Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Aku ingin jadi Imammu


__ADS_3

Dia melawak, ya?


Hal yang ada di benak Anna ketika mendengar ucapan yang mencengangkan dari pria yang baru ditemuinya 2 kali hari ini.


Ah, baiklah. Anggap saja iya. Maka, Anna pun terkekeh. "Bapak lucu, ya."


Kenan tak mengatakan apa pun, memperhatikan Anna yang sedang membuka mukenanya. "Kalau saya benar-benar serius bilang begitu, gimana?"


Stress! Kesan kedua yang Anna tangkap dari pria tampan ini.


Anna menghela napas. "Kenalan aja belum, Bapak udah mau melamar saya," kata Anna.


Oh, begitu? Lantas, Kenan mengulurkan tangannya. "Nama saya Kenan."


Sayangnya, Anna hanya melirik tangan pria itu, seperti tidak tertarik. Lalu, ia melipat mukena dan sajadahnya dengan acuh tak acuh.


Kenan kecewa, menarik tangannya kembali. Akan tetapi, ia tetap tersenyum, getir. Ia mengerti, mungkin Anna memang tak mudah berkenalan dengan sembarang orang.


Namun, sisi hati nuraninya merasa iba pada Kenan. Lagi, pikirannya harus mengalah lagi pada hati kecilnya. Anna berdiri sambil menenteng tasnya. Ditatapnya Kenan sejenak, lalu berkata sambil tersenyum. "Pak Kenan, senang bisa berkenalan dengan Bapak. Anda bisa panggil saya Anna."


Kenan tercengang, rasa tak percaya bahwa tadi seakan seorang bidadari incarannya membalas perkenalannya. Ia bahkan seperti tertarik oleh medan magnet pesona Anna, terpaku di tempatnya sambil menatap kepergiannya.


"Wah, cewek yang manis," gumamnya seraya tersenyum, lalu menyusul Anna.


Keberadaannya di dalam mushala bagian shaf wanita membuat para karyawati menatap Kenan aneh begitu mereka berpapasan. Namun, Kenan tak peduli akan hal itu. Ia harus mengejar Anna.


Anna sendiri sudah sampai di depan lift, dan pintunya sebentar lagi tertutup. Kenan terhenyak, dan buru-buru berlari sambil berseru:


"Tunggu! Jangan ditutup dulu lift-nya!"


Kurang lebih beberapa senti lagi lift tertutup rapat. Namun, Kenan menahan pintu dengan kedua tangannya. Orang-orang yang ada di dalam lift terkejut, sama dengan halnya Anna. Kemudian, Kenan membuka pintu lift lebar-lebar.


Kenan pun tersenyum meski dalam keadaan ngos-ngosan. Anna menatapnya dengan aneh, bahkan memalingkan wajah ketika pria itu masuk dan memilih berdiri di sampingnya.


Anna menepuk keningnya sambil menutup mata. Aduh, benar-benar pria gila. Apa ia pura-pura tidak kenal saja?


Kenan memiringkan kepala, mencoba melihat wajah Anna yang sejak tadi dipalingkan ke arah lain. Ia heran, apa ada yang salah dengannya? Atau dia malu berdiri di dekat pria tampan sepertinya.


"Ehem!" Kenan mendeham. "Anna, makan siang bareng, yuk!"


Alamak! Ngajak makan siang lagi? Anna semakin frustrasi dibuatnya, sampai menepuk gemas keningnya.


Kenan heran melihat sikapnya itu. Lalu, ia pun bertanya, "Kamu kenapa? Sakit kepala?"


Anna mendelik, sebuah ide muncul dalam otaknya. Lantas, ia menoleh, disertainya senyuman terpaksanya. "Iya, kepala aku pusing banget."


Oh, bidadarinya sakit. Tentu saja, Kenan khawatir, sampai ia bingung harus melakukan apa.


"Em ... bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" saran Kenan, ragu mau menyentuh pundak Anna.


Ke rumah sakit? Anna terhenyak. Kan ini cuma pura-pura. "Nggak usah."


Anna melirik sambil membatin, "Kalau pintu lift udah terbuka, buru-buru kabur ah! Ribet berurusan dengan pria aneh ini."


Harapannya terkabul, pintu lift terbuka setelah Anna mengucapkan rencananya itu. Anna melangkah cepat keluar dari lift, sekonyong-konyong berjalan di lorong yang menuju ke ruang kerjanya.


Sialnya, Kenan malah menyusul sambil memanggil. Anna semakin jengkel. Ia harus memutar otak untuk menghindari pria itu.


Sampailah ia di ruang kerjanya. Namun, alih-alih ke sana, Anna malah berbelok dan memasuki ruangan manager. Kenan pun berhenti, tak mengikutinya.


