Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Calm Before Strom


__ADS_3

Saat masih muda, Diana merupakan seorang koki berbakat yang belajar memasak sampai ke Paris. Dia memiliki restoran dengan banyak cabang di Indonesia dan Paris tentunya. Setelah pensiun, Diana menjadi juri tamu untuk acara memasak di TV beberapa kali.


Kesibukannya tak membuatnya lupa pada suami dan putri semata wayangnya. Nina sangat suka lasagna, dan itu hanya dari buatan sang ibu. Diana sangat senang memasakkan makanan itu untuk putrinya. Nina kembali bersemangat setelah menyantapnya.


Dan itulah yang Diana lakukan hari ini. Ia sengaja menemui anaknya yang hatinya tengah terluka. Mungkin sihir kecil dari racikan masakannya akan mengubah suasana hati Nina agak membaik.


Setelah menghabiskan suguhan teh chamomile, Diana beranjak ke dapur. Pelayan yang bersamanya telah membelikan bahan-bahan untuk membuat lasagna.


Makanan siap dalam beberapa menit, Diana yang langsung menghidangkan dua porsi lasagna di meja makan. Ia akan makan bersama dengan putrinya. Sudah lama mereka tak melakukannya.


"Lasagna?" Nina merasa seperti mendapat kejutan yang lebih baik dari pada dihadiahkan sebuah kalung berlian. Senyumnya sampai terkembang seraya menatap sang ibu. "Aku kangen makan lasagna buatan Mama."


Diana tersenyum simpul. "Selamat menikmati."


Nina meraih garpu dan pisau yang ada di samping piring, memotong lasagna jadi bagian kecil, lalu menyuapkannya ke mulut. Diana sangat senang karena caranya cukup berhasil, sehingga ia mulai menyodorkan sebuah topik pembicaraan.


"Kau sudah dengar soal Logan dan istrinya?" tanya Diana, tanpa memperhatikan ekspresi Nina yang tiba membeku ketika memotong lasagna.


Mood Nina terjun bebas, lasagna tak lagi menarik perhatian. "Tiba-tiba membahas hal itu. Kenapa?" jawab Nina dingin, menyelesaikan memotong lasagna.


Diana tahu ini menyakitkan Nina, tapi maksudnya bukan seperti itu. "Logan dan istrinya mengalami kecelakaan. Aku dengar, istrinya keguguran dan tak bisa hamil lagi," lanjutnya, sengaja memanasi.


Nina tetap menimpali mamanya, walau sebenarnya ia tak peduli tentang Anna. "Kasihan sekali dia." Nada dinginnya lebih sarkas.


"Kasihan?" dengus Diana agak berseru. "Kau iba pada wanita yang telah mengambil kekasihmu?"


Mata Nina terpejam erat, tak tahan lagi dengan permainan sang ibu. Nina meletakkan garpu dan pisau ke meja tanpa suara, lalu menatap ibunya dengan rahang mengeras. "Apa maksud Mama sebenarnya?"


Diana juga meletakkan garpu dan pisaunya di meja. Reaksi yang ditunggunya akhirnya muncul. "Kau masih mencintai Logan, 'kan?"


Nina menyipit. Kenapa arah pembicaraannya jadi ke sini? Kedatangan sang mama sama sekali tak mengobatinya. "Lalu, apa kaitannya?" cecar Nina sengit.


Diana mengulas senyum misterius yang membuat Nina semakin bertanya-tanya. Diana meraih gelas wine, lalu menyeruputnya sedikit, mengacungkan pertanyaan pada Nina seraya meletakkan gelas anggur ke meja.

__ADS_1


"Nina, pilih salah satunya. "Mau tetap di sini, tapi kau harus melanjutkan kariermu. Atau ..." Diana memajukan tubuhnya, sementara Nina menunggu dengan berbagai dugaan. "Kembali ke Jakarta untuk melakukan rencana Mama."


...♡♡♡...


Dua hari kemudian, Anna kembali ke rumah. Logan tidak ke kantor untuk sementara waktu, ayahnya menyuruh Logan untuk lebih fokus pada Anna, meskipun Anna mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Anna melakukan kegiatannya seperti biasa. Tapi siang ini, ia tergerak untuk mengunjungi ruang tidur calon bayi mereka yang harusnya lahir ke dunia ini. Ruangan itu terletak di samping kamar tidurnya dengan Logan.


Namun, hati terus urung. Tangannya membeku pada knop pintu kamar itu, seakan tak siap untuk jika lukanya menganga lagi jika masuk ke dalam.


Anna tak bisa begitu. Bukankah ia sudah berjanji untuk menerima kepergian bayi itu? Anna menegarkan hatinya, menghela napas panjang sebelum membuka pintu kamar itu.


Pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah tempat tidur bayi warna biru. Hatinya menyendu, membeku, dan kakinya bergetar. Rasanya ia ingin kabur dari sana, dan buru-buru menutup pintu itu.


Anna pun berbalik, tetapi terhalang karena Logan berada di hadapannya. Tangan Logan membawa Anna dalam dekapannya. Anna mengiba, air mata pun tumpah membasahi dada bidang Logan.


"Aku sudah berusaha, tapi aku tetap tidak bisa, Logan," isak Anna, mendekap Logan erat.


Tatapan sendu Logan mengarah pada kamar bayi. Sama halnya dengan Anna, sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa mereka telah kehilangan bayi yang sangat mereka menantikan. Logan ingin menangis, tapi ia berusaha menahan air matanya karena ia harus tetap tegar di hadapan istrinya.


"Anna," panggilnya lembut. "Saat aku menguburkan jasad anak kita, rasanya sulit untuk melakukannya. Air mataku tak berhenti mengalir, dadaku sesak ketika harus mengucapkan 'selamat tinggal' padanya. Tapi, bagaimanapun juga, kita harus merelakan anak itu meski sulit."


Anna berhenti terisak, mengangkat kepalanya dan menatap suaminya. Logan menghela rambut Anna dengan air mata tergenang.


"Jangan lakukan jika tidak siap." Logan berkata seraya menutup pintu kamar. "Kita akan kembali ke sini ketika kita benar-benar sudah bisa merelakannya. Tapi, jangan sendirian, aku akan menemani masuk ke dalam."


Anna mengangguk dan tersenyum, perasaannya agak lebih baik setelah mendengar ucapan Logan.


...♡♡♡...


Gery datang siang itu ke kediaman Jonathan atas permintaan Matthew. Pelayan menyambutnya, lalu membiarkan masuk ke dalam rumah. Logan sedang menuruni tangga bertepatan dengan itu.


Logan mengernyit, langkahnya memelan. "Gery? Ada apa kau kemari?"

__ADS_1


Gery menoleh padanya, membungkuk hormat. "Pak Logan, apa kabar? Bagaimana keadaan Anda?"


Logan melesat cepat menghampiri Gery. Pria itu membuatnya curiga karena tidak biasanya Gery tidak menjawabnya langsung. Matanya menyipit. "Papa menyuruhmu?" tanyanya.


Terpaksa Gery mengangguk. "Pak Matthew ingin membahas soal perusahaan."


Kebetulan, Logan ingin tahu soal perkembangan perusahaan. Selama ia tidak ke kantor, tidak ada yang memberikan laporan terkait kinerja perusahaan.


"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan perusahaan sepeninggalku? Semuanya baik-baik saja? Apa kau berhasil meyakinkan Mr. Reiner untuk bergabung dengan perusahaan start up kita?" Logan mencecar dengan semangat dan matanya berbinar penuh harap.


Namun, ekspresi yang diperlihatkan Gery justru tak sesuai ekspektasi. Gery menghela napas, dan Logan mulai merasakan firasat buruk seusai melihat reaksi Gery.


"Apa ini? Kau gagal membujuk Mr. Reiner?" tuntut Logan.


Gery menghela napas lagi? Berarti benar dugaannya!


"Maaf, Tuan. Saya...."


"Gery." Suara berat seorang pria memanggilnya, Gery dan Logan menoleh pada sumber suara itu.


Matthew muncul dari jalan yang mengarah pada ruang baca. Alisnya bertaut, seakan tak senang dengan tindakan yang akan dilakukan Gery.


Gery menunduk hormat sejenak, akan menghampirinya. Akan tetapi, Matthew melarangnya, bersikeras mendekat pada Gery dengan berjalan menggunakan tongkatnya.


"Aku sudah bilang, temui aku di ruang baca!" Matthew berujar agak sedikit membentak sembari menghentakkan tongkatnya.


"Maafkan saya, Pak," sahut Gery, menunduk sesal sekejab.


"Ada ini? Kenapa hanya bicara berdua?" Logan menyela gusar. "Gery sekretarisku. Jika kalian ingin membahas soal perusahaan, aku juga harus ikut!"


Gery melirik Matthew, menunggu perintah darinya. Namun, Matthew sendiri bimbang dengan sikapnya.


"Logan, soal perusahaan, biar Papa yang menanganinya," kata Matthew, sikap tenangnya terselip kegugupan samar.

__ADS_1


Logan semakin yakin akan dugaannya. Ia menghentikan langkah Matthew yang akan mengajak Gery ke ruang baca. "Tunggu dulu! Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"[]


__ADS_2