
Beberapa hari berlalu, Gavin sedikit tenang karena setelah kejadian itu Christine beberapa kali tidak menemuinya di kantor ataupun di rumah dan ia pun bisa menghabiskan malamnya dengan tenang bersama Kyra.
Tidak setiap hari pria itu menemui Kyra dan bermalam di sana. Karena ia sibuk dengan aksi balas dendamnya yang cukup menguras waktunya.
Suatu malam, Gavin bermalam di tempat Kyra. Mereka berada di tempat tidur.
“Aaah....” Kyra mendesah panjang di bawah tubuh Gavin sambil memeluk erat pinggang lelakinya itu. “Terima kasih sayang.” Gavin menarik tubuhnya kemudian berbaring di samping gadisnya.
Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
“Bagaimana dengan Christine, apa kau sudah memutuskan pertunangan kalian ?” tanya Kyra yang berada dalam dekapan Gavin, mengusap pipi kekasihnya. “Sebentar lagi aku akan membuat pertunangan itu benar-benar berakhir, bersabarlah sedikit.” Gavin mengecup bibir Kyra.
Kyra diam dan tak melanjutkan pertanyaannya. Baginya hal itu terasa lama tapi ia masih memberi kesempatan pada Gavin.
“Gavin kau tidak ingin melihat dan mengecek outlet mu ?” Kyra menatap intens lelakinya itu.
Gavin terdiam sejenak karena benar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. Tak terasa sudah satu bulan ia tak melihat sama sekali outletnya. Dan itu artinya ia harus meluangkan, tidak memaksakan meluangkan waktu untuk itu. Dan itu membuat kepalanya pusing.
“Kyra tidak semudah itu melakukannya. Aku harus melakukannya setahap demi setahap.” jelasnya sambil menggigit leher gadisnya. “Argh... !” Kyra memukul dada Gavin karena kesal.
Beberapa waktu yang lalu Gavin menemukan kartu kreditnya yang unlimited dan ia sudah membuka blokirnya.
“Apa mungkin sudah saatnya aku menggunakannya ?” gumamnya tersenyum kecil teringat pada kartu kreditnya dan juga rencananya yang seharusnya akan ia realisasikan beberapa waktu ke depan. “Kenapa kau tersenyum begitu ?” Kyra mengusap hidung mancung Gavin.
“Sayang aku akan menggunakan kartu kredit ku untuk bla-bla-bla....” Gavin menceritakan panjang lebar rencananya pada gadisnya dengan berbisik mesra. “Asal kau tidak menambahkan masalah buatku saja, aku akan mendukung mu.” balas Kyra berbalik dan memunggungi lelakinya.
“Apa kau mau membawa satu kartu kredit ku ?” memeluk Kyra dari belakang. “Buat apa ?” jawabnya tanpa berbalik. “Terserah mau kau apakan. Kau bisa shopping, beli rumah, beli mobil atau apapun itu sesuka mu.”
__ADS_1
“Tidak Gavin... aku tidak mau itu semua.” jawabnya menolak dengan keras. “Lalu apa yang kau inginkan ?” Gavin mempererat pelukannya. “Kau. Aku mau kau kembali ke sini dan menemaniku.”
Jawaban Kyra membuat Gavin semakin sayang padanya karena gadis itu tidak menginginkan hartanya sama sekali dan tulus mencintai dirinya apa adanya.
“Kyra....” Gavin membuka sedikit kaki Kyra dan merapatkan tubuhnya. “Gavin aku lelah. Besok banyak tugas di kantor.” Kyra menolak. “Kali ini sebentar saja.” ia pun kembali membenamkan dirinya.
“Aah....uhh...kau gila.” Kyra terus mendesah tanpa henti saat Gavin bergerak cepat berirama. Kyra kembali melayang dalam dekapan hangat Gavin dan hanya pasrah sambil menggigit jari tangan lelakinya itu.
Tiga puluh menit kemudian Gavin menarik tubuhnya dan memeluk Kyra dengan erat. Mereka tertidur pulas setelahnya.
