
..."Bisakah kau tak hilangkan aku dari ingatanmu...
...Bila ini semua salahku, maafkan aku."...
...***...
"Annyeong hasimnika, naneun Park Woo-jin-imnida."
Anna tertegun, baru menyadari bahwa suara pria itu terdengar tak asing meski aksen Seoul-nya kental. Mata pria itu juga mengingatkannya pada....
Ah! Bayang-bayang Logan sudah ketelaluan lalu-lalang di dalam otaknya. Bukankah suara pria Korea hampir mirip semua? Anna saja yang selalu apa-apa mirip Logan. Jelas Woo-jin dan Logan beda jauh. Yang satu hidup dengan sendok emas, dan juga tampan. Sedang yang satunya tampilannya sederhana dan terkesan agak berantakan, cupu, tidak terlihat tampan. Yang membuat mereka sama adalah, lesung pipi ketika sedang tersenyum.
Anna menggelengkan kepala. Soal Logan buru-buru dihempaskannya, kembali fokus pada pekerjaan.
Setelah memperkenalkan diri, manager umum mempersilakan Woo-jin untuk duduk di bangku kosong yang ada di sebelah Anna. Woo-jin seraya tersenyum semringah berjalan menuju ke bangku itu. Pria itu memperhatikan wanita di sebelahnya, lalu berseru pelan.
"Oh! Dangsin... (Oh! Anda...)."
Anna menoleh heran. Awalnya tercengang tak mengerti maksudnya, tapi kemudian ia tersenyum paksa seraya menjawab, "Ah, ye."
"Seongham-eul al su iss-eulkkayo? (Boleh saya tahu siapa nama kamu?)" Park Woo-jin mengulurkan tangan ke arah Anna.
Anna menatap uluran tangan pria itu. Entah mengapa, ia tertarik memperhatikan jemari Woo-jin yang panjang. Mengingatkannya kembali pada... ah, Anna! Lagi-lagi!
"Anna," jawab Anna kemudian sembari menjabat tangan pria itu, setelah memulihkan diri dari pikirannya tentang mantan suaminya.
"Hyeobjo butagdeulibnida, Sunbae (mohon kerjasamanya)," kata Woo-jin lagi, agak kecewa kala Anna dengan cepat menarik tangannya kembali.
Anna tak mau repot menjawab, jadi ia hanya mengangguk canggung. Suaranya yang mirip menyiksa batinnya. Anna mencoba fokus bekerja, tapi ia merasa bahwa pria itu tengah menatapnya diam-diam. Anna risi, dugaan buruk menyusup ke kepalanya.
Kenapa pria ini memperhatikannya? Apa dia....
Ternyata, Ga-eun memperhatikan pria itu dengan tatapan curiga. Dan dugaan yang sama muncul pula dalam benak. Gadis itu meraih ponselnya, lalu mengirim pesan ke nomor Anna.
^^^"Eonni, ne yeop-e namjaga susanghae boyeo (sepertinya pria di sebelahmu terlihat mencurigakan)."^^^
"Nappeuge saeng-gaghajima! (Nggak boleh negatif thinking)."
__ADS_1
^^^"Jinjayo! Namjaga gyesog chyeodabonda (Ih, serius! Dia ngeliatin Kakak terus tuh!)."^^^
Anna tahu. Dia tak membalas, meletakkan ponselnya kembali di mejanya, lalu menghela napas. Sebenarnya, Anna malas melabrak orang, apalagi tuduhannya belum jelas. Tapi, ia harus tahu tujuan pria itu memperhatikannya terus.
Anna memutar kursinya sedikit, menatapnya serius hingga Woo-jin merasa gugup. "Na-ege mudgo sip-eun geos-i issni? (Apa ada yang ingin kamu tanyakan?)" cecar Anna agak ketus.
Woo-jin terlihat bingung sesaat, tapi kemudian ia menemukan jawaban yang tepat. "Ani ... naneun mueos-eul haeyahalji moleugessda (saya tidak tahu mau mengerjakan apa)," jawabnya, lalu menyeringai malu.
Wajar sih. Namanya juga karyawan baru, biasanya bingung mau melakukan hal apa. Tapi, Anna lega karena menghempaskan pikiran buruk tentang pria itu.
"Ok ... chongmunimkke mul-eobosimyeon doebnida (kamu tanyakan saja pada manajer umum)," saran Anna.
Woo-jin mengalihkan pandangan pada meja yang ditempati oleh seorang wanita sebentar, lalu mengatakan terima kasih pada Anna sebelum beranjak ke meja itu.
Pria itu pergi sebentar, tak lama kemudian kembali ke mejanya dengan raut wajah kecewa. Anna menduga kalau Woo-jin belum memiliki sesuatu untuk dikerjakan. Anna tak bertanya kala pria itu duduk di tempatnya karena tak mau membuat pria itu tambah kecewa.
"Ya, husaeng! (Hei, anak baru!)," panggil seorang wanita di yang ada di depan Anna pada Woo-jin.
"Ne, sunbae!" sahut Woo-jin bersemangat.
