Terpikat Pada Pria Gila

Terpikat Pada Pria Gila
Eps. 137 Penat Dan Lelah


__ADS_3

Gavin kemudian menurunkan Kyra dari pangkuannya.


“Kita berangkat sekarang.” Gavin mengambil baju ganti yang ia ambil tadi dan memakainya.


Kyra juga ikut memakai bajunya.


“Lihat, kau merusak tatanan rambutku.” Kyra memegang rambutnya yang panjang tergerai. Satu jam lamanya dia menata rambutnya dan sekarang hancur akibat ulah Gavin.


“Aku akan menata rambut mu.” Gavin mengajak gadisnya duduk di depan sebuah cermin. Ia kemudian mengambil sisir dan mulai menyisir rambut panjang gadisnya. “Berikan itu pada ku.” meminta sirkam, alat penata rambut yang dipegang oleh Kyra.


“Ini... tapi apa kau yakin bisa memasangnya ?” Kyra menyerahkan seragam yang dibawanya pada Gavin dan menoleh ke belakang. “Kau lihat saja hasilnya nanti.”


Gavin kemudian membentuk rambut Kyra dan menatanya dengan anggun.


“Sudah selesai. Aku tahu ini tidak sebagus tatanan mu, tapi setidaknya bisa mengatasi masalahmu kali ini.” Gavin menyentuh bahu Kyra dan mengusap lembut pipi gadisnya.


“Ya lumayan juga, tidak buruk.” Kyra tersenyum kecil sambil menarik dagu Gavin dan mengecup bibirnya. Ia tak mengira saja bagaimana bisa pria itu juga menata rambut seorang gadis. Apa sebelumnya Gavin pernah belajar tata rambut ?


“Ayo kembali sekarang. Kita sudah satu jam lebih berada di sini.” ucap Gavin membayarkan lamunan Kyra tentang pria itu.


Kyra berdiri dan merapikan kembali bajunya sebelum melangkahkan kakinya.


“Kau yang membuat kita lama berada di sini.” timpal Kyra tak terima dengan perkataan yang seolah menyalahkan dirinya.


Mereka berdua kemudian keluar dari kamar Gavin. Baru saja tiga langkah melangkahkan kakinya mereka bertemu dengan Matthew.


“Gavin.... kapan kau datang ?” ucapnya menghampiri anak lelakinya. “Pagi tadi ayah. Aku membawa Kyra untuk menemui ibu.” Matthew menatap Kyra dan Gavin bergantian. “Dasar anak muda, siang bolong begini kalian berani berbuat seperti itu.” melihat kiss mark tipis di dada Kyra yang tak sengaja ia lihat.

__ADS_1


“Om...” sapa Kyra pada Matthew. “Ehem, ya.” jawabnya mengalihkan pandangan.


“Ayah... aku akan pergi dulu mengantar Kyra pulang.” Gavin berpamitan pada ayahnya. “Ya, hati-hati di jalan.”


Gavin beranjak dari sana dengan menggenggam erat tangan Kyra dan beberapa kali terlihat tersenyum kecil pada Kyra.


“Gavin kau sudah dewasa sekarang. Aku tak menyangka dengan hilangnya ingatanmu kau malah menjadi dewasa seperti ini. Dan gadis itu sepertinya bisa menjaga mu dan mengerti diri mu.” Matthew menatap satu-satunya putranya dan diam-diam ikut merasa senang melihat senyum yang tak pernah keluar dari bibir Gavin selama ini.


Mereka berdua kemudian masuk ke mobil dan berangkat menuju ke airport.


“Kau akan langsung pulang atau istirahat dulu nanti setelah sampai di rumah ?” ucap Kyra segera duduk di dekat jendela tanpa menunggu lelakinya memintanya terlebih dulu. “Kau ingin aku gimana ?” jawab Gavin sok cool dan memasang kacamata coklatnya.


Kyra tak menjawab. Ia menggelitik pinggang Gavin lalu bersandar pada bahunya.


Tak lama kemudian mereka berdua turun dari taksi dan tiba di rumah. Gavin yang merasa lelah segera masuk ke kamar dan membaringkan dirinya di sana.


“Gavin... dengar... aku ingin mengajak mu jalan-jalan nanti. Sudah lama kita tidak keluar bersama.” menyentuh dada Gavin. “Oh dia tertidur rupanya.” Kyra pun tak lanjutkan perkataannya dan memeluk pria itu kemudian ikut memejamkan matanya.


