
Gavin menatap pendulum berwarna coklat di depan matanya. Matanya mengikuti ke mana arah bandul itu bergerak. Semakin lama gerak bandul itu semakin cepat.
“Konsentrasi. Dengar perintah ku selanjutnya.” Lawrence memperlambat gerak pendulum yang ia pegang saat melihat Gavin sudah masuk dalam kondisi alfa. “Pejamkan mata mu sekarang.” Gavin memejamkan matanya dan menunggu perintah selanjutnya.
“Dalam hitungan ketiga kau akan memasuki tahap tidur. Dan semakin aku menghitung semakin bertambah dalam fase tidurmu. “Lawrence memberikan perintah lanjutan. “Satu.” Gavin terlihat semakin lelap. “dua.” semakin memasuki fase tidur mendalam. “Tiga.” Gavin berada alam bawah sadarnya.
Lawrence terlihat menarik nafas dalam. Ia pun kemudian duduk di kursi di depan Gavin.
“Apakah begitu saja ? Dan ini sudah selesai ?” tanya Matthew yang menunggu dan berdiri di samping Gavin.
__ADS_1
Lawrence tidak menjawab dengan kata-kata dan dia hanya menggoyang tangannya yang berarti belum selesai dan jangan mengganggu atau proses ini akan gagal di tengah jalan. “Baik aku mengerti.” Matthew seketika terdiam dan tak berani bertanya apapun lagi setelahnya.
Lawrence kembali fokus dan konsentrasi. “Gavin ikuti perintah ku.” berdiri dari tempat duduknya. “Aku akan kembali menghitung sampai hitungan ketiga. Di setiap hitungan kau akan semakin rileks.” memberi perintah selanjutnya. “Satu.” Gavin terlihat lebih tenang “dua.” terlihat semakin tenang. “tiga.” mencapai ketenangan.
Gavin terlihat hampir jatuh dan Lawrence menahan tubuhnya kemudian merebahkannya pelan-pelan di tempat tidur.
“Kita mulai tahap berikutnya.” Lawrence mengusap keringat yang mulai mengalir dari dahinya. “Gavin kembali ke masa lalu mu ke ingatan sebelum ingatanmu dihapus.” memberi jeda lima menit. “ Gavin saat ini kau berada di masa usiamu 24 tahun. Ingat apa dan siapa yang paling berkesan bagimu.” kembali memberi jeda 5 menit sebelum melanjutkan ke perintah berikutnya.
“Gavin sekarang dengarkan perintahku. Dalam hitungan ketiga kau akan kembali bangun dari kesadaran mu. Di setiap hitungan kau akan membuka setiap lapisan tabir yang menutupi Ingatan mu.” Lawrence kembali memberikan perintah untuk menarik kesadaran pria itu kembali. “Tiga.” Lawrence menghitung mundur. “dua.” Gavin terlihat menggerakkan ujung tangannya. “Satu.” membuka mata.
__ADS_1
“Gavin...” Matthew menatap anak laginya yang barusan sadar dengan cemas. “Ayah...” Gavin tersenyum menetap lelaki di sampingnya dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya, di mana tatapan matanya kembali seperti tatapan matanya saat ingatannya belum hilang.
“Tuan Gavin apa yang kau rasakan saat ini.” Lawrence mengajukan pertanyaan untuk mengetes apakah ingatannya memang benar-benar sudah kembali atau belum.
“Terimakasih tuan Lawrence. Aku sepertinya membawa ingatanku kembali.” ucapnya dengan tempo yang lebih cepat daripada sebelumnya.
“Apa benar ingatannya sudah kembali ? Nada bicara Gavin dan tatapan matanya sudah berubah seperti dulu, dingin dan angkuh tidak lagi lembut seperti saat ia lupa ingatan.” menatap dan mengamati Gavin.
“Gavin apa kau ingat tanggal lahir mu ?” Matthew mencoba mengetes apakah anak lelakinya benar-benar sudah pulih. “10 November 25 tahun yang lalu ayah.” jawabnya singkat.
__ADS_1
“Astaga kau benar-benar sudah pulih.” Matthew tersenyum lebarnya sembari memeluk Gavin.
“Aku senang sekali metode yang sangat melelahkan ini ternyata berhasil. Selamat tuan Gavin, kau berhasil menyingkirkan penghalang di ingatan mu. Kau luar biasa sekali.” Lawrence memuji keberhasilan pertama pasiennya dengan metode hipnosis ini.