
Christine tersenyum lebar memeluk Gavin kemudian menyentuh pipinya.
“Sayang...” Gavin melihat Christine sebagai Kyra. Ia pun membalas pelukan Christine dan menyentuh bibirnya. “mmm.” Gavin mencium bibir Christine di bawah pengaruh obat. Ia pun beralih mencium leher tunangannya.
Christine yang merasa berhasil membuka kancing baju Gavin dan membuka bajunya dirinya. Ia memeluk kepala Gavin dan membenamkan dalam dadanya. “aah...” desah Christine saat Gavin bermain-main di sana.
Namun di saat Christine mulai aktif tiba-tiba Gavin berhenti.
“Gavin... apa yang terjadi ?” Christine memegang kepala pria itu dan melihatnya. “Astaga dia tidur.” melihat mata Gavin yang terpejam. “Sial ! Apa aku terlalu banyak dosis yang kuberikan padanya ?!” mengumpat kesal.
Ia pun membaringkan Gavin kembali ke tempat tidur. “Tapi bagiku begini sudah cukup.” Christine mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
Tepat di saat ia memegang ponselnya, ponsel Gavin berdering nyaring.
“Siapa yang meneleponnya ?” Christine mengambil ponsel Gavin dari saku celananya. “Kyra... siapa dia ? Pasti dia salah satu kekasih Gavin yang kembali.” membaca nama penelepon.
Christine tersenyum lebar menatap ponsel tunangannya. “Aku tak perlu repot-repot mencarinya dia muncul sendiri di saat seperti ini.” melihat ada kesempatan yang bagus untuknya dan ia tak akan melewatkannya begitu saja kali ini.
Christine membiarkan ponsel itu berdering beberapa kali dan akhirnya berhenti dengan sendirinya. “Aku pasti bisa membuka kode kuncinya.” Christine yang merupakan lulusan IT dengan mudah bisa membuka kunci ponsel Gavin.
Gadis itu kemudian melepas baju Gavin dan membuatnya bertelanjang dada. Ia kemudian berbaring di samping lelakinya itu dan menurunkan sedikit bajunya hingga batas dada dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
“klik... klik !” Christine beberapa kali mengambil foto mereka berdua dengan berbagai pose. “Sudah cukup menurutku.” berhenti memotret.
Christine duduk dan masih memegang ponsel Gavin. Ia mengingat nama penelepon tadi dan mencarinya di daftar kontak.
“Ketemu. Sekarang tinggal kirim saja foto tadi padanya.” Christine mengirim foto tadi.
Gadis itu kemudian mengembalikan ponsel Gavin ke tempatnya semula setelah menghapus pesan dan foto-foto yang ia ambil barusan. Ia pun merebahkan diri di samping Gavin.
__ADS_1
Di lain tempat di kamar Kyra.
Gadis itu terlihat gelisah dan berulang kali menatap jam dinding di kamarnya.
“Kenapa dia tidak memberiku kabar ? Dia bilang mau ke sini. Tapi sampai jam segini juga belum datang. Aku telepon berulang kali juga tidak diangkat.” menatap ponsel di tangannya dan merasa lelah berulang kali menelepon.
“Mungkin dia ada urusan mendadak. Sudahlah besok pagi saja aku akan meneleponnya kembali.” Kyra menaruh ponsel ke meja.
Ia kemudian naik ke tempat tidur dan menarik selimutnya.
“Ku harap kau benar-benar sibuk. I miss you, good night.” Kyra menatap bantal di sampingnya yang biasa di pakai oleh Gavin kemudian memejamkan mata.
Pagi harinya
Gavin yang masih merasa pusing membuka mata. “Dimana aku ?” melihat dirinya sudah ada di kamar. “Bukankah aku sebelumnya ada di restoran ?” duduk dan melihat tubuh bugilnya di balik selimut.
Deg
“Astaga apa yang ku lakukan semalam ?!” pekiknya terkejut dan merasa panik tidak karuan. “Kyra... !” ia pun ketika teringat pada kekasihnya karena ia berjanji akan menemuinya.
Gavin mengeluarkan ponselnya dan benar saja di sana banyak miss call dari Kyra.
