
"Saya mau dibawa ke mana?" tanya Anna setengah menjerit, begitu mobil mewah Logan melaju menembus malam.
Namun, Logan hanya diam, berkonsentrasi melajukan mobilnya. Anna tidak bisa diam begini saja, apalagi melihat mobil ini melaju melewati jalanan asing.
Ia bergidik ngeri, berpikir bahwa Logan akan membawanya ke suatu tempat, menjadikannya tawanan, dan memperkosanya di sana sampai pria itu merasa puas, lalu melepaskannya.
Tidak! Ia tidak mau hal itu terjadi!
Agar bisa terlepas dari jeratan, maka ia harus melakukan cara nekat. Lantas, ia mencoba membuka pintu mobil berkali-kali—tak peduli jika sampai rusak, asal pintunya bisa terbuka.
Logan menoleh dengan mata melotot marah begitu melihatnya. "Apa yang kamu lakukan?!" pekiknya, lalu meraih tangan Anna dan menariknya untuk menghentikan aksinya itu.
Karena tak mungkin menyetir dalam keadaan begini, Logan menghentikan mobilnya di tepi jalanan yang agak sepi. Kemudian, ia meraih kedua tangan Anna, mengikatnya dengan dasinya.
Anna tercengang sejenak, mengingat bagaimana pria itu juga melakukan hal sama saat memperkosanya. Pikiran buruk semakin menguasai, apalagi ketika melihat tempatnya berada saat ini—jalanan sepi yang jauh dari ibu kota.
Mau dibawa ke mana dia?
"Lepaskan saya!" jerit Anna, meronta, sampai Logan kesulitan mengikat tangannya. "Saya tidak mau diperkosa lagi!
Logan tidak bisa sabar lagi. Masa bodo! Ia mengikat tangan Anna secara asal. Lalu secara tiba-tiba, ia membekap mulut Anna dengan tangannya, hingga mendorong tubuhnya dengan agak keras.
Mata mereka saling bertemu. Anna mendelik menatap mata tajam yang penuh kemarahan itu. Ia sama sekali tak terpana dengan ketampanannya, justru ia merasa muak. Tuhan memberikan rupa yang baik padanya, tapi hanya sebagai kedok untuk menutupi sifat iblisnya.
"Diam!" ucap Logan dengan nada suara yang dalam dan mengancam. "Kalau tidak, aku akan memperkosamu di sini."
Terpaksa, Anna menuruti kata-katanya jika hal itu tidak mau terjadi padanya. Lantas, ia mengangguk.
"Bagus." Logan tersenyum, lalu menjauh darinya.
Mesin mobil kembali dihidupkan, Logan pun melanjutkan perjalanan dalam kesunyian karena tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Lagipula, Anna tidak berani membuka mulut karena tidak mau diperlakukan kasar oleh pria itu. Disepanjang perjalanan, ia hanya menatap ke luar jendela mobil, lalu lama kelamaan termenung.
Namun, ia tertegun saat mobil memasuki sebuah rumah besar berhalaman luas. Anna terpana sampai mulutnya ternganga karena sangking kagumnya.
Rumah siapa ini?
Tahu-tahu, Logan sudah membuka pintu dan berdiri di sampingnya. Tangan kekarnya langsung mencengkeram pergelangan tangan Anna, menariknya paksa.
"Keluar!"
"Iya, iya! Aku keluar!" Anna menarik tangannya, berkata gusar. "Aku bisa turun sendiri kok."
Namun, Anna hampir saja terjatuh, saat kaki kanan melangkah keluar dari mobil. Untung saja dipegangi oleh Logan, yang tangannya dengan sigap menangkap tubuhnya.
Anna terkejut sekejab. Tapi jangan salah mengira, bahwa akan ada adegan saling tatap seperti di sinetron. "Maaf, Pak. Kaki saya sakit," desis Anna, meringis ngilu melirik ke arah pergelangan kakinya. "Kayaknya terkilir deh."
Seakan tak peduli, Logan memutar bola matanya, jengkel. "Jangan banyak alasan!" Lalu, digenggamnya kembali pergelangan tangan Anna. "Ayo, keluar!"
"Kaki saya benaran sakit nih!" debat Anna, dengan nada bicara agak meninggi. "Tuh, lihat!" Anna mengangkat sedikit kakinya yang sakit ke arah Logan.
Ya, Logan memang melihat pergelangan kaki Anna memerah. Hati nuraninya jungkir balik antara kasian dan kesal.
"Penjahat tidak perlu ada keistimewaan," ujarnya ketus. "Lihat tidak di koran? Penjahat saja digiring dengan tubuh penuh luka."
Anna tidak sadar bahwa Logan menyebutnya penjahat. "Tapi setidaknya polisi masih memperlakukan mereka seperti manusia, bukan diseret-seret layaknya anjing!" sahut Anna, tak tahan berkonfrontasi dengan pria tak punya hati itu.