"Ini ruangannya bu Eka, 'kan?" gumamnya. "Em ... walaupun aku kenal sama bu Eka, tapi nggak mungkin masuk ke sana kalau nggak ada tujuannya, 'kan?"


Anna bersembunyi di samping pintu sambil mengintainya. Untuk beberapa lama, Kenan masih bergeming di depan pintu, tetapi tak lama kemudian pergi dengan perasaan kecewa.


Ia menghela napas lega. "Akhirnya, pergi juga tuh orang. Sebenarnya, kasihan sih, sampai segitunya deketin aku. Tapi, kalau deketinnya kayak gitu kan jadi ilfill."


🍀

__ADS_1


Logan mengacungkan kalung berpermata rubi yang berbentuk hati di depan Nina, sesaat mereka makan siang di sebuah restoran Jepang.


"Wah, kok ada sama kamu?" tanya Nina takjub, lalu mengambil kalung itu.


"Seorang karyawan yang menemukannya," jawab Logan sambil tersenyum lebar. "Dia menemukannya di restoran MD."


"Restoran MD?" gumam Nina, kemudian tiba-tiba teringat oleh sesuatu. "Oh, iya! Kita ketemuan di sana seminggu yang lalu."


"Benar," timpal Logan. "Dan kita bertengkar di sana."


Wajah cantik itu tiba-tiba murung, dengan bibir mengulas senyum getir. "Maaf, aku teledor."


Pria yang sangat mencintainya itu sama sekali tak ingin melihat kekasihnya sedih. Genggaman lembut tangan Logan, membuat Nina tersenyum walau hanya seulas tipis.


"Tidak apa-apa," kata Logan. "Kamu tidak sengaja menjatuhkannya."


"Sebenarnya, aku sudah mengikhlaskan kalung ini," kata Nina kemudian. "Karenanya, aku tidak mencarinya."


Ikhlas? Segampang itu? Ekspresi Logan berubah dingin mendengarnya. Apa Nina lupa, kalung ini adalah simbol cinta mereka?


Hati Logan membara, tetapi tidak diluapkannya dan perasaannya sebisa mungkin dikendalikan. Mereka sudah mau tunangan, tak perlu mempermasalahkan soal ini.


Nina menyadari perubahan sikap Logan, ketika pria itu meneguk minumannya. "Logan, kamu kenapa?" tanyanya.


Logan menghela napas panjang, setelah itu tersenyum dipaksakan. "Tidak apa-apa ... Oh, iya. Kamu siap-siap saja, ya. Mama dan papa akan mengajak keluargamu makan malam. Mereka ingin merundingkan soal pertunangan kita."


Meski sudah mendengarnya dari mulut ibunya, Nina tetap tersenyum bahagia. "Iya, Sayang."


🍀


Gelap, lembab, pengap. Entah tempat apa ini? Wanita setengah baya itu tak bisa melihat apa pun, kecuali tempat di ujung lorong ini—di sana ada secercah cahaya.


"MAMA! MAMA!"


Wanita itu langsung menoleh, mencari suara teriakan anak laki-laki itu.


Napas wanita itu terengah-engah melihat ke segala arah dengan wajah memucat.


"Morgan! Kamu di mana, Nak?" seru wanita itu, suaranya agak bergetar karena isakan.


"MAMAAAA!"


Di sebelah kanannya, ia seperti mendengar suara air yang berkecipak. Hatinya merasa bahwa ia harus melangkah ke sana. Suara itu tak lagi samar, semakin lama semakin keras terdengar.


Ia menyipitkan mata sambil mengarahkan senter ke suatu tempat, melihat seseorang sedang menenggelamkan wajah seorang anak laki-laki ke dalam tong berisi air yang sangat penuh.


"Aaaaaaahh!" jerit wanita itu, syok, hingga menjatuhkan senternya. "MORGAN! MORGAN! JANGAAAAAAAN!"


Sontak ia mendelik dan terduduk dengan napas terengah-engah. Perlahan, ia memulihkan diri, menyadari bahwa saat ini ia tak lagi berada di tempat mengerikan itu. Ya, dia ada di dalam kamar.


"Elina sayang!" seru seorang pria paruh baya, begitu muncul dari balik pintu kamar ini.


Wanita itu spontan menoleh, melihat ke arah suaminya dengan wajah pucat dan bingung.


"Kau pasti bermimpi buruk lagi, 'kan?" tanya suaminya, langsung memeluk istrinya itu.


"Matthew ..." isaknya, tercekat. "Morgan...."


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi," sela Matthew, tangannya mengelus lembut kepala Elina. "Itu sudah berlalu, Sayang."


