
"Apa-apaan ini, Anna?" Logan menggumam geram dengan mata tajamnya menatap Anna. Lalu, ponsel itu diletakkan kasar di atas meja. "Ini nomor Nina. Kenapa kau menyuruhku bicara dengan Nina?"
Anna menunduk, tatapannya goyah. Logan semakin frusrasi, sementara Nina mendengarkan pada ujung sambungan telepon seraya mengernyit.
"Dengarkan saja apa yang ingin Nina katakan," jawab Anna lirih sendu.
"Kalau ini permintaanmu, aku tidak akan melakukannya!" tukas Logan tegas.
Gegas Anna mengangkat kepalanya, memelas. "Tapi, Logan. Beri dia kesempatan—"
"CUKUP!" bentak Logan menyela. "Aku bisa menoleransi permintaanmu yang pertama, tapi kalau yang ini ... tidak! Kenapa aku harus memberikan kesempatan pada orang yang sudah menghancurkan hubungan kita?"
"Tapi, Logan," Anna menginterupsi, "Nina dalam keadaan sakit. Apa kau tega...."
"Tega?" potong Logan sengit. "Lalu bagaimana dengan dia? Apa dia merasa tidak tega padamu yang baru saja kehilangan bayi kita, lalu datang memisahkan kita? Aku tidak tahu apakah dia mengancammu atau menceritakan hal sedih supaya kau iba, makanya kau mau melakukan ini demi dia? Anna, sadarlah! Aku tahu hatimu sangat lembut, tapi kau tidak boleh terperdaya oleh orang seperti Nina!"
Anna bergeming dengan air mata berlinang. Diraihnya tas dan ponselnya yang ada di atas meja. "Aku diajarkan untuk berbelas kasih meski orang itu telah menyakiti kita. Aku marah pada Nina, tapi aku tidak dendam padanya. Soal kejahatan yang telah dilakukannya pada kita, itu urusan Tuhan. Tuhan yang pantas menghukumnya."
Lalu, Anna berjalan pergi, tapi Logan tak membiarkannya. Logan mengejarnya, menggapai tangannya sebelum Anna mencapai pintu. Logan menariknya hingga ke dalam dekapannya.
"Kau bilang tidak akan pergi lagi dariku. Jangan pergi, Anna. Kita bicarakan baik-baik," bisik Logan lembut, memelas seakan hendak ingin menangis.
Anna tak kuasa menahan tangisan, bibirnya kelu untuk berucap. Anna juga tidak mau berpisah lagi dengan Logan, tapi ia sudah janji untuk melakukan permintaan Nina.
Ia harus bagaimana sekarang?
Anna memikirkannya semalaman, begitu juga dengan Logan. Mata pria itu terpejam, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Setelah pembicaraan tadi, tidak ada yang mereka katakan, mereka langsung beranjak ke tempat tidur.
Mereka tertidur dengan saling membelakangi. Namun, Logan tak tahan seperti ini, ia menoleh untuk melihat Anna. Logan menyadari tubuh Anna terguncang pelan—pasti sedang menangis.
Logan ingin menggapainya, menenangkannya dalam pelukan. Tetapi, Logan urung, pikirnya sebaiknya membiarkan Anna seperti ini dulu. Logan memutuskan untuk memejamkan mata, berusaha tertidur.
Anna juga ketiduran akhirnya sehabis lelah menangis. Saat terbangun, ia mendengar lantunan lagu klasik karya Liszt, "Consolations". Anna terhenyak, yang dilihatnya pertama kali adalah ke arah sisi ranjang di sampingnya.
__ADS_1
Kosong. Logan tidak ada di ranjang.
Anna beranjak ke kasur, melangkah pelan menuju ruang tamu. Ternyata Logan yang memainkan piano. Ia tersenyum, pria itu bisa juga memainkan tuts piano dengan lincah, menghasilkan alunan lagu yang menyenangkan. Apa Logan belajar dari Nina?
Semalam, setelah berpikir cukup dalam, pikiran Anna mulai jernih. Ia merasa bersalah. Pantaskah ia meminta maaf pada Logan.
Tubuhnya yang enggan beranjak, akhirnya kakinya yang tergerak untuk menghampirinya. Anna berdiri di belakangnya, lalu melingkarkan lengannya di leher Logan, mendekap bagai ingin meminta kehangatan darinya.
Logan tak berhenti bermain piano meskipun menyadari kehadirannya. Ia tersenyum, lalu berkata lembut. "Sudah bangun? Tidurmu nyenyak?"
"Sedikit," jawab Anna manja.
"Mau sarapan? Asistenku sudah mengantarkan bahan makanan ke rumah. Aku akan memasakkan menu sarapan untukmu," kata Logan, jemarinya masih menari di tuts piano.
Anna melonggokkan kepala, menatap Logan. "Kamu terus yang melayani aku. Biar aku yang masakin."
