
Segar sekali setelah mandi. Anna keluar dari toilet sambil menggosok-gosokkan rambutnya dan sudah berpakaian. Namun, ia tertegun begitu melihat sosok Logan tidak ada di ruangan ini.
"Ke mana dia?" gumamnya mengernyit. Masa bodo, mau pergi ke manapun pria itu, Anna tidak peduli. Paling, dia sedang keluar sebentar, atau sekadar mengambil air minum di dapur. Jadi, untuk apa dipikirkan? Anna sudah lelah.
Dan sesudah membersihkan diri, Anna tertidur di ranjang. Benar, Logan memang pergi ke dapur untuk mengisi seteko air dan membawa gelas baru. Bukan untuknya, melainkan untuk Anna. Ia berjalan ke ranjang, menemukan Anna sudah tertidur.
Logan menghela napas, lalu meletakkan teko dan gelas di nakas yang ada di samping Anna. Barulah, ia berbaring, tetapi tidak langsung tidur. Ia membaca beberapa e-mail masuk dan pesan yang memberondongnya sejak tadi pagi di ponselnya. Tanpa sengaja, ia menoleh pada Anna, melihat wanita itu tertidur dengan mulut setengah terbuka.
Menggelikan, tapi ia menahan tawanya. "Ih, payah! Ada-ada saja tidur dengan mulut terbuka seperti itu. Nanti kalau ada benda atau yang masuk ke dalam mulut, baru tahu rasa," gerutunya.
Lantas, Logan perlahan mendekat, tangannya hendak mengarah ke mulut wanita itu. Namun, tiba-tiba Anna menggeliat, dan tanpa sengaja tangannya mengenai wajah Logan.
Spontan Logan menjauh sambil memegangi pipinya, meringis karena lumayan sakit juga pukulannya. Untung saja, matanya tidak tercolok oleh tangan Anna. Uh, kalau kayak gini, Logan tidak yakin bisa tidur dengan nyenyak malam ini. . . .
Kehamilan ini, mengubah sebuah kebiasaan baru bagi Anna. Tepat pada tengah malam, ia terbangun. Saat ia membuka matanya lebar-lebar, ia menyadari bahwa sisi ranjang di sampingnya kosong. Anna menengok ke arah kamar mandi.
"Apa dia sedang berada di kamar mandi? Ssshh, aku harap dia tidak berlama-lama di sana. Udah kebelet nih," gumamnya sambil kembali berbaring.
Entah pria itu tertidur di dalam kamar atau Logan dalam keadaan mulas, sehingga begitu lama buang airnya. Anna menunggu begitu lama, sampai tak sabar melompat turun dari ranjang, lalu menghampiri kamar mandi.
"Logan! Logan! Apa masih lama buang airnya? Aku udah kebelet pipis nih?" seru Anna, mengetuk pintu kamar mandi agak pelan karena takut pria itu akan marah jika ia menggedornya.
Hening, atau Anna yang tidak mendengarnya? Lantas, Anna mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi, mencoba mendengar sesuatu di dalam.
"Tidak terdengar apa pun? Apa dia benar-benar ada di dalam?" gumamnya, mengernyit. Anna melirik knop pintu, bermaksud membuka pintu untuk memastikan bahwa pria itu tidak ada di dalam kamar mandi. Namun, ia ragu: masuk ke dalam atau tidak?
Ia menggigit bibir bawahnya sambil melirik knop pintu. Akhirnya, ia mengetuk pintu lagi dan berseru, "Logan, Logan, apa kamu udah selesai pakai kamar mandinya? Gantian dong? Aku udah kebelet pipis nih," serunya dengan suara pelan dan membujuk, seakan sedang berbicara dengan anak kecil.
Tidak ada sahutan lagi. Fix, Logan tidak ada di dalam. Maka, ia membuka pintu kamar mandi. Dan memang benar, kamar mandi kosong! Anna tercengang sejenak, kemudian mendengus.
"Wah! Kalau tahu kayak gini, mending tadi nggak usah nungguin!" gerutunya jengkel. "Tapi ngomong-omong, ke mana perginya pria itu?"
...☘...
Logan melangkah pelan sambil menguap, dan kebetulan Elina dan Matthew baru keluar dari kamar dengan sudah berpakaian rapi. Mereka bertiga berpapasan, saling berhenti sejenak dan tercengang. Wajah Logan memucat, lalu gugup.
"Pagi, Pa, Ma."
__ADS_1
"Logan? Kamu keluar dari kamar tamu ...," tanya Elina, lama-lama memandang menyelidik, lalu menuding dengan agak berseru, "Semalam, kamu tidur di sini?"
