
Anna menyambut tamunya dengan suguhan secangkir teh dan dua toples kue kering yang mungkin Kenan suka.
Melihat sajian itu, Kenan menimpali renyah. "Wah, nggak usah repot-repot. Padahal, cuma mau ngobrol sebentar kok."
Anna terkekeh. Kenan gagal berbasa-basi karena tergoda oleh kue kering yang diletakkan di dekatnya. Kenan mengambilnya lalu memakannya, sementara Anna mencemoohnya.
"Basi basa-basinya. Makan kuenya. Emang aku suguhkan buat kamu kok."
"Serius? Kalau gitu, aku bawa kuenya sama sekalian toples-toplesnya, ya?" seru Kenan berseloroh. "Toplesnya bagus lho."
"Ya, jangan dong!" sahut Anna diselingi tawa. "Toplesnya koleksi mamaku tau! Nanti aku kena amuk lagi!"
Kenan meletakkan toples kaca bening itu kembali ke meja seraya tertawa. Pria itu membawa mood baik bagi Anna, sebelum dibikin galau karena sebuah topik pembicaraan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Kenan duluan. "Maaf, ya? Aku nggak kasih kabar karena sibuk."
"Nggak dikasih juga nggak apa-apa," balas Anna terkekeh. "Aku baik kok. Melihat kondisi kamu, kayaknya aku nggak perlu tanyain kabar kamu deh?"
Tawa Kenan langsung lepas. "Kalo nggak tanyain kabar, tanyain yang lain dong? Misalnya kayak ... aku udah punya pacara atau belom gitu?"
Bibir Anna mencibir. "Udah tahu juga kok jawabannya. Jomblo, 'kan?" sahutnya mencemooh.
Kenan mendeham. "Nggak bakal jomblo, kalau cewek cantik di samping aku mau jadi pacar aku."
Meskipun cuma candaan, Anna merasa tidak nyaman dengan ucapan itu. Senyumannya memudar perlahan, Kenan langsung cemas dan buru-buru berkata.
"Eh, sori. Garing, ya? Aku nggak maksud...."
__ADS_1
"Nggak kok," sela Anna tersenyum getir seraya menunduk. "Aku jadi ingat sama kejadian waktu itu. Maaf, ya, Kenan. Aku jadi bikin persahabatan kamu sama Logan jadi renggang lagi."
Anna sedih, hati Kenan ikut mencelus. Kenan sedih melihat Anna muram kembali. Padahal, kedatangannya tadi ingin menghiburnya.
"Anna, itu bukan salah kamu kok. Logan masih menerima aku jadi rekannya, walaupun hubungan kita nggak sedekat dulu," ucap Kenan, senyumnya mengambang sebab hatinya pilu memikirkan sikap Logan yang bertambah dingin padanya. "Dia juga nggak membahas soal kejadian malam itu."
"Mana mungkin dia mau membahas kejadian yang membuat hatinya terluka," timpal Anna, semakin muram.
"Aku nggak tahu, apa ini demi bisnis atau bukan. Logan biasanya mendiamkanku, bahkan tak akan memakai jasaku jika kami bertengkar." Kenan mendesis seraya memicingkan mata, berpikir lamat-lamat tentang keganjilan yang dirasakan pada sikap Logan belakangan ini. "Tapi kali ini, setidaknya dia masih mau membicarakan kesepakatan bisnis dan meminta saranku sebagai pengacaranya."
Anna tidak merasakan keganjilan. Baginya, sangat masuk akal jika Logan melakukan hal itu demi bisnis. Apalagi, kali ini Nina turut campur dalama bisnis keluarganya. Tentu Logan tak bisa semena-mena. Pendapatnya itu Anna sampaikan pada Kenan. Dan meskipun tidak terlalu yakin, Kenan menyetujui juga ucapannya.
Kenan berganti topik dengan pertanyaan spontan, setelah meneguk teh manis hangat. "Oiya! Kegiatan kamu sekarang apa? Gimana rasanya menganggur selama hampir seminggu? Nggak nyari duit lagi?" tanyanya, seperti biasa dengan nada bercanda.
"Nyari dong! Rencananya, aku mau jadi TKI di negara yang ... yah, lumayan jauh sih?" sahut Anna, keriangannya sedikit kembali.