"Hari ini, aku sedang ingin memasakkan makanan untukmu. Jangan menolak, ya?" Logan bercanda dengan berpura-pura mengancam.
"Dijamin enak nggak masakannya?" balas Anna meledek.
"Aku jamin, kau akan langsung jatuh cinta dengan masakanku." Logan tersenyum renyah, menularkan senyuman di bibir Anna.
Logan menarik Anna ke dapur, mempersilakan Anna duduk di salah satu kursi, sementara Logan mulai masak.
"Mau sarapan apa?" tanya Logan seraya memeriksa isi kukas. "Wah, ada daging tomahawk. Kita buat stik tomahawk mau tidak?"
"Em ... enakan makannya malam." Anna berpendapat.
"Benar juga," timpal Logan setuju. "Oke deh. Bagaimana kalau nasi goreng kornet dan keju. Suka, nggak?"
"Boleh." Anna tersenyum simpul. Menu sarapan yang rasanya pasti enak. Anna tak sabar menantikannya. "Aku bantu boleh, nggak?" tanya Anna akan beranjak dari kursi.
"Nggak boleh," seru Logan, mencegah cepat. "Tuan Putri duduk saja di sana, biar Pangeran tampan ini yang masak."
__ADS_1
Anna tertawa, candaan Logan berhasil membuatnya ceria kembali. "Pangeran kuda putih?"
"Kuda?" protes Logan terkekeh seraya menggiling bawang dengan blender. "Nggak jaman. Aku ini pangeran bermobil putih."
Keduanya tertawa dan saling menggoda selama proses memasak. Anna takjub dan berdiri di samping Logan untuk memperhatikan caranya memasak. Suasana riang yang sederhana tercipta meski hanya di dapur.
Nasi goreng sudah jadi, Logan menghidangkannya ke piring yang sudah disediakan oleh Anna. Lalu, mereka meletakkannya di atas meja marmer berwarna abu-abu bersama dengan dua gelas air putih. Logan juga membuat dua cangkir kopi dengan mesin pembuat kopi.
Anna takjub dengan mesin itu, dan berkomentar kala Logan menghidangkan kopinya. "Wah. Kamu beli mesin itu?"
"Nggak. Semua barang-barang di sini ditinggal oleh pemilik apartemen, termasuk piano itu. Dia tinggal di Australia selama setahun. Makanya, apartemennya disewakan. Kita bisa memakainya sesuka hati, asal tidak dirusakan," jawab Logan, lalu beranjak ke kulkas dan mengeluarkan kantong berisi croissant.
Anna melirik pada piano tadi, lalu mengalihkan tatapan yang tanpa sengaja mengarah pada croissant yang telah tersedia di atas piring.
"Wah! Sarapan kita hari ini cukup banyak, ya?" komentar Anna sembari tersenyum mencemooh, tapi Logan hanya tertawa kecil.
Logan membuktikan ucapannya bahwa masakannya memang enak. Bahkan, Anna memberikan rating bagus pada masakannya itu. Anna melahap nasi gorengnya sampai ludes tak bersisa. Setelah makan, mereka menikmati croissant dan secangkir kopi.
Anna menatap ke arah jendela, termenung dengan jemari mendekap cangkir kopi. Ia menghela napas, tatapan beralih pada bayangannya yang ada di kopi.
"Aku putus asa waktu dokter bilang bahwa aku akan sulit memiliki anak. Nasib Nina hampir sama denganku, tapi menurutku dia lebih tragis dariku. Harapannya benar-benar pupus untuk memiliki anak. Orang yang dicintainya akan meninggalkannya," ucapnya lirih.
Logan menghela napas, bukannya marah, melainkan memahami kelembutan hati Anna. Ia tak menginterupsi, mengalihkan tatapan pada jendela besar di sana.
"Maafkan aku, Logan. Aku memang tidak bisa berbagi cinta dengan Nina. Tapi, Nina hanya ingin tetap bersama denganmu, orang yang dicintainya, harapan satu-satunya untuk tetap hidup," lanjut Anna.
...💍...
Kenan masih berada di Singapura sampai keadaan Nina membaik. Ponsel Kenan berdering, Diana menghubunginya atas izin Logan. Diana ingin berbicara dengan Nina.
Kenan masuk ke dalam kamar Nina, tapi gadis itu tidak ditemukan di ranjangnya. "Nina?" panggil Kenan seraya menghampiri kamar mandi.
Pintu kamar mandi diketuknya seraya berseru memanggilnya. Tetap saja, tak ada sahutan. Firasat Kenan mulai tak enak. Ia berpikir untuk membuka pintu kamar mandi.
__ADS_1
Kenan mendelik, pintunya tidak dikunci! Kenan membuka pintu lebih lebar, dan Nina tidak ada di dalam ruangan itu!
"Nina ... dia menghilang?"[]