
Mata Logan menyipit. Bahkan tertawa sinis melihat Anna tersenyum ramah pada Kenan. Bisa-bisanya wanita itu tebar pesona, padahal mau menikah dengannya. Maka dari itu, Logan buru-buru menghampiri meja itu.
"Kamu makan sendirian?" tanya Kenan, takjub melihat seporsi sate dan soto di meja.
"Ah, itu—"
"Dia makan sama aku," tukas Logan cepat, begitu sampai di sana.
Anna tertegun sekaligus heran melihat kehadiran Logan dengan napas terengah-engah. Apa pria itu ke sini sambil berlari?
Kenan menoleh ke arah suara itu, terkejut sekejab, lalu tersenyum. "Oh, pantas saja. Aku pikir, nafsu makan Anna meningkat karena sedang hamil."
Logan melengos sekejab. "Sedang apa kamu di sini?" tanyanya dengan nada sinis.
Seakan tahu isi pikiran Logan, Kenan menjawab dengan agak sarkastik, "Ya, mau makan siang lah. Masa mau jadi penguntit."
Anna menghela napas. Ada apa dengan dua pria ini? Apa mereka masih belum baikan juga? Malas sekali mendengar ucapan yang saling lempar sindiran itu. Lebih baik ia makan duluan.
"Ya, siapa tahu kan, kamu memang mau mengikuti kami karena ada Anna. Atau jangan-jangan, Anna yang menghubungimu. Iya, 'kan?" sindirnya, lalu melempar tatapan pada Anna.
Namun, gadis yang ditudingnya itu malah asyik menyantap sate, seakan tak peduli pada dua pria yang sedang berdiri di depannya sambil memperhatikannya. Logan mendengus dan menatap jengkel.
"Siapa yang suruh makan duluan?" omelnya kemudian.
Anna mendongak dengan ekspresi polos. "Makanannya keburu dingin nanti. Bagusan Bapak duduk, terus ajak Kenan makan siang bareng."
Eh! Tatapan Logan jadi sangar gitu? Anna sampai bergidik dan menutup rapat mulutnya. Kenan mengerti akan situasinya, meskipun tak tahu alasan di balik sikap Logan.
"Tidak apa-apa, Anna," katanya sambil tersenyum. "Aku akan makan di restoran lain saja. Sebenarnya, klienku salah memberitahukan nama restoran tempat kami bertemu."
Anna tahu itu hanya alasan, tetapi ia tidak mau membuatnya buruk di mata Logan. Jadi, ia diam saja.
"Aku pergi dulu. Selamat menikmati makan siang kalian, ya," pamit Kenan, lalu pergi meninggalkan mereka.
Logan menatap sinis ke arah kepergian pria itu. Logan menghela napas lega. Akhirnya, pengganggu sudah pergi. Anna meneliti ekspresinya, lalu mencemooh pria itu sambil bergumam.
"Kekanak-kanakan."
Ternyata, Logan mendengarnya juga. Padahal, suaranya sangat kecil. "Kamu bilang apa?" tanya Logan dengan nada agak meninggi, tersinggung.
"Bapak masih sakit hati karena dipukul Kenan waktu itu?" sahut Anna, mengalihkan topik pembicaraan.
"Sok tahu kamu," gumam Logan dingin sambil mengaduk sotonya. "Eh, tunggu! Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan?"
Anna mengabaikan pertanyaan itu, dan mencecar dengan pertanyaan lain. "Terus, kenapa sikap Bapak begitu? Apa salahnya kalau kita makan siang bareng?"
Kenan lagi! Kenan lagi! Apa tidak ada lagi yang bisa dibahas? Membuat Logan muak, sampai dia meletakkan sendok ke piring dengan kasar. Anna tersentak, menatap Logan yang juga sedang menoleh padanya.
"Saya ngajak kamu makan di luar untuk membicarakan soal pernikahan kita," ujarnya sambil mengetuk-ketuk meja dengan jari telunjuk.
"Lho? Memangnya kenapa kalau membicarakan soal itu bertiga?" sahut Anna, agak nyolot.
Logan mendecak. "Kamu itu polos, atau sengaja bikin saya kesal sih? Saya tidak mau ada orang ketiga di antara kita."
__ADS_1
Orang ketiga? Anna melongo sejenak. "Bagus dong. Tiga kepala lebih baik dari dua kepala. Pendapat orang lain juga penting, lho, Pak."
Perempuan ini benar-benar tidak mengerti, ya? Logan sampai mengepalkan tangan karena gemas. Apa ia sedang bicara dengan anak kecil? Masa, dia tidak mengerti? Jadi hilang nafsu makanannya.
Anna melirik polos. Entah kenapa pria itu masih saja tidak mau berbaikan dengan sahabatnya sendiri. Keributan itu telah seminggu berlalu. Ia pikir, Logan dan Kenan telah menyudahi perang dingin itu. Ah, tahulah! Bikin pusing. Lebih baik, ia habiskan saja makanan ini.
