
Logan terpana sampai tidak berkedip menatap Anna yang berdiri di ambang pintu ruang ganti. Gaun itu begitu pas di tubuhnya yang langsing dan kulitnya yang kuning langsat. Meski wajahnya agak pucat, senyum manisnya seakan memancarkan cahaya yang membuatnya terpesona tanpa bisa berkata.
Melihat anaknya bereaksi begitu, Elina tersenyum, yakin kalau Logan pasti lebih setuju dengan gaun pilihannya.
"Bagaimana menurutmu, Logan?" tanya Elina, setengah berbisik.
Logan terkesiap, agak kikuk sejenak karena baru saja terkena aura Anna yang terpancar. "Iya, bagus kok."
"Tapi, calon ibu mertua kamu maunya Anna pakai kebaya."
Logan melirik sekilas pada mama, yang sangat berharap menunggu persetujuan darinya. "Maaf, ya, Bu. Kayaknya, saya lebih setuju kalau Anna pakai gaun ini. Soalnya, kalau pakai kebaya, takut dia terjatuh karena roknya."
Meski kecewa, mama terpaksa menyetujui karena demi memikirkan keselamatan Anna dan bayi yang dikandungnya. Senyum tipis mengembang, lalu ia mengangguk.
"Iya, nggak apa-apa. Saya juga setuju," kata mama, suaranya agak pelan.
Anna lega karena tidak ada drama perdebatan gaun lagi. Kini, giliran Logan yang mencoba pakaian pengantinnya. Ivon memeriksa kembali gaun Anna—apakah ada bagian yang kurang pas di tubuh Anna.
Ivon sendiri yang memilih pakaian untuk Logan. Dan tanpa banyak pertimbangan, tuxedo berwarna senada dengan gaun Anna itu menjadi pilihan akhir untuk dipakai Logan pada hari pernikahan.
Setelah itu, mereka makan bersama di restoran sambil memilih contoh kartu undangan yang telah dipilihkan oleh Elina sambil menyantap makan siang. Logan tidak kembali ke kantor karena Elina mengancamnya lagi.
"Oya, Bu. Saya lupa belum pesan baju untuk kita dan para suami," kata Elina. "Kita balik lagi ke butik tadi habis makan, ya. Ivon tadi kirim pesan WA ke saya buat kasih tahu ini."
"Boleh." Mama menyambut dengan senang hati.
"Logan, kamu bawa Anna pulang duluan, ya. Kasihan Anna, dia pasti capek." Elina berpesan.
Kalau dibilang capek, Anna tidak merasa begitu. Tapi sepertinya, Elina memang sengaja ingin ia dan Logan berduaan meski hanya sebentar saja.
"Iya, Ma. Nanti aku bawa Anna pulang duluan." Logan sendiri juga mengerti soal ini dan terpaksa menyanggupinya, asal ibunya bisa tersenyum puas.
Makan siang berakhir, Anna masuk ke mobil Logan, mamanya pergi bersama dengan Elina. Mobil mereka berpisah di persimpangan, ke arah masing-masing yang akan dituju.
Selama mobil melaju, mereka hening saja. Anna melihat-lihat beberapa foto saat ia memakai gaun. Senyumnya mengembang, dan momen itu tertangkap oleh lirikan mata Logan yang tidak disengaja.
Logan menghela napas karena lagi-lagi terpana pada gadis itu. Baru ia sadari, gadis itu sangat cantik ketika tersenyum. Begitu pandangannya terfokus pada bibir Anna, jantungnya berdetak tak keruan lagi.
Ia memalingkan wajah, menggerutu dalam hati. "Sialan! Kenapa jantung ini?"
Rasanya semakin tak nyaman. Ia melonggarkan dasi sambil mendeham. Anna melirik heran sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Kenapa? Tenggorokan kering?" tanya Anna.
"Ah!" Logan menoleh dengan berseru, seakan sedang terkejut. "Nggak."
Gawat kalau Logan sampai menatap Anna lama-lama. Bisa-bisa jantungnya bergerak tak terkendali lagi, dan pikirannya mulai melayang ke dalam kenangan malam di kapal pesiar.
Logan menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, ia harus menenangkan diri dan bersikap biasa. Ia sedang menyetir, jangan sampai membahayakan diri karena hal tadi.