Benar-benar gadis ini! Logan mendengus, mengalah juga akhirnya. Lantas, ia sedikit membungkuk, dan menggendong gadis itu keluar dari mobil dengan terpaksa, tentunya.
__ADS_1
Anna jelas saja terkejut, menatapnya sambil bertanya-tanya dalam hati. Kenapa malah tiba-tiba pria itu melakukan ini? Tadi, bukannya sikapnya kasar? Jangan-jangan, nanti Anna main dihempaskan begitu saja.
"Turunkan saya!" protes Anna.
"Berisik!" gumam Logan, dingin. "Kalau kamu bicara dan memberontak lagi, aku akan berbuat kasar lagi!"
Anna mengatup bibirnya, meski sebenarnya ia tak takut dengan ancaman itu. Namun, ia tak memberontak. Ia sengaja ingin memberi sedikit hukuman kecil atas kekasarannya tadi.
Di dalam hati, Anna terkikik. Memangnya enak. Logan pasti keberatan menggendong tubuhnya sampai ke dalam rumah.
Sampai juga akhirnya di ruang tamu rumah itu. Kasihan Logan, napasnya sampai terengah-engah membawa tubuh seberat 47 kilogram itu.
Namun, Anna tidak mempedulikannya. Anna malah takjub melihat seluruh sudut ruangan tamu yang mewah dan luas itu. Banyak bertengger lampu kristal, juga beberapa barang antik yang tersusun rapi.
Wah, selera pria itu memang beda. Atau memang beginikah selera semua orang kaya? Gumam Anna di dalam hati.
Logan menurunkannya di sofa dengan sedikit agak dihempaskan. Anna meringis, lalu melotot kesal pada Logan. Tangan Anna yang diikat, lantas dilepaskan oleh Logan. Anna tersenyum, menggerak-gerakan pergelangan tangannya yang terdapat bekas ikatan.
Setelah itu, Logan bertepuk tangan dua kali. Anna pun menoleh dengan tercengang.
"Apa yang dilakukannya?" tanya Anna, bergumam sangat pelan.
"Bawa orang itu ke sini!" Logan berseru kencang, entah pada siapa.
Siapa orang yang dimaksudnya? Anna akan segera mengetahuinya dari dua orang pria berseragam yang menggiring seorang pria dengan kepala ditutupi oleh kantong kresek hitam. Anna pun melirik cemas pada mereka.
Pria yang kepalanya ditutup itu dipaksa berlutut di hadapan Logan yang sedang berdiri dengan tatapan dinginnya. Bibir tipis Logan melengkungkan senyuman misterius, yang membuat Anna semakin deg-degan.
"Apa kamu kenal Anna?" tanya Logan kemudian.
Eh? Kok namanya dipanggil? Anna jadi penasaran, siapa pria yang ditanyai oleh Logan ini? Karen sangking pengin lihat wajahnya, Anna memajukan sedikit kepalanya, mencoba menerawang wajah pria di balik kresek.
Logan jadi ragu. Tatapannya kemudian dialihkannya pada Anna, memergokinya sedang melakukan hal tadi. Ia mengernyit heran, lalu menegurnya keras. "Eh! Sedang apa kamu?"
Anna tersentak, dengan cepat menegakkan badan, lalu berdalih tanpa menatap wajah Logan. "Ah, enggak kok."
Oh, penasaran juga gadis ini. Baiklah, Logan akan menjawab rasa keingintahuan Anna. "Buka penutup kepalanya!" perintah Logan.
Salah satu anak buahnya membuka penutup kepala pria itu. Anna tidak terkejut, bahkan heran. Siapa pria berwajah pucat ini? Kenapa Logan mempertemukannya dengan dia?
Eh, tunggu! Anna baru menyadari jawaban pria itu tadi. Pria ini dibayar oleh seseorang, agar dia mau kasih seragam dan identitasnya?
Lirikan mata Anna mengarah pada Logan dengan tatapan menyelidik. Mungkinkah, pria ini sedang menyelidiki sesuatu?
"Septian Halim, jawab saya dengan jujur," kata Logan, maju selangkah ke arahnya. "Apa kamu kenal gadis ini?"
Anna terhenyak ketika Logan mengacungkan telunjuknya kepadanya, sementara langsung Septian menoleh padanya. Dan lagi-lagi, jawaban yang tidak diinginkan didengar oleh Logan. Septian menggelengkan kepala.
Tangan Logan terkepal, kesabarannya hampir habis. Namun, ia masih mempertimbangkan cara lain agar Septian mau berkata yang sebenarnya. Dihelanya napas panjang, mencoba bersikap tenang.
"Saya akan kasih kamu uang yang banyak, asal kamu mau jujur dan mengaku." Logan memberikan penawaran.
Alih-alih tertarik, Septian merangkak dan memelas. "Pak, tolong lepaskan saya. Saya tidak tahu apa-apa soal wanita itu."
