
"Boleh," gumamnya, tersenyum lebar.
Entah mengapa Logan merasa bersemangat pagi ini, melangkah masuk ke dalam kantor sambil tersenyum lebar, bahkan membalas sapaan para pegawai dengan ramah.
Tidak biasanya, memang. Perubahan ini mencengangkan para pegawainya, tapi mereka turut senang sebab bosnya tidak bertampang datar dan dingin seperti mau makan orang.
Sekretarisnya yang sudah datang lebih dulu, menghampirinya. Tablet mulai dibuka, dan ia membacakan semua jadwal Logan hari ini sambil berjalan menuju ruangannya. "Itu saja jadwal Anda, Pak." Sekretaris mengakhiri ucapannya, lalu menurunkan tablet dari pandangannya.
"Jadi, sore ini jadwalku kosong?" tanya Logan, lebar sekali senyumannya.
"Anda bisa pulang lebih cepat jika Anda mau," sahut sekretarisnya.
"Okeeeee. Kosongkan jadwalku jam 3 sore ini," perintah Logan, lalu berhenti karena sudah berada di depan ruangannya.
"Baik, Pak!"
Sang sekretaris membukakan pintu setelahnya, dan Logan bergegas menghampiri meja kerja. Yap! Ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat agar ia bisa menepati janji dengan Anna.
Tumpukan berkas ia kerjakan satu per satu, rapat juga diselesaikan. Makan siang akan segera masuk. Ia berencana akan melakukan makan siang bersama dengan klien. Namun saat ia beranjak dari kursinya, ponselnya berdering. Ia mendecak, Nina menghubunginya.
"Ada apalagi dia menelepon?" keluhnya, akhirnya terpaksa mengangkatnya seraya keluar dari ruangan. "Halo, Nina."
"Logan, apa kau sibuk? Aku ingin mengajakmu makan siang."
Logan menghela napas panjang secara perlahan. "Nina, aku ada janji makan siang dengan klien."
"Ooooo," gumam Nina, terdengar kecewa. "Baiklah. Tapi, kamu tidak bohong, 'kan? Kau sedang tidak menghindariku, 'kan?"
Merinding. Logan spontan mematung dengan wajah pucat. Apa gadis ini memiliki firasat yang kuat? "Kenapa kau tanya begitu?"
"Tolong jangan tersinggung, Logan. Mungkin aku hanya sedang sensitif saja. Maaf, ya, Sayang."
Logan mengernyit seraya melirik layar ponselnya sejenak. Kenapa gadis ini? Tadi terdengar murung, tapi dalam sekejap suaranya berubah riang. Semakin mencemaskan.
"Udah dulu, ya. Kliennya sudah mau datang," bohong Logan, padahal dirinya masih berada di kantor.
"Oh, oke. Sampai jumpa nanti, ya, Sayang," tutup Nina.
Sampai nanti? Garis dahi Logan muncul hingga berlipat-lipat untuk mencerna ucapan Nina. Oh! Mungkin maksudnya, mereka akan bertemu lagi tapi entah kapan. Biarlah! Logan kembali melanjutkan langkahnya.
Matahari mulai meredup sinar cerahnya, hampir menuju ke ufuk barat. Logan menutup berkas terakhir yang ditandatanganinya tepat pukul 3 sore. Lantas, ia melirik arlojinya; buru-buru membereskan meja, mengambil ponsel, lalu berdiri sambil membetulkan jasnya.
__ADS_1
Senyum lebarnya tak bisa ditahan. Senang sekali bisa menemani Anna pergi bersama meski hanya memeriksakan kandungan saja. Namun, pintu ruangan tiba-tiba diketuk dari luar.
"Ck! Ada apalagi sih? Bukannya semua berkas sudah aku tanda tangani?" gerutunya.
Belum sempat Logan berseru menyuruh orang di luar untuk masuk, pintu sudah dibuka oleh orang itu. Logan mendelik, Nina muncul dari balik pintu sambil tersenyum dengan pakaian rapi dan dandanan yang cantik.
Tanpa menutup pintu, Nina menghampiri Logan dan langsung memeluknya. Adegan itu dilihat oleh beberapa karyawan yang tak sengaja melihatnya. Tentu saja, gosip hangat akan segera tercipta di kantor itu.
Namun, Nina seakan tidak peduli. Bahkan tanpa rasa malu, ia mengucapkan, "Logan, aku merindukanmu."
...💐 ...
Anna sudah bersiap untuk pergi. Dan saat ia berjalan menuju pintu, Elina datang menghampiri sambil berseru memanggil. Ia pun menoleh dan tersenyum, mendekati ibu mertuanya.
"Kamu mau pergi, Nak?" tanya Elina, ketika Anna sudah berada di depannya.
Anna mengangguk. "Iya, Ma. Sebentar lagi, Logan mau jemput aku."
"Pergi sama Logan?" Mata Elina langsung membulat seraya semringah. Benar-benar sebuah kejutan yang menyenangkan. Akhirnya, anak itu mau juga membuka hatinya sedikit untuk Anna.
Deru mobil terdengar di luar rumah, kedua wanita itu bersamaan saling menoleh. Lantas, Anna berpamitan dengan Elina, dan buru-buru keluar rumah dengan senyuman.
Namun, mobil putih yang akan mengangkutnya sepertinya bukan milik Logan. Senyumannya perlahan memudar, melihat seseorang yang keluar dari mobil itu.