Gawat! Kalau dilihat dari raut wajah kedua orangtuanya, sepertinya mereka marah besar. Habis bagaimana? Ia enggan tidur dengan Anna. Entah mengapa, ia belum siap untuk berbagi ranjang dengan Anna. Makanya, ia pindah ke kamar khusus tamu.
"Benar itu, Logan?" tanya Matthew, nada suaranya meninggi. Logan memalingkan wajah sambil memikirkan alasan yang tepat untuk diberikan pada Matthew. Pada saat itu, Anna sedang menuruni tangga, sempat mendengar sedikit percakapan mereka.
"Pa, aku cuma belum bisa tidur seranjang dengan wanita yang aku cintai," kata Logan akhirnya, berani menatap Matthew meski masih gugup.
"Mau kondisinya seperti apa pun, dia sudah sah jadi istri kamu. Dan kamu harus bisa terbiasa seranjang dengan Anna," sahut Matthew, agak berteriak murka.
Demi kesehatan suaminya, Elina memegangi lengan Matthew sambil berbisik, "Matthew, tolong tekan amarahmu." Matthew menuruti teguran baik istrinya itu, berusaha menenangkan diri agar kemarahannya tidak lagi meledak.
Sekarang, saat Elina mengambil alih untuk menengahi masalah ini. "Pa, kita sebaiknya jangan terlalu memaksakan mereka dulu. Biarkan mereka saling beradaptasi. Kita kan tahu pernikahan ini terjadi karena kecelakaan yang tidak diinginkan," ujar Elina lembut, kemudian pandangannya teralihkan pada Logan. "Dan kamu, Logan. Meskipun kamu tidak mencintai Anna, usahakan menjadi suami dan ayah yang baik. Perlakukan Anna selayaknya seorang istri," lanjut Elina.
Hal ini cukup berat bagi Logan untuk disanggupi. Namun, ia tetap mengangguk, menerima saran Elina. "Baik, Ma," jawabnya.
Lega mendengarnya. Elina mengelus lengan Logan, lalu berkata, "Kamu mandi, lalu turun lagi ke bawah untuk sarapan. Sekalian ajak Anna, ya. Mama sama papa tunggu kalian di ruang makan."
Elina menggandeng kembali Matthew, membawanya pergi dari hadapan Logan. Setelah itu, Logan menaiki anak tangga, tetapi berhenti karena berpapasan dengan Anna. Logan tertegun sekaligus tercengang. Gadis ini sudah bangun rupanya. Tapi, sejak kapan dia berada di sini? Sejak tadi?
Kalau memang begitu, berarti dia mendengar semua percakapannya dengan kedua orangtuanya dong? Keduanya saling menatap dengan canggung. Dikira akan saling menyapa, Anna berlalu begitu saja.
"Hah!" dengusnya sambil mengelus dadanya. "Dia tidur di tempat lain semalam? Kenapa nggak bilang? Berasa kayak orang bego, nahan kencing karena menyangka dia ada di dalam kamar mandi!"
Tapi, kenapa ia merasa sakit hati karena pria itu memutuskan untuk tidur beda kamar? Seharusnya, ia tidak peduli. Bukannya bagus jika ia tidur sendirian di kamar? Anna pun merasa enggan tidur seranjang.
Biarlah! Ia tak mau memikirkan. Kedua mertuanya sudah menunggu di ruang makan, ia bergegas menyusul ke sana. Sebelum kakinya memasuki ruang makan, ia melatih bibirnya untuk tersenyum. Barulah, Anna menghampiri mereka sambil menyapa.
"Selamat pagi, Pa, Ma." Elina dan Matthew menoleh padanya, lalu tersenyum ramah. Dengan kompak, kedunya membalas sapaannya. Kemudian, Elina kembali menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya sambil bertanya pada Anna.
"Kamu udah bangun dari tadi? Kok cepat banget turunnya?"
"Iya, Ma," jawab Anna, membalik piringnya. "Udah terbiasa bangun pagi untuk shalat Subuh."
Menantu yang solehah. Elina dan Matthew senang sekali mendapatkan menantu seperti Anna. "Tadi, kamu berpapasan sama Logan?" tanya Elina kemudian.
Anna mengulum bibirnya rapat, berpikir keras. Ia bingung harus berkata apa. Karena, tidak mungkin ia mengatakan kalau semua percakapan mereka dengan Logan telah didengarnya. Ia juga tidak mau membuat pasangan itu merasa bersalah, sebab Logan memilih tidur di tempat lain.