"Kayaknya, dia jujur," celetuk Anna, menoleh pada Logan "Kenapa tidak lepaskan aja dia?"
"DIAM!" Logan langsung menoleh dan membentak, hingga Anna pun tersentak. "Siapa yang tanya pendapat kamu?"
__ADS_1
Logan kehilangan akal, sampai kemarahannya meluap. Namun, demi mendapatkan jawaban, ia berpikir untuk menahan emosinya.
"Septian," ucapnya, berjalan mendekat perlahan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. "Tolong kerja samanya. Sebelum saya benar-benar melemparkan sesuatu ke kamu, lebih baik kamu mengakui semuanya! Siapa yang membayar kamu? Apa wanita itu terlibat?"
Aura dingin menusuk, Septian semakin gemetaran, sampai air matanya mengalir deras. "Sumpah, Pak. Demi Allah, saya tidak tahu apa-apa."
Rahang Logan mengeras, bersamaan dengan kepalan tangan yang kuat. Dengan cepat ia menyambar vas bunga bening yang ada di atas meja, lalu dilemparkannya ke arah samping Septian.
Pria itu mendelik, melemas begitu melihat vas bunga yang pecah di dekatnya. Tak terbayangkan seberapa beratnya luka di kepalanya jika benda itu mengenainya.
Anna sontak berdiri. Melihat Logan akan melemparkan lampu meja, dengan sigap menahan tangan pria itu. "JANGAN! Bapak udah gila, ya?"
"Lepas!" Logan menghela Anna dengan kuat, menyebabkan gadis itu terjatuh dan keningnya membentur tangan sofa.
Anna menjerit pelan, lalu memegang keningnya yang terasa sakit. Logan terkejut, bergegas meletakkan lampu hias itu ke meja, berjongkok menghampiri Anna.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya cemas.
"Nggak apa-apa ..." lirih Anna, lalu mendesis karena merasakan pening di kepalanya.
Logan menggendong tubuh Anna, kemudian diletakkan di atas sofa.
"Kepala kamu benjol," gumam Logan, menyingkap poni Anna dan memeriksa keningnya. Lantas, ia menoleh pada salah satu pengawalnya. "Ambilkan kotak obat!"
"Tidak usah!" seru Anna, mencegah pria berjas hitam itu melangkah. "Ambilkan saya air dan handuk kecil. Kalau begini sih tinggal dikompres aja."
"Dikompres?" tanya Logan, alisnya naik sebelah.
"Iya," jawab Anna.
Terserahlah! Logan menyuruh satu orang pengawal untuk mengambil benda yang diinginkan Anna, sementara dua orang lainnya diperintahkan untuk melepas Septian.
Beberapa saat kemudian, semangkuk air dan handuk kecil berwarna putih dibawa oleh pria itu. Logan menerimanya dan meletakkan mangkuk itu di meja.
Logan mencelupkan handuk itu ke dalam air, lalu diperas, setelahnya handuk itu akan di arahkan ke kening Anna yang benjol.
Namun, suasana ini terasa aneh. Anna spontan beringsut mundur, menatap Logan skeptis, dan berkata, "Saya bisa sendiri."
Logan menghalau tangan Anna yang akan mengambil handuk itu dari tangannya. "Memangnya, saya tidak bisa melakukannya?"
Anna menyipitkan mata. Perubahan sikap yang begitu drastis, dari kasar menjadi baik. Ia pun tersenyum, ketika sebuah kesimpulan terbentuk.
"Kalau merasa bersalah, lepaskan saya dong," kata Anna. "Tadi Bapak sudah dengar, 'kan? Septian tidak kenal saya. Jadi, saya nggak ada hubungannya sama dia."
Logan menoleh dengan tatapan dingin yang membuat Anna mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Septian memang tidak tahu apa-apa. Tapi, bukan berarti kamu bebas dari tuduhan. Saya akan menangkap pria yang berpura-pura jadi pelayan itu."
Sudahlah, Anna menyerah. Ia menghela napas panjang. Sementara itu, Logan terus mengompres keningnya sampai dirasa cukup.
"Oke," desah Anna. "Kalau begitu, saya mau pulang."
Anna beranjak dari sofa, berusaha berdiri tegak di tengah rasa sakit yang ia coba tahan. Anna menunduk sedikit, lalu berpamitan.
"Saya pulang dulu, ya, Pak."
Logan memperhatikan Anna, tampak cemas. Tak mungkin membiarkan gadis itu berjalan pulang sendiri ketika keadaan Anna seperti ini.
Sebelum gadis itu melangkah, Logan tiba-tiba menggendong Anna. "Saya akan antar kamu pulang."
__ADS_1
Antara terkejut dan terpana, Anna tak mengatakan sepatah katapun sambil menatap pria itu, dan membiarkannya menggendong dirinya sampai ke mobil.[]