
Satu jam kemudian Gavin berhasil menyelesaikan separuh dokumen yang ada di meja.
“Aku harus memikirkan bagaimana cara memberikan counter back pada ibu.” Gavin berhenti mengerjakan tugasnya kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi dan diam sejenak. “Sepertinya aku harus mencobanya dulu.”
Setelah lima menit beristirahat ia kembali menegakkan punggungnya dan menatap monitor di depannya dengan serius. “klik.” memasukkan sebuah formula.
Pria itu tidak tahu dan secara tiba-tiba saja dia mengingat sebuah fomula, berupa virus yang akan tersimpan dengan aman pada data target, namun virus itu akan aktif secara otomatis setelah data target mulai dikerjakan pada main data.
Selesai menginfiltrasi virus ke komputer ibunya dengan kemampuan hacker yang tiba-tiba ia kuasai, Gavin kembali melanjutkan tugasnya. Kali ini ia mengerjakan dengan santai dan tenang.
Di ruangan lain di lantai 10. Victoria masih duduk di kursinya dan tersenyum lebar melihat Gavin yang masih mengerjakan tugas yang diberikan sambil memegang kepala. “Sepertinya dia pusing. berarti tugasnya memberikan padanya sangat berat.” terlihat puas melihat anak lelakinya yang merasa pusing. “Dan setelah masuk perangkap kau akan menerima hukuman yang pas denganmu.” mengakhiri melihat record CCTV di ruangan Gavin lalu menutup laptopnya.
__ADS_1
“klik.” Gavin kembali membuat CCTV yang ada di ruangannya bekerja dengan normal seperti sebelumnya setelah beberapa jam yang lalu ia menampilkan rekaman video palsu tentang dirinya sebagai antisipasi serta untuk melindungi dirinya sendiri.
“Gavin ayo pulang.” Victoria masuk ke ruangan Gavin dan melihat dokumen yang ada di meja. “Bagaimana apa ada kendala ?” tanyanya.
“Em... aku merasa ada beberapa data di sini yang tidak sesuai sama seperti dengan data yang pernah kulihat di kantor satu sebelumnya. Namun yang di sini lebih rumit. Jadi aku belum menyelesaikan tugas pertama ini.
“Ya tak apa, tak mungkin kan kau mengerjakan sekaligus dalam sekali duduk.” balas Victoria tersenyum lebar dan merasa puas dalam hati melihat anak lelakinya dalam kondisi kacau.
Sepuluh menit kemudian dua orang itu keluar dari kantor dan masuk ke mobil yang sudah menunggunya menuju ke rumah. Mereka perpisahan di tengah jalan dan menuju ke kamarnya masing-masing.
Malam hari satu jam sebelum keberangkatan Gavin bersama ayahnya menemui psikiater. Pria itu terlihat cemas sendiri berulang kali dia mengguncangkan kakinya pelan ke lantai berulang kali.
__ADS_1
“Aku tidak boleh takut. Dan sebelumnya memang aku sendiri yang sudah memutuskannya. Tapi kenapa aku masih merasa takut melakukan metode hipnosis ?” mengangkat kakinya dan meluruskan di tempat tidur sambil menyadarkan bahunya ke dinding dengan menutupkan kedua tangannya di wajah.
“Kyra... aku membutuhkannya saat ini.” Gavin tiba-tiba teringat pada sosok kekasihnya itu. Ia berdiri dan turun dari tempat tidurnya kemudian meraih ponsel yang ada di meja.
“kring...” ponsel Kyra berdering. Gadis itu sedang duduk dan mengerjakan tugas yang ia dapat dari editor Oliver. “Siapa yang menelepon.” meraih ponsel tanpa melihatnya karena banyaknya tugas yang harus ia kerjakan.
“Kyra... sayang. Aku rindu padamu. Aku membutuhkanmu saat ini.” ucap suara di seberang telepon. “Alden ?” Kyra segera melempar dokumen yang di bawahnya begitu saja setelah mendengar suara yang sangat familiar dan sangat dirindukannya.
“Kyra... aku akan mengikuti sebuah terapi sebentar lagi, untuk mengembalikan ingatanku. Aku sedikit takut menjalaninya.”
“Terapi apa ? Kau jalani saja terapi mu dengan tenang. Dan perumpamakan saja itu rekreasi bukan terapi.”
__ADS_1