
Wajah Nina muram sejak keluar dari ruang rapat. Dikira akan mudah jika Logan tergiur dengan penawaran investasi yang diajukan tanpa memedulikan syarat yang diajukan. Tapi, ia benar-benar ditolak mentah-mentah. Hatinya merutuk, sejak tadi kesal sendiri.
Nina melirik ibunya yang berjalan duluan, lalu menghampiri dan meraih tangannya. "Ma, bagaimana ini? Logan menolak," rengeknya.
"Tenang saja, sayang," timpal Diana, hanya melirik dan tersenyum percaya diri. "Mereka pasti sedang goyah. Kita tunggu saja."
"Gimana kalau mereka tetap bersikeras?" sahut Nina ngotot. "Logan kalau mencintai seseorang, akan susah berpaling."
Diana geram mendengar rengekkan Nina. Ia pun berhenti dan mendesis, lalu tiba-tiba berputar menghadap pada Nina yang terhenyak. "Oh, ya? Terus, kenapa cintanya bisa berpaling darimu yang sudah dipacarinya selama bertahun-tahun? Kau terlalu polos, Nak. Semua pria mudah goyah pada wanita dan uang. Udahlah, tidak usah mengkhawatirkan hal seperti itu. Mama yakin, Logan pasti akan menerima perjanjian itu. Titik!"
Nina ingin menginterupsi tapi urung karena melihat mamanya semarah itu. Daripada kena damprat, Nina mengikuti Diana tanpa mengatakan apa pun lagi.
Diana berjalan seraya menghentak-hentakkan kaki menuju mobil mereka terparkir. Mood-nya rusak karena rengekkan Nina yang bikin kepalanya mau pecah!
Mobil yang akan membawa mereka sudah berada di hadapan. Sopir keluar untuk membukakan pintu. Diana masuk duluan ke dalam mobil, tetapi Nina malah mematung di depan pintu mobil seraya berpikir.
Alis Diana meninggi sebelah. "Nina? Ayo, masuk!"
Diana semakin heran melihat Nina tersenyum misterius. "Mama pergi duluan aja, aku ingin melakukan sesuatu," ucapnya.
Anna sudah bersiap untuk pergi. Kebetulan, Elina baru saja keluar kamar dan melihat Anna sedang menuruni tangga. Ia tersenyum, menghampiri menantunya seraya bertanya.
"Anna, mau ke mana?"
__ADS_1
Anna membalas senyuman dan menjawab. "Ini, aku mau ke rumah orangtuaku. Mama mau ikut?"
Elina menggeleng. "Mama lagi kurang enak badan. Sampaikan saja salam Mama buat orangtuamu, ya?"
"Oh, ya udah. Kalau gitu, aku pergi dulu, ya, Ma."
"Anna," panggil Elina, ketika Anna mencium tangannya. "Kau pergi dengan siapa?"
"Em ... kalau Logan lowong, aku pergi sama dia, sekalian makan siang bareng," jawab Anna.
"Oh. Ya udah, hati-hati di jalan, ya?"
Anna berpamitan lagi pada ibu mertuanya, barulah pergi berjalan menuju pintu. Namun, sesampainya di luar, Anna lupa memberitahukan pada Logan kalau ia akan segera pergi. Maka, ia pun menghubungi pria itu.
Logan termenung di ruangannya sejak tadi. Ia tak bisa berkontrasi bekerja. Sudah banyak koleganya yang telah dihubunginya. Bahkan, ia berusaha menarik kembali investor yang pernah berinvestasi padanya. Tapi, tak ada satu pun yang berhasil dibujuknya.
Termenung membuatnya lupa waktu. Hingga ia tak sengaja melihat jam dinding, lalu sontak beranjak dari kursi kebesarannya. "Oh, iya! Aku kan mau jemput Anna?"
Buru-buru Logan memakai jas yang ia letakkan pada punggung kursi, menyambar ponselnya, lalu bergegas pergi. Ia membuka pintu, lalu terkejut saat mendapati sosok seseorang di depan pintu.
Nina sama terkejutnya karena Logan tiba-tiba muncul di hadapannya. Hanya sekejab, lalu Nina tersenyum manis yang dulu disukai oleh Logan.
Namun, alih-alih dapat perhatian, Logan justru bersikap dingin padanya. "Ada apa lagi kau ke sini?" tanyanya.
__ADS_1
Cukup pedih diperlakukan begini, sampai dada Nina terasa sesak. Ia menghela napas panjang dulu, lalu kembali bersikap anggun. "Aku ingin mengajakmu makan siang. Aku rasa, kita perlu membicarakan sesuatu?"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," tukas Logan, menyelonong melewati Nina dengan acuh tak acuh.
Nina tercengang, tapi ia spontan menggapai ujung jas Logan dan menggenggamnya. Gerakan Logan terhenti, ia mengernyit melirik jemari Nina yang tengah memegang ujung jasnya.
Nina tak mau sia-sia begini, pria itu harus berada di sisinya lebih lama. Rindu yang telah lama dipendam harus dituntaskan segera! "Kumohon, Logan," melasnya. "Sebentar saja."
"Lepaskan!" sergah Logan, menggerakkan lengannya kuat-kuat hingga jemari Nina yang menggenggam ujung jasnya terlepas. "Sudah cukup kau menipuku lagi, Nina. Aku sudah katakan, hubungan kita berakhir, dan aku mencintai Anna sekarang!"
"Secepat itukah?" sahut Nina cepat, sebelum Logan pergi lagi. "Aku yang mencintaimu lebih dulu, tapi dia berhasil merebutmu dariku dalam waktu singkat. Kau ... pasti bisa kembali mencintaiku seperti dulu."
Api di dalam hati Logan membara. Cepat ia berbalik, lalu melesat di depan Nina seraya menunjuk padanya. "Itu tidak akan pernah terjadi! Kondisinya berbeda! Cintaku selamanya hanya pada Anna, tidak akan berubah sedikitpun sekalipun kau berusaha memaksa!"
Nina menelan kenyataan pahit itu bulat-bulat, terasa menyiksa sampai Logan berhasil membuat air matanya tergenang. Ia tahu bagaimana ketulusan cinta Logan pada wanita pilihannya. Tapi, ia tetap yakin bahwa cinta Logan bisa berbalik padanya karena ia akam tetap memaksa sekeras apa pun.
"Oh, ya?" gumam Nina sinis, suaranya serak karena isakan. Lalu, ia menatap Logan yang tengah mengernyit menatapnya, menunggu lanjutan ucapannya. "Kau pikir cintamu itu bisa menyelamatkan perusahaanmu?"
Logan membeku tercengang, pertanyaan yang akan sulit dijawabnya karena memang saat ini solusi dari permasalahannya mengalami kebuntuan.
Nina tersenyum menang karena Logan tak bisa menjawabnya. Logan tersentak karena ponsel dalam genggamannya bergetar. Nina melirik pada ponsel itu, terlihat nama Anna tertera di layar ponsel.
Nina menatap Logan lagi, senyumannya terkembang lebih lebar. "Kau tinggal pilih. Berbicara denganku dan menyelamatkan perusahaan, atau menemui cintamu tapi tak menghasilkan apa-apa?"[]
__ADS_1