
Logan dan Anna berjalan di depan pintu rumah dengan diantarkan oleh Pemilik rumah dan kedua anak kembarnya. Koper mereka sudah dimasukkan ke dalam mobil.
Aurellie telah kembali ke London, setelah Charlote kalah pada gugatan hak warisan yang diajukannya. Meski Aurellie masih berbaik hati untuk menerima Charlote di rumahnya, tetapi wanita itu tetap ingin masuk ke panti jompo untuk menebus dosa yang telah dilakukan pada anaknya.
Kepergian Anna dan Logan membuat para penghuni rumah sedih, apalagi si kembar. Keduanya memeluk Anna saat pasangan itu berpamitan.
"Kak, kapan ke sini lagi?" tanya Jeane tersungut-sungut.
"Iya, Kak. Kenapa cepat sekali perginya?" tambah Jane. Dalam seminggu, kedua gadis itu sudah akrab dengan Anna. Anna meringis tak tega.
"Ya, kami harus kembali ke Jakarta. Tapi, kami akan mengunjungi kalian, kalau ada kesempatan ke London lagi," jawabnya, semoga meredakan kesedihan kedua gadis kembar itu.
"Benar, ya?" tagih Jeane, setelah kedua gadis itu mendongak pada Anna.
"Janji, ya, Kak." Jane ikut menagih. Anna tersenyum lebar dan mengangguk. Kedua gadis itu melepas pelukannya, lalu mencium tangan Anna dan Logan sebelum masuk ke dalam mobil.
Ketika mobil melaju, Anna menengok ke belakang sejenak, sedih harus meninggalkan mereka dan London secepat itu. Selama seminggu, mereka belum sempat pergi ke manapun—seakan Logan malas membawanya pergi dengan alasan lelah.
Anna tahu, Logan beralasan begitu karena memikirkan pekerjaan dan keengganannya pergi dengannya. Toh, bulan madu ini bukanlah hal yang diinginkan. Tapi setidaknya, ajaklah ia pergi berkeliling sejenak ke sebuah tempat. Mumpung lagi di London. Anna kan belum pernah ke kota ini sebelumnya.
Anna merenggut, melirik Logan sejenak, lalu melihat ke arah pemandangan kota. Logan sadar akan ekspresinya itu, tapi tidak mengatakan apa pun.
"Biar deh cuma puas lihat-lihat kota," gerutu Anna sangat kecil, sehingga hanya dirinya yang bisa mendengarnya.
"Sir, could you stop the car at a city park near here?" kata Logan, yang membuat Anna menoleh terpana padanya sejenak.
Berhenti? Buat apa? Paling hanya ingin numpang ke toilet atau mencari minuman dan makanan. Ah, terserah pria itu mau apa. Anna tetap bergeming di mobil, terus-terusan menggerutu sampai lelah.
Sopir sewaan menyanggupi permintaannya. Mereka berhenti di sebuah taman, di mana di sebelah utara terdapat sebuah kanal, lalu stan pedagang kaki lima yang sudah digelar.
Logan pun turun dari mobil, lalu berjalan memutar ke samping sisi mobil sebelahnya. Anna tak memperhatikan, menopang dagu sambil menatap taman yang cukup ramai pada pukul 10 pagi ini.
Anna tertegun, tak menyangka bahwa Logan membukakan pintu mobil untuknya. Ia mendongak, tercengang pada pria yang tak segan lagi mengulurkan tangan padanya.
__ADS_1
"Ayo, turun!" katanya.
Butuh waktu lama bagi Anna untuk mencerna semua prilaku membingungkan pria ini. "Mau ngapain?"
Logan menghela napas. "Jalan-jalan sebentar."
Huh! Kenapa nggak dari kemarin? Gerutu Anna merenggut. "Kita kan mau ke bandara. Nanti kita ketinggalan pesawat, gimana?" jawabnya, antara sahutan ketus yang pelan dan berusaha bersikap biasa.
"Penerbangan jam 8 malam. Kita masih ada waktu untuk jalan-jalan. Aku sengaja berangkat lebih pagi agar bisa mengajakmu pergi jalan-jalan."
Sungguhan ini Logan? Keangkuhan dan sikap cueknya tetap sama saat bicara, tapi Anna tidak menyangka bahwa pria itu akan memikirkan hal ini. Apa sikap peduli diam-diamnya muncul lagi?
"Jangan mikir yang aneh-aneh," decak Logan, mulai tidak sabar dan mendesak. "Ayo, keluar! Sebelum aku berubah pikiran."
Dasar tidak sabaran! Anna menyambut tangan pria itu sembari menyahuti dengan wajah cemberut. "Iya, iya!"
Yap, memang mereka berjalan-jalan tanpa saling bicara seperti orang asing dengan pikiran masing-masing. Tidak terlalu membosankan karena Anna cukup menikmati pemandangan di sekitar taman yang ramai.
