
Oke, Logan tidak mencintai Anna, tetapi kehadiran Kenan membuat hatinya tidak tenang. Ia harap, Kenan tidak menyampari mereka, mencoba mencari perhatian Anna.
Akan tetapi....
Logan memalingkan wajah sambil mendengus. Kenan malah berjalan ke arah mereka. Dan yang membuatnya bertambah murung, Anna tersenyum pada pria itu.
"Hai, Anna," sapa Kenan, kemudian melirik Logan. "Hai, Logan. Apa lehermu sedang sakit, sampai menoleh ke sana?"
Alis Logan naik sebelah. Ucapan Kenan itu sama sekali tidak lucu, malah mengarah ke cemoohan. Anna pun setuju, dengan tertawa dipaksakan. Gadis itu begitu peka dengan situasi yang tidak mengenakan ini. Kedua pria itu saling berpandangan dengan segit, meski Kenan tetap mempertahankan senyumannya.
"Apa kabar?" tanya Kenan, yang kemudian menoleh pada Anna.
"Baik," jawab Anna canggung, cemas jika Logan sampai merengut.
Tapi kenyataannya memang begitu. Suasana hatinya yang buruk, dialihkan dengan memakan sepotong kue kering sambil memalingkan wajah. Hanya saja, ekspresinya tak bisa disembunyikan, apalagi cara mengunyahnya yang terlihat seperti sedang kesal.
"Syukurlah," jawab Kenan, tersenyum getir karena Anna menanggapi dengan seadanya. "Ini hari keduaku di London. Kalau kalian? Aku dengar kalian sempat berbulan madu di Manchester."
Logan menenggak seluruh jusnya, lalu meletakkan gelas dengan kasar, sampai Anna dan Kenan menoleh kaget padanya. "Memangnya kenapa? Tahu dari mana kalau kami habis dari Manchester? Apa kau stalker?" tanyanya setelah menoleh pada Kenan.
Kenan ternganga, lalu tertawa sinis. "Stalker? Pikiranmu jauh banget. Bukan rahasia lagi kalau kau pergi ke Manchester untuk urusan kerja sekaligus bulan madu."
"Terus," sahut Logan agak ketus. "Kedatanganmu ke sini untuk apa? Setahuku, kau tidak memiliki rekan bisnis di sini."
Pria itu terkekeh. "Aku memang bukan pebisnis, tapi klienku ada di sini. Jadi, aku ke sini bukan berarti tanpa kepentingan."
"Kalau begitu," Logan memiringkan kepala, menyindir, "kenapa kau ke sini?"
"Tentu saja aku diundang. Kau lupa kalau hubunganku dengan tante Aurellie sangat akrab dari dulu?" Jawaban sempurna yang sulit untuk dibantah Logan. "Saat aku bilang kalau aku akan ke London, tante Aurellie mengundangku ke pesta ini."
Semakin sulit saja Logan membalas Kenan. Logan memalingkan wajah, mengeram pelan dengan kepalan tangan meninju lututnya. Anna yang berada di antara mereka, melirik kedua pria itu secara bergantian dan merasa gugup. Atmosfir buruk mengelilingi mereka, bulu romanya jadi meremang, dan Anna membekap dirinya.
Melihat hal itu, Kenan maju selangkah, akan menyentuhnya sambil bertanya, "Kau kenapa Anna? Apa kau kedinginan?"
__ADS_1
Kedinginan? Konyol sekali? Logan memalingkan wajah sambil tersenyum sinis. Anna pasti hanya ingin mencari perhatian Kenan saja. Tapi, ia tidak akan membiarkan Kenan mengambil kesempatan.
Maka, Logan beranjak sambil membuka jas merah yang dipakainya, lalu ia kenakan ke tubuh Anna. Hal yang tidak biasa. Kenan tertegun, dan Anna menoleh pada Logan dengan tercengang. Untuk menegaskan bahwa istrinya tak boleh disentuh oleh Kenan, Logan mendekap Anna.
"Yuk, ke sana. Pesta barberque-nya mau mulai," kata Logan, tetap saja dingin dan cuek. Anna menunduk, mengepalkan tangan.
Pria ini memanfaatkannya untuk menutupi gengsinya seakan ia ini barang? Anna memberontak, menghela tangan pria itu dari pundaknya. Namun, Logan memegangnya erat sehingga tidak bisa terlepas.
"Oya!" seru Logan tiba-tiba. "Tolong bereskan piring dan gelas itu!" Lalu, Logan membawanya ke tengah-tengah pesta barberque yang digelar di meja sana.
Kenan mempersilakan mereka melewatinya, menatap genggaman erat Logan yang ada di pundak Anna. Senyum sinisnya terkembang, kemudian melirik pada gelas dan piring yang diletakkan di atas ayunan.
"Seenaknya saja dia menyuruhku," gerutunya, tapi akhirnya dibereskan juga piring dan gelas itu, lalu membawanya pada pelayan Aurellie.
Logan mengarahkan Anna untuk duduk di samping Aurellie, lalu Logan mengapitnya dengan duduk di samping Anna. Kenan tidak punya kesempatan duduk di samping Anna, tapi ia bisa duduk di samping si kembar untuk bisa menatap Anna yang ada di hadapannya. Logan jengkel karena Kenan masih bisa punya kesempatan untuk menatap istrinya. Jadi tambah tidak menyenangkan!
