Terpikat Pada Pria Gila

Terpikat Pada Pria Gila
Eps. 67 Rasa Yang Sama


__ADS_3

Keenam orang tadi segera menghabiskan menu yang mereka pesan. Di tengah makan mereka berbicara dan berdiskusi.


“Apa menurut kalian mungkin tuan Gavin ada di kota ini dan dia membuka usaha ini ?”ucap seseorang bertanya pada rekannya yang lain.


“Bisa jadi ya bisa jadi tidak. Ada kemungkinan juga satu persen orang memiliki kesamaan keahlian dengan yang lain, tapi juga ada kemungkinan juga itu sudah pasti orang yang sama.”jawab lelaki lain menanggapi.


“Jadi ada baiknya kita mengeceknya untuk memastikannya.”ucap lelaki lain menanggapi rekannya.


Tanpa banyak bicara lagi keenam orang tadi segera menghabiskan menu yang mereka pesan yang bercita rasa mirip dengan sentuhan tangan Gavin


Satu lelaki berdiri dan menuju ke kasir kemudian menghampiri salah satu pekerja yang ada di sana dan mengajaknya ngobrol.


“Permisi aku ingin menanyakan sedikit padamu tentang pemilik outlet ini.”ucap body guard utusan ayahnya Gavin.


“Ya tuan ada masalah apa, mungkin ada keluhan yang lainnya ?”jawab pekerja Alden.


“Ini sama sekali tak ada masalah pelayanan ataupun terkait menu makanan di sini. Aku hanya ingin tahu saja apakah pemilik dari outlet ini bernama Gavin ?”balas lelaki tadi dengan tatapan serius.


“Maaf pemilik outlet ini bernama tuan Alden, bukan Gavin.”jawab pekerja tadi menjelaskan.


“Ya baik terima kasih atas informasi dan kerjasamanya.”jawab pekerja tadi kemudian segera berlalu dari sana, bergabung dengan rekannya yang lain.


Lelaki tadi kemudian menjelaskan pada rekannya yang lain jika ternyata pemilik outlet ini bukan tuan muda mereka.


“Baiklah kita keluar dari sini sekarang dan lanjutkan pencarian.”ucap lelaki tadi mengajak rekannya untuk kembali ke mobil dan melanjutkan tugas mereka.


Tepat di saat mobil itu meluncur kluar dari Swalayan, Alden berjalan masuk ke lantai satu. Dia menoleh sepintas arah mobil yang melewatinya.


“Ayo cepat masuk, kenapa berhenti ?”ucap Kyra yang berjalan di samping Alden dan segera menarik lengannya sambil berjalan masuk ke lantai satu.


“Ya... tak perlu buru-buru.”jawab Alden ikut berjalan dengan pelan masuk ke swalayan.


Sesampainya di dalam, mereka langsung menuju ke outlet Alden. Terlihat semua kursi di sana masih penuh.

__ADS_1


“Kane sekarang sudah jam mu untuk pulang. Kau bisa pulang sekarang dan aku akan menggantikannya sore ini.”ucap Alden menghampiri pekerjaannya dan memberitahu jika sudah saatnya dia pulang, karena dia tidak memberlakukan jam lembur.


Kane melepas apron yang dipakai dan menaruhnya ke sebuah rak di ruang ganti. Dia berhenti sebentar menghampiri Alden setelah berganti baju dan bersiap untuk pulang.


“Bos... tadi ada seorang pembeli yang menanyakan siapa pemilik outlet ini, apakah namanya Ga--”ucap Kane bercerita namun belum selesai dia bicara ucapannya dipotong.


“Kane ayo cepat pulang aku sudah lama menunggumu selama 10 menit !”teriak Marco, pekerja Alden yang lain, menunggu di luar outlet.


“Ya... aku sudah selesai !”teriak Kane menatap ke arah luar outlet di mana temannya itu sedang menunggu dirinya.


“Bos maaf aku pulang dulu.”ucap Kane berpamitan pada Alden dan tidak melanjutkan ceritanya tadi.


“Ya pulanglah.”jawab Alden singkat dan segera masuk ke ruang ganti mengambil apron lalu memakainya.


Sementara Kane segera berlari menuju keluar outlet dan berjalan cepat bersama Marco keluar dari swalayan.


Di jalanan, seorang body guard yang tadi mau makan potato spaghetti mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telepon.


