Terpikat Pada Pria Gila

Terpikat Pada Pria Gila
Eps. 22 Kembali Di Bully


__ADS_3

Alden tiba di rumah. Dia masuk ke dalam dan duduk di sofa sambil melihat lebam di tangan nya.


“Kenapa para penjual itu ekstrem padaku ? Aku tidak pernah mengganggu mereka, tapi mereka memperlakukanku seperti ini.”ucap Alden mengeluarkan semua kekesalannya.


“klak...”Kyra pulang dan membuka pintu. Dia menatap ke sekitar dan mendapati Alden yang duduk di kursi dengan lesu.


“Ada apa dengan mu ? Bagaimana jualannya hari ini ?”tanya Kyra sambil melepas sepatu dan menaruhnya ke rak sepatu.


Dia kemudian duduk di samping Alden dan menarik muka Alden karena diam tak menjawabnya.


“Astaga.... muka mu kenapa ?”ucap Kyra terkejut saat melihat ada goresan luka di pipi Alden.


“Oh... ini.... tak apa kak, hanya goresan kecil saja besok juga sembuh sendiri.”jawab Alden menyentuh pipinya yang tergores.


“Tunggu sebentar biar ku obati.”ucap Kyra. Dia langsung berdiri menuju ke kotak obat dan kemudian kembali membawa alkohol dan plester.


“Hiss....”ucap Alden saat membersihkan lukanya dengan alkohol.


“Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi, katakan padaku.”ucap Kyra sambil menutup luka Alden dengan plester.


“Begini kak...”Alden menceritakan semua kejadian dari awal sampai akhir pada Kyra.


“Sekarang aku tidak tahu harus jualan di mana.”ucap Alden terlihat lesu dan tak bersemangat sama sekali.


“Alden... semua orang punya masalah sendiri-sendiri. Dalam setiap bisnis modern yang kecil sampai besar pasti ada pesaingnya. Tinggal bagaimana dirimu bisa mengatasi itu dan tetap survive.”jawab Kyra memberi semangat Alden supaya tidak menyerah begitu saja dengan masalah kecil yang menderanya.


Alden yang awalnya terlihat lesu dan merasa tak ingin berjualan lagi di tempat itu serasa mendapatkan angin segar setelah mendengar nasehat dari Kyra yang membuatnya kembali bersemangat.


Keesokan paginya Alden terlihat kembali mendorong gerobak jualannya menuju ke sekolah St. Mariene.


Dia kembali berada di depan sekolah di dekat pintu gerbang masuk.


“Hei anak muda.... kau tuli atau apa ? Kenapa masih juga datang kemari ?”ucap seorang pedagang saat melihat kedatangan Alden.


“Maaf tuan... aku hanya ingin mencari sesuap nasi, sama dengan kalian.”jawab Alden dengan berani.


Para penjual yang ada di sana diam saja melihat dan mengawasi pergerakan Alden.


“kriiing.... !”bel jam istirahat berbunyi dan semua murid keluar dari kelas. Kembali murid-murid itu berdatangan dan memesan fried potato Alden hingga jualan lagi itu habis.

__ADS_1


Alden pulang mendahului penjual lainnya. Dia mendorong gerobaknya menuju ke rumah.


“Hey anak muda ! Kau benar-benar mengganggu kami di sini. Jika besok kami masih melihatmu di sini maka jangan salahkan kami jika kami berlaku lebih kasar lagi padamu !”ucap seorang penjual dengan tatapan marah dan melampiaskan kekesalannya pada Alden.


Alden hanya diam saja dan terus berjalan mendorong gerobak jualannya, mengabaikan ucapan para penjual tadi.


Keesokan paginya di depan penginapan terlihat Alden dan Kyra berjalan bersama.


“Alden aku berangkat dulu. Tetap semangat ya.”ucap Tang Su terlalu menunjuk ke taksi yang sudah berhenti di depannya.


“Ya kak tentu saja aku harus melunasi hutang kepadamu.”jawab Alden setelah taksi itu pergi jauh darinya.


“Tap... tap... tap...”Alden berjalan sambil mendorong gerobak jualannya menuju ke sekolah St. Mariene.


Di jalanan dia teringat kembali apa yang diucapkan oleh para penjual di sana sebelumnya pada dirinya.


“Apa aku mencari lokasi lain biar mereka tidak mengganggu ku ?”batin Alden yang ternyata takut juga dengan ancaman dari para pedagang di sana setelah sebelumnya mendapatkan luka di tubuhnya.


