
Kyra duduk di sofa dan menatap kembali secarik pesan yang ia tulis.
“Gavin... semoga kau bisa mengerti alasanku.” Kyra terlihat sedih sekali karena terpaksa melakukan hal itu berpisah dengan Gavin untuk kebaikan mereka berdua tentunya agar Gavin bisa fokus dengan masalahnya dan ia juga bisa fokus membangun karirnya.
Dua jam kemudian semua barang sudah ia packing. Di depan rumah sudah ada pick up yang menunggu.
“Tuan semua barang sudah aku keluarkan tolong diangkut.” Kyra menghampiri driver sambil menunjuk beberapa tas dan koper besar yang ada di teras rumah. “Baik nona aku akan mengangkutnya.” driver turun dari pick up dan turun mengangkut semua barang yang ada di teras dan juga beberapa perabot rumah yang di tunjuk oleh Kyra sebelumnya.
“Apa sudah semua nona ?” ucap driver bertanya kembali untuk memastikan barangkali saja ada barang yang terlupa atau tertinggal.
“Sudah tuan. Kita berangkat saja sekarang.”
Pick up berangkat setelahnya menuju ke lokasi yang berada 50 meter dari kantor Kyra.
__ADS_1
“Gavin... selamat tinggal. Jagalah dirimu baik-baik. Aku sangat-sangat, sangat merindukan mu sekali.” Kyra menatap ke jendela ke rumah yang ia tinggali bersama lelakinya itu. Air mata kembali menitik dari kedua pelupuk matanya dan ia menghapusnya. Hatinya seperti teriris meninggalkan tempat itu dan juga Gavin.
“Nona kita sudah sampai.” Pick up berhenti di depan rumah baru yang disewa oleh Kyra.
Driver menurunkan semua barang dan perabot dari pick up dan memasukkannya ke rumah baru Kyra.
“Terima kasih tuan.” Kyra menyerahkan beberapa lembar uang pada driver tadi setelah ia selesai memasukkan dan menata semua perabotan di rumah.
“klik...” Kyra menutup pintu rumah setelah driver tadi pergi dari rumahnya. Ia membanting tubuhnya dengan keras ke tempat tidur.
Malam harinya, seperti biasa Gavin keluar dari rumah menuju ke tempat Kyra berada.
“klik.” Gavin membuka pintu rumah dengan kunci yang di bawanya.
__ADS_1
“Kenapa rumah dalam keadaan gelap begini ?” Gavin melihat hanya lampu luar saja yang menyala tapi di dalam rumah mati semua. “Apa dia ingin memberikan surprise padaku ?” tersenyum tipis tanpa pikiran negatif.
Pria itu kemudian berjalan dan menyalahkan lampu di rumah.
“Sayang...aku datang. Lihat apa yang ku bawa untukmu.” Gavin jalan menuju ke kamar gadisnya sambil membawa buket mawar merah. “Kyra... kau kemana ?” senyumnya tiba-tiba pudar setelah melihat kamar itu kosong tak ada apapun di sana.
“Kyra... Kyra ! Keluarlah jangan bercanda seperti ini !” Gavin keluar dari kamar dan menuju ke kamarnya yang ternyata di sana juga kosong. “Kyra... !” Gavin berlari menuju ke dapur dan ternyata di sana kosong.
Ia masuk ke kamar mandi di sana ternyata juga kosong. Ia kembali mencari ke seisi rumah dan tak menemukan sama sekali kekasihnya itu.
“Kyra kau ada di mana ?” Gavin duduk di sofa, matanya tertuju pada secarik kertas yang ada di sana dengan tulisan yang sedikit luntur di bagian ujungnya.
...Gavin... aku tahu ini mendadak. Aku percaya pada mu dan aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau selesaikan urusanmu dulu. Ada sesuatu yang harus ku urusi. Jangan cari aku sebelum urusanmu selesai. ...
__ADS_1
Tangan Gavin gemetar membaca secarik pesan dari gadisnya hingga buket mawar melayani bawanya jatuh ke lantai.