"Dikira, ngegalau di pojokan," celetuk Kenan asal, tapi buru-buru mengalihkan setelah menyadari bahwa ucapannya itu akan kembali mengubah suasana hati Anna jadi suram. "Eh iya! Bukannya kamu pernah kerja di Singapura? Kenapa nggak melamar di sana lagi?"
"Em ... penasaran deh kamu mau jadi jongos di negara mananya? Nanti kasih tahu aku, ya, kalau udah diterima di sana," celoteh Kenan, dan Anna tertawa saat dirinya dibilang jadi "pembantu" di negara orang.
Kenan menyeruput tehnya lagi seraya menatap Anna. Ia senang melihat gadis itu kembali ceria seperti saat ia mengenalnya dulu.
Berita soal pernikahan Logan sudah sampai di telinganya. Kenan tidak mau merusak suasana hati Anna dengan berita duka seperti itu. Kenan memutuskan untuk menyembunyikannya.
Mungkin, memang lebih baik seperti itu.
...💍...
__ADS_1
Yerin telah memberi kabar setelah satu minggu kemudian. CV-nya diterima! Dan besok, Anna mulai di-interview lewat daring. Kecepatan koneksinya dengan istri bos memang secepat internet, Anna jadi takjub.
Setelah interview, Anna mendapat kabar 3 hari kemudian bahwa dirinya diterima kerja. Senin besok ia bisa mulai bekerja. Anna langsung memesan tiket, dua hari lagi ia akan berangkat ke negara Asia Timur itu.
Selama ini, Anna dan Kenan terus berhubungan, sampai akhirnya kabar pernikahan Logan dan Nina terucap tak sengaja dari mulut Kenan. Pernikahannya terjadi pada Sabtu ini. Anna sendiri berangkat di hari yang sama, jadi Anna bisa melewatinya meski dengan hati yang hancur.
Anna berangkat pada pagi hari, atau tepatnya 4 jam sebelum keberangkatan. Kenan dan Tasya mengantarkan kepergiannya. Ayah dan mama sedih melepaskannya merantau ke negri orang yang cukup jauh. Tapi, mereka berharap, mungkin Anna bisa melupakan Logan dan memulai hidup baru di sana.
Kenan dan Tasya mengantarkan Anna sampai di tempat pemeriksaan tiket. Kenan meletakkan troley yang dibawanya tadi di samping Anna, sementara Tasya dan Anna melakukan pelukan perpisahan.
"Kak, jangan terlalu betah di sana," kata Tasya, tak terasa air matanya menggenang. "Aku tahu di sana banyak cowok ganteng, tapi Kakak tetap harus ingat pulang, ya?"
Anna tertawa haru. "Ya, dong. Kakak bakal sempatkan pulang saat hari Lebaran," sahut Anna, air matanya yang mengalir disekanya cepat sebelum melepaskan pelukannya. "Sya, mau dibawain satu cowok ganteng, nggak dari sana?"
Tasya menoyor pelan, antara sebal tapi tak bisa menahan tawanya. "Apaan sih, Kak?"
Dan mereka tertawa bersama, meskipun kesedihan di antara mereka masih ada. Kini, gilaran Kenan yang melakukan ucapan perpisahan. Tak perlu dengan pelukan, Kenan cuma perlu berkata:
"Berhati-hatilah di sana, dan fokuslah bekerja. Pulang harus bawa uang yang banyak, ya? Terus traktir aku," canda Kenan.
Namun, Anna hanya tersenyum hambar. "Kenan, tolong jaga keluargaku dan ..." Anna ingin menyebut Logan, tapi urung karena tak ingin mereka tahu bahwa dirinya masih mencintai Logan. "Oiya! Nanti, jenguk aku ke sana, ya?"
Kenan mengangguk, lalu menepuk lengan Anna pelan. "Udah sana! Nanti keburu terlambat. Kamu masih harus melakukan prosedur yang cukup makan waktu banyak lho."
"Iya." Angguk Anna, kemudian menatap Kenan dan Tasya dengan pandangan tak rela.
Perpisahan ini membuat air matanya kembali tergenang. Anna melangkah mundur perlahan, lalu berbalik seraya membawa troley menuju tempat pemeriksaan tiket. Air mata tak hentinya keluar, apalagi kala ingatan tentang Logan melintas di pikirannya.
__ADS_1
"Hari ini, aku akan pergi menanggalkan semua kenangan dan fokus pada kehidupan baruku. Semoga kau bahagia, Logan."[]
...Season 2 tamat...