya, kamu sama siapa ke sini? Logan mana?"


Bibir Anna dimanyunkan, menggoda mama dengan berpura-pura merenggut. "Em ... jadi sekarang Logan jadi menantu kesayangan Mama? Aku jadi merasa tersaingi nih?"


"Kok gitu?" seru mama, mengernyit dan spontan menghentikan kegiatannya sejenak. "Kasih sayang Mama rata. Nggak ada anak kesayangan dan menantu kesayangan. Mama sayang semuanya."


Anna mencelus, air mata menggenang di matanya. Dipelukanya wanita itu seraya tersenyum haru. Membahagiakan sekali Tuhan melahirkannya lewat wanita ini, meskipun mama terkadang galak.


"Idih, kok tiba-tiba manja gini?" seru mama, melirik heran pada anak keduanya itu.


"Emang nggak boleh aku peluk?" Anna tertegun, lalu melepaskan pelukannya. "Aku kan cuma kangen. Apa aku nginep aja di sini?"


"Tanya dulu sama suamimu."


"Logan pasti ngijinin kok," sahut Anna yakin.

__ADS_1


"Oiya, Logan mana?" Karena ngomongin pria itu, mama jadi teringat padanya.


"Dia lagi kerja. Nanti sore jemput aku kok." Anna cepat mengalihkan topik sebab melihat tumpukan popok kain. "Ma, usia kandunganku baru 4 bulan, kecepatan kali kalo dicuci sekarang? Lagian, aku sama Logan pasti beli pakaian bayi yang baru...."


Mama yang tak setuju, tiba-tiba menepuk paha Anna dengan kain bedong seraya menegur marah. "Beli-beli mulu! Mentang-mentang kaya. Simpan aja uangnya, pakai aja yang ada. Lagian, pakainya cuma sebentar, jadi nggak usah beli."


Anna merengut seraya mengelus pahanya. Ya, memang semua benda-benda ini dipakainya cuma sebentar, tapi ia tak tahu apa Logan setuju jika anak pertama mereka pakai baju bayi bekas?


"Eh, kamu udah makan belum? Mama udah selesai masak," kata mama, setelah selesai melipat kain bedong terakhir yang ditemukannya.


Mata Anna berbinar dan tersenyum lebar. Anna memang paling suka makanan buatan mama. Baginya, masakan mama yang paling enak dibandingkan masakan ala Italia.


"Emang Mama masak apa?" sahut Anna bersemangat.


"Ada ayam bakar, sambel terasi, lalap, ikan lele goreng. Oiya, tadi Mama juga beli soto bogor kang Adi."


Wah makin semangat buat makan nih? Anna menggandeng lengan sang ibu, tak sabar untuk ke ruang makan dan menyantap semua makanan yang mama sebutkan itu.


Mama kerepotan dengan desakan dan sikap manja Anna, tapi dia juga senang anaknya itu mau makan di rumah ini. Semenjak tidak ada Anna, suasana agak sedikit sepi, mama sering termenung merindukannya.


Setelah pintu kamar itu dikunci, Anna dan mama turun ke bawah. Memang waktunya makan siang, ayah mematikan TV, lalu beranjak ke ruang makan begitu melihat kedua wanita itu.


Anna membantu mama menyusun makanan dan alat-alat makan di meja makan. Setelah semuanya tersedia, Anna dan mama duduk, lalu mulai menyantap makan siang mereka.


Soto bogor buatan kang Adi memang enak, tapi Anna lebih suka menyantap ayam bakar buatan mama. Masakan wanita itu dipujinya terus, dan mengatakan bahwa ia sangat merindukan masakan mama.


Ayah yang sejak tadi tenang menyantap makanannya, berceletuk, "Ya udah, sering-sering ke sini. Atau nggak telepon Ayah, nanti tinggal suruh kurir antarkan makanan buatan mama ke rumah kamu."


"Masa?" seru Anna agak meledek. "Ya udah, nanti aku lakuin deh!"


Makan siang hari ini begitu menyenangkan, dan berakhir dengan menyantap bolu cokelat di ruang tamu. Setelah membereskan meja, Anna dipanggil ke sana oleh mama yang sudah menyiapkan tiga potong kue dan teh manis hangat.


Anna menghampiri, menyantap camilan seraya menonton TV bersama dengan orangtuanya. Sekitar pukul 2 Anna merasa mengantuk, dan ia memutuskan untuk tidur siang di kamar.


Logan pulang pada pukul 4 sore, sampai di rumah mertuanya hampir pukul 5 sore. Begitu mendengar suara mesin mobil Logan di depan rumah, Anna bergegas turun. Ia baru saja selesai mandi dan berdandan.


Logan disambut oleh Tasya di depan pintu. "Eh, Bang Logan," sambut Tasya.


"Hai, Tasya. Apa kabar?" sapa Logan balik seraya masuk ke dalam rumah.


"Baik banget, Bang."


Logan menghampiri dan menyalami kedua mertuanya yang sedang duduk di ruang tamu. Mama menghelanya duduk, lalu menyuruh Tasya membuatkan minum.


Anna sampai di ruang tamu, lalu duduk di samping suaminya. "Kamu udah makan? Kita makan dulu, yuk!" cetus Anna setelah mencium tangan Logan.


"Aku udah makan." Logan tersenyum tipis.


"Ya udah," celetuk Tasya, yang sedang membawa nampan berisi secangkir teh dan sepotong bolu. "Makan ini aja buat ganjal perut."


Logan tentu tak menolak. Ia tahu ini buatan mama mertuanya, dan sekarang ia jadi ikut-ikutan mengagumi masakan buatan mama. Mereka menetap sampai ba'da Magrib, setelah itu keduanya pamit pulang.


"Gimana pekerjaanmu hari ini? Sibuk banget, ya?" tanya Anna iba melihat wajah letih Logan.


Sebenarnya cukup sibuk, tapi otak Logan memiliki ide untuk bisa bermanja-manjaan dengan Anna. "Iya nih, sayang. Pegel banget badan aku. Nanti pijitin, ya?"


Anna tidak tahu kalau ini hanya modus, jadi ia mengiyakan permintaan itu seraya mengangguk. Logan tersenyum geli. Tidak disangka ide jahilnya berhasil.


Pasangan ini begitu bahagia hari ini. Senyum Anna menghilangkan letih yang dirasakan oleh Logan. Keduanya saling mengobrol, menggoda, dan tertawa bersama di sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Namun, tanpa mereka tahu, sebuah truk sedang melaju tak terkendali dari arah kiri. Truk itu mengacaukan lalu lintas, melaju terus, hingga menabrak sebuah mobil putih yang melaju di samping mobil Logan dan Anna.


Meskipun truk menghentak keras mobil putih itu, tetap tak dapat menghindarkan Logan dan Anna dalam kecelakaan. Mobil yang ditumpangi mereka dihantam oleh mobil dan truk itu hingga terguling lalu terbalik.[]


__ADS_2