“Tidak... apa yang telah kulakukan semalam dengan Christine ?” memegang kepalanya dan mengingat kembali apa yang terjadi semalam di antara mereka. “Aku ingat mencium Christine, tapi aku benar-benar tidak ingat apa yang kulakukan setelahnya.”
Gavin merasa syok berat dan tak tahu apa yang harus ia jelaskan pada Kyra nanti. “Mungkin jika aku tidak memberitahunya dia tidak akan tahu dan semuanya akan baik-baik saja.”
Christine kemudian membuka mata dan duduk. Ia melihat Gavin yang sudah bangun terlebih dulu.
“Sayang... kau sudah bangun.” Christine bergeser mendekat lalu memeluk tunangannya dari belakang. “Aku benar-benar tak mengira semalam kau sangat nakal, tapi aku senang itu.” berbisik lirih di telinga Gavin.
__ADS_1
Gavin menyingkirkan tangan Christine dari tubuhnya.
“Bagaimana aku bisa ada di sini ?” Gavin segera berdiri dan mengenakan pakaiannya.
“Kau mabuk berat semalam, dan aku mengantar mu pulang lalu kau menarik ku ke tempat tidur.” jelas Christine dengan lancar.
“Aku tidak percaya apa yang kau ucapkan. Kau pasti melakukan sesuatu padaku !” Gavin terlihat marah menatap tunangannya itu. “Keluar kau sekarang dari kamarku !” membentak hingga Christine menutup kedua telinganya.
Christine gemetar melihat tunangannya yang marah padanya. Ia pun sekarang menggunakan bajunya dan keluar dari sana.
“braak.... !” Gavin membanting pintunya setelah gadis itu keluar. Ia pun memukul tembok dan menyandarkan kepalanya di dinding. “Kyra maafkan aku.” tertunduk dengan penuh penyesalan. “Sialan kau Christine !” mengepalkan tangannya erat.
Di kamar Kyra. Gadis itu beraktivitas seperti biasanya. Setelah bangun ia pun segera masuk ke kamar mandi untuk bersiap berangkat kerja.
“Aku belum menelepon Gavin.” tiba-tiba teringat saat ia kembali masuk ke kamar dan menata ponsel yang tergeletak di meja.
Kyra mengambil ponselnya dan akan menghubungi nomor kekasihnya.
“Ada pesan masuk dari Gavin.” ia pun membuka pesan itu dan tersenyum tipis karena mengira lelakinya itu pasti mengirimnya pesan manis sebagai permintaan maaf karena semalam tidak jadi datang ke tempatnya.
“klik....” Kyra membuka pesan masuk. “Ini... !!” Seketika terkejut saat melihat foto yang masuk. “Gavin... Bastard ! Kau ternyata selama ini membohongi diriku. Kau tidur dengan tunangan mu !” melihat foto Christine memeluk Gavin dalam satu selimut.
Gadis itu mengepalkan tangannya dengan erat. “Bastard... ! Bodohnya aku percaya pada semua kata-katamu dan rayuan mu. Kau benar-benar penipu ulung !” umpat Kyra dengan air mata yang berderai.
“bugh... !” ia pun membanting ponselnya ke lantai. “Kau jahat sekali Gavin. Setelah apa yang kulakukan semuanya padamu. Inikah balasan mu padaku ?” menangis terisak karena merasa benar-benar dipermainkan oleh pria itu.
“Kau bilang akan memutuskan hubungan pertunangan mu. Ternyata apa ? Kau menjijikkan ! Kau kejam sekali. Bahkan mengirimkan foto itu sendiri padaku.” tak bisa berhenti menangis.
Satu jam lamanya gadis itu menangis di kamar. Ia pun melihat jam dinding yang menunjukkan waktu jika sebentar lagi dia akan masuk.
__ADS_1
“Aku harus berangkat sekarang.” Kyra menghapus air matanya lalu mengambil tas kerjanya setelah membetulkan riasan untuk menutupi matanya yang bengkak sehabis menangis agar tidak terlihat oleh siapapun.
Gadis itu kemudian meninggalkan ponselnya di rumah dan berangkat kerja. Ia menunggu taksi yang lewat di jalan dengan rasa perih yang teramat sangat.