Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Permintaan Pertama


__ADS_3

Setiap beberapa minggu sekali, Anna mengunjungi dokter kandungan. Semenjak tinggal di Korea, ikrarnya untuk melakukan pengobatan dilakukannya.


Anna meminta izin untuk pulang sore karena janji temu dengan dokter. Pengobatan langsung dilakukan begitu Anna sampai di rumah sakit. Sang dokter begitu ramah, penuh perhatian ketika mengobati dan memberi saran setelahnya.


"Dangsineun hwagsilhi aileul gajil su itseumnida. Teughi jinan 7gaewol dongan jeong gijeogeulo yageul bogyonghatseumnida (kamu pasti bisa punya anak, apalagi selama tujuh bulan ini kamu rutin berobat)," kata dokter itu, tersenyum ramah. "Nae chung go, dangsingwa dangsinui nampyeoneun jeong gijeogeulo seong gwangyeleul gajseumnida (saya sarankan, kamu dan suamimu rutin berhubungan badan, ya?)."


Wajah Anna seketika memerah mendengar hal itu. Berhubungan intim rutin? Anna rasa akan sulit karena Logan akan jarang berada di Korea. Kontrak kerja Anna tingga beberapa bulan lagi, dan ia belum tahu apakah perusahaan akan memintannya bertahan.


"Tapi, aku tidak bisa selamanya tinggal di Seoul," gumam Anna yang tengah duduk menunggu bus di halte. "Aku dan Logan akan kembali rujuk setelah masalah selesai, jadi aku pasti akan diboyong ke Jakarta."


Anna menghela napas muram. Padahal, Anna sudah betah tinggal di Seoul. Banyak kenangan manis tercipta, dan memiliki banyak teman di sini.


"Gaeun pasti akan ngamuk dan sedih kalau aku bilang akan kembali ka Jakarta," gumamnya memelas.


Namun, apakah semua itu akan terwujud? Setelah mendengar keinginan Nina, Anna kembali bersedih. Anna tak yakin bisa kembali ke sisi Logan, sementara Nina menginginkan suaminya tetap tinggal bersamanya.


Anna hampir tak bisa tidur memikirkannya. Ia tak bergairah berhubungan badan, tapi Anna tetap melakukannya karena tak ingin membuat Logan kecewa.


Hari libur, mereka bisa bangun kapan saja. Namun, sebelum cahaya matahari masuk lewat jendela kamar, mata Anna telah terbuka tapi menyendu.


Ditolehkan pandangannya pada Logan, yang masih tertidur pulas. Lengan kekarnya memeluk tubuh Anna erat, dan wajahnya begitu dekat darinya. Anna tersenyum getir, matanya terasa panas dan berair.


Apa ia harus merelakan Logan lagi? Tapi, Logan pasti tidak akan mau. Ke manapun Anna bersembunyi, Logan akan mencarinya lagi. Setelah pertemuan ini, mereka telah mengucapkan janji tidak akan berpisah lagi. Tapi, Nina? Anna iba pada kondisinya.


"Apa yang sedang dipikirkan oleh otak cantikmu itu?"


Anna tertegun, melirik pada Logan. "Tadi dia menceracau? Atau aku yang salah dengar? Matanya masih terpejam." gumam Anna pelan, keheranan.


Logan mempererat pelukannya, Anna terkesiap. "Jika kau berpikir untuk pergi lagi, aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan aku biarkan," gumam Logan lagi.


Hati Anna mencelus, sekejap merasa sedih. Namun, ia tak ingin Logan tahu, makanya Anna menimpali dengan ucapan bernada canda. "Kalau ngomong itu, matanya dibuka dulu. Udah, jangan pura-pura tidur."

__ADS_1


"Bodo amat," sahut Logan mencemooh.


"Oh, gitu? Oke deh!"


Anna menggelitik pinggang Logan, hingga pria itu membuka matanya seraya tertawa. Logan melepaskan pelukannya, ingin membalas.


"Awas, ya! Dasar istri nakal!" seloroh Logan, memanjat ke atas tubuh Anna, mengekang kedua tangan Anna agar berhenti menggelitik. "Kena kau!"


Keduanya saling memandang, napasnya terengah-engah. Logan tersenyum, tetapi Anna justru mengiba, dan air matanya menggenang lagi tanpa disadari.


Melihat mata istrinya berair, Logan tertegun. "Sayang, kau menangis?" tanya Logan cemas.


Anna harus bilang apa jika dirinya sedih. Tapi, ia tetap menyembunyikannya dengan senyuman getir. "Ya, aku menangis bahagia," jawab Anna bohong.