Tak jauh dari mereka, ada tukang es krim yang cukup ramai didatangi oleh pembeli, yang rata-rata adalah orangtua dan anak-anaknya. Anna ingin makan es krim, tapi tak terlalu berharap dibelikan oleh Logan karena ia tahu betapa cueknya pria itu. Jadi, ia memalingkan wajah ke arah lain, seakan tak melihat penjual es krim itu.
"Apa?"
"Kau suka es krim rasa apa?" decak Logan, geram mendikte ucapan yang diulanginya lagi.
Serius, dia mau beliin es krim? Anna ternganga cukup lama melihat sikap pria itu. "Em ... cokelat," jawabnya masih bingung.
"Duduklah di bangku itu!" Tunjuk Logan pada bangku taman berwarna cokelat yang terbuat dari kayu. "Aku akan membelinya."
Logan pergi, Anna menatapnya yang sedang setengah berlari menghampiri penjual es krim sambil tersenyum geli. Barulah, ia menghampiri kursi yang telah ditempati seorang ibu dan anak perempuannya yang berusia 3 tahun.
Melihat antrean yang cukup panjang, Anna mengalihkan perhatian pada ibu dan anak yang ada di sebelahnya. Ia mengobrol dengan ibunya, dan mencandai anaknya yang lucu. Suami wanita itu datang bersamaan dengan Logan yang menghampiri Anna sambil memegang dua cup es krim. Wanita itu berpamitan pergi pada Anna, dan Logan langsung duduk di sisi kursi yang ditempati oleh wanita tadi.
"Kamu beli rasa apa?" tanya Anna melirik warna es krim Logan, yang terdiri dari dua warna, hijau muda dan putih.
__ADS_1
"Vanila dan mint," jawab pria itu lugas, lalu memakan es krimnya.
Sudah orangnya sedingin es, rasa yang dipilihnya pun juga begitu. Pantas, orangnya sangat cuek. Cemooh Anna di dalam hati sambil tersenyum geli.
Tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Logan. Pria itu menatap intens pada sesuatu hal, lalu tiba-tiba berkata, "Habis ini kita naik kanola."
Anna melirik. Ini maksudnya mengajak? Kok terdengar seperti memerintah. "Nggak ah! Enakan naik itu pas menjelang senja. Sementara kita, akan segera ke bandara sebelum itu," komentarnya.
Logan tak menanggapi apa pun. Mereka berada taman ini sudah sejam. Anna yakin, setelah ini Logan akan mengajaknya kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke bandara. Es krim Logan sudah habis, sementara Anna memang sengaja memperlambat menyantap es krimnya. Lantas, Logan beranjak dari tempat duduknya dan menoleh pada Anna.
"Kamu tunggu di sini sebentar." Anna mengangguk, tak peduli pria itu mau ke mana.
Tebakannya, paling Logan mau ke toilet. Memangnya, mau ke mana lagi kalau bukan ke sana? Pasti es krim itu membuatnya beser. Es krim Anna sudah habis, dan Logan tak kunjung kembali. Daripada melamun, Anna memainkan ponselnya.
Namun, tak lama kemudian, Anna melihat Logan dari kejauhan sambil membawa ... sepeda? Anna tercengang, lalu bergantian menatap Logan. Lagi, ia tak dapat menebak isi pikiran pria itu, apalagi membaca ekspresinya yang datar. Namun, ia yakin, Logan pasti menyuruhnya untuk naik sepeda sambil jalan-jalan di sekitar sini.
Logan duduk di atas jok sepeda, lalu ia memberi isyarat pada Anna agar duduk di jok yang ada di belakangnya. "Naiklah!"
Hah? Mulut Anna terbuka lebar, tak percaya pria itu memiliki ide seperti ini. Jadi, dari tadi Logan mencari sepeda sewaan agar bisa membawanya berkeliling taman?
"Naik sepeda?" tanya Anna ragu sambil menunjuk.
"Iya, aku yang boncengin kamu," sahut Logan.
Apa mau dikata, Anna akhirnya mau menuruti kata Logan. Lagipula, ini kesempatan langka, diboncengi oleh suami super cuek, dingin, tapi diam-diam perhatian. Harus Anna akui, Logan memang so sweet!
"Pegangan!" perintah Logan.
"Apa?" tanya Anna, bukannya tidak dengar, tapi ingin memperjelas kalau-kalau salah dengar. Logan mendecakkan lidah, meraih kedua tangan Anna, lalu melingkarkannya di pinggannya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh, pelukan seperti ini supaya kamu tidak jatuh."
Memang iya sih, Anna berpikiran seperti itu, wajar. Pipinya saja sampai merona, merasakan kehangatan dari perhatian pria itu. Namun, Anna tidak mengakui, lantas mendebatnya.
__ADS_1
"Siapa juga yang kayak gitu? Udah, cepat jalan!"
"Bawel!" Logan ngedumel, kemudian mulai mengayuhkan sepeda.[]