"Pak Logan," gumam Anna, menundukkan kepala. "Saya jadi memikirkan nona Nina. Bagaimana perasaannya saat tahu bahwa Anda menikahi saya."
Logan terdiam sambil berpikir cukup lama. Kenapa gadis ini menanyakan hal itu? Apa dia merasa senang karena telah menghancurkan hubungannya dengan Nina?
"Dia tahu soal pemerkosaan itu, lalu dia yang minta putus," jawabnya pahit, suaranya agak tercekat.
"Saya merasa bersalah," ucap Anna pelan, setelah menghela napas. "Seharusnya, saya tidak hamil."
"Tidak akan ada bedanya," tukas Logan, malah geram karena Anna malah menyalahkan diri sendiri. "Dia tidak akan memaafkan saya. Dia pasti merasa jijik, apalagi teringat kalau saya sudah melakukan hal kotor dengan wanita lain."
Tetap saja, Anna merasa dirinya hina. Nina pasti juga jijik jika melihat wanita yang telah merenggut kekasihnya. Waktu tahu dirinya sudah ternoda, Anna sendiri tak sudi melihat dirinya sendiri.
Logan melirik Anna yang sedang tertunduk dengan wajah muram. Jadi, ucapannya tidak berhasil menghiburnya, ya?
"Berhentilah menyalahkan diri sendiri," tegurnya dingin. "Ini bukan salahmu. Tuhan yang sudah menakdirkan kita seperti ini. Entah bagaimana hubungan kita selanjutnya. Sekarang, kita jalani saja dulu, fokuslah pada kesehatanmu dan bayi itu."
Senyum simpul Anna terulas. Meskipun cara pengucapannya tidak manis dan lembut, ia tahu Logan sedang berusaha menenangkannya. Ia sangat berterima kasih, dan ia akan sangat menghargainya.
...☘...
Pertemuan antara orangtua Anna dan Logan terjadi keesokan harinya. Hanya pertemuan sederhana, makan bersama, lalu menentukan hari pernikahan.
Elina sudah menentukan tempat resepsi, kartu undangan, surat-surat yang berkenaan dengan pernikahan. Mereka sepakat untuk melakukan akad nikah di rumah keluarga Jonathan.
Dengan hanya ada keluarga besar Anna dan Logan, sudah cukup menjadi saksi atas sahnya mereka menjadi pasangan suami-istri. Lantas, mereka beristirahat sejenak karena akan melakukan pesta resepsi pernikahan malam ini di sebuah ballroom hotel mewah.
Rencananya, mereka akan pergi ke tempat resepsi setelah makan siang. Mereka akan melakukan segala persiapan di ruangan khusus untuk merias diri. Tempat Logan dan Anna terpisah. Elina mempersiapkan penata rias terbaik untuk membuat Anna begitu cantik malam ini.
Logan sudah selesai dirias. Ketampanannya terpancar, begitu serasi dengan tuxedo warna putih. Ia melirik kamar di sebelah yang masih tertutup. Sepertinya, Anna belum selesai dirias. Rasa penasaran menggelayuti, bertanya-tanya akan seperti apa penampilan wanita itu nanti.
Matthew dan Elina datang menghampiri, tersenyum puas melihat tampilan anaknya.
"Sudah siap?" tanya Elina.
"Sudah," jawab Logan sambil membetulkan letak jasnya.
"Ayo, kita duluan ke ballroom," ajak Matthew.
"Anna bagaimana?"
__ADS_1
"Nanti dia menyusul," timpal Elina, melingkarkan lengannya pada lengan Logan.
.
.
.
Riasan Anna hampir selesai. Pintu ruangannya diketuk, dan suara seruan terdengar dari luar.
"Ini Tasya, Kak. Boleh gue masuk?"
"Masuk aja, Tasya!" sahut Anna.
Tasya melongokan kepalanya, tersenyum, lalu masuk ke dalam ruangan. Sambil menghampiri, Tasya menatap takjub pada penampilan kakaknya yang begitu anggun dengan gaun warna merah muda.
Dia berdiri di belakang, meletakkan tangannya pada kedua pundak kakaknya itu. "Sayang banget kalau nggak diabadikan. Selca, yuk, Kak!"