"Tapi, aku tidak bisa melupakannya, Matthew. Nggak bisa. Morgan selalu datang ke mimpiku," kata Elina frustrasi, lalu tangisannya semakin keras.


.


.


.

__ADS_1


Logan baru sampai malam itu. Pekerjaannya sangat banyak, sehingga memaksanya untuk lembur.


Seorang pelayan membukakan pintu untuknya, dan Logan melangkah masuk ke dalam rumah sembari berkata, "Mama dan Papa mana, Bi?"


"Sedang di dalam kamar, Tuan," jawab si pelayan. "Apa Tuan Muda ingin menginap di sini? Akan saya siapkan kamar Tuan."


Logan mengangguk setelah berpikir sejenak. Tas kerja yang dibawanya, lantas diberikan pada pelayan tadi. Ia berpikir untuk menemui orangtuanya, tetapi langkahnya terhenti.


"Apa besok saja. Takutnya, mereka sudah tidur," gumamnya.


Pada saat akan berbalik, suara pintu kamar terbuka membuatnya jeda untuk menoleh siapa yang keluar dari sana.


"Papa," sapa Logan, melihat pria paruh baya yang tak kalah gagahnya dengan Logan.


Matthew tersenyum tipis, lalu menghampiri sang anak. "Kau mau menginap?" tebaknya.


"Sekalian membicarakan sesuatu dengan Papa dan mama," sahut Logan. "Tapi besok saja. Lagian, mama sudah tidur."


Matthew mengangguk, mengatupkan bibirnya, tak berkata apalagi. Namun, ekspresinya mengundang tanda tanya dalam benak Logan.


Logan memiringkan kepalanya, menatap papanya lamat-lamat. "Papa kenapa? Apa ada masalah?"


Seakan meragu, Matthew terdiam dalam waktu yang cukup lama sambil menunduk. Ia menghela napas, lalu menoleh pada Logan sambil berpikir.


"Mama mimpi buruk lagi...," ucapnya menggantung di akhir kalimat.


"Lagi?" dengus Logan. "Apa kak Morgan tidak terima kalau aku menggantikan posisinya?"


"Kenapa kamu bilang seperti itu?" tegur Matthew lembut. "Mungkin, mama kamu sedang merindukan Morgan."


Logan menghela napas, bibirnya kelu. Meskipun ia sudah berusaha menjadi anak yang terbaik dengan segudang prestasi, Morgan tidak akan tergantikan dalam benak mamanya.


🍀


Baru bisa napas sekarang, walaupun pulang telat karena kerjaan belum selesai. Anna akan mencapai lift, dan ia berpapasan dengan Gita.


"Baru pulang?" tanya Gita sambil menekan tombol.


"Kamu juga. Kerjaan lagi banyak nih," jawab Anna, tersenyum kecut.


Gita terkekeh. Kedua gadis itu masuk ke dalam lift ketika pintunya terbuka.


"Gimana kesannya kerja di sini?" tanya Gita setelahnya.


"Sama aja kayak di perusahaan dulu. Untung aku dapet bos yang baik. Yaaaa, walaupun Bu Eka rada cerewet," ujar Anna.


"Emang dia orangnya begitu. Nanti juga kamu bakal terbiasa," timpal Gita.


Lift berhenti, di lantai bawah. Mereka keluar, masih mengobrol tentang para pegawai yang lain. Namun, topik berganti, kala Gita teringat akan sesuatu.


"Kamu diundang sama Yerina ke pesta pernikahannya, nggak?" Gita memperlihatkan sebuah pesan yang ada di media sosial. "Beruntung banget dia, dapet calon suami kaya."


Anna melihat beberapa balon chat, kemudian ponsel Gita dikembalikan padanya. "Belum."


"Aku udah bilang kalo kamu kerja sekantor sama aku. Jadi, dia suruh aku buat undang kamu," kata Gita. "Aduuuh, aku jadi iri sama dia deh."


Ekspresi wajah Gita membuat Anna tertawa kecil. "Kalo gitu, tanya dong sama Yerin, gimana caranya gaet cowok tajir."


Gita mendecak. "Tampang aku pas-pasan gini mana ada yang mau."


"Usaha nggak menghianati hasil. Siapa tahu, usaha kamu buat dapetin cowok tajir tercapai."


Sepertinya, keberuntungan menghampiri Anna. Gita tersenyum berpapasan dengan seorang pria yang tengah menghampiri mereka.


"Selamat malam, Pak Kenan," sapa Gita.


"Malam, Ladies," balas Kenan tersenyum lebar.

__ADS_1


Gita memperhatikan tatapan Kenan yang mengarah pada Anna. Filling-nya, apa pria itu naksir Anna?[]


__ADS_2