"Apa masih lapar?" tanya Logan tiba-tiba, melihat Anna begitu lahap makannya.
Sebenarnya, Anna ingin cepat-cepat menyudahi waktu makan siangnya bersama dengan Logan. Namun, bagaimana cara ia mengatakannya?
"Em ..." Tiba-tiba, Anna melirik jam tangannya. "Waktu makan siang mau habis. Bapak nggak balik ke kantor?"
Kenapa? Apa dia tidak nyaman denganku? Dengus Logan dalam hati sambil meraih gelas. "Apa aku harus mengulangi perkataanku, kalau kita ke sini untuk membicarakan pernikahan?"
Bibir Anna langsung terkunci. Tidak ada alasan baginya untuk menghindari pria itu. Percuma saja makan cepat-cepat dan memasukkan makanan ke dalam mulut banyak-banyak.
Logan tersenyum, melirik Anna yang makannya kembali melambat. Tebakannya benar, 'kan? Anna memang tidak suka dekat dengannya. Dia cuma mau bersama dengan Kenan. Kenapa? Apa Anna menyukai pria itu? Kenapa tidak menikah dengan pria itu saja?
Ah! Jadi kesal! Sampai ia menenggak satu gelas penuh air, lalu meletakkannya dengan menghentak. Anna tertegun, menatap skeptis. Ada apa lagi dengan pria ini?
"Eh, Anna! Kamu berpakaian rapi begini, tadinya mau pergi ke mana?" tanya Logan kemudian.
Mata Anna menyipit. Nada ucapannya itu begitu sinis. Apa dia memikirkan hal negatif tentangnya?
"Bukan urusan Bapak."
"Kamu janjian sama Kenan, 'kan?" tukas Logan, menuding.
Anna menoleh dengan mata melotot. "Kenapa cuma bisa menuduh orang lain? Nanti dia batuk karena diomongin terus, bagaimana?" omelnya.
Di sisi lain, Kenan tiba-tiba tersedak dan batuk saat tengah menyetir. Entahlah, apa memang karena sedang diomongi, apa memang keadaannya yang kurang fit?
Sementara itu, karena tidak mau kalah, Anna menjawab Logan, "Memang benar kok! Ah, tapi terserah! Yang pasti, tudingan Bapak salah!"
Habis itu, mereka terdiam. Logan sendiri sebenarnya sudah skakmat oleh ucapan Anna tadi. Soalnya, ia mengakui kalau Anna memang berkata yang sebenarnya. Bantahan keras Anna sudah membuktikannya. Namun, ia tetap saja penasaran pada rencana kepergian Anna tadi.
"Aku sudah cukup stres dengan kehamilan ini, tapi malah ditambah stres karena dipingit selama 3 hari di rumah," gumam Anna, termenung dengan dagu disandarkan pada telapak tangan kiri, sementara tangan kanannya mengaduk-aduk jus pakai sedotan.
Logan melirik. Oh, jadi dia benar-benar salah paham lagi. "Tapi kan, itu semua karena demi kesehatan kamu dan bayi itu," timpal Logan, suaranya agak melunak.
Gerakan Anna terhenti, lalu melirik Logan sejenak. "Ya, saya tahu," sahutnya. "Tapi, saya juga nggak seceroboh itu. Saya bisa menjaga diri saya sendiri kok."
"Ya, tapi yang namanya kecelakaan tidak ada yang tahu. Bisa aja terjadi saat kamu sedang berjalan-jalan sendirian ... atau," Tatapan menyelidik dan sinis Logan mengarah padanya, "kamu sengaja ingin melenyapkan bayi itu dengan mencelakakan diri sendiri."
Anna mendengus. Perkataan macam apa itu? "Mulai lagi deh! Bisa nggak sih, Bapak berhenti menuduh yang bukan-bukan pada saya? Dan lagi pula, kenapa kalau saya kecelakaan dan kehilangan bayi ini. Toh, Bapak senang kan, kalau saya keguguran? Jadi, Bapak bisa bebas, dan tidak perlu menikahi saya."
Sengit sekali gadis ini, sampai Logan tak bisa membalasnya. Ia kikuk, sampai tenggorokannya terasa tercekat. Lantas, ia melonggarkan dasinya sambil mendeham.
"Memang, rencananya kamu mau pergi ke mana?" tanyanya kemudian.
"Ke toko buku, ke taman, atau paling tidak ke rumah temanku," jawab Anna polos.
Begitu? Logan tidak menanggapinya lagi karena sedang berpikir. Makanan mereka hampir habis, menyisakan minuman saja. Logan mengelap mulutnya, lalu melirik arlojinya.
__ADS_1
"Mau jalan-jalan ke toko buku sebentar?"
Ini sebuah tawaran? Anna tidak bermimpi, 'kan? Kata itu terucap dari mulut sinis seorang Logan? Anna sampai menatapnya dengan tidak percaya.