Tasya mengeluarkan ponsel, dan mulai memotret. Entah berapa banyak foto yang diambil, Tasya selalu bilang: "Satu kali lagi, ya, Kak?"
"Udah, ah. Capek gue senyum mulu," protes Anna, akhirnya Tasya berhenti berfoto.
"Baru gitu doang," balas Tasya sambil melihat-lihat hasil jepretannya. "Nanti di pelaminan, lo harus senyum terus ke tamu undangan."
"Ya, makanya itu. Gue mau hemat senyum gue."
Tasya terkekeh. Namun, tawanya lenyap karena menyadari bahwa ia tidak akan bisa bercanda dengan kakaknya lagi. Anna selalu jadi tempat berbagi kisah dan tempat meminta saran.
Ditatapnya Anna dengan senyum getir, lalu berkata, "Kak, sering-sering ke rumah, ya. Beli kuota, biar gue bisa curhat ke elo."
Senyum getir Anna terkembang. Ia tahu, Tasya sedih harus berpisah darinya. "Iya, gue bakal sering-sering ke rumah. Jangan lupa, nanti suruh mama masakin makan buat gue."
"Makanan mulu yang lo pikirin," sahut Tasya, tertawa kecil.
"Dek, jaga mama sama ayah, ya. Jangan kecewakan mereka."
Ucapan yang membuat hati Tasya langsung mencelus dan air matanya tergenang. Refleks Tasya memeluk kakaknya, berusaha menahan air mata karena tak ingin Anna sedih.
...☘...
Para tamu undangan hadir. Suasana jadi riuh saat Logan memasuki ruangan dan berjalan ke pelaminan. Namun, ada beberapa kolega dan rekan bisnis yang menghampiri untuk memberi selamat. Mereka juga menggodanya dengan menanyakan wanita yang telah sah menjadi istrinya itu.
Lalu, Logan ke pelaminan, melirik pintu, menunggu Anna memasuki ruangan. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Semua orang langsung menoleh.
Seorang wanita bergaun merah muda muncul bersama dengan pria setengah baya yang rambutnya telah dipenuhi oleh uban. Di tangannya terdapat sebuah rangkaian bunga mawar merah muda. Perlahan, kakinya melangkah pada karpet merah yang menuju pelaminan.
Semua orang memuji wanita itu. Ya, Anna sangat cantik hari ini bagai seorang ratu. Logan bahkan tak sedikitpun berkedip memandang ke arah Anna yang berjalan semakin mendekat.
"Ah!" Logan tersentak. "Nggak usahlah, Ma. Kan ada ayahnya."
Mamanya tetap memaksa dengan menyenggol lengan Logan, sampai tak diduga Logan hampir terjatuh ke depan.
Ah, baiklah! Logan menghela napas, melirik Elina antara pasrah dan jengkel. Dengan langkah enggan, Logan menghampiri Anna lalu memberikan uluran tangan sambil berusaha tersenyum di depannya dan ayah mertuanya.
Anna melirik ayahnya. Pria itu tersenyum seakan bersyukur telah memberikan anaknya pada seseorang yang tepat. Ayah melepaskan lengannya dari pegangan Anna, kemudian perlahan mundur, membiarkan Logan membawa Anna berjalan menuju pelaminan.
Langkah pasangan itu disirami oleh kelopak bunga mawar dari beberapa tamu undangan yang berdiri di samping kanan dan kiri mereka.
Anna menahan senyum, cringe, karena ide ibu mertuanya ini agak berlebihan. Rasanya seperti sedang di film bollywood saja. Tapi, ia tidak sadar bahwa mungkin semua ini akan jadi kenangan manisnya, kelak.
"Mereka serasi, ya, Sayang," komentar Elina, berbisik pada Matthew.
Matthew tersenyum, lalu menimpali. "Jadi teringat waktu kita menikah dulu."
Anna dan Logan sampai di pelaminan, lalu duduk pada kursi yang disediakan. Orangtua mereka yang duduk di kursi yang ada di samping mereka, mulai berdiri. Para tamu undangan pun satu per satu menghampiri pelaminan untuk memberikan selamat pada pasangan itu.
