
Keesokan harinya di suatu pagi di sudut lain di kota Atlanta, 50 km dari rumah Gavin.
“Cepat bawakan tas dan koperku ke dalam rumah !”ucap seorang wanita begitu turun dari sebuah mobil mewah pada seorang pelayan yang menghampirinya untuk menyambut kedatangannya.
“Selamat datang nona Christine.” memberi hormat pada nona mudanya. “Baik nona aku akan segera membawanya masuk.” membawa beberapa tas dan koper masuk ke dalam rumah.
“Nona pasti lelah setelah perjalanan dari Irlandia. Apa nona perlu di massage sekarang ?” datang lagi seorang pelayan wanita dengan membawakan handuk.
“Tidak... aku sedang tidak ingin massage. Buatkan saja aku lemon jus.”jawabnya terus berjalan masuk ke rumah.
“Ya nona.” yang tadi mundur dan tak berani menawarkan servis lainnya pada wanita itu. Bagaimana tidak, jika dia terus memaksa mungkin saja nona mudanya itu akan langsung memecatnya dari pekerjaannya saat ini.
Christine, gadis berusia 23 tahun dan barusan lulus kuliah di Irlandia kembali ke rumah setelah selesai menempuh studinya di luar negeri. Gadis yang merupakan keturunan dari keluarga Meyer, salah satu keluarga terpandang di sana.
Gadis itu menjadi manja karena dia merupakan satu-satunya anak perempuan keluarga Meyer. karena sering dimanja itu, membuat sikapnya menjadi keras dan suka berbuat semena-mena pada siapapun.
__ADS_1
“Sepi sekali di rumah ? Ke mana orang-orang ?” Christine melihat ruangan keluarga kosong dan ada siapapun di sana.
“Tuan dan nyonya di mana ?”ucapnya bertanya pada pelayan yang berdiri di ruangan itu masih kapan saja jika dia menyuruhnya.
“Tuan dan nyonya ada di kantor nona.”
“Lalu Steven ?”tanyanya lagi tidak mendengar suara adik lelakinya di rumah yang seringkali membuat bising seisi rumah.
“Tuan muda keluar sama temannya, nona.”
“Huft...”gadis itu hanya bisa mendengus kesal setelah duduk sebentar di sofa kemudian berdiri.
“Nona mau kemana ?” seorang pelayan menghampiri Christine yang berjalan keluar dari ruang tengah.
“Tidur.”jawabnya terus berlalu kemudian menuju ke kamarnya.
__ADS_1
“bam !”Christine membanting pintu kamarnya dengan keras untuk meluapkan kekesalannya pada keluarganya. Ia pun kemudian membanting tubuhnya ke tempat tidur yang empuk dan nyaman yang terbuat dari bulu angsa.
“kring... kring...” suara dering ponsel yang berbunyi.
Christine mengambil ponsel yang ada di dekatnya dan melihat siapa yang menelepon nya.
“Telepon dari ayah rupanya.” ia menaruh kembali ponsel itu ke sampingnya. “Berisik.” menoleh ke samping karena telepon kembali berdering berulang kali. “klik.” mematikan ponsel karena merasa risih dan membuat telinganya berdengung.
Gadis itu sengaja mematikannya karena tak ingin menerima panggilan dari ayahnya yang mungkin saja akan meminta maaf padanya karena saat ini dia sedang sibuk dengan berbagai urusan di kantor yang tak pernah ada habisnya.
“Gavin...” Christine tiba-tiba teringat pada sosok tunangannya. Sudah lama sekali dia kehilangan kontak dengannya saat beberapa bulan terakhir ini karena kesibukannya di salah satu Universitas Irlandia. “Bagaimana keadaannya sekarang ?” merindukan sosok tunangannya.
“Apa sebaiknya aku main ke sana, dan membuat kejutan untuknya. Dia pasti tidak tahu jika aku pulang 6 bulan lebih cepat dari jadwal seharusnya.” Christine duduk dan tersenyum lebar menatap foto Gavin yang tergantung di dinding.
BERSAMBUNG...
__ADS_1