__ADS_1
"Iya. Dia masuk kamar waktu saya sedang merias wajah saya," jawab Anna, mengulum senyum polos.
Elina dan Matthew saling melirik. Apa mereka perlu mengatakan yang sebenarnya soal Logan yang memilih tidur terpisah dengannya semalam? Tapi, rasanya tidak perlu karena Anna pasti sudah menyadarinya.
"Anna, semalam Logan tidur di ruangan lain. Kamu tahu soal itu?" tanya Elina pada akhirnya. Anna mendongak. Ternyata, hal ini akhirnya dibahas juga. Ia mematung menatap ibu mertuanya sambil berpikir, lalu tersenyum.
"Iya, tahu. Sepertinya, karena saya mendengkur dan tidurnya tidak bisa diam, makanya Logan pindah ke kamar lain." Anna tahu alasan itu tidak cukup membuat mertuanya berhenti merasa bersalah, karena mereka tahu alasan yang sebenarnya.
Ia tetap bergeming pada sikap awalnya, yaitu pura-pura tidak tahu. Dengan polos dan berusaha tak melirik mertuanya, ia mengisi piringnya dengan beberap centong nasi goreng.
"Anna, itu susu hamil kamu. Kata ibumu, kamu suka susu cokelat. Makanya, Mama belikan susu hamil yang paling bagus untuk kamu dan si bayi," kata Elina sembari meletakkan segelas susu cokelat hangat di dekat Anna.
Anna jadi terenyuh. Betapa beruntungnya ia, mendapatkan mertua yang baik dan perhatian, tetapi ia malah membohongi mereka di hari pertama menjadi menantu di rumah ini. Air matanya sampai menggenang di pelupuk matanya. Namun, ia berusaha tidak memperlihatkannya di hadapan mereka.
"Terima kasih, Ma," ujarnya, agak sedikit serak di ujung kata. Mereka bertiga hampir selesai sarapan, tetapi Logan baru sampai di ruang makan. Elina yang menyadari kehadirannya, menyapa anaknya itu.
"Logan, ayo sarapan," panggilnya. Anna hendak menoleh, tapi jadi enggan karena rasa gengsinya.
Namun, ketika pria itu memilih kursi di sampingnya, tak tahan rasanya ingin melirik. Pria itu memakai kaus abu-abu muda dan celana koldoroi hitam. Rambutnya yang basah disisir seadanya. Terlihat berbeda sekali dengan penampilannya, jika dia memakai setelan kemaja dan jas. Tetap tampan, tapi manis seperti idol k-pop.
Terpana? Jelas. Akan tetapi, ia langsung sadar, dan menegur dirinya yang begitu mudah terpikat pada ketampanan pria itu. Untuk mengalihkan pikirannya, lantas ia berinisiatif mengambilkan makanan untuk suaminya itu.
Logan tertegun sesaat menatapnya. Maunya, ia menolak perlakuan Anna. Namun, karena situasinya mereka tengah di depan orangtuanya, maka dibiarkan saja Anna menyajikan sepiring nasi goreng untuknya. Tentu saja, ini juga trik agar kedua orangtuanya senang. Lihat saja, Elina dan Matthew sedang tersenyum dengan penuh harap bahwa perhatian dari Anna bisa meluluhkan Logan.
"Nah, karena Logan sudah ada di sini, ada yang mau Mama katakan pada kalian," mulai Elina, baru saja Logan akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Logan tidak terkejut lagi karena sudah menduga topik pembicaraan yang dimaksud mamanya, sementara Anna mendengarkan dengan penuh perhatian. "Karena kalian sudah menikah, apa kalian tidak berpikir untuk merencanakan—"
"Sudah," sahut Logan dengan acuh tak acuh. Mereka bertiga menoleh ke arahnya dengan heran. Maksudnya, apanya yang "sudah"?
Logan menelan makanannya, lalu menoleh pada mamanya. "Aku sudah memikirkan tempat yang akan kami kunjungi untuk honeymoon nanti."
Surprise, tapi Elina dan Matthew tersenyum senang mendengarnya. Berbeda dengan Anna, yang justru merasa kurang setuju dengan rencana itu, meskipun ia sangat ingin honeymoon jika sudah menikah.
Namun, kondisinya sekarang ini berbeda—ia menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Bulan madu seperti itu hanya buang-buang uang saja.
"Oya? Ke mana?" tanya Matthew antusias.
__ADS_1
"Ke Manchester." Senyum Logan, lalu menoleh pada Anna.[]