Anna tercengang sesaat, sedetik kemudian baru membalas sapaan pria itu disertai dengan senyuman tipis. "Hai, Kenan. Kamu ke sini mau ketemu siapa?"
Alih-alih menjawab, Kenan menghampiri sisi mobil sebelah kiri, lalu membukakan pintu mobil. "Silakan masuk, aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit."
Alis Anna naik sebelah. Bagaimana Kenan bisa tahu kalau ia akan ke dokter kandungan sore ini? Apa Logan yang menyuruhnya? Logan ingkar lagi?
"Anna." Kenan menegur. "Aku tahu, kamu pasti bingung. Aku akan menjelaskannya sambil jalan ke rumah sakit."
Anna pun melangkah enggan karena kekecewaan yang Logan torehkan dalam hatinya. Kenapa harus berjanji jika tidak bisa ditepati? Kenapa tidak dikabari sejak tadi?
Kenan tahu bahwa perasaan Anna sedang buruk sejak tadi. Ia tidak begitu banyak bicara sejak ia mengendarai mobilnya keluar dari kediaman keluarga Angsana. Ia melirik wajah Anna yang murung, tidak tega juga melihatnya seperti itu terus.
"Logan ada urusan mendadak, makanya dia menghubungiku," kata Kenan, dan Anna menoleh karena tertarik mendengarkannya.
"Apa kamu udah berbaikan?" tanya Anna, menyimpulkan seraya tersenyum penuh syukur.
Kenan membisu. Sebenarnya, tidak bisa dibilang begitu juga. Sekitar setengah jam yang lalu, Kenan sendiri terkejut saat Logan tiba-tiba meneleponnya, mengatakan dengan terburu-buru dan berbisik:
__ADS_1
"Kenan, hanya kau yang bisa kupercaya. Tolong jaga Anna untuk hari ini. Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit untuk menemaninya periksa kandungan sore ini."
Permintaan tolong yang tak bisa ditolak. Dan ia yakin, Logan pasti punya alasan untuk melakukan ini. Kenan sendiri melakukannya bukan hanya demi Logan, tapi juga Anna.
Meskipun gadis itu lebih memilih Logan, Kenan masih menyimpan sisa rasa untuk Anna. Setidaknya, ia bisa menjadi guardian angel untuknya, walaupun tak bisa memilikinya.
...💐 ...
Wajah Logan terlihat senang, beda sekali dengan Nina, yang senyuman lebarnya menggantung di bibir tipisnya. Sekalipun pria itu serius menyetir dan tidak menatap wajahnya, Nina tetap bahagia bersama dengannya.
Jemari lentik Nina perlahan merayap dan menyentuh tangan Logan yang diletakkan pada persneling mobil. Genggaman itu membuat Logan terkejut, sontak menarik tangannya.
Nina tercengang, tak menyangka akan mendapatkan reaksi mengejutkan lagi seperti ini. "Kamu kenapa Logan? Kenapa kamu menolak digenggam tangannya?"
Serba salah, Logan panik harus membohongi Nina dengan alasan apalagi. "Enggak, itu cuma perasaan kamu aja. Tadi aku terkejut. Dikira ada serangga di tanganku. Hehehe." Tawa yang janggal, dan alasan yang aneh. "
Mana mungkin ada serangga di mobil kamu. Kan kamu biasanya bersihin mobil kamu terus," sahut Nina, tak mudah juga membuatnya percaya.
"Yaaaaa, bisa aja sih. Pas aku buka pintu mobil, mungkin aja serangga terbang masuk ke dalam mobil," jawab Logan, kedua bahunya dinaikkan.
"Ya, mungkin sih? Bisa aja ada sebesar tangan aku."
Logan rasa ucapan Nina terselip sindiran halus. Mana mungkin ada serangga sebesar tangannya. Namun, ia tetap ikut tertawa tapi terpaksa karena Nina terkekeh setelah mengatakan hal itu.
"Em ... Logan. Kita jalan-jalan dulu yuk, sebelum pulang. Gimana?" Kemudian, Nina mencetuskan usul itu.
"Sssssh ... aku lelah Nina. Bagaimana kalau lain waktu?"
Kebohongan lagi. Sebenarnya, ini adalah alasan untuk menghindari Nina, sekaligus agar ia bisa menyusul Anna ke rumah sakit. Selang beberapa detik kemudian, Nina memegangi kepala sambil merintih pelan.
"Aduh, sakit banget!" Logan mendengar lirih pelan itu, lalu menoleh dengan cemas.
"Kamu kenapa, Nina?"
"Cuma pusing aja kok ... aw! Pusing banget, Logan," pekik Nina, sontak menggenggam erat tangan Logan.
"Tenang, ya, Nina. Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Logan yang begitu panik, memutar setirnya ke arah rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, Logan langsung memapah Nina memasuki pintu masuk rumah sakit.
Namun, ada hal yang Logan lupakan. Bahwa rumah sakit ini adalah tempat Anna memeriksakan kandungannya hari ini. Tak bisa dielak. Saat Logan dan Nina berada di depan pintu rumah sakit, mereka berpapasan dengan Anna dan Kenan, yang ternyata baru sampai.
__ADS_1
Logan terkejut, Anna tercengang sekilas lalu tatapannya berubah dingin. Kenan yang berdiri di belakang Anna diam-diam menepuk keningnya. Kebohongan terbongkar! Apakah Anna akan menyalahkannya juga?[]