
Satu minggu berlalu, pencarian utusan ayahnya Gavin belum membuahkan hasil dan mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk lanjutan untuk membuka dan menemukan Gavin di Ottawa.
Di sebuah jalanan sebuah mobil hitam meluncur dan membawa enam orang body guard. Mereka kembali bertugas menjalankan misi untuk menemukan Gavin.
“kring... kring...”bunyi ponsel dari salah satu orang dalam mobil itu yang berdering.
Seorang lelaki mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan melihat siapa yang meneleponnya.
“Halo, ya tuan Matthew.”ucap lelaki itu setelah mengetahui tuannya yang menelepon dirinya.
“Kalian kembali saja ke Atlanta sekarang karena nyonya mulai mengirim utusannya untuk kembali melakukan pencarian Gavin. Kembali dan Ingat jangan sampai ada yang mengetahui jika kalian baru melakukan misi dan mencari di Ottawa.”ucap Matthew memberikan perintah terbaru setelah dia mengetahui jika istrinya akan kembali melakukan pencarian ulang.
Dua jam yang lalu Matthew yang pulang adek awal dari kantor masuk ke rumah dan berniat bicara dengan istrinya namun lelaki itu tak menemukannya di ruangan.
“Pasti dia ada di ruang kerja.”batin Matthew sambil menjinjing tas kerjanya.
Lelaki itu kemudian berjalan keluar dari sebuah ruangan dan menuju ke ruang pribadi yang biasa disebut sebagai ruang kerja.
Matthew berhenti sebelum dia mencapai pintu ruangan kerja karena mendengar suara percakapan, dan lelaki itu memutuskan untuk menunggu di depan terlebih dulu dan baru masuk setelah seseorang yang bicara dengan istrinya itu keluar dari ruangan.
“Bill... kau kembali lakukan pencarian sekarang di area Cleveland dan sekitarnya. Kirim semua orang yang ada di sini untuk mencarinya.”ucap Victoria berdiri dan memberikan perintah pada body guardnya itu.
“Baik nyonya.”jawab lelaki itu singkat.
Matthew mendengar suara langkah kaki body guard tadi akan keluar dari ruangan kerja istrinya dan dia pun segera berbalik arah kembali ke kamarnya.
“Jadi Victoria masih tidak menyerah juga. Jika begitu aku harus segera menarik utusanku dari sana.”gumam Matthew
Keesokan harinya Matthew berangkat masuk ke kantor seperti biasanya. Dia duduk di belakang dan bersandar ke kursi dengan tas kerja di sampingnya menatap ke depan.
Di tengah jalan, dia tiba-tiba duduk tegak dan memanggil driver nya.
“Putar balik dan bawa aku ke Ottawa sekarang juga.”ucap Matthew setelah merasa aman dan berjarak jauh dari rumahnya dan tak mungkin istrinya bisa melihatnya.
“Baik tuan.”jawab driver itu singkat tanpa bertanya dan dia pun segera memutar balik mobil kemudian melajukan kendaraannya menuju ke Ottawa.
Perjalanan menuju ke Ottawa tidaklah singkat dan diperlukan beberapa jam untuk tiba di sana.
__ADS_1
“Percepat lajunya.”ucap Matthew melihat jam di tangannya juga melihat keadaan jalan yang lumayan sepi tidak seramai biasanya.
“Baik tuan.”jawab driver tadi singkat dan sebenarnya dia penasaran untuk apa tuannya itu memintanya ke sana.
“Ada urusan apa tuan di Ottawa ?”batin driver tadi lirik Kesepian dan menatap tangannya yang duduk di kursi belakang.
Namun dia tak berani bertanya apa tujuannya ke sana, terlebih melupakan hal itu pada nyonya meskipun wanita itu selalu bilang untuk melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan oleh suaminya.
Tiga jam berlalu, mereka sudah memasuki Ottawa dan barusan melewati kota.
Matthew merasa lelah duduk di mobil dalam waktu yang lama dan ingin turun sekedar untuk melemaskan otot tubuhnya.
“Berhenti di sini, kita istirahat sebentar.”ucap Matthew setelah melihat banyak swalayan berjajar di sepanjang jalanan yang dia lewati.
“Ya tuan.”jawab driver tadi singkat.
