Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Tidakkah kau tahu, aku sangat mencemaskanmu!


__ADS_3

"Ke mana perginya dia?" decak Logan kesal plus khawatir.


Logan berjalan menjauhi toilet sambil menghubungi nomor ponsel Anna. Kemudian, ia mendengar suara dering telepon di ruangan ini. Tentu saja ia terkejut karena tidak merasa memiliki nada dering seperti itu.


Lantas, ia menyadari bahwa mungkin itu nada dering ponsel telepon masuk milik Anna, dan ia menemukan suaranya di atas meja. Logan menghampiri meja, mengernyit melihat ponsel berwarna biru muda tergeletak di atas meja. Ponselnya dimatikan, lalu ia meraih ponsel itu.


"Ck! Dasar ceroboh! Dia meninggalkan ponselnya?" decakknya jengkel.


Pikirannya mengatakan bahwa ia tak peduli pada gadis itu, tetapi hatinya tergerak untuk mencarinya. Bahkan, Logan sampai bertanya pada staf hotel, meminta akses CCTV untuk mencari ke mana arah perginya Anna.


Setelah ia melihat rekaman CCTV, Logan bergegas ke arah perginya Anna melangkah saat keluar dari hotel. Ia mencari ke manapun sambil menunjukkan foto Anna kepada pejalan kaki di sekitar sana.


Beberapa meter dari tempatnya, terdapat sebuah taman kota. Logan menghela napas panjang.


"Mungkin dia jalan-jalan di sekitar taman ini?" gumamnya, napasnya sedikit tersengal karena setengah berlari mencari Anna.


Sebelum waktu makan siang masuk, Logan segera memasuki area taman. Entahlah, perasaan khawatir ini begitu menggila. Meski ia tidak mencintainya, ia tetap mencemaskan Anna yang tengah mengandung anaknya.


Logan berhenti, mengatur napasnya yang terengah-engah sambil agak membungkuk. Di mana wanita itu? Hampir seluruh tempat ia singgahi di taman yang cukup luas ini.


Seorang nenek berambut putih pendek dan ikal, mendatangi Logan dengan heran. Wanita itu memperhatikan, lalu bertanya dengan suaranya yang terdengar bergetar. "Are you okay?"


Logan mendongak menatap wanita itu. Tubuhnya sedikit ditegakkan, dan ia tersenyum tipis padanya. "I'm okay. Oya, Madam." Logan segera mendapatkan sebuah ide, lalu mengeluarkan ponselnya. "Have you seen this woman?"


Wanita itu agak mendekat, dan Logan menggeser ponselnya untuk memperlihatkan foto Anna padanya. Senyum lembut melengkung di bibir keriput wanita itu.


"Sure," jawabnya bersemangat. Kemudian, dengan gerakkannya yang agak gemetar dan lambat, ia menunjuk pada jalan yang mengarah pada area luas lainnya taman ini. "The beautiful woman is in the garden near the fountain. She is very kind and friendly. She said she was pregnant and on vacation with her husband. Are you her husband?"


Kenyataan itu tidak bisa dipungkiri, tetapi Logan canggung untuk tersenyum dan menganggukkan kepala. Setelah mengatakan terima kasih, Logan mempersilakan nenek itu untuk pergi.

__ADS_1


Sambil menatap wanita tua itu menjauh dengan langkahnya yang pelan, Logan jadi teringat oleh ucapan Aurellie. Anna itu wanita yang supel, mampu akrab dengan orang-orang yang ditemuinya. Entah sudah berapa banyak cerita yang ia ucapkan pada nenek itu, tapi si nenek sudah cukup mengenal Anna.


Ah! Ia jadi hampir hanyut dalam pikirannya sendiri dan melupakan tujuannya ke taman ini. Lalu, ia melanjutkan pencariannya, menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang tengah tumbuh subur, dengan dedaunan yang segar.


Ujung jalan ini berakhir sampai di sebuah lapangan yang luas, dengan beberapa bangku taman di setiap sudut, burung-burung yang sedang berkerumun di tengah lapangan, lalu anak-anak yang tengah digandeng oleh orangtuanya untuk diajak pulang karena sudah memasuki waktu makan siang.


Logan mengarahkan pandangan pada air mancur. Kata nenek tadi, Anna ada di sekitar sana, dan ya! Ia menemukan Anna tengah berdiri di sana sambil melemparkan sesuatu ke dalam air kolam.


Melihat beberapa orang sedang melempar koin, lalu mengucapkan sebuah harapan, membuat Anna ingin mencobanya juga. Telah dua kali ia melempar ke arah tingkat paling atas air mancur—karena memang seperti itu syaratnya jika harapannya mau terkabul—tapi tidak ada yang tepat sasaran.


