
“Hiss...” Gavin yang tak sadarkan diri menautkan kedua alisnya dan tubuhnya gemetar.
Pria itu kembali melihat dirinya sendiri yang berada di tengah hujan yang deras disertai petir yang menyambar dengan menggelegar.
“Gavin kembali !” Christine mengejarnya di tengah derasnya hujan. Kenapa kau melakukan ini tepat satu hari setelah acara pertunangan kita ?” berhasil mengejar pria itu dan menarik lengannya.
“Tak ada yang perlu dijelaskan. Kau tahu sendiri aku bukanlah seseorang yang bisa diikat oleh suatu hubungan dan Aku tak ingin terikat karena hubungan ini sehingga membuatku membatasi diri dari gadis lainnya.” Gavin berbalik dan menyingkirkan tangan Christine dari lengannya.
Gavin berjalan pergi berlalu meninggalkan Christine di tengah derasnya hujan. Ia lalu masuk ke mobil.
“Sayang siapa gadis itu ?” ucap seorang gadis di dalam mobil melihat dari kaca spion mobil. “Abaikan saja dia. Dia hanya teman ku di bangku SMA saja.” jawabnya tanpa menatap lawan bicara dan segera menyalakan mobil lalu segera tancap gas.
“craat...” air hujan memercik ke muka Christine setelah mobil Gavin meluncur dengan kecepatan tinggi.
“Gavin...” Christine berdiri sambil mengusap wajahnya. “Aku yakin akan bisa membuat mu bertekuk lutut di hadapanku dan mengemis cinta padaku.” mengepalkan tangan lalu berbalik dan berjalan menuju ke mobilnya sendiri.
__ADS_1
“Kau tidak bohong padaku bukan, gadis tadi bukan kekasihmu ?” tanya gadis merasa ragu. “Tentu saja bukan. Sudah kubilang kami hanya teman di bangku SMA.”jawab Gavin dengan tatapan serius yang membuat gadis itu percaya padanya.
“Untung saja kau percaya padaku. Kau ataupun Christine hanyalah boneka bagi ku. Jika aku merasa bosan aku akan mencari boneka lainnya.” tersenyum kecil melirik spion mobil melihat Christine yang sudah tak ada di sana.
Keesokan paginya.
“Argh... !” Gavin membuka mata dan tubuhnya berkeringat dingin. “Aku bermimpi buruk. Apakah aku benar-benar sebrengsek itu di masa lalu ?” duduk dan bersandar ke dinding sambil menarik nafas dalam-dalam setelah mengamati ke sekitar ruangan.
“Jadi antara aku dan Christine, apa benar tak ada cinta di antara kami ?” menarik kesimpulan dan tiba-tiba saja dia merasa lega karenanya.
“kriek.”pintu kamar terbuka dan seseorang masuk.
“Oh... ayah... aku kira ibu.” ucap Gavin sempat terkejut dan mengira itu adalah ibunya yang masuk ke kamarnya.
“Bagaimana kemarin setelah pergi dengan ibumu ke beberapa perusahaan ?” Matthew duduk di tempat tidur setelah menutup pintu kamar.
__ADS_1
“Ibu mengajak ku berkeliling ke... bla-bla dan bla...” Gavin menceritakan semuanya pada ayahnya.
“Beberapa hari lagi ibumu akan mulai bergerak. Dia sudah memasang perangkap. Hati-hati jangan sampai kau masuk ke perangkap nya. Dan ingat kita juga harus membawanya masuk ke perangkap kita.” Matthew mengingatkan kembali agar anak lelakinya itu tidak di celakai oleh istrinya lagi kesekian kalinya.
“Ya ayah.”
“Nanti malam kita akan kembali ke tempat Lawrence. Pastikan kau benar-benar siap melakukannya.” ucap Matthew kembali mengingatkan anak lelakinya saat sudah berada di depan pintu dan memegang handle nya.
“Ya ayah.”
Baru saja pintu tertutup tiba-tiba pintu itu kembali terbuka.
“Gavin kau belum bersiap sama sekali. Aku akan menunggumu di mobil selama sepuluh menit. Kuharap kau on time.” ucap seseorang yang masuk dan ternyata itu adalah Victoria.
“Baik ibu.” jawabnya dengan tegang membayangkan apa yang akan dilakukan wanita itu padanya setelah ini.
__ADS_1