
Apa Seoul tempat yang mudah untuk ditemukan? Hanya dalam waktu 6 bulan, Nina dapat menemukannya. Namun, Nina pasti punya informan yang bisa mencari tahu keberadaan Anna, sehingga Nina bisa sampai di sini.
Namun, untuk apa repot-repot Nina menghampirinya? Anna merasa tak bersalah, menghadapi Nina dengan penuh percaya diri, meskipun awalnya cukup mengejutkan.
"Hai, Anna. Apa kabar?" sapa Nina, tersenyum sinis.
Anna melepaskan pegangannya dari knop pintu, lalu berbalik menghadap Anna. Sapaan Nina ia balas dengan senyuman tak tulus. "Kau bisa lihat keadaanku sekarang, 'kan?" jawabnya bernada mengolok.
"Baguslah. Kau tampak baik setelah perceraian. Kau pasti merasa senang mengetahui bahwa pernikahanku tak bahagia," balas Nina tajam.
Anna mendengus sinis. "Selalu suuzon sama orang. Makanya hidupmu tak bahagia."
"Apa?" Nina mengernyit marah.
"Apa kau mencariku karena Logan, lalu menyalahkanku atas gagalnya pernikahanmu? Sia-sia saja, karena aku tak pernah bertemu dengan Logan."
Mata Nina melotot, menghampiri Anna lebih dekat. "Wanita pembohong!" semburnya. "Kau berusaha memikat ibu mertuaku, sehingga hubunganku dengan mereka merenggang. Kau pasti tahu keadaan rumah tanggaku dan Logan. Kau pikir, aku tidak tahu kau masih berhubungan dengan mama Elina?"
"Aku tidak kaget. Kau pasti sering menguping pembicaraanku dengan mama," sahut Anna tetap tenang. "Tapi, bukan aku yang membuat hubunganmu dengan mertuamu merenggang. Coba intropeksi diri, apa yang telah kau lakukan selama ini pada mereka."
__ADS_1
Hati Nina semakin terbakar, tangannya mulai bergetar seakan tak terima pada ucapan Anna yang dianggap melukai harga dirinya. "Jadi kau pikir, semuanya salahku? Aku yang tidak bisa menjadi menantu baik gitu?"
Anna menghela napas dan bergumam, "Suudzon lagi...."
Plak! Sebuah tamparan yang tak terduga mendarat di pipi. Anna mendelik, terkejut, dan spontan memegang pipinya yang memerah. Napas Nina terhela keras setelah tamparan itu. Kemurkaannya tak dapat dikendalikan.
"Semua karenamu! Kau merebut Logan yang tadinya mencintaiku. Mama Elina juga dekat denganku sebelum mengenalmu. Kalau kau tidak datang dalam hidup mereka, akulah yang akan menjadi nyonya di keluarga Jonathan yang paling disayangi!" hardik Nina frustrasi.
Anna bergeming dengan kepala tertunduk. Bukan karena tak bisa membalas Nina, tetapi percuma saja menjelaskannya pada orang yang telah dibutakan oleh kedengkian.
"Aku peringatkan padamu, Anna. Lebih baik kau menghilang lebih jauh dari keluargaku. Ganti nomor ponselmu, jangan pernah berhubungan dengan ibu mertuaku, apalagi bertemu dengan Logan! Camkan itu!"
Anna menghela napas panjang. Rasa sakit di pipinya berdenyut. Namun, hatinya lebih sakit dari itu. Ia tak bisa menangis, karena hal seperti ini tak perlu ditangisi.
Dengan sempoyongan, Anna berbalik. Namun, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya dipeluk. Anna tak melawan, aroma parfum tak asing terhirup olehnya. Ia kenal siapa yang memakai parfum ini, tetapi ia tahu bahwa dia orang yang berbeda.
"Kamu nggak apa-apa, Anna? Tadi, aku lihat kau...."
"Woojin," sela Anna, Woojin tertegun. "Kau tahu kenapa aku menghindarimu?"
__ADS_1
"Apa?" tanyanya lirih. Woojin berfirasat, apakah wanita ini ingin pergi lagi darinya?
"Tinggi badan, suara, mata, dan bahkan nama Koreamu sama dengan dia," gumam Anna, kini air matanya meleleh.
"Dia? Mantan suamimu?" tanya Woojin datar. "Huh! Harusnya aku ganti nama."
Anna mengangguk. "Dan aroma parfumnya." Anna menambahkan. "Kenapa kau memiliki beberapa kesamaan yang membuatku salah paham? Hatiku berdebar di dekatmu. Setiap ucapan dan tingkahmu ... walaupun berbeda dengannya, aku merasakan hal yang lain. Aku tidak tahu, apa aku mulai membuka hatiku padamu? Atau hanya perasaan ilusi karena kau mengingatkanku padanya?"
Woojin mengatupkan bibirnya, bergeming untuk waktu cukup lama. "Anna, maaf kalau aku telah menguak luka lamamu," gumam lirih di telinga Anna.
Anna menggeleng pelan. "Nggak sama sekali. Cuma, aku bingung aja. Kenapa perasaanku begini padamu?"
Woojin mendekap erat, senyumnya merekah. Tak lama kemudian, ia melepaskan pelukan itu, menatapnya lamat-lamat. Anna mendongak perlahan. Tatapan Woojin beralih pada bibir Anna yang agak terbuka. Tergoda hati Woojin. Woojin mendekatkan wajahnya, perlahan, detik demi detik tanpa jeda. Namun, tiba-tiba ia membeku.
Woojin menjauh, lalu berdiri membelakangi Anna dan menghela napas berkali-kali. Anna sendiri telah menyadari bahwa mereka hampir saja berciuman. Anna sama gugup dan kikuknya dengan Woojin. Lalu, sekarang bagaimana? Rasanya pengin menyembunyikan wajah ini.
"Em ... Woojin. Aku masuk dulu, ya? Udah malam," ujar Anna, suaranya agak memelan dan terbata.
Woojin spontan berbalik dan tercengang. Ia akan memanggil Anna, tetapi wanita itu sudah pergi ke lantai atas. Sesal yang dirasakan Woojin kini. Ia mengutuk dirinya yang bodoh.
__ADS_1
Woojin melepas kacamatanya, lalu bergumam sembari berkacak pinggang. "Apa sudah waktunya aku mengatakan yang sebenarnya?"[]