Koin terakhir dikeluarkan dari sakunya, Anna tidak putus asa meski ia tahu bahwa ini kepercayaan yang sangat konyol. Namun, melakukan hal ini cukup menyenangkan baginya.


Ditatapnya koin itu dengan seksama, lalu digenggamnya erat, meniupnya kencang sambil berharap. "Mudah-mudahan yang terakhir ini berhasil!"


Lemparannya memang tidak terlalu kencang, tapi memiliki rasa antusias yang tinggi. Dan harapannya itu tidak sia-sia, koin berhasil terlempar ke kolam kecil. Anna tersenyum girang, dan langsung saja menjalin jemari kedua tangannya, memejamkan mata erat, lalu dengan kusyuk melantunkan sebuah doa di dalam hati.


Anna membuka matanya perlahan, melepaskan jalinan jemarinya sambil tersenyum getir. "Apanya yang bukan muluk-muluk? Mana mungkin harapanku terkabul? Musyrik banget sih lo, Anna. Percaya yang kayak ginian."


Setelah itu, ia berbalik. Anna menyadari bahwa Logan sedang berjalan ke arahnya, dan ia tertegun. Ia akan melangkah menghampiri pria itu, tetapi Logan mengacungkan telapak tangannya, agar Anna tetap berdiri di sana.


Anna menurut, bergeming di tempatnya sambil menunggu pria itu mendatanginya. Melihat begitu gagahnya pria itu berjalan, Anna jadi termenung, dan jadilah khayalannya muncul.


Ia berhalusinasi bahwa Logan mengenakan pakaian seperti seorang pangeran tampan, berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Mempesona sekali pria itu, sampai Anna mengembangkan senyumannya tanpa sadar.


Saat pria itu sampai di hadapannya, tangannya di ulurkan ke arah Anna sambil berlutut. Hati Anna meleleh, dan pipinya memerah. Lantas, ia menerima uluran tangan itu.


"MINGGIR!"


Halusinasinya ambyar begitu mendengar sebuah teriakan. Anna tertegun, melihat Logan berlari ke arahnya.

__ADS_1


Tadi katanya apa? Anna disuruh minggir? Tapi kenapa?


Logan sampai di hadapannya, dan ia refleks mendorong Anna hingga terduduk di pinggir kolam air mancur. Logan menyadari ada sebuah sepeda sedang melaju tak terkendali ke arahnya. Pria itu setengah berlutut dengan kaki kiri tertekuk ke depan sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan wajahnya, lalu memejamkan matanya erat.


Anna tercengang. Sepeda yang dikendarai oleh seorang wanita berhenti di depan Logan dengan tiba-tiba. Logan menyadari bahwa dirinya tidak jadi tertabrak, lalu membuka matanya dan menghela napas yang sempat ditahannya.


"Apa yang dilakukan pria ini?" gumam Anna heran.


"Are okay, Sir?" tanya wanita itu. "I'm so sorry, because I'm learning to ride a bicycle," tambahnya, merasa tidak enak hati.


Logan menegakkan badannya, salah tingkah, lalu melirik pada Anna sekejab. "It's okay, I'm fine."


Wanita itu minta maaf sekali lagi sebelum pergi dari hadapan mereka. Anna beranjak dari tempatnya, lalu beringsut sambil menatap lamat-lamat wajah pria itu.


Logan jadi kikuk, tetapi tetap menoleh pada Anna sambil berseru agak ketus, dan berusaha tidak gugup meski tetap masih terlihat. "Kenapa? Ada yang aneh sama saya? Jangan salah paham. Saya cuma mau menyelamatkan kamu karena saya tidak mau kena omel sama papa dan mama."


Anna memiringkan kepala. "Saya nggak ngomong apa-apa loh," balasnya, terdengar menjengkelkan di telinga Logan.


Logan mendengus, lalu tersenyum sinis. "Dasar! Hei! Kenapa pergi tanpa membawa ponsel? Ceroboh sekali! Kalau kau tersesat bagaimana?"


Anna mengorek telingannya dengan kelingking. Omelan pria itu membuat polusi di dalam gendang telinganya. Ia melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajah sambil menggerutu sangat pelan.


"Cuma jalan-jalan di taman dekat hotel, apanya yang tersesat?"


Logan memperhatikan sambil mengernyit, tetapi tidak mendengar gerutuannya dengan jelas. "Kau bicara apa?" tanyanya ketus.


"Tidak ada," sahut Anna acuh tak acuh. Ia mengalihkan dengan berbicara sambil melirik jam tangannya. "Aku lapar. Ayo, kita kembali ke hotel."


Gadis yang seenaknya! Logan mendengus setelah Anna berjalan duluan meninggalkannya. Setelahnya, ia menyusul dengan tetap menjaga jarak di belakang Anna.[]

__ADS_1


__ADS_2