Pesta pun dimulai, Juan meletakkan beberapa kaleng bir dan beberapa kaleng minuman bersoda di atas meja. Pria berjanggut itu menawarkannya pada Logan dan Kenan, tetapi Kenan menolaknya karena tidak minum alkohol. Logan tersenyum mencemooh. Kenan seperti itu pasti untuk mencari muka di hadapan Anna. Ia sendiri tidak ragu mengambil kaleng bir untuk diteguknya bersama dengan daging barberque.
"Daddy, kenapa Daddy tidak menawarkan minuman itu padaku dan Jane?" tanya Jeane dengan polos. Aurellie tersenyum geli.
"Oh, jadi kalau kami sudah dewasa, kami boleh meminumnya?" giliran Jane yang bertanya.
Anna yang gemas dengan mereka, menimpali, "Sebaiknya jangan. Karena minuman itu tidak baik untuk kesehatan."
"Tapi, Papa meminumnya," protes Jeane.
"Kak Logan juga," timpal Jane seraya menunjuk pada Logan, yang sudah meminum dua kaleng bir.
Sebegitu frustrasinya pria itu sampai minum sebanyak itu. Kedua gadis yang pintar. Kenan jadi gemas pada kedua gadis itu, lalu tertawa. Ia ikut membantu dengan menyahuti mereka.
"Tapi aku tidak. Kalian tahu, sehabis minum itu, kalian akan jadi orang aneh. Makanya aku tidak mau minum." Kedua gadis itu menatapnya dengan mata membulat.
Orang aneh katanya? Logan diam-diam mencemooh sambil tersenyum. Ucapan omong kosong apa itu? Mendikte anak-anak dengan fakta aneh?
__ADS_1
"Oh," sahut Jeane seraya mengangguk. "Kalau begitu, kami tidak akan minum."
"Hm!" Jane mengangguk mantap. "Kami tidak mau menjadi orang aneh."
Para orang dewasa, kecuali Logan, tertawa kecil mendengar ucapan anak-anak itu, lalu melanjutkan pesta dengan menyantap berbagai hidangan. Aurellie menawarkan Anna untuk menyicipi sandwich dan soto buatannya, selain daging sapi berbumbu barberque itu.
Meski duduk mereka tak langsung berhadapan, Kenan masih bisa mengajak Anna untuk mengobrol. Logan tak bisa apa-apa, merenggut sambil meminum bir.
"Mom, Dad, kita dansa yuk!" ajak Jeane, tiba-tiba.
"Oke, tapi habiskan makanannya, lalu duduk sebentar," kata Aurellie, menyambut ide baik itu.
Meski masih tersisa hidangannya, piring sesudah mereka makan tetap dibereskan. Anna menumpuk beberapa piring kotor, lalu akan dibawanya ke dapur. Namun, Kenan menyusulnya, dan tiba-tiba merenggut piring itu. Anna menoleh terkejut, sedangkan Kenan tersenyum renyah.
"Kau sedang hamil, seharusnya duduk saja," kata Kenan.
"Memangnya, wanita hamil nggak boleh bergerak?" sahut Anna nadanya berseloroh. "Ini kan cuma beberapa piring, sama sekali nggak berat."
"Tetap saja. Kalau aku jadi suami, aku tidak akan membiarkan istriku yang sedang hamil melakukan pekerjaan seperti ini."
Langkah Anna terhenti, lalu menghadap dan menatap Kenan. Bercandaan ini sama sekali tidak lucu, dan Anna tidak menyetujui ucapan itu. "Kenan, sebaiknya kau berhenti mendekatiku. Kau tahu, betapa pemarahnya Logan itu. Aku tidak mau hubungan kalian merenggang. Sebaiknya, hentikan pertengkaran kalian."
Saran yang membuat senyum Kenan memudar sedikit. Ia mengerti maksud baik Anna. Lalu, ia tersenyum lebar, menyahutinya dengan nada meledek. "Tidak."
Setelah itu, Kenan berlalu begitu saja ke dalam ruangan, meninggalkan Anna yang tengah menatapnya heran. Setelah membantu membereskan piring kotor, Kenan menghampiri Anna yang tengah mengobrol bersama dengan Juan, Aurellie, dan si kembar sambil memakan buah. Kenan pun ikut nimbrung, duduk di sebelah Anna. Mumpung Logan sedang pergi entah ke mana.
"Kak, kan mom berpasangan dengan daddy, sedangkan aku belum punya pasangan. Kak Anna sama pasangan sama aku aja, ya?" Jeane memelas, menjalin kedua jemarinya di depan dada.
"Tidak!" sahut Jane kencang, lalu mengamit lengan Anna. "Kak Anna berdansa denganku!" Jeane tidak mau kalah.
Para gadis yang sudah akrab dengan Anna, memperebutkannya. Anna hanya terkekeh dan bingung.
"Jeane, Jane," tegur Aurellie lembut. "Jangan berebutan begitu. Kasihan kak Anna, tangannya ditarik-tarik begitu."
__ADS_1
Entah sejak kapan, Logan berdiri di belakang Anna, lalu memanggilnya dengan lirih tapi tegas. "Anna." Wanita yang dipanggilnya menoleh, tertegun. "Berdansalah denganku."[]