
Malam hari di rumah. Kyra terus menggerutu dan mengerjakan setumpuk tugas dari Editor Oliver karena deadline dalam dua hari ke depan.
“Penat rasanya berkutat dengan tumpukan dokumen ini.” menarik nafas dalam-dalam dan beristirahat sebentar bersandar pada kursi sofa yang berada di belakangnya. “Coba saja ada Gavin di sini dia pasti mau membantuku.” kembali menghela nafas panjang karena Gavin hanya malam hari berada di sana dan pagi sekali lelakinya itu harus sudah kembali dan ia pasti lelah sekali jika masih merepotinya dengan tugasnya dari kantor.
Sepuluh menit beristirahat ia pun kembali mengerjakan laporan yang masih satu tumpuk.
“Ohh aku benar-benar sudah lelah.” Kyra menaruh satu artikel terakhir yang ia pegang kemudian duduk bersandar di kursi. “Mungkin Gavin tidak ke sini malam ini.” gumamnya kemudian tertidur di kursi setelah tangannya terasa pegal dan matanya terasa tebal tak kuat untuk terus terjaga.
Dua jam kemudian Gavin datang.
“klik.” pintu terbuka. Ia mengunci kembali setelah menutup pintu. “Kyra....”memanggil kekasihnya. “Astaga... ia tertidur di sini.”berhenti tepat di depan sofa tempat gadis itu tertidur.
Gavin melihat banyak kertas berserakan di lantai. Ia pun mengambil dan merapikan nya, menaruhnya di meja.
“Apa dia mendapat tugas lagi dari kantornya ?” duduk sebentar melihat artikel lain yang ada di meja dan hanya tinggal beberapa saja. “Ku rasa tugasnya semakin banyak dari biasanya.” Gavin kembali melihat setumpuk artikel yang ia rapikan tadi di meja.
Pria itu kemudian mengerjakan sisa artikel yang belum diselesaikan oleh Kyra yang ia selesaikan dalam waktu 30 menit saja.
“Sayang kau pasti lelah sekali.” Gavin mengecup kening Kyra setelah selesai mengerjakan artikel terakhir.
Ia kemudian membopong Kyra dan membawanya masuk ke kamar, lalu membaringkannya di tempat tidur.
“Oh uang lembur ku. Aku belum menyelesaikan tugas ku.” Kyra meracau dalam tidurnya.
Ia seketika bangun setelah teringat Jika dia belum menyelesaikan tugas dari kantor.
“Oh kenapa aku pindah di sini ?” gumamnya membuka mata lalu menoleh ke samping. “Gavin, kapan kau datang ?” terkejut melihat pria itu berbaring di sampingnya dan memeluknya.
“Chu.” Gavin mengecup bibir Kyra. “Satu jam yang lalu dan aku sudah 30 menit menemani mu di sini.” jelasnya.
Kyra kemudian duduk, dan Gavin mengikutinya duduk sambil memeluknya dari belakang.
__ADS_1
“Aku lelah sekali bekerja. Semakin hari tugas yang kudapat semakin menumpuk seperti ini, lama-lama bisa penat aku.” Kyra menumpahkan semua kekesalan dan kelelahannya pada kekasihnya.
“Jika kau lelah maka berhenti saja.” sahut Gavin singkat.
“What ? No.” jawab Kyra dengan cepat. Itu artinya jika ia tidak bekerja maka ia tak punya penghasilan, dan bagaimana ia akan hidup ? Bagaimana ia makan ?
“Jika kau menjadi istri ku kau tak perlu mengkhawatirkan masalah itu.” timpal Gavin seolah bisa membaca pikiran Kyra. “Kau pakai kartu kredit ku. Terserah mau kau pakai apa.”
Tiba-tiba terlintas indah dalam kepala Gavin.
“Bagaimana jika kau berhenti saja ? Lalu kau buka sendiri perusahaan media cetak ?”
“Oh saran yang benar-benar bagus. Tapi butuh biaya banyak untuk mendirikannya.”
