
"Aku mencintaimu," bisik Logan, menggenggam jemari Anna dengan lembut. Suara paraunya menggelitik hati Anna untuk tersenyum bahagia.
"Katakan sekali lagi," pinta Anna, sengaja menggoda seraya menoleh ke belakang dan menatap Logan.
Oh, mulai nakal, ya? Logan tidak akan menurutinya dengan mudah. Alih-alih menjawabnya, Logan mengecup bibir Anna singkat tapi manis, menularkan senyum yang lebih lebar di bibir Anna. Kemudian, Logan mendekapnya lebih erat.
Malam yang indah ini, pasangan itu mencurahkan cinta mereka di beranda atas vila milik Logan. Anna duduk di pangkuan pria itu seraya dipeluk dari belakang oleh suaminya. Di depan meja, terdapat segelas wine untuk Logan, dan susu hangat untuk Anna. Keduanya bercengkrama, mengobrol, dan tertawa bersama. Larut dalam kebahagian.
"Nina kembali ke Inggris. Aku harap, dia tidak mengacaukan hubungan kita," kata Logan setelah menghela napas lega.
"Tapi, aku sedih karena Kenan pergi ke Amerika," timpal Anna, suaranya merendah dan muram.
Logan meliriknya dengan pandangan gusar. "Kenapa jadi ngomongin Kenan?" sahutnya agak ketus.
Kiara sontak memutar badannya sedikit. "Lha? Emang kenapa? Apa salahnya?" balasnya setengah berseru.
"Kamu nggak ngerti, ya?" Lalu, Logan mendecak. "Aku tuh cemburu tau!"
"Kamu aja yang bahas soal mantan kamu itu aja aku nggak masalah. Kenapa cuma ngomongin Kenan gitu aja cemburu?" Anna berputar, melipat kedua tangannya di dada sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya, itu karena kamu bilang kalau kamu sedih dia pergi."
"Dia kan teman aku, ya panteslah kalo aku ngerasa sedih!" sahut Anna ketus bernada sarkas.
Cuaca tak panas, tapi Logan merasa gerah. Logan menyuruh Anna menyingkir, lalu beranjak dari kursi sambil mengibas-kibaskan tangannya. Hatinya panas karena terbakar oleh kecemburuan. Logan mendinginkannya dengan menenggak wine sedikit demi sedikit.
Anna sudah jenuh dengan pertengkaran ini. Setelah menghabiskan susunya, ia bermaksud untuk masuk ke kamar. Namun, ia terlalu malas untuk menggapai gelas berisi susu yang ada di meja.
Ia melirik Logan dengan ragu, gengsi untuk meminta tolong pada pria pemarah itu. Maka, ia mendeham seraya menggapai susunya di meja. Anna pikir, Logan akan peka atas kodenya itu lalu menoleh padanya.
Ternyata caranya itu berhasil, Logan mendengar Anna mendeham, lalu Logan menoleh padanya. Logan mendecak, terpaksa mengambilkan gelas berisi susu, dan memberikannya pada Anna dengan jutek.
"Bilang kek dari tadi kalo mau minum susunya? Emang susah, ya, buat minta 'tolong'?" sindir Logan tetap membelakangi Anna.
Sedikit tersinggung, tapi malu juga. Anna tak menyahutinya, meminum gelas itu dengan kikuk, sambil kadang melirik Logan.
"Ah!" desau Logan kencang, sampai Anna mendengarnya. Gelas yang sudah kosong Logan letakkan di atas meja, pandangannya kemudian kembali pada Anna. "Udah habis susunya?"
Anna terperangah, melirik gelas susunya sejenak sebelum mata bulatnya menatap Logan. "Tinggal setengah. Emang kenapa?"
"Cepat habiskan!" perintah Logan dingin, berkacak pinggang dan memalingkan wajah.
"I ... iya." Anna menurutinya dengan kikuk dan heran. Ada apa dengan pria ini? Tiba-tiba memberi perintah tanpa memberitahu alasannya. Apa dia masih marah? Dan Anna lebih heran lagi, mengapa ia yang jadi mengalah?
