
Kafe kecil kecil dekat rumah sakit itu lumayan ramai oleh pelanggan pagi ini. Nina menghirup dalam-dalan aroma kopi yang cukup kuat. Lalu, menggandeng Logan menuju sebuah meja.
Tita mengawasi Nina, tetapi dari jarak yang agak jauh. Dia memilih tempat duduk berbeda karena tak ingin Nina merasa terganggu olehnya.
Setelah memesan hidangan, Nina memangku dagu sambil menatap Logan yang canggung. Tawa kecil gadis itu meledak, membuat Logan heran.
"Logan, kok sikap kamu aneh gitu? Kayak orang bingung tau nggak?"
Benarkah? Maka Logan pun mengubah sikapnya dengan sebisa mungkin santai di depannya. "Ah! Cuma perasaan kamu aja kali."
Nina terkekeh. "Ya, mungkin cuma perasaan aku aja. Soalnya, setelah bangun dari koma, hal aneh terjadi padaku."
Logan menegak, alisnya naik sebelah. "Hal aneh? Semisal...."
"Ya ..." Nina melirik ke arah lain, berpikir sambil menggerakkan kesepuluh jarinya di atas meja. Lalu, ia mengacungkan tangan kirinya, menunjuk pada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya, "ini! Cincin ini! Tiba-tiba, di jariku tidak ada cincin pertunangan kita. Aku menyuruh Tita untuk mencarinya. Untungnya, tidak hilang."
Senyum getir Logan terulas seraya mengangguk, sementara Nina memperhatikan cincin di jarinya dengan mata riang penuh binar. Logan memalingkan wajah, kemudian bergumam sangat pelan, "Aku harap, cincin itu benar-benar hilang."
"Oh!" Tiba-tiba Nina berseru, melirik jari manis Logan, di mana sebuah cincin melingkar. "Perasaan cincin pertunangan kita bukan seperti itu deh?"
Logan melirik jari manisnya, lalu cepat-cepat menyembunyikan tangan kirinya dari atas meja. "Perasaan kamu aja kali," katanya tersenyum kikuk. "Oya! Terus, kejadian aneh apalagi yang kamu rasakan setelah itu?"
Nina tersenyum simpul. "Segitu penasarannya kah? Hehehe. Oke, aku akan cerita. Em ... terus, kata Tita aku udah memenangkan kompetisi piano yang sudah lama kuimpikan itu di London." Logan hanya mengangguk, sebenarnya tak begitu minat mendengar ocehannya itu. "Senang sih, tapi aku lebih senang lagi waktu ketemu sama kamu," lanjut Nina.
Kemudian, Nina menyadari bahwa senyuman Logan itu terlihat tak sepenuhnya tulus. Ia memangku dagu, tertegun setelah senyumannya menghilang. "Kenapa? Kamu nggak senang bertemu denganku?"
Logan menarik napas dalam, lalu menghelanya panjang. Sulit rasanya untuk mengatakan kebenarannya. Akan tetapi, ia masih tak sanggup untuk membuat Nina terluka. Jadi, ia tetap memaksakan senyumannya dan berkata:
"Aku senang, cuma...."
"Cuma? Aku tahu! Kamu pasti sedih karena mama Elina sakit, 'kan?" Nina tak asal menebak. Ia membuat kesimpulan karena melihat situasi yang sedang terjadi. Seandainya Nina tahu, dirinyalah yang membebani pikirannya.
__ADS_1
"Ya, sedikit." Logan mengangguk. Akhirnya memilih berdusta. "Tapi syukurlah, keadaan mama udah membaik."
"Iya, makanya itu!" seru Nina, tersenyum lebar. "Jangan terlalu dipikirkan lagi, oke? Kamu juga harus fokus pada diri kamu sendiri dan ... kita."
Logan terkejut dan spontan menarik tangannya, kala Nina menggenggam tangannya yang ada di atas meja. Nina tercengang, tak kalah bingungnya. Kenapa sikap pria itu makin aneh? Seolah, Logan bukanlah pria yang dikenalnya selama ini. Apa yang salah?
Melihat reaksi Nina, Logan jadi gugup, memutar otak untuk mencari alasan untuk mengalihkan perhatian Nina. Namun, ia tak menemukannya. Pada akhirnya, ia memilih untuk melakukan ini.
"Maaf, Nina. Aku mau permisi ke toilet," kata Logan kikuk, bahkan tak sanggup menatap mata Nina secara langsung.
...💐 ...
