Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Sebenarnya Aku menginginkanmu


__ADS_3

Setelah makan malam usai, Anna kembali ke kamar untuk shalat Isya. Tak lama kemudian, Logan datang dengan membawa segelas susu cokelat hangat dan dua buah apel di atas piring. Sambil menunggu Anna selesai, Logan duduk di sofa dekat lemari, mencoba mengupas sebuah apel.


Yang namanya jarang melakukan pekerjaan begini, alhasil jari tangan Logan teriris pisau, dan praktis ia menjerit. Anna yang baru saja selesai shalat, terkejut dan langsung menoleh tanpa melepas mukenanya. Gegas, ia menghampiri, melihat apa yang telah terjadi pada Logan.


"Logan, kamu kenapa?" cecarnya cemas, lalu melirik jari Logan yang mengeluarkan darah. "Kok berdarah? Kamu lagi ngapain?"


"Kupas apel," jawab Logan mengernyit, merasakan perih di jarinya.


"Ya udah, sebentar. Aku mau ambil kotak obat dulu."


Terburu-buru Anna membuka mukena yang dipakainya, lalu dilipat dan disimpan. Langkah kecilnya melesat cepat ke kamar mandi, mengambil kotak obat dan secangkir air. Air dalam cangkir kecil ia masukkan cairan antiseptik, lalu ia celupkan ke kapas dan ia baluri ke jari Logan yang luka sambil ditiup-tiup.


Logan memperhatikannya lamat-lamat, lalu perlahan larut dalam perasaan yang tak bisa diartikan. Anna terlalu fokus pada lukanya, tapi masih sempat mengomel dengan nada sindiran.


"Begini nih! Kalau nggak biasa melakukannya, ya jangan dilakukan. Jadi luka, 'kan?" Meski terlihat cantik dalam posisi seperti ini, kecerewetan Anna tetap terdengar menyebalkan.


"Memangnya salah mencoba sesuatu hal di luar kebiasaan?" balas Logan agak ketus.


Anna jadi kesal, dan ia sengaja mengencangkan balutan plaster agak ketat, sehingga Logan menjerit kesakitan.


"Au! Sakit! Pelan-pelan dong?"


"Udah, tuh! Cengeng banget!" gerutu Anna, menghela tangan Logan agak kasar, tapi dalam hati tersenyum geli karena telah menjahilinya meski ia tahu 'ini' agak keterlaluan.


"Aku bukannya cengeng, ya. Tapi, ini benaran sakit, tau! Kamu tuh tega banget tekan lukanya," protes Logan, tapi tak diindahkan oleh Anna.

__ADS_1


Gadis itu terkekeh, merasa menang telah membalas ucapan sengit pria itu. Setelah membereskan obat-obatan ke dalam kotaknya, Anna kembali meletakkan kotak obat ke tempatnya. Kemudian, ia duduk di samping Logan, tertegun melihat susu cokelat hangat di samping piring berisi apel.


"Kamu minum susu?" tanyanya, ini benaran Anna tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?


"Bukan buat aku, tapi buat kamu. Masa aku minum susu buat ibu hamil?" sahut Logan, seperti biasa nada ucapannya agak sinis.


Anna meraih gelas itu seraya tertawa kecil. "Ya, nggak apa-apa kalau kamu mau minum. Siapa tahu, kamu jadi ikutan hamil."


Candaan yang garing terdengar menyebalkan, tapi Logan tak membalasnya. Ia memperhatikan Anna menyeruput sedikit susunya, kemudian Anna meraih buah apel untuk dikupas.


"Harusnya, pisaunya bukan yang ini," komentar Anna. "Ini terlalu besar. Dan cara mengupasnya seperti ini."


Tutorial cara mengupas hanya sekejab Logan perhatikan karena ada hal lain yang membuat pandangannya teralihkan. Wajah Anna. Bibirnya memikat, matanya berbinar cantik. Perlahan, senyumnya terkembang, baru menyadari bahwa Anna semakin cantik.


Anna menoleh, menyodorkan sepotong apel yang sudah dikupas. Namun, Logan malah terbengong dengan mulut agak terbuka. Aneh lagi deh sikapnya itu. Apa sih yang sedang dilamunkannya?


Anna mengupas dan memotong buah apel lainnya, keduanya memakan apel itu sambil mengobrol ringan. Susu dan buah apel sudah habis, Anna akan beranjak untuk membereskannya ke dapur. Namun, Logan mencegahnya, lalu merenggut piring dan gelas kosong yang ada di tangan Anna.


