
Gavin kembali merasa risih dan tidak nyaman sekali dengan tangan Andrea yang terus bergerak.
“Oh Andrea, maaf aku harus ke toilet sebentar.” ucap Gavin spontan agar dia bisa menjauh dari gadis itu. “Sayang sekali. Padahal aku sebentar lagi juga harus kembali ke kantor.” Andrea menarik tangannya dari paha Gavin dengan berat hati, baru mulai sudah harus berakhir.
“Kalau begitu kau kembali saja agar tidak terlambat ke kantor.” Gavin berdiri dari tempat duduknya. “Sampai jumpa lagi Andrea.” Gavin kemudian berjalan menuju ke toilet.
Setelah agak jauh dari sana ia berhenti sebentar untuk melihat apakah gadis tadi sudah pergi atau masih di sana.
“Huft.... untung saja dia sudah pergi. Jika tidak, aku tidak tahu bagaimana caraku untuk mengusirnya.” Gavin menghirup nafas lega sambil menekuk kedua tangan di pinggangnya.
“puk...” Feliks berjalan dari arah belakang dan menghampiri Gavin lalu menepuk bahunya pelan.
“Feliks ?” Gavin berbalik. “Aku kira siapa ? Mengagetkan saja.” terkejut saat melihat temannya itu tiba-tiba menepuk bahunya.
“Kau seperti bertemu seseorang yang menakutkan saja ?” ucap Gavin sambil tersenyum tipis.
“Ya... sebenarnya barusan aku bertemu dengan Andrea. Dan kau tahu itu dia sedikit genit. Maka dari itu kemari.” timpal Gavin menjelaskan.
Feliks hanya tersenyum. Terang saja, ia sudah mengetahui hal itu dan melihatnya dengan jelas karena memang dirinya yang merencanakan semua itu.
“Ayo kita kembali ke tempat duduk kita.” Feliks berjalan dan mengajak temannya itu ke tempat duduk mereka tadi.
Gavin yang merasa sudah lama berada di sana melirik jam yang melingkar di tangannya.
“Feliks maaf, aku harus kembali ke kantor sekarang dan tak bisa menemanimu.” tuturnya setelah melihat jam istirahat yang tersisa 10 menit saja dan itu pas untuknya kembali ke kantor.
“Ya sobat kembalilah, aku juga akan kembali setelah ini.”
Gavin kemudian berjalan keluar dari kafe dan masuk ke mobilnya. Sedangkan Feliks kembali duduk di tempatnya tadi.
__ADS_1
Setelah kepergian Gavin, ia pun mengeluarkan ponselnya.
“Christine pasti akan senang melihatnya.” Feliks melihat foto-foto yang sudah Ia tangkap tadi sebelum mengirimnya pada gadisnya.
Banyak foto yang iya tangkap namun ia memilih beberapa foto terbaik.
“Baiklah aku akan kirim foto ini.” Feliks Menghapus foto-foto Yang kurang sesuai dan menyisakan tiga foto saja kemudian mengirimkannya pada Christine.
“Ding.”
Christine yang di kamarnya dan sedang makan camilan meraih ponselnya yang ada di dekatnya setelah mendengar nada pesan masuk.
“Pesan dari Feliks ?” ucapnya membaca siapa yang mengirim pesan padanya. “Kuharap ini berita bagus.” ucapnya dengan semangat dan antusias melihat pesan yang masuk.
Terang saja pesan yang masuk untuknya berupa foto kiriman. Christine buka foto-foto itu dengan tidak sabar.
Christine pun kemudian menelepon Feliks.
“Oh dia menelepon. Pasti dia senang sekali atau mungkin saja berterima kasih pada ku.” gumam Feliks yang tersenyum melihat ada panggilan masuk dari Christine.
“Ya sayang. Ada apa ? Apa kau sudah melihat fotonya ?” sahutnya seketika dengan tersenyum manisnya. “Foto apa ini yang kau kirimkan padaku ? Kenapa hanya seperti ini saja ?” ucapnya dengan nada tinggi hingga Feliks menjauhkan ponselnya dari telinga.