"Dangsin-eun amugeosdo haji anh-eul geo ya, geuleohji? Keopi jom mandeul-eo jusigess-eoyo! (Kamu nggak lagi ngapa-ngapain, 'kan? Buatkan aku kopi!)."
Namun, yang kejam pada Woo-jin bukan hanya wanita itu. Anna mendengar perintah sama dari karyawan lain. Woo-jin tak mampu menolak, terpaksa mengangguk menyanggupi. Tambah geramlah Anna.
"Sunbae," panggil Woo-jin pada Anna, setelah mengiyakan para senior kejamnya.
"Nde," sahut Anna, menoleh.
"Seonbaedeuldo keopileul mandeulgo sipnayo? (Apa Sunbae mau dibuatkan kopi juga?)" tanya Woo-jin sungkan.
"Gwenchana," sahut Anna seraya beranjak dari kursi. "Naega ... seuseulo hal su-iss-eo (saya ... bisa melakukannya sendiri)."
Lalu, Anna pergi dari hadapan Park Woo-jin yang keheranan melirik padanya. Gadis itu baik, tapi juga dingin. Woo-jin melirik pada Gaeun dengan rasa ingin tahu.
Maka, mendekatklah ia pada gadis itu, lalu bertanya, "Yeoksi ... Anna seonbae jinjja jeoleonayo? (Apakah sikap Anna sunbae memang begitu?)."
Gaeun memutar matanya seraya berpikir. Awalnya ia tak mengerti, tapi kemudian ia paham dengan yang dimaksud Woojin. "Ani, dajeonghan saram-iya. Waeyo? (Nggak, dia orang yang ramah. Kenapa emang?)."
__ADS_1
Woojin tersenyum setelah tertegun beberapa saat. Lantas, ia pergi menyusul Anna yang sudah ke pantri duluan. Di sana, Anna tengah mengaduk secangkir kopi seraya menghubungi seseorang. Woojin yang sedang mengisi beberapa cangkir dengan kopi sachet dan air panas tak sengaja mendengar percakapan Anna di telepon.
"Aku baru aja cuti, Ma. Nggak bisa balik bulan ini kayaknya," kata Anna, terdengar nada penyesalan. "Nanti deh, aku usahain lebaran pulang ke Indonesia, oke?"
Tiba-tiba gerakan Woojin yang sedang mengaduk kopi terhenti. Anna menyudahi teleponnya, dan akan mengangkat cangkirnya. Namun, tiba-tiba Woojin memanggilnya.
"Sunbae, tunggu!"
Anna berhenti dan menoleh dengan dahi mengernyit. Tadi, ia tak salah dengar, 'kan? Pria itu bilang "tunggu"?
"Waeyo?" tanya Anna.
"Tadi aku dengar Sunbae ngomong bahasa Indonesia?" jawab Woojin matanya berbinar.
"Kau bisa berbahasa Indonesia?" Anna berbalik penuh, sekarang benar-benar kaget.
Woojin mengangguk seraya tersenyum. "Ya ... ceritanya panjang, Sunbae. Aku...."
"Ya! (Hei!)" seru seorang wanita, menegur Woojin begitu masuk ke dalam pantri. "Mwohaseyo? Keopi gajyeowa, palli! (Lagi apa kalian? Cepat antarkan kopinya!)."
"Nde, Sunbaenim," jawab Woojin, lalu bergegas mengambil nampan, menata cangkir kopi di atasnya sebelum di antarkan ke ruang kerja.
Anna berjalan duluan setelah karyawan senior menegur mereka. Ia memiliki berbagai pertanyaan dan dugaan dalam benak. Lagi, ia curiga bahwa Woojin mungkin ada hubungannya dengan Logan.
...💍...
Selama kerja di Korea, sudah yang keberapa kalinya Anna melewatkan acara makan malam bersama. Mereka tahu Anna seorang muslim yang tak bisa menyantap daging babi dan minum miras. Jadi, ia langsung ke halte bus begitu jam kerja usai.
Angin musim gugur bertiup, Anna merapatkan mantelnya. Uh! Udara mulai dingin sejak memasuki musim. Sepertinya ia harus memakai baju yang lebih tebal dari ini.
"Uh! Pengin makan yang anget-anget ah di rumah," gumamnya agak menggigil seraya menoleh ke arah biasanya bus datang. "Tumben, lama banget busnya datang?"
Untuk membunuh waktu, Anna memainkan ponsel, memeriksa akun media sosialnya. Meski sudah 2 hari tidak ada postingan, jumlah like dan komentar bertambah. Anna tersenyum karena kontennya disukai.
"Ah! Ada followers baru!" seru Anna pelan setelah mendengar notifikasi masuk.
Anna memeriksa 5 followers yang rata-rata pemilik akunnya perempuan. Hanya satu followers-nya seorang pria. Anna mencari tahu akun itu, dan ia tercengang.
__ADS_1
Di saat itu juga, Anna tertegun begitu merasakan seseorang memakaikan mantel hitam di tubuhnya. Anna pun menoleh, menatap seseorang yang melakukan hal ini padanya.
Apa ini sebuah kebetulan? Sosok yang saat ini bersama dengannya adalah followers-nya. Park Woojin![]