Entah sudah berapa lama mereka harus tersenyum, menyalami tamu-tamu itu, mereka sudah pegal melakukannya. Dan, rasa lapar menyerang Anna. Ia merutuk, apalagi ketika kedatangan Kenan ke pelaminan.
Logan tak tenang melihat Kenan menghampiri mereka sembari tersenyum. Pria itu mengulurkan tangan sembari mengucapkan selamat padanya.
"Terima kasih," balas Logan dengan dingin. "Tapi, bukannya aku tidak mengundangmu?"
"Tante Elina yang mengundang," sahut Kenan, tersenyum mengejek. "Nggak enak kan kalau nggak datang?"
Ah, pria ini! Rutuk Anna dalam hati sambil melirik Logan. Lalu, ia mengalihkan pandangan pada Kenan sembari tersenyum.
"Terima kasih sudah datang, ya," katanya.
"Sama-sama. Semoga aja pernikahan kalian bahagia." Tiba-tiba, arah tatapan dingin Kenan mengarah pada Logan. "Karena kalau tidak, aku yang akan menggantikan Logan untuk membahagiakanmu."
Meski ekspresinya datar, hati Logan terasa terbakar mendengarnya. Beraninya dia berkata begitu, apalagi dia tersenyum setelah mengatakannya, barulah dia enyah dari pandangannya.
Anna menatap kedua pria itu dengan khawatir, bulu romanya sampai meremang. Belum usai juga perang dingin mereka? Kenapa semudah itu persahabatan mereka jadi berantakan? Ia merasa bahwa dirinya yang menyulutkan api di dada mereka.
.
.
.
__ADS_1
Elina dan Matthew turun dari pelaminan untuk berbaur dengan kolega mereka. Namun, karena Matthew harus bergabung dengan para pebisnis, Elina jadi harus ditinggal dalam kelompok kolega yang terdiri dari para istri-istri pebisnis, termasuk Eiliya.
"Hei, apa kabar? Selamat, ya, atas pernikahan Logan," kata Eiliya.
Elina tersenyum. "Baik. Kamu cuma berdua sama Malvin? Mana Nathan?"
"Dia masih di Amerika. Tapi, dia titip salam kok. Em ... ngomong-omong, Logan pintar banget cari calon istri. Cantik banget," goda Eiliya.
Pujian yang membuat Elina cukup bangga, tetapi ada seorang wanita di kelompok mereka menimpali:
"Jeng, yang pakai kerudung itu besan kamu?"
Elina melirik pada mamanya Anna yang sedang mengobrol dengan tamu undangan lain. "Iya. Apa ada masalah?"
"Iya. Kamu mengijinkan anakmu menikah dengan wanita yang berbeda keyakinan?" komentar wanita itu lagi, agak setengah berseru.
Eiliya merasa canggung dengan keadaan ini, melirik Elina yang masih mempertahankan senyum. "Jeng, jangan bicara seperti itu!" tegurnya setengah berbisik.
"Memangnya ada masalah?" tukas wanita itu.
"Nggak masalah," sela Elina, mengerti akan maksud Eiliya. "Saya tahu bahwa pernikahan seperti ini dilarang, tapi cinta tidak bisa memilih. Tuhan yang berkehendak atas takdir mereka. Jika mereka harus bersatu dalam perbedaan, apa yang bisa kita perbuat?"
Semua wanita itu seolah menjahit mulutnya, tak dapat membantah.
Dengan anggun, Elina mengangguk sopan sambil tersenyum. "Saya permisi dulu, ya. Silakan menikmati hidangannya."
Senyum Elina lenyap ketika berbalik. Teman-teman yang menjengkelkan, tetapi ia masih mau berdekatan dengan mereka demi kelancaran bisnis suaminya.
...☘...
Anna memegangi perutnya. Duduk di tempat ini sungguh membosankan, dan membuatnya lapar. Logan memperhatikan itu, melihat keringat Anna yang menetes di dahi, dan sikapnya yang tampak tidak nyaman.
Tasya yang juga menyadarinya, menaiki pelaminan dan menghampiri kakaknya. "Lo kenapa, Kak? Pusing? Mual?"
"Ah! Enggak." Anna menegak, memperlihatkan senyum dipaksa. "Gue nggak apa-apa."