Kenan masih berada rumah sakit, enggan meninggalkan Anna. Filling-nya mengatakan, suasana hati Anna tidak baik. Senyuman yang diperlihatkan palsu belaka di depan ibu dan ayah mertuanya. Elina cemas melihat rona wajah Anna memudar.
"Anna, apa kamu lelah? Di mana Logan? Suruh dia antar kamu pulang."
"Aku baik-baik saja kok, Ma," jawab Anna, sengaja berkata agak riang. "Aku kan mau menemani Mama sampai Mama pulang nanti sore."
"Om, Tante, percuma bujuk dia. Anna itu keras kelapa ... eh! Maksudnya kepala," seloroh Kenan. "Harus dipaksa dulu, baru nurut. Udah, Om sama Tante tenang aja, biar aku gendong Anna sampai mobil, terus aku bawa dia pulang.
"Apaan sih?" tegur Anna pelan, tersipu sambil menyikut lengan Kenan. Sementara itu, Elina dan Matthew tertawa kecil. Kenan berhasil menghibur pasangan itu.
"Ya udah. Kenan, tolong antarkan Anna pulang, ya," pinta Elina, setelah tawanya telah reda sedikit.
"Siap, Nyonya!" seru Kenan, seperti seorang prajurit melakukan gerakan hormat.
Anna terpaksa menurut, meski masih pengin berada di sini. "Ya udah, aku pulang dulu, ya, Pa, Ma," pamitnya.
Kenan hendak menyentuh punggung Anna untuk menghelanya pergi, tetapi urung. Anna sendiri sudah mengerti akan isyarat itu, maka ia pun berjalan duluan di depan Kenan.
Logan kembali ke rumah sakit, setelah mengantarkan Nina dan Tania ke mobilnya. Sayangnya, ia tak sempat bertemu dengan Anna dan Kenan. Padahal, ia langsung berlari untuk menemui Anna, begitu mobil Nina melaju.
__ADS_1
Saat ia sudah sampai di ruangan Elina dirawat dan membuka pintunya dengan agak kencang, yang ditemuinya hanya sosok orangtuanya yang sontak menoleh padanya sambil tercengang.
"Logan, kok ngos-ngosan gitu? Kamu berlari ke sini?" tanya Elina antara cemas dan heran.
Napas yang terengah-engah sulit untuk membuatnya berbicara. Sambil melangkah menemui orangtuanya, Logan mengatur napasnya hingga bisa mengeluarkan sepatah kata dengan lancar.
"Anna mana, Ma?"
"Anna?" seru Matthew tertegun, lalu menatap Elina sejenak. "Dia udah pulang. Kenan yang antar."
Logan mendengus, mengepalkan tangannya, lalu memalingkan wajah sambil menggerutu pelan. "Dasar! Cari kesempatan dia!"
"Hah? Apa Logan? Kamu ngomong apa?" tanya Matthew, meski sudah berumur, masih bisa mendengar suara terkecil sekalipun.
Spontan, Logan terkesiap dan menoleh sambil tersenyum kaku. "Ah, enggak."
...💐 ...
Kalau murung, Anna pasti mengunci bibirnya rapat-rapat, lalu menoleh ke arah jendela mobil sambil merenung. Kenan jadi merasa tak nyaman, tapi iba.
Gadis itu menderita oleh Logan yang tak bisa tegas mengambil sikap. Seandainya ia bisa lebih cepat dulu, ia akan menikahi dan membahagiakan Anna tanpa ada masalah sepelik ini.
"Anna, mau makan sesuatu?" tanya Kenan, alih-alih membahas topik yang sedang mengganggu pikiran Anna.
"Aku masih kenyang, makasih. Kamu nggak kerja hari ini?" Anna pun sepertinya sependapat dengan Kenan—tak ingin membahas soal Logan dan Nina.
"Lagi agak santai sih? Tapi, kalau Anna udah usir aku kayak gini, ya udah. Aku akan ke kantor habis ini," canda Kenan. Entah, berhasil mencairkan suasana atau tidak.
Sepertinya tidak ngefek. Anna hanya tersenyum tipis saja, itupun setengah niat. "Bukannya aku bermaksud begitu? Em ... gimana kalau mampir ke rumah sebentar?"
"Kalau ditawarin sih, mau aja. Tapi, aku malas berurusan sama banteng ngamuk." Asal saja celotehan Kenan ini. Masa sahabatnya sendiri dibilang begitu? Tapi, memang sifat Logan yang pemarah itulah Kenan menjulukinya begitu.
__ADS_1
Hanya saja, Anna menganggap itu lelucon belaka, sehingga ia tertawa kecil.[]