Gelasnya sudah kosong, lalu Anna meletakkannya di atas meja dengan agak sedikit dihentakkan. "Udah!"
Logan memutar tubuhnya, membungkuk pada Anna, lalu mengangkat tubuh istrinya itu. Anna terkejut, tercengang menatap Logan. Tanpa mengatakan apa pun, Logan membawanya ke kamar.
Ranjang bersprai putih yang kosong menunggu mereka untuk ditiduri. Logan membaringkan tubuh Anna di atas ranjang, perlahan dan lembut. Anna melihat cahaya mata Logan tak lagi memancarkan sinar kemarahan.
Keduanya saling menatap dalam keheningan, hanya terdengar suara detak jantung yang berpacu cukup kencang. Pipi keduanya merona. Logan menyentuh lembut pipi itu, menatapnya lamat-lamat hingga Anna larut dalam jernihnya mata kecokelatan itu.
"Ayo, kita hentikan perdebatan kita. Jangan lagi membahas Nina dan Kenan, kita bermesraan saja. Mau, 'kan?" ucap Logan, menyapu kegusaran yang tadi hinggap di hati Anna.
Anna mengangguk dan tersenyum lembut. Lengannya melingkar di leher Logan, menggodanya agar memulai malam manis mereka. Logan tersenyum, membalas kode Anna dengan menyematkan kecupan di bibirnya.
******* lembut membangkitkan hasrat. Lidah mereka menyatu dalam nikmat. Tangan Logan mengerayangi setiap inci tubuh Anna yang didambakannya sejak lama.
Gaun yang dipakai Anna, Logan lepaskan tanpa suara. Wajahnya turun ke leher, menghirup aroma khas Anna, lalu mengecupnya dengan disertai gigitan pelan yang nakal.
Anna menggelinjang dan menjerit manja, "Au! Sakit, sayang."
Senyuman jahil Logan terulas. Teguran Anna tak indahkannya, ia semakin menggodanya dengan gigitan pelan. Logan tahu Anna sebenarnya menikmatinya. Sejak tadi, Anna terus mendengus lirih.
__ADS_1
Logan menyingkap gaun bagian atas. Ia terpana menatap pay*dara yang masih tertutup oleh bra itu. Lalu, tatapannya beralih pada Anna. "Sayang, aku buka ya, branya?"
Anna tertawa kecil. "Kenapa meminta izin? Aku milikmu sekarang," jawabnya.
Bibir Logan melengkungkan senyum. Kembali ia memangut bibir merah jambu Anna seraya menyentuh tubuh istrinya. Pakaian yang mereka kenakan dilemparkan sembarang. Keduanya tenggelam dalam kenikmatan cinta yang baru bersemi.
...🦋...
Bip, bip, bip. Alarm jam digital berbunyi di atas nakas. Logan menggeliat tanpa membuka matanya, meraba nakas untuk mencari benda yang menganggu tidurnya itu.
"Berisik!" makinya, setelah mendapatkan jam itu lalu melemparnya.
Logan memutar tubuhnya, memeluk tubuh Anna yang hanya ditutupi selimut dan masih tertidur. Anna hanya tersentak singkat, setelah melihat Logan yang memeluknya, Anna merapatkan tubuhnya dalam dekapan itu.
Entah sudah berapa menit, suara mengganggu datang lagi. Keduanya sama-sama tersentak, lalu mencari arah suara yang berasal dari ponsel Logan.
"Duuuuhh! Siapa sih yang telepon pagi-pagi gini?" keluh Logan gusar, menggacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Angkat aja, sayang. Siapa tau penting," saran Anna, meskipun cukup terganggu, tapi masih berpikir bijak.
Logan terpaksa menurutinya karena mungkin ucapan Anna ada benarnya. Diraihnya ponsel yang ada di atas nakas. Logan mencoba membuka matanya lebar-lebar, membaca nama kontak yang menghubunginya.
Gery?
Alih-alih menjawab telepon, Logan justru langsung mendelik. "Oh, iya! Rapat!" pekiknya panik.