"Yakin?" tanya Tasya skeptis.
Anna mengangguk, tersenyum lebar untuk lebih membuat Tasya yakin. "Iya, gue yakin."
Tasya menyerah, dan akhirnya turun ke bawah. Senyum Anna memudar, memperlihatkan ekspresi menyesal. Uh! Kenapa sulit sekali bilang bahwa dirinya merasa lapar? Anna menghela napas.
"Kamu ingin apa?"
Pertanyaan yang membawa angin segar ke telinganya, tapi juga membuat matanya membulat. Anna memandang Logan dengan heran. Kenapa tiba-tiba dia begitu? Sikapnya ini disebut apa? Perhatian? Anna ragu menyimpulkan begitu.
"Em ... sebenarnya, saya lapar sih?" jawab Anna.
Logan menghela napas. "Kamu mau makan apa?"
"Nasi pakai rendang, tumis sayur, kuah gulai kayaknya enak?"
"Baiklah." Logan beranjak dari kursi. "Akan aku ambilkan."
Dia mau mengambilnya? Serius?
"Kenapa Bapak yang ambil?" tanya Anna, menghentikan gerakan Logan. "Kan bisa minta ambilkan sama pelayan."
Logan sedikit membungkuk, mendekatkan wajah hingga spontan membuat Anna beringsut. "Biar lebih dramatis," bisiknya kemudian, tersenyum sinis.
Dramatis? Mulut Anna bergumam tanpa suara. Ya, pernikahan ini layaknya seperti film; mulai dari Logan menjemputnya dan berjalan bersama ke pelaminan dengan dihujani kelopak bunga mawar. Lalu, memotong kue bersama, saling menyuapi kue. Jika mengingat adegan itu, Anna jadi mual.
"Kalau aku menginginkan pernikahan ini, pasti aku akan sangat senang diperlakukan seperti itu," lirihnya sepelan mungkin.
Tanpa suara, tahu-tahu piring berisi makanan yang diinginkannya ada di depannya. Anna tertegun, lalu melirik Logan.
"Benar kan yang gini?" tanya Logan.
"Iya. Terima kasih." Canggung, Anna mengambil piring itu dari tangan Logan. "Bapak nggak makan?"
Bapak? Logan menyipitkan mata, jengkel. Didekati wajahnya sedikit ke arah Anna, lalu menegur keras dengan suara agak pelan, "Mulai detik ini, berhenti panggil saya 'bapak'! Saya suami kamu. Jadi, panggil nama saya saja."
"Iya," sahut Anna, menganggukkan kepala, ragu. Kemudian, ia bertanya, "Kamu nggak makan? Duduk kayak gini terus bikin lapar lho."
"Kamu sedang hamil, makanya kamu lapar terus," sahut Logan datar, sesekali melirik.
"Iya, juga," gumam Anna, lalu menyuapkan makanan ke dalam mulut.
Lahap sekali Anna makan, dengan cepat ia menghabiskan setengah piring makanannya. Namun, ada tamu yang baru datang dan ingin berfoto bersama. Mereka para rombongan teman-teman Tasya yang diundang olehnya.
Anna meletakkan piringnya, lalu berdiri bersama mereka. Sang fotografer bersiap untuk mengambil gambar, tapi kembali menurunkan kameranya.
"Maaf, Mbak. Itu mulutnya ...," katanya, menunjuk bibir Anna.
"Kenapa?" Anna tertegun, bingung.
Logan juga awalnya tidak mengerti, tetapi pada akhirnya paham dan menoleh pada Anna. Di bibir wanita itu, ada sebutir nasi dan agak berminyak.
Tanpa berpikir, Logan mengusap bibir Anna dengan ibu jarinya. Hanya saja, ada sesuatu yang membuat Logan berhenti dan terus memandangi bibir ranum Anna.
__ADS_1
Jantungnya berdebar lagi, apalagi adegan itu terus menghasut gairahnya untuk melakukan sesuatu yang bertentang dengan akal sehatnya. Perlahan, ia memajukan wajahnya. Anna tertegun, kemudian terhenyak kala menyadari jarak mereka semakin dekat.
Pria ini, nggak mungkin mau menciumnya di depan orang banyak, 'kan?[]