Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Kau Masih Istriku


__ADS_3

"B*doh." Anna mendengus. "Oh, ya ampun! Hei, sadarkan diri dulu, baru ngomong! Jangan menemuiku jika kau sedang mabuk!"


Menjengkelkan! Tidaklah penting menanggapi orang yang lagi teler. Anna meninggalkannya seraya menghentak-hentakkan kaki ketika melewati Woojin.


Namun, gerakan cepat itu tak bisa dihindari. Anna bahkan tak sempat terkejut begitu tubuhnya ditarik ke pelukan Woojin, dan bibirnya dikecup.


Anna membeku dan mendelik. Ketegangan perlahan surut kala pria itu *3***** bibirnya lembut dan bergairah. Anna terhanyut dengan mudahnya, menutup matanya seraya membalas ******* itu.


Ciuman ini mengingatkannya pada kenangan bersama dengan Logan. Cara mencium bibirnya hampir mirip, bahkan Anna merasa seperti dicium oleh Logan.


Tapi ... dia kan Woojin!


Tiba-tiba mata Anna mendelik, mulai tersadar. Anna mendorong tubuh pria itu hingga ciuman itu terlepas. Woojin tercengang, dan Anna berjalan mundur menjauhinya. Napas mereka terhela tak beraturan.


Namun, Anna mengernyit kala menatap Woojin lebih intens lagi. Saat memakai kacamata, Anna menyangka bahwa pria itu adalah Woojin. Namun, yang di hadapannya kini adalah Logan.


"Logan? Kau ... bagaimana kau bisa...."


Lirikan mata Anna tak sengaja teralihkan pada kacamata berbingkai tebal yang tergeletak di aspal. Anna meraihnya, lalu memperhatikannya dengan seksama seraya menduga-duga.


"Ini ... apa maksudnya Logan?" tanya Anna sembari mengacungkan kacamata itu. Saat sebuah kesimpulan muncul, Anna mendelik. "Kau memakai kacamata ini ... apa jangan-jangan kau...."


Wajah Logan memucat, tingkat kesadarannya meningkat meski masih mabuk. Logan memalingkan wajah, gugup bahwa semuanya akan terbongkar.


Anna berjalan maju ke hadapan Logan, rahangnya mengeras. Tak dinyana, kacamata itu dilemparkan pada Logan seraya memekik marah. "Apa maksudnya ini? Kau menyamar jadi Woojin dan membohongiku?"

__ADS_1


Logan tak sanggup menatap Anna, sebisa mungkin menghindar dengan sikap kikuk. "Aku ..."


"Apa? Apa yang mau kau jelaskan? Kenapa kau lakukan ini?" jerit Anna frustrasi.


Membantah percuma. Akhirnya, Logan memantapkan diri untuk menjawabnya. "Anna!" Logan meraih kedua bahu Anna, membawa tatapannya teralih padanya. "Aku tidak bisa menghapusmu, apalagi membencimu. Pernikahan yang aku lakukan dengan Nina hanya demi kepentingan bisnis. Sampai saat ini, aku masih mencintaimu."


Anna menghela kasar tangan Logan dari bahunya. "Nggak! Kita udah bercerai. Kau lihat sendiri kan waktu itu, Nina melabrakku. Dia menyangka aku menyembunyikanmu di sini. Seharusnya kau mengerti akan posisiku!"


"Aku tahu bukan hal itu yang kamu khawatirkan," tukas Logan, telah sadar sepenuhnya. "Aktingmu buruk saat kau berpura-pura mencium Kenan."


Anna terhenyak dengan mata mendelik, kemudian memalingkan wajah karena tersipu. Anna tak mengatakan apa pun karena percuma menyangkal.


"Dan aku terpaksa menikahi Nina karena ingin mempertahankan perusahaan sembari mencari cara untuk menyelamatkan perusahaan. Tapi aku bersumpah, aku tidak pernah menyentuh Nina sama sekali," lanjut Logan.


Anna percaya itu. Akan tetapi, ia menahan bibirnya untuk mengatakannya.


"Selama 6 bulan aku belajar bahasa Korea, meminta Farhad dan Yerina agar menjagamu." Telapak tangan hangat Logan meraih pipi Anna, mengelusnya dengan mencurahkan segala rasa sayangnya. "Surat gugatan cerai darimu aku sobek dan dibatalkan. Meskipun aku tak memberi nafkah batin, aku masih memberimu nafkah lahir. Setiap bulan aku meminta Yerina untuk menstranfer uang ke rekeningmu bersama dengan gajimu."


Mata Anna membulat, menyadari hal yang terlintas. Pantas saja, gaji yang diterimanya besar. Dugaannya benar, uang yang masuk ke rekeningnya setiap bulan bukanlah bonus.


"Pantas aja." Anna tersenyum geli. "Kau dan Yerin berkerjasama. Dasar pasutri itu."


Logan tersenyum haru. "Aku lakukan itu agar kita tidak bercerai. Sampai sekarang, kau masih istriku, Anna."


Logan mengecup kening Anna penuh kasih. Dan Anna menerimanya seraya menangis bahagia. Akan tetapi, Anna menjadi iba kala teringat pada Nina.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan Nina?" tanya Anna, saat pandangan mata Logan kembali tertuju padanya.


"Aku sudah menggugat cerai padanya," jawab Logan, matanya menggelap karena kebenciannya pada Nina. "Tapi, saat ini aku sedang menyelidiki otak dari korupsi yang dilakukan karyawanku dulu. Aku yakin, seseorang yang memerintahkannya agar membuat perusahan papa jatuh."


"Maksudmu," gumam Anna tertegun. "Ada konspirasi?"


Logan mengangguk serius. "Ya! Ah sudahlah." Ia melirik pada Anna, lalu tersenyum jahil. "Nanti saja bahas soal itu. Anna, aku merindukanmu. Sudah lama kita tidak..."


Anna melirik waspada, dan ia tahu maksudnya. Namun, gadis itu tak mau begitu saja menyerah padanya. Pria itu harus diberi hukuman karena mempermainkannya.


"Tidak apa?" tanya Anna, spontan mundur selangkah.


Namun, Logan terus mengejar demi keinginannya. Logan memajukan tubuhnya lagi, tatapan sensualnya diperjelas. "Anna, kita apartemenku, yuk!" ucapnya lirih, membujuk dengan manja.


Menggelikan. Anna hampir tak dapat menahan senyumannya. "Ngapain? Aku mau istirahat. Besok aku harus kerja," tangkis Anna, sengaja beralasan untuk menggoda Logan.


Namun, Logan menahan lengannya. Pria itu mendekatkan wajah, lalu berbisik di telinga Anna. "Ya udah. Jangan protes kalau aku paksa."


Belum sempat Anna terkejut, Logan menggendong tubuh Anna. "Logan, mau ngapain? Turunin aku!" protes Anna setengah berbisik.


Logan tersenyum mengolok. "Nggak akan, istriku yang nakal!"


Istri yang nakal? Anna mendengus, tetapi ia tak sempat mengomel. Logan memasukkannya ke dalam mobil, lalu bergegas ke kursi penumpang sebelum istrinya kabur lagi darinya.


Lantas, Logan melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Logan dan Anna saling bertatapan dan tersenyum bahagia. Tangan Logan yang bebas menggengggam tangan Anna, lalu menciumnya.

__ADS_1


Mulai saat ini, cinta mereka takkan terpisahkan lagi. Tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka selamanya.[]


__ADS_2