Mendengar teriakannya, Anna menoleh pada Logan, kemudian meraih ponselnya. Memangnya ini sudah jam berapa, sampai Logan buru-buru turun dari ranjang?
Mata Anna langsung mendelik melihat jam yang ada di sudut layar. Pukul 7? Pantas, sinar matahari sudah masuk lewat celah jendela kamar.
Anna juga bergegas turun dari ranjang, meraih handuk, dan berlari ke kamar mandi. Bagaimanapun juga, ia juga harus mempersiapkan segala hal keperluan Logan, termasuk sarapan—walaupun hal itu sudah dipersiapkan oleh pembantu.
Namun, sesampainya di depan pintu kamar mandi, Anna dan Logan berpapasan dan berhenti. Keduanya saling bertatapan.
Anna mengernyit melihat senyum nakal Logan. Pria itu punya sebuah ide yang ngaco.
"Sayang, kita mandi bareng, yuk!" ajak Logan, nada ucapannya sensual.
Ada-ada saja! Jangan buat dongkol pagi-pagi deh! Anna menggerutu dalam hati.
"Sayang," Anna berkacak pinggang seraya tersenyum sinis, "jangan aneh-aneh deh! Cepetan mandi sana!"
Anna mendorong, mendesak Logan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi meski Logan berusaha melawan.
"Tapi, kamu gimana mandinya?" tanya Logan yang terus membujuk Anna.
"Aku mandi di kamar mandi yang ada di kamar tamu aja!" tangkis Anna, kembali mendorong Logan ke dalam kamar mandi.
Padahal ini kesempatan untuk mandi bersama. Mau diapakan, dengan berat hati Logan masuk ke dalam kamar mandi. Tapi, sebelum pintu ditutup, Logan sempat meminta janji pada Anna.
"Tapi, lain kali kamu nggak boleh tolak ajakan mandi bersama denganku, ya?"
Anna mendengus, terpaksa mengangguk. "Iya, sayaaaaaaang," jawabnya gemas. Barulah Logan mau menutup pintu kamar mandi.
Anna mempersingkat waktu mandinya agar bisa menyiapkan pakaian untuk suaminya. Ia duluan keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh hanya dililiti handuk. Anna tak langsung mengambil baju untuknya, ia mempersiapkan pakaian Logan dulu, sebab pria itu akan segera selesai mandi.
Bertepatan dengan selesainya tugas Anna, Logan keluar dari kamar mandi. Anna memutar tubuhnya menghampiri lemari pakaian, mencari semua yang akan dikenakannya hari ini.
Kemeja putih telah Logan kenakan. Saat ia sedang memasukkan kancing di pergelangan tangannya, ia menoleh pada Anna. Istrinya itu tengah kesulitan menaikkan resleting gaun yang ada di belakang.
Logan menghampiri, mengulas senyum lembut. Lalu, ia membantu Anna menaikkan resleting gaunnya.
"Sudah."
__ADS_1
Anna berbalik dan tersenyum. "Terima kasih, sayang. Sini, aku pakaikan dasinya." Ia menegadahkan tangan pada Logan, dan suaminya memberikan dasi warna biru itu pada Anna.
Logan mendongak ketika Anna mulai menyimpulkan dasi. Namun, wajah cantik Anna menggodanya untuk menatap istrinya. Namun, ia hanya bisa melirik saja, diam-diam tersenyum tipis.
Ternyata Anna menyadari sikap pria itu. Senyuman geli terulas. "Kenapa? Apa wajahku aneh karena belum dirias?" tanyanya iseng.
"Kurasa, kau sudah cantik dari lahir. Aku suka dengan wajah polosmu. Kau terlihat lebih manis," jawab Logan.
"Masa?" gelak Anna, lebih percaya kalau ucapan Logan itu cuma gombalan.
"Buat apa aku bohong?" Kedua tangan Logan mengarah ke pinggang Anna, dan tiba-tiba ia merapatkan tubuh Anna dalam dekapan. "Bibir merah jambu kamu itu nggak perlu pakai lipstik lagi. Aku nggak mau lipstiknya tertelan waktu cium kamu."