Driver tadi masuk ke salah satu swalayan dan menuju ke tempat parkir. Matttew turun dari mobil sementara driver masih tetap duduk dalam mobil untuk menunggu.
“tap... tap... tap...”lelaki itu berjalan memasuki sebuah swalayan.
“Di sini ramai semua.”gumam lelaki itu melihat beberapa outlet yang dipenuhi oleh pembeli.
“Aku sedikit merasa haus setelah perjalanan yang cukup panjang ini apa sebaiknya aku membeli minuman dulu.”gumam lelaki itu merasa haus melihat seorang anak lelaki keluar dari sebuah out dengan membawa minuman dingin yang menggoda.
Matthew kembali berjalan untuk mencari outlet khusus menjual minuman saja, namun semua outlet menjual menu lengkap.
Dia berhenti di tengah jalan dan kembali menatap ke sekeliling. Semua outlet di sana terlihat ramai namun ada satu outlet yang terlihat lebih ramai daripada outlet lainnya.
“Outlet apa itu... kenapa di sana ramai sekali ? Apa yang dijual di sana ?”gumam Matthew lagi penasaran.
Dia pun memutuskan untuk pergi ke outlet yang menurutnya paling rame di antara outlet lainnya.
“Hanya fried potato rupanya, tapi kenapa bisa seramai ini. Apa kelebihannya ?”gumam Matthew setelah berhenti di depan sebuah outlet.
Dia melihat pembeli yang duduk di kursi dalam outlet itu di mejanya terdapat banyak pesanan untuk satu orang. Dia kembali melihat pembeli yang keluar dari outlet itu dan membawa satu kantung penuh fried potato.
“Apa rasanya seenak itu ?”batin Matthew melihat para pembeli yang ada di sana.
__ADS_1
Rasa penasarannya sangat tinggi dan dia pun akhirnya masuk ke outlet tadi dan melihat menu apa saja yang ditawarkan di sana.
“Sepertinya jika fried potato saja tidak akan membuatku kenyang. Baiklah aku pesan satu fried potato dan juga satu boba coffee.”ucap Matthew memesan setelah membaca semua menu yang ditawarkan di sana.
“Baik tuan.”jawab pelayan di outlet itu mencatat pesanan Matthew dan mempersembahkannya untuk menunggu terlebih dulu.
Matthew kemudian mencari kursi yang kosong dan menemukannya itu ada di dekat pintu masuk Outlet, di pojokan.
“Tak apalah aku duduk di sini.”ucap lelaki itu berjalan menuju ke kursi kosong itu kemudian duduk di sana, menunggu pesanan.
Tak lama kemudian melayang datang membawakan pesanan dan menaruhnya di meja Matthew.
“Terima kasih.”ucap Matthew pada melayani lagi yang mengantarkan pesanannya.
Aroma harum fried potato hangat yang ada di depannya mengundang selera makan lelaki itu, dan dia pun segera memakannya sebelum rasanya berbeda saat dimakan dalam kondisi dingin.
“Krauk....”Lelaki itu berhenti memakan setelah menelan satu gigitan.
“Astaga rasa ini... rasa ini adalah rasa khas tangan Gavin.”ucap lelaki itu gemetar dan menaruh kembali sisa gigitan fried potato yang dia pegang.
“Gavin... apa kau yang membuat ini ? Apa kau ada di sini ?”pekik lelaki itu terkejut dan kembali memakan sisa gigitan fried potato di tangannya untuk mengetes kembali rasanya dan ternyata dia cukup yakin jika itu memang rasa khas tangan Gavin.
Matthew berdiri dari tempat duduknya dia menetapkan sekitar untuk mencari Gavin yang mungkin saja ada di sana.
Matthew kemarin berjalan menuju ke pelayan outlet untuk menanyakan hal itu padanya.
Di tengah jalan tiba-tiba dari arah belakang ada seorang lelaki yang menabraknya karena berjalan terburu-buru.
“Bugh... !”
“Maaf...”
Matthew berbalik dan terkejut seketika saat melihat lelaki yang menabraknya.
“Gavin... ? Akhirnya aku menemukan diri mu.”ucap lelaki itu saat melihat wajah yang familiar baginya dan sudah lama dicarinya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1