Beberapa hari berlalu. Suatu pagi di kantor tempat kerja Kyra.


“kring...” telepon di meja Kyra berdering.


“Ugh siapa lagi menelepon ?” gumam Kyra dengan bibir yang mengerucut setelah beberapa saat sebelumnya bos David juga meneleponnya dan meminta bantuannya. “klak.” Kyra mengangkat gagang telepon dengan kasar.


“Halo...” ucap Kyra.


“Tolong ke ruangan ku setelah ini.” balas suara ditelepon yang membuat Kyra terlihat semakin sewot setelah mendengar suara yang familiar baginya.

__ADS_1


“Ya editor Oliver.” balasnya singkat dan menaruh kembali gagang teleponnya dengan kasar setelah pria itu mengakhiri panggilan.


“Makin hari bukannya pekerjaanku makin berkurang tapi semakin menumpuk seperti ini.” gerutu Kyra berdiri dari tempat duduknya.


Ya sejak keberhasilan Crown Media beberapa waktu yang lalu dengan melonjaknya tingkat penjualan koran yang naik 60% dalam waktu singkat dan membuat posisi Crown Media menduduki posisi 20 besar, perusahaan itu kembali bergeliat dan semua staf yang ada di sana terlihat semakin sibuk saja.


“Pagi editor Oliver, apa ada yang bisa ku bantu ?” ucap Kyra Mengapa setelah masuk ke ruangan editor dan berbicara dengan sopan meskipun dalam hati mengumpat kesal karena pasti dia akan mendapatkan banyak tugas untuk dibawa pulang.


“Duduklah.”


Kyra kemudian duduk dan menunggu tugas selanjutnya yang akan diberikan padanya.


“Kyra... aku memberikan penghargaan padamu tulus dari hati. Dari staf lainnya yang pernah membantuku aku merasa hanya cocok denganmu. Oleh karena itu sekarang aku akan mengangkat mu menjadi asistenku.”


“What's the hell ???” pekik Kyra terkejut dengan penuturan editor Oliver. Itu berarti neraka baginya jika menjadi asisten editor Oliver karena tugasnya tak akan ada habisnya selain itu deadline yang diberikan oleh editor Oliver sangat ketat dan membuatnya serasa tak bisa bernafas ataupun berkutik.


“Emm.... editor... aku sangat menghargai dan berterima kasih atas pujian editor pada ku. Tapi maaf, aku tidak bisa. Aku takut melakukan kesalahan dan membuat editor tidak puas karenanya.” tolaknya secara halus tanpa bermaksud menyinggung sedikit pun.


“Celaka dia menolaknya lalu siapa yang akan membantuku nanti ?” Editor Oliver terlihat cemas karena gadis itu menolak tawarannya. “Kyra bagaimana jika aku memberikan tambahan libur padamu di hari jumat jika kau bisa mengerjakan semua sebelum deadline ?”


Kyra diam dan berpikir sejenak. Tambahan libur satu hari memang menggiurkan dan itu artinya ia punya waktu luang banyak di rumah dan menghabiskan waktu bersama kekasihnya lebih lama lagi.


“Bagaimana ?” tanya Editor Oliver lagi karena gadis itu belum menjawabnya juga. “Bagaimana jika aku menambahkan uang lembur untukmu ?” ucap pria itu lagi dan merupakan penawaran terakhir kan sudah tak ada yang bisa ia tawarkan lagi pada Kyra.


“Ya baik editor Oliver.” jawab Kyra tersenyum lebar dan tanpa berpikir dua kali ia langsung menerima tawaran itu.


“Bagus, jika begitu tugas hari ini, ini kau bawa ke ruangan mu sampai ruangan mu di sini jadi.” mengambilkan setumpuk dokumen setinggi 70 cm. “Apa ? Apa tidak kurang banyak lagi ? Memberiku dua kali lipat dari biasanya.” umpat Kyra dalam hati menjadi lemas ketika dan ia menyesal karena sudah masuk perangkap manis editor Oliver.

__ADS_1


“Harusnya tadi aku tidak menerimanya begitu saja. Benar saja aku mendapat tambahan libur satu hari, tapi tugas yang ku dapat dobel begini.” gerutu gadis itu perjalanan masuk kembali ke ruangannya.


__ADS_2