Pagi harinya Gavin sudah berada di rumah dengan tubuh yang bugar dan berseri-seri. Ia bersiap untuk berangkat ke kantor.
“Broom.” Gavin kembali mengendarai mobilnya sendiri dan ia tampak bersemangat setiap kali semalam sebelumnya bermalam dengan gadisnya.
Gavin langsung beraksi dan menjalankan rencananya. Tanpa sepengetahuan ibunya, ia membeli sebuah ruko di beberapa tempat dan mengurus lainnya sebelum ia resmi membuka cabang outletnya di sana.
Tiga hari kemudian terlihat tiga ruko baru yang merupakan cabang Gavin di Ottawa dan menjual produk yang serupa dan sama persis.
“Aku baru pertama kali ini merasakan mie dari bahan potato dan rasanya luar biasa.” ucap pengunjung lain yang menikmati pesanannya.
Tak lama setelahnya berita tentang kelezatan rasa di sana tersebar dari mulut ke mulut dan dalam satu hari tempat itu terlihat penuh dengan pembeli yang berjubel.
Di dua tempat lainnya yang berlokasi 10 km dari outlet pertama juga terjadi hal yang sama. Tempat itu diserbu oleh pembeli.
Gavin berada di kantor. Ia duduk di kursinya sambil menatap layar ponselnya.
“Semuanya sesuai dengan harapanku.” Gavin membaca pesan yang dikirim oleh salah satu anak buahnya yang berada di outlet yang mengirimkan foto-foto outlet yang ramai padanya. “Aku harus mempercepat rencana ku.” ia menaruh kembali ponsel kemeja dan fokus menatap monitor di depannya dengan tangan yang bergerak cepat menyapu keyboard.
__ADS_1
Malam hari di rumah Gavin.
Victoria berada di ruang tengah. Ia duduk termenung dan masih terpikirkan pada angka-angka yang ada pada data di perusahaannya.
“Ooh... aku bisa gila jika terus memikirkannya.” Victoria merasa kepalanya pusing dengan beberapa data yang berubah di kantornya yang membuat perusahaan mengalami kerugian, tidak sesuai dengan harapannya.
“Matthew ambilkan obatku sekarang.” ucap wanita itu sambil memegang kepalanya saat melihat suaminya datang. “Ya baiklah.” Matthew mengambilkan satu botol obat khusus dan memberikannya pada istrinya.
Obat yang dikonsumsi Victoria bukanlah sembarang obat. Obat itu obat khusus dari seorang psikiater untuk gangguan mentalnya, BPD. Borderline Personality Disorder yang merupakan gangguan kejiwaan pada sikap dan tingkah laku temperamen, yang seringkali impulsif.
Victoria menerima obat itu dan menelan 3 butir pil sekaligus.
“Sayang kenapa kau minum melebihi dosis ?” Matthew melihat berapa pil yang di telan oleh istrinya. “Kau diam saja, kepalaku pusing.” jawabnya singkat dan menaruh satu botol obat ke meja.
30 menit kemudian wanita itu ternyata tidak membaik setelah meminum obat tiga kali dosis yang disarankan.
“Sayang sudah tak usah kau pikirkan urusan di kantor. Aku nanti yang akan mengurusnya untukmu jika memang ada masalah.” Matthew bergeser dan duduk lebih mendekat dengan istrinya.
Ucapan singkat dari Matthew ternyata menyulut amarah Victoria yang sedang dalam kondisi super sensitif.
“Kau ini tidak bisa membantu. Banyak omong !” Victoria menimpali dengan nada tinggi dan terlihat murka.
Ia pun berdiri dan berjalan menuju ke meja. Di sana ada beberapa barang yang tersusun dengan rapi.
“bugh...!” Victoria mengambil beberapa buku yang ada di meja dan melemparnya ke arah Mattew.
“prang.... !” Victoria mengambil beberapa gelas yang ada di meja dan membantingnya ke lantai.
__ADS_1
Masih belum puas, ia menggulingkan meja ke lantai.
“Cukup Victoria.” Matthew yang tak ingin tumbuhnya remuk di saat penyakit yang di derita istrinya itu sedangkan kambuh segera kabur dari sana.