
Keesokan paginya Feliks terlihat menelepon seseorang di rumahnya.
“Andrea aku ingin bertemu denganmu. Apa kau punya waktu hari ini ?” ucap Feliks setelah telepon tersambung. “Ya, nanti siang aku ada waktu.” jawab seorang gadis ditelepon. “Aku ingin minta bantuan mu, ini terkait dengan Gavin. Jika begitu kita bertemu di cafe coconut palm nanti siang.” lanjut Gavin.
“Ya, sampai jumpa.” balas Andrea dengan bersemangat karena hal itu berkaitan dengan Gavin, lelaki yang di kejarnya selama ini dan tentu saja ia akan melewatkan kesempatan kali ini.
Siang hari, Feliks keluar dari rumahnya menuju ke Cafe Coconut Palm. Ia duduk di sebuah kursi di dekat pintu masuk setelah memesan minuman sambil menunggu Andrea datang.
“Kemana dia belum datang juga.” Feliks melihat jam di tangannya yang menunjukkan sudah 15 menit ia menunggu bahkan minuman yang ia pesan sudah habis dan ia kembali memesan minuman untuknya. “Apa sebaiknya aku telepon saja dia.” mengeluarkan ponsel.
Di saat dia akan menelepon nomor Andrea, tiba-tiba ada seseorang dari arah belakangnya dan menyahut ponselnya.
“Hey... !” Feliks berbalik dan akan marah pada orang yang telah merebut ponselnya. “Kau mau menghubungiku ?” ucap gadis itu kemudian duduk di depan Feliks. “Andrea kau mengagetkan aku saja.” Feliks tak jadi marah melihat kedatangan wanita yang ditunggu-tunggunya sedari tadi.
Feliks menatap gadis super seksi di depannya dengan rambut pirang sebahu yang tergerai bebas.
“Jadi kau ingin aku melakukan apa pada Gavin ?” ucap Andrea tak sabar jika itu berhubungan dengan Gavin.
“Aku hanya minta bantuan mu untuk pergi bersama Gavin, mungkin makan siang atau sejenisnya saja. Lalu kirimkan foto-foto kalian berdua pada ku.” jelas Feliks. “Ingat hanya foto kedekatan kalian tidak lebih.” ucap pria itu saat melihat gadis yang berada di depannya tersenyum lebar dan bersemangat sekali.
“Bagaimana jika aku melakukan lebih dari itu padanya ?” balas Andrea menggeser duduknya maju dan tersenyum menggoda.
“Stop ! Tidak... tidak, jangan kau sentuh Gavin sedikitpun. Ingat itu.” Feliks kembali menjelaskan batasannya agar gadis itu tidak melanggarnya. Karena bagaimanapun juga Gavin adalah sahabatnya dan ia Tak sampai hati melakukan hal keji padanya.
__ADS_1
“Oke baik kapan aku akan mulai beraksi ?” tantang Andrea yang Ingin secepatnya segera bergerak. “Kau tunggu informasi selanjutnya dariku. Aku akan mengaturnya lebih dulu. Perkiraan dua hari ke depan, jadi kau harus siap pada hari itu.” balas Feliks memberikan penuturan lebih lanjut.
“Siapa yang tahu jika aku bisa melakukan hal yang lebih dengan Gavin ? Yang terpenting aku sudah mengirimkan foto kami berdua padanya.” Andrea mengambil minuman yang ada di meja yang sudah dipesan untuknya dan segera meminumnya.
Mereka berdua kemudian mengobrol sebentar dan berbincang seputar teman-teman mereka yang lainnya.
“Baiklah aku harus kembali bekerja sekarang.” Andrea berdiri dan berpamitan kemudian keluar dari cafe menuju ke tempat kerjanya.
“Gavin maafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu aku hanya menuruti saja perkataan Christine, dan itu aku jamin tak akan berpengaruh apapun padamu.” Feliks berdiri cara menghabiskan dua gelas minuman. Ia kemudian keluar dari Cafe dan kembali ke mobilnya menuju ke rumah.