Lelaki itu sedang duduk dan memeriksa beberapa file yang ada di rak. Dia pun segera kembali ke mejanya dan mengambil ponselnya yang berdering.


“Ya halo... ada kabar apa ?”ucap lagi itu begitu melihat siapa yang menelponnya.


“Tuan... kami menemukan sebuah outlet di kota Ottawa yang menjual menu makanan dan rasanya mirip sekali dengan masakan buatan tuan Gavin. namun setelah kami menanyakannya ternyata pemiliknya bernama Alden. Tapi kami tidak bertemu langsung dengan pemiliknya itu.”ucap body guard tadi menjelaskan panjang lebar.


“Ya... lakukan penyelidikan lebih mendalam di daerah itu dan jika aku ada waktu akan ke sana sendiri.”balas Matthew kemudian segera mematikan panggilan setelah percakapan mereka berakhir.


“klik...”Matthew mengusap layar ponselnya dan mengunci kembali ponsel miliknya itu kemudian menaruhnya ke meja.


“Gavin... ayah harap kau ada di sana dan aku harus segera menemukan sebelum ibu menemukan dirimu terlebih dulu.”gumam lagi itu kemudian kembali duduk di kursi.


Dia nampak diam dan layar monitor di depannya.


“Gavin... sebenarnya itu bukan murni salah mu sampai menyebabkan suatu perusahaan collapse. Aku yang memintamu mengurusi perusahaan itu. Jika saja ibu mu tahu itu semua salahku, pasti aku yang akan di cuci otak olehnya. Wanita itu...”gumam Matthew menatap kosong ke luar.

__ADS_1


Flash back


Di sebuah perusahaan terlihat Gavin dan ayahnya sedang duduk di kursi dalam satu ruangan.


“Gavin... bagaimana, apa kau sudah melakukan sesuai Ayah arahkan padamu ?”tanya Matthew berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju ke lemari data.


“Ya ayah... aku sudah melakukan sesuai dengan permintaan Ayah. Aku sudah menjual saham perusahaan kita sepuluh persen pada pihak umum. Tapi itu semua tanpa sepengetahuan ibu. Apa itu tak apa dan selain itu apa kita tak akan merugi atau mungkin saja Sesuatu terjadi pada perusahaan ini jika kita menjual saham sebesar itu pada pihak umum ?”balas Gavin menganalisa kemungkinan buruk yang mungkin saja akan terjadi setelahnya.


“Tentu saja itu hanya ketakutan mu saja. Tak akan terjadi apapun pada perusahaan ini. Itu Salah satu cara untuk meningkatkan nilai jual saham perusahan kita menjadi lebih tinggi lagi.”balas Matthew dengan yakin sambil tersenyum.


Kembali ke masa sekarang.


Matthew berhenti melamun dan kembali fokus pada masalah saat ini.


“Aku harus menemukan mu terlebih dulu sebelum ibumu melakukan hal lainnya yang lebih buruk padamu.”gumam lelaki itu lagi merasa bersalah dan ingin menebus rasa bersalahnya pada putranya.


Dia kemudian kembali teringat pada laporan yang barusan diberikan oleh utusannya yang dia sebar di berbagai daerah.


“Apa benar kau ada di Ottawa ? Tapi itu jauh sekali dari lokasi tempat mu di buang oleh Victoria. Aku harap utusan yang ku kirim kembali menemukan informasi di sana, dan aku menantikan kabar bagusnya.”gumam Mattew mengambil beberapa dokumen dan menaruhnya ke meja.


Beralih ke Outlet Alden.


Terlihat Kyra dan Alden sedang melayani pembeli hingga malam hari.


“Tadi aku dengar Kane bicara padamu. Apa ada masalah ?”ucap Kyra di tengah-tengah kesibukannya membantu Alden.


“Tidak... dia bilang ada seorang pembeli yang menanyakan tentang pemilik outlet ini.”jawab Alden singkat.


“Oh ya... siapa pembeli itu ya ? Lalu ada apa dia ingin bertemu denganmu ? Apakah dia ingin mengajukan kerjasama atau sejenisnya padamu ?”balas Kyra bersemangat dan berpikiran positif.


“Aku tidak tahu. Jika memang orang itu serius pasti dia akan datang lagi dan mencari ku.”jawab Alden santai dan tenang sambil terus melayani pembeli yang datang semakin banyak di saat dia hampir tutup.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2