“Lalu foto seperti apa yang kau inginkan ?” senyum Feliks yang mengembang seketika pudar saat mendengar omelan dari Christine. “Foto paling tidak foto mesra saat di hotel atau sejenisnya !” lanjut Christine dengan mengomel. “Kau sendiri kan tahu jika sulit sekali menemui dan mencari waktu kosong Gavin ?” Feliks membela diri dan tak mau disalahkan.
“Huh ! Dasar pria tidak becus kerjanya !” Christine bertanya lebih nyaring dan mematikan panggilan setelahnya.
“Ha... gadis itu bukannya berterima kasih malah mengumpat.” keluh Feliks yang merasa jengah karena usaha dan jerih payah tak dihargai sama sekali gadisnya. “Oh... ya sudahlah jika seperti itu masih dibilang salah. Terserah, kau cari foto sendiri saja jika bisa. Tugas ku sudah selesai.”
Feliks yang merasa kesal berdiri dari tempat duduknya kemudian hengkang dari kafe itu dan menuju ke mobilnya.
__ADS_1
Sementara itu Christine yang ada di rumah dan lelah mengomel sendiri panjang lebar tentang kebodohan Feliks membanting pasalnya dengan keras ke tempat tidur.
“Kenapa dia sama sekali tidak becus mengambil foto begitu saja tidak bisa !” Christine kembali mengumpat dan mengutuk kebodohan Feliks.
Christine meraih ponsel yang ia banting dan membuka kembali ponselnya melihat foto-foto kiriman dari Feliks.
“Sebenarnya dia tidak begitu bodoh juga.” Christine tersenyum kecil melihat foto di ponselnya. “Foto seperti ini saja sepertinya sudah cukup untuk membuat panas gadis bernama Kyra itu.” melihat foto Andrea yang memeluk Gavin dari samping, fotonya yang sedang berbisik, dan foto berhadapan yang seolah akan mencium Gavin.
“Ha.... Kyra tamat riwayat mu setelah ini.” Christine tersenyum lebar. Ia menunggu waktu yang tepat untuk mengirim foto mesra Gavin dan Andrea. Ia pun mengecek di ponselnya masih menyimpan nomor di situ atau tidak.
“Ini nomornya ternyata masih ada.” Christine menemukan nomor Kyra yang ia ambil beberapa waktu yang lalu dari ponsel Gavin.
Sementara itu hubungan Gavin dan Kyra menjadi semakin dekat setelah mereka bertunangan.
“Ding.” Kyra mengirimkan pesan pada lelakinya.
“Pesan dari Kyra.” Gavin mengambil foto agar mendengar nada pesan masuk dan mengeceknya siapa pengirimnya. Ia pun berbunga-bunga saat menerima pesan yang ternyata dari kekasihnya. “Tumben sekali dia memanggilku dengan kata sayang.” Gavin tersenyum gemas dan membalas pesan teks dari gadisnya.
Sementara itu Victoria semakin hari terlihat semakin pusing dengan data-data yang berbeda di semua kantor perusahaannya.
Wanita itu duduk di ruangannya sambil menatap monitor di depannya. Kebetulan dia saat ini berada di kantor 2 bersama Gavin.
“Astaga data macam apa lagi ini ? Kenapa angka-angka ini membuatku pusing saja saat melihatnya ?!” menaruh mouse yang ia pegang, bukan karena lelah dari tadi memegang nya. Tapi karena pusing melihat deretan angka yang jauh berbeda dari data yang sudah ia rekayasa sebelumnya.
“brak !” Victoria menggebrak meja dengan keras kemudian berdiri dari tempat duduknya. Ia segera mengambil obat yang ia simpan di dalam tas dan selalu ia bawa kemanapun dia pergi.
Wanita itu mengambil satu botol obat dan segera meminum setelahnya baru duduk kembali dan terlihat menjadi tenang beberapa saat setelahnya.
“Apa sebaiknya aku serahkan masalah ini pada Matthew saja ?” gumamnya lalu segera mengambil ponsel dan menghubungi suaminya.
__ADS_1