“Pakai kartu kredit ku.” ucap Gavin mengulangi perkataannya untuk yang kesekian kali. “Ya itu bagus tapi mungkin tidak sekarang. Dan lagi, aku tidak mau menggunakan kartu kredit mu.” Kyra menolak dengan tegas karena ia tak ingin dikira memanfaatkan Gavin.
“Kau bisa pikirkan itu di saat senggang nanti.”
“Ya jika Terpaksa aku akan menggunakan kartu kreditmu tapi aku hanya akan meminjamnya saja dan akan mengembalikannya padamu jika tabungan ku sudah terkumpul.”Kyra bersikeras pada pendiriannya dan Gavin pun bisa berbuat apa-apa pada sikap keras kepalanya itu.
Beberapa hari kemudian.
Christine yang masih tidak terima dengan pemutusan pertunangan nya, mencari cara untuk balas dendam.
“Jadi Gavin sekarang bersama gadis yang bernama Kyra itu.” gumamnya setelah mendapatkan informasi dari salah satu pelayan Gavin yang ia suap untuk memberikan informasi mengenai pria itu padanya.
“Aku tidak bisa memilikinya, maka kau pun tidak boleh memilikinya juga.” ucapnya tersenyum lebar.
Christine kembali berpikir dan mencari cara untuk memisahkan mereka berdua.
“Bingo... aku dapat ide !” Christine kembali senyum lebar setelah mendapatkan sebuah ide untuk membalas semua kekesalan dan kekecewaannya selama ini.
__ADS_1
“Tentu saja aku butuh orang lain untuk membantuku. Dan Feliks pasti mau membantuku.”
Christine kemudian mengambil ponselnya dan segera menghubungi Feliks.
“Kring....” suara ponsel Feliks yang berdering.
Feliks yang berada dalam perjalanan setelah keluar dari kantor mengambil ponselnya dari dasbor.
“Telepon dari Christine ?” Pria itu tersenyum setelah mengetahui siapa yang menelepon dirinya.
Feliks segera mengangkat teleponnya.
“Halo sayang, ada apa ? Apa kau merindukan diriku lagi ? Kau ingin kita bertemu di hotel mana ?” ucapnya dengan tersenyum lebar dan mengira gadisnya mengajak ke hotel lagi setelah hampir setiap hari mereka check in di sebuah hotel dan bermalam di sana.
“Tidak ! Aku punya tugas untukmu. Aku ingin kau membantuku. Cari dan temukan seorang wanita dan jebak Gavin lalu kirimkan foto atau videonya padaku.” Christine menjelaskan rencananya.
Feliks udah siap mendengar perintah dari gadisnya. Ia berada dalam posisi dilema. Di satu sisi Gavin adalah sahabatnya dan ia sudah membantunya mendapatkan Christine. Di sisi lain Christine adalah gadis yang ia cintai dan tentu saja ia akan menuruti semua permintaannya dan tidak mengecewakannya.
“Bagaimana kenapa kau diam saja ? Jangan bilang kau akan lebih berpihak pada Gavin.” ucap Christine karena pria itu diam dan tak meresponnya selama beberapa menit.
“Ya sayang, tentu saja aku ada di pihak mu. Aku akan mengurusnya. Aku masih di jalan sekarang.” Feliks mengakhiri panggilan karena jalanan ramai.
Feliks tiba di rumah beberapa saat kemudian. Ia masuk ke kamarnya dan berpikir sejenak.
“Bagaimana aku bisa membuat Christine senang, tapi aku juga tidak melukai Gavin ?” gumamnya berpikir mencari ide.
Feliks kemudian membuka kembali ponselnya dan mencari nomor gadis yang bisa ia ajak untuk kerjasama.
Ada banyak nomor wanita di sana, dan beberapa di antaranya ada nomor mantan Gavin dan beberapa kekasihnya dulu.
“Siapa kira-kira yang tepat untuk menjalankan misi ini ?” Feliks kembali membaca daftar nama telepon yang ada di ponselnya, ia membaca pelan-pelan dan akhirnya berhenti pada sebuah nomor telepon.
__ADS_1
“Ku rasa Andrea lah yang tepat.” Feliks tersenyum kecil dan menaruh kembali ponselnya.
.