"Biar aku aja, sekalian aku mau ambil air minum," kata Logan.


Anna mengangguk. Ketika Logan telah berjalan keluar, Anna beranjak ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya. Ponselnya berdering sekali, notifikasi pesan masuk dari Tasya.


Saat Logan kembali, Anna sudah tidur. Huh, cepat sekali terlelapnya. Apa ini bawaan bayi? Atau Anna memang sudah lelah? Biarlah, Logan juga ingin tidur, walaupun belum mengantuk.


Logan memutuskan untuk membaca dan duduk di ranjang, mengambil sebuah buku di laci nakas. Ia tertegun, teringat oleh foto hasil USG darah dagingnya yang masih berupa janin kecil yang menggemaskan. Senyumnya terkembang, perasaan bahagia sebesar ini baru ia rasakan.

__ADS_1


"Aku akan menjadi seorang ayah," lirihnya dalam hati. "Aku ingin cepat-cepat membawanya ke dalam gendonganku, lalu aku dan Anna...."


Lirikan matanya kini teralihkan pada istrinya. Tanpa suara Logan mendekatkan diri ke arah Anna, memangku kepalanya, memandangi wajah cantik itu begitu damai dalam tidurnya.


"Apa bidadari secantik ini?" gumamnya, tersipu.


Getaran di hati menggerakan jari telunjuknya ke dahi Anna, menyeka anak rambut yang menutupi wajah, lalu perlahan mengelus pipinya, bergerak turun sampai jarinya berhenti dan di bibir Anna.


Enggan, tapi pengin. Perlahan, jarinya menyentuh bibir ranum gadis itu, tetapi kemudian Logan membeku. Tangannya berpindah arah ke pipinya, lamat-lamat melirik bibir Anna.


Jantungnya berdetak, sebuah hasrat mendorongnya untuk perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Anna. Tak dinyana, Anna menggeliat dan matanya tiba-tiba terbuka.


Logan mematung, keduanya saling bertatapan dengan pikiran masing-masing. Anna bergeming dan bingung, tetapi jantungnya berdetak gelisah, tangan kanannya mer3mas selimut. Logan sendiri tak tahu apa ia mesti meneruskannya atau tidak. Namun, setan menghasutnya, rasa ini tak dapat ditahannya lagi.


Logan semakin mendekat, Anna menegang. Bibir Logan akhirnya menyentuh bibirnya, Anna pun menutup mata, meny3sap ******* lembut bibir Logan yang membuatnya tak ingin lepas.


Perasaan yang diterpenjara dalam batin akhirnya lepas, tapi Anna tak ingin menunjukkan keagresifannya. Ia masih malu. Jadi, membiarkan Logan memulainya.


Kecupan dari bibir berpindah ke pipi. Anna menjerit pelan kala Logan mengigit pelan telinganya. Helaan napas menyentuh kulit, bulu romanya meremang. Aroma parfum tercium di leher Anna. Logan hirup aroma itu, kemudian menyematkan sebuah kecupan yang membuat Anna menggelinjang.


Amat lembut, tangannya perlahan menurunkan gaun Anna hingga tersingkap bagian dadanya. Logan mendongak, membeku, menatap Anna yang terengah-engah. Gadis itu bingung dan gemas, kenapa Logan berhenti? Apa dia sengaja membangkitkan gairahnya hanya untuk mempermainkannya?


"Jika sakit, katakan padaku," kata Logan, parau, setelah sekian lama terdiam. "Aku tidak mau menyakiti bayinya."


Anna mengangguk, matanya menyendu. Berahi ini membuat otaknya seakan terhipnotis. Ini undangan bagi Logan untuk melanjutkan apa yang diinginkannya.

__ADS_1


Pria itu tersenyum sensual. Lantas, pandangannya mengarah pada bibir Anna, ******* bibir itu dengan tak sabar tapi lembut. Tangannya menelusuri inci demi inci seluruh tubuh Anna yang dipujanya, menyentuhnya, mengecupnya, hingga Anna tak tahan lagi untuk menjerit nikmat.


Malam yang indah ini mereka lepaskan hasrat yang dipendamnya selama ini. Memenuhi ruangan dengan d3sahan lirih dan lenguhan yang memabukkan seperti pengantin pada malam pertama.[]


__ADS_2