Senyuman Logan tambah lebar. "Aku akan membuatmu lebih bahagia dari ini," timpalnya, tetapi janji itu menusuk hati Anna semakin dalam.


Anna terdiam sejenak. "Kalau gitu, aku minta 3 permintaan."


Logan beranjak ke samping dan duduk. "Oke. Permintaan pertama apa?"


Logan memalingkan wajah, mendecak. "Nggak mau," tolaknya tegas.


"Ayolah, Logan," bujuk Anna, menusuk-tusuk pelan pinggang Logan, tapi pria itu tak merasa geli sama sekali.


Logan tetap bergeming dengan raut wajah jengkel. Anna murung, kehilangan akal untuk membuat Logan mau menuruti permintaanya. Anna beranjak duduk, menggenggam lembut jemari Logan, dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


"Kau tahu tidak, siapa yang memberikan nama Koreamu saat lahir?"


Meski masih marah, Logan tetap menjawab kesal. "Ibu kandungku."


Anna mengangkat kepalanya, menatap Logan. "Ayahmu," jawabnya, di luar dugaan.

__ADS_1


Logan mendengus, kekesalannya yang semula sudah reda, kembali muncul. "Kau percaya ucapan pak tua itu?" sahutnya sinis.


"Mama Elina pernah memberikanku sebuah buku harian milik seseorang." Anna kembali menyandarkan kepalanya di bahu Logan. "Aku membacanya, dan menemukan kesamaan dari cerita mama Elina dan ayah kandungmu.


"Ayahmu tak pernah meninggalkan ibumu. Diam-diam dia memperhatikan kalian. Bahkan, dia datang saat kau dilahirkan. Dia pernah menggendongmu, walaupun ibumu tak melihatnya langsung. Seorang suster yang memberitahukannya. Dan bahkan, ayahmu yang mendaftarkan namamu."


Logan diam saja, memalingkan wajahnya yang mendung dengan air mata mulai tergenang.


"Kalau ibumu membencinya, dia tidak akan memakai nama itu untukmu." Anna jeda sejenak, termenung mengenang yang diingatnya. "Mungkin kau tidak ingat. Saat umurmu 4 tahun, kau pernah bertanya pada ibumu. 'Ibu, apa aku punya ayah?' Lalu, ibumu menjawab: 'tentu saja kau punya. Suatu saat nanti kau akan menemuinya. Bersikap baiklah padanya, ya?'."


Anna merasa genggaman tangan Logan menguat, Anna berhasil membawa Logan terbawa oleh emosi. Hati Logan yang lembut membuatnya terhanyut.


"Waktu aku tahu bahwa aku sedang mengandung, dan kau tidak mau bertanggung jawab, aku berpikir untuk pergi membesarkannya sendirian tanpa ada yang tahu. Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuknya, tidak akan mengungkit-ungkit bagaimana ayahnya telah mengabaikan kami. Karena, aku tidak ingin anak itu membenci ayahnya."


Logan perlahan menoleh pada Anna, menatapnya dengan mata basah. Jemari Anna menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Anna tersenyum lembut. "Ternyata kau bisa menangis juga."


"Kau mengolok-olokku? Aku sudah beberapa kali menangis karenamu," sahut Logan, berpura-pura jengkel.


Senyum Anna semakin melebar. Tangan Logan yang ia genggam, Anna kecup penuh kasih. Dan mereka saling bertatapan haru, lalu Logan membawanya dalam pelukannya yang hangat.


"Kalau kau pergi saat itu, mungkin aku tidak akan pernah melihat kalian. Tapi, bayi itu sudah pergi, dan semua itu karena aku," ucap Logan lirih, kembali sedih mengingat saat mereka kehilangan bayi yang sangat dinantikan.


"Itu bukan salahmu. Berhenti menyalahkan diri sendiri," tegur Anna lembut.


"Baiklah, Sayang." Logan mengalah, mempererat pelukannya, lalu mengecup kening Anna.


"Jadi," Anna mendongak, menatap Logan. "Kau mau menemui ayahmu? Memaafkannya?"


Logan menatap Anna seraya berpikir cukup lama. Agak berat baginya untuk melakukan hal ini, apalagi memaafkannya.


Anna pikir Logan masih ragu. Ia kembali membujuk. "Setidaknya, dengarkan penjelasannya dulu."

__ADS_1


"Baiklah." Logan menghela napas panjang. "Daripada diteror terus olehmu."


...[]...


__ADS_2