Di lain tempat Gavin yang terlihat bersantai saat mendekati jam istirahat teringat pada Kyra.
“Selama ini aku belum membahagiakan dia atau pun membuatnya senang.” Gavin duduk dan menopang dagunya dengan satu tangannya. Ia kemudian berpikir mencari sesuatu yang berharga dan akan membuat gadis itu bahagia tentunya.
“Cincin pertunangan ?” Gavin mengeluarkan sebuah cincin dari saku bajunya yang merupakan cincin yang pernah ia beli sewaktu bersama Gadis itu di Ottawa.
Tanpa speaker panjang pria itu kemudian segera keluar dari ruangan dan menuju ke mobilnya setelah melihat waktu yang terus berputar.
“Klak.” Gavin menutup pintu mobil kemudian segera mengendarai mobil keluar kantor.
Tak berapa lama kemudian ia berhenti di sebuah toko perhiasan.
“Cincin yang kuberikan pada Kyra dulu adalah cincin biasa. Dan aku akan memberinya cincin sungguhan kali ini.” Gavin turun dari mobil kemudian masuk ke toko perhiasan.
__ADS_1
Ia berkeliling melihat-lihat semua toko perhiasan yang ada di sana dan berhenti di sebuah toko.
“Tolong sepasang cincin ini. Aku mau lihat dulu.” Gavin menunjuk sebuah cincin. “Silahkan tuan.” pelayan toko mengeluarkan cincin yang ditunjuk oleh Gavin. “Ini cincin keluaran terbaru bukan ?” Gavin melihat modelnya dan tak mempermasalahkan harganya meskipun itu terbilang tidak murah. “Itu cincin terbaru, tuan dan hanya ada satu saja kami tidak membuatnya banyak.”
Sesuai sekali dengan yang diharapkan oleh Gavin, sebuah cincin yang limited edition, elegan dan sangat pas untuk dirinya yang tak suka bila ada seseorang yang menyamai barang atau benda yang dipakainya.
“Baik aku mau ini. Tolong ukir nama di cincin ini.” Gavin menyerahkan kembali cincin tadi pada pelayan toko sambil menuliskan namanya juga nama Kyra pada secarik kertas kemudian menyerahkan pada pelayan toko tadi.
“Ini tuan pesanan anda.” Pelayan menyerahkan cincin pesanan Gavin sepuluh menit kemudian. “Ini untuk pembayarannya.” Gavin mengeluarkan kartu kredit unlimit nya dan menggeseknya.
Lima menit kemudian pria itu keluar dari toko perhiasan dan masuk kembali ke mobilnya menuju ke kantor.
“Kyra pasti akan senang menerimanya nanti.” menaruh kotak perhiasan yang ia taruh di dashboard dalam saku bajunya.
Malam harinya seperti biasa Gavin mengendarai mobilnya menuju ke airport. Empat puluh menit kemudian ia turun dari taksi dan tiba di tempat Kyra.
“Klik.” Gavin membuka rumah dengan kunci yang ia bawa. Ia berjalan dengan cepat masuk ke rumah karena tak sabar segera ingin menemui kekasihnya.
“Kyra... Kyra...” panggilnya setelah mengunci pintu. “Ya...” Gadis itu segera keluar dari kamarnya saat mendengar suara lelakinya yang familiar. “Ada apa ?” ucapnya setelah keluar kamar kemudian menghampiri Gavin karena biasanya pria itu masuk tanpa bicara dan lebih sering mengejutkan dirinya.
Gavin memegang tangan Kyra dan melepas cincin lama di jari gadisnya. “Gavin kenapa kau melepas cincin ku ?” Kyra menarik tangannya dan merebut cincin dari tangan Gavin.
“Ini untuk mu. Cincin baru pertunangan kita.” Gavin mengeluarkan sepasang cincin yang baru ia belinya. “Simpan saja cincin itu dan pakai yang ini. Dengan ini aku melamar mu secara pribadi.” Gavin menyematkan cincin ke jari manis Kyra.
__ADS_1