"Hah? Bapak mau ngajak saya pergi?" tanya Anna, memastikan kalau telinganya tidak salah menangkap ucapannya itu.
Logan beranjak dari kursinya. "Ayo, cepat pergi!"
Ah, berarti memang ia tidak salah dengar. Anna buru-buru tersadar dari ketercengangannya, lalu beranjak dari kursi sambil meraih tasnya. Ia tersenyum girang, jalannya agak meloncat pelan.
Biarlah hanya pergi ke toko buku, meskipun bersama dengan pria dingin itu.
...☘...
Anna berjalan-jalan di rak yang berisi jejeran novel-novel. Logan sendiri lebih tertarik ke rak berisi buku filosofi, atau buku pengetahuan. Ada beberapa buku yang menarik baginya, tapi hanya dibaca sebentar, lalu diletakkan lagi ke rak.
Kemudian, Logan berjalan-jalan lagi ke rak yang lain. Tatapannya tiba-tiba mengarah pada sebuah buku bersampul gambar seorang ibu yang tengah hamil. Lantas, diraihnya buku itu, membaca judul bukunya di dalam hati.
Sementara itu, Anna sudah memilih tiga buah novel dari pengarang yang berbeda. Sekarang, tinggal membayarnya saja ke kasir. Anna mengedarkan pandangannya ke berbagai sudut tempat itu, mencari sosok si pangeran es.
"Ke mana dia pergi?" gumamnya.
Belum ada dua detik ia mengatakannya, akhirnya ia menemukan sosok itu. Ia tersenyum geli melihat betapa seriusnya pria itu ketika membaca.
"Memangnya, buku apa sih yang sedang dia baca?" gumamnya.
Penasaran sih, tidak. Tapi, tidak salah kan jika ia ingin tahu? Anna menghampirinya tanpa suara agar pria itu tidak menyadari keberadaannya dan bisa mengejutkannya. Anna memang sengaja ingin melakukan hal itu karena Logan suka sekali mengejutkannya.
Namun, Logan sudah menyadari keberadaannya ketika Anna hampir sampai di dekatnya. Logan berbalik ketika mendapati sosok Anna, ia terkejut, lalu menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya. Sialnya, bukunya malah jatuh karena sangking paniknya.
Logan buru-buru mengambilnya sebelum Anna yang meraihnya. Untung sampul buku dalam keadaan terbalik, jadi Anna belum sempat melihat judul bukunya.
Kenapa? Kok jadi panas dingin gitu? Gumam Anna dalam hati. Kemudian, tatapannya berubah curiga dengan mata menyipit dan menyelidik.
"Kenapa?" tanya Logan agak ketus dan kikuk, menyadari tatapan Anna itu.
"Nggak ada," sahut Anna, memilih untuk masa bodo pada apa yang disembunyikan Logan. "Saya mau bayar buku ini dulu. Kalau Bapak udah selesai baca, tolong tunggu saya di sini."
"Ah! Saya udah memilih buku kok. Sini, biar saya yang bayarkan—"
"Nggak usah, Pak. Saya bayar buku saya sendiri," sela Anna, menghela bukunya.
Logan memutar tubuhnya tepat ke hadapan Anna, menatap dengan pandangan dingin seakan tak setuju dengan penolakan gadis itu. "Anna, aku calon suami kamu. Jadi, kamu jangan pernah sungkan lagi padaku. Sini, biar saya bayar bukunya!"
Anna menyentuh dadanya, terpana lagi sambil menatap punggung Logan yang semakin menjauh. Hatinya mencelus. Meski ucapan Logan agak dingin, Anna merasakan ketulusan. Apa ini kehangatan yang tersembunyi dari diri Logan?
"Hei! Kenapa masih berdiri di sana?" tegur Logan, menyadari Anna tidak mengikuti di belakangnya.
Anna terkesiap, lalu berjalan ke arahnya sambil menyahut. "Iya, saya segera ke sana!"
"Sini bukunya!" Logan mengulurkan tangan pada Anna. "Biar aku yang bayarkan. Kamu cari tempat duduk dan tunggu aku di sana! Jangan keras kepala untuk menolak. Lihat! Antreannya cukup panjang."
Memang, yang mengantre di kasir cukup banyak. Namun, alasan Logan yang sebenarnya adalah agar Anna tidak tahu judul buku yang dibelinya. Anna pasti mencemoohnya kalau tahu bahwa buku mengenai kehamilan yang ia beli.
__ADS_1
Baguslah, Anna mengangguk setuju, lalu mencari tempat untuk duduk, setelah memberikan bukunya pada Logan. Pria itu langsung mengantre, memperhatikan kepergiaan Anna dengan waspada. Setelah gadis itu menjauh dan tak menengok ke arahnya, Logan menghela napas panjang.
Buku yang ada di tangannya ini, ditatapnya. Entahlah, kenapa ia malah membeli buku seperti ini? Apa ia mulai tertarik untuk menjaga bayi yang ada di dalam kandungan Anna?[]