Ini kayaknya sebuah kode. Apalagi, Logan mulai perlahan mendekatkan wajahnya seraya melirik bibir Anna. Namun, Anna tiba-tiba memundurkan wajahnya dan menahan Logan dengan jari telunjuk ditempelkan ke bibir Logan.
"Eit! Kamu udah kesiangan. Nanti aja, oke?"
Kecewa, tapi pada akhirnya Logan mengangguk mengalah. "Oke, nanti malam kamu harus siap aku cium."
Anna terkekeh geli. "Iya."
Setelah Anna selesai berdandan, ia dan Logan turun ke lantai bawah sambil berpegangan tangan dan kadang saling menatap seraya tersenyum. Keduanya serasa berada dalam jembatan kebahagiaan yang tak berujung.
Kemesraan mereka tak berhenti sampai situ. Logan menjadi manja, meminta Anna untuk menyuapkan nasi goreng yang sudah disiapkan oleh pelayan di meja makan.
Sebenarnya Anna agak malu, apalagi dlihat oleh pelayan, tapi tetap saja ia mau melakukan karena Logan makan sambil membaca sebuah berkas. Berkat Anna, Logan menghabiskan sarapannya.
Kemudian, Anna mengantarkan Logan sampai ke depan mobil, lalu memberikan tas kerjanya.
"Hati-hati di jalan, ya," kata Anna sambil meraih tangan Logan, lalu menciumnya.
"Iya, sayang. Kalau kamu mau pulang ke rumah mamaku, telepon sopir."
"Em ... aku mau ke rumah mamaku dulu. Udah kangen soalnya." Meskipun sudah pasti diijinkan, Anna tetap memelas untuk membujuk suaminya.
"Mau nginep?"
"Nggak kok." Anna menggeleng. "Sore juga udah pulang."
"Oh, ya udah. Habis pulang kantor, aku jemput, ya?" kata Logan, yang mengembalikan senyum ceria Anna terulas di bibirnya.
Sebelum beranjak, Logan mengelus perut Anna yang agak sedikit membuncit karena usia kandungannya yang sudah memasuki 4 bulan. Entah ide dari mana, Logan mengusap perut istrinya seraya berkata seakan bayi di dalam perut bisa mendengarnya.
"Logan junior, jaga mamamu, ya? Ingetin dia supaya jangan suka lari-lari, terus minta makan yang banyak supaya kamu sehat. Lihat kan, badan mama kurus sekarang?"
Sebenarnya Anna agak tersinggung, tapi ia tak bisa menahan senyumnya karena percakapan ini cukup menggelikan. "Emangnya dia bisa dengar kamu?" sahutmya meledek.
"Kan kata buku yang aku baca...."
Ups! Hampir saja Logan keceplosan bahwa selama ini ia membaca buku kehamilan. Logan membeku gugup, sementara Anna menatapnya dan menunggunya menuntaskan ucapannya tadi.
"Buku apa?" tanya Anna polos.
Logan menyeringai lucu, lalu berpura-pura melirik arlojinya. "Oh! Udah jam segini! Nanti aja kita ngobrolnya, ya? Dah, sayang."
Anna terkesiap ketika Logan mencium bibirnya, lalu terburu-buru masuk ke dalam mobil. Perubahan sikap yang aneh. Apa ada yang sedang disembunyikannya?
Mobil melaju, Anna tetap bergeming sampai mobil melewati pagar. Anna menghela napas panjang, lalu tersenyum mengingat sikap manis Logan sejak mereka saling menyatakan cinta.
"Hmm ... apa ini yang membuat Nina nggak bisa move on dari Logan?" gumam Anna.
Wanita itu sudah sebulan berada di Inggris. Tak ada kabar darinya, Nina tak lagi menghubungi Logan. Lagi pula, Logan sudah memblokir nomor ponselnya supaya hubungannya dengan Anna aman tanpa gangguan.
Tapi, Anna jadi iba pada gadis itu.
__ADS_1
"Nina ... bagaimana kabarnya, ya?"[]