Alden kemudian berhenti satu meter sebelum sekolah St. Mariene dan di sana ternyata sepi hanya ada dirinya seorang.


“Sebentar lagi jam istirahat.”gumam Alden melirik jam tangannya.


Lima menit kemudian para siswa keluar dari kelas dan berhamburan menuju ke depan.


Beberapa anak kecil tadi kemudian merapat ke penjual lainnya.


“Tunggu.... lihat.... lihat di sana ! Bukannya itu paman penjual fried potato ?”ucap seorang anak lelaki menunjuk gerobak jualan Alden yang berada sedikit jauh dari sekolah mereka.


“Benar... paman itu ternyata pindah di sana.”jawab anak lelaki lainnya yang menetapkan arah temannya tadi menunjuk.


Mereka kok memberitahu temannya lainnya Dan akhirnya mereka berombongan beramai-ramai mendatangi gerobak jualan Alden.


“Paman aku pesan tiga.”


“Aku juga pesan dua paman.”


“Kenapa Paman pindah lapak ke sini ?”tanya anak-anak secara bergantian.


“Hmm... di sana sudah banyak penjual jadi paman pindah ke tempat yang sepi saja.”jawab Alden sambil menyerahkan pesanan mereka.

__ADS_1


Dalam sekejap jualan Alden kembali laris manis dan habis.


Beberapa penjual menatap anak-anak kecil yang kembali ke kelas.


“Jadi... anak muda itu sekarang pindah di sana rupanya.”ucap seorang penjual yang menemukan penyebab jualannya masih sepi meskipun tak melihat Alden datang.


Dengan cepat penjual itu pun berjalan dan mendatangi Alden.


“Hey anak muda ! Rupanya kau menantang kami ya ? Beraninya kau masih datang kemari !”ucap penjual itu dengan marah.


Penjual lain yang melihat temannya marah beramai-ramai mendatanginya dan membantunya mengeroyok Alden dan kali ini lelaki itu benar-benar babak belur dibuatnya.


“Jangan rusak gerobak jualanku !Aku belum membayarnya lunas.”ucap Alden berdiri dengan bapak belur menghalangi para penjual lainnya yang akan menghancurkan gerobak jualnya.


“Baiklah kami tidak akan menghancurkan gerobak jualan mu ini dengan syarat kau jangan pernah kembali ke sini mengerti ?”ucap penjual tadi tidak main-main dan menunjukkan muka galak mereka.


“Ya... !”jawab Alden. Dia pun segera pergi dan berjalan dengan cepat mendorong gerobak jualannya kembali ke rumah sebelum para penjual itu berubah pikiran dan menganiayanya lagi.


Beberapa saat kemudian terlihat lelaki itu berdiri di depan cermin untuk melihat dirinya.


“Muka ku lebam, dada ku juga. Hiss...”ucap Alden bercermin untuk melihat luka di tubuhnya.


“klak... !”pintu terbuka.


“Hah.... Alden apa yang terjadi pada mukamu ?!”ucap Kyra yang terkejut sekali melihat lebam di muka Alden setelah masuk dan menutup pintunya kembali.


Alden hanya tersenyum saja dan dia menceritakan apa yang terjadi padanya barusan.


“Sudah duduk dulu biar aku obati lukamu.”ucap Kyra menarik lagi itu untuk duduk di tempat tidur. Dia kemudian mengambil beberapa es batu dari kulkas dan mengompres ke luka lebam di muka Alden.


Beberapa saat kemudian Alden kembali duduk di sofa setelah Kyra selesai mengobatinya.


“Sudah jangan putus asa nanti kita pikirkan solusi untuk masalahmu.”ucap Kyra dan menyerah Alden untuk segera tidur.


Keesokan harinya Alden pagi-pagi sekali kembali mendorong gerobak jualannya. Kali ini dia mencari sekolah lain.


Alden berhenti di sebuah sekolah dan menggelar dagangannya di sana. Ternyata di sana jualannya juga laris manis, namun sayang hal itu kembali meminjam amarah para penjual yang ada di lokasi baru itu.


Setiap hari Alden mencari lokasi baru, dan jualannya laris manis bak kacang goreng. Namun hal yang sama terulang kembali beberapa kali yang membuat para penjual di sana merasa terancam dengan kehadiran Alden dan dan membuatnya kembali terusir.

__ADS_1


“Dimana lagi aku harus berjualan ?”gumam lelaki itu berjalan keluar dari sebuah sekolah dengan babak belur menuju ke rumah.


BERSAMBUNG....


__ADS_2