
Sore hari Gavin bersiap untuk pulang. Dia merasa tubuhnya kaku dan melakukan peregangan dengan berdiri lalu menekuk tubuhnya ke kiri dan ke kanan selama beberapa menit.
“Begini lebih baik.” Gavin kembali duduk dan bersiap mematikan komputer.
“Gavin.” Victoria memanggilnya dan berjalan dengan cepat masuk ke ruangannya.
“Kau sudah selesai dan mau pulang ?”Victoria menghentikan niat Gavin untuk mematikan komputer.
“Tunggu... aku hanya ingin melihat saja hasil kerjamu selama dua hari ini seperti apa.”ucapnya mengambil alih tempat duduk Gavin dan Menatap layar monitor di meja. Ia terbelalak saat melihat data yang ia berikan pada Gavin ternyata sudah di edit.
“Kenapa data rekayasa yang kuberikan malah berubah menjadi data yang asli di tangannya ? Ini aneh sekali, kenapa dia bisa mengingat semua data ini dalam kondisi amnesia, apa ingatannya sudah kembali ?”batin Victoria curiga.
“Gavin... bagaimana kau bisa mengganti data seperti ini ?”ucap Victoria berbalik.
“Ibu... sebenarnya aku mencocokkan beberapa data kemudian menggunakan rumus dan mencari kesalahannya.”
__ADS_1
“Begitu rupanya.”jawab Victoria merasa lega karena ternyata itu hasil dari mencocokan data bukan karena ingatannya pulih.
“Aku juga tidak tahu kenapa data itu bisa berbeda. Sepertinya staf di sini yang salah mengentrinya.”jawabnya menyerahkan orang lain dan melimpahkan kesalahannya pada staf di kantor untuk menutupi dan melindungi dirinya sendiri.
Gavin hanya menarik nafas panjang saja melihat sikap ibunya yang seperti domba berbulu serigala itu.
“Ibu jika tak ada yang salah maka aku akan mematikannya.” Gavin memegang mouse yang ada di meja dan menatap Victoria yang mengangguk, maka dia pun segera mematikannya.
Mereka berdua kemudian segera keluar dari kantor dan masuk ke mobil.
“Kurasa Gavin tidak akan menjadi ancaman ku. Apa yang bisa dia lakukan ? meskipun ingatannya telah kembali pun dia takkan bisa melawanku.”batin Victoria sesekali menoleh ke samping menatap Gavin yang terdiam.
Di lain tempat, Matthew masih berada di kantor. Dia teriak sibuk melihat ponselnya dan mencari deretan nomor.
“Semoga saja nomornya masih aktif dan belum ganti.” Matthew mencoba menghubungi nomor telepon yang sudah dicarinya itu selama 10 menit.
__ADS_1
“tuut... tuut... tuut...”
“Aku beruntung sekali nomornya masih aktif dan bisa dihubungi.”gumamnya mendengar nada telepon tersambung dan menunggu telepon diangkat.
“Halo... siapa ini ?”jawab seseorang ditelepon setelah panggilan tersambung.
“Lawrence ini aku, Matthew teman kuliah mu dulu.”ucapnya menjelaskan untuk mengingatkan temannya itu kembali.
“Oh... Matthew... ya aku ingat. Sudah lama sekali kita tidak bertemu dan bicara. Ada apa kau menelepon ku ?”
“Sebenarnya aku ingin meminta bantuan mu. Ada sedikit masalah dengan putra ku. Apa kau bisa mengembalikan ingatan seseorang yang amnesia ?”jawab Matthew sambil menatap ke sekitar dan waspada jika saja ada yang mendengarnya, namun ternyata aman tak ada siapapun di sana selain dirinya.
“Tergantung tingkatannya separah apa. Kapan kau ada waktu kembalilah dengan putramu maka aku akan memeriksanya terlebih dulu.”
Matthew tanya senang sekali mendengar jawaban temannya itu yang bisa menyembuhkan seseorang yang mengalami amnesia.
__ADS_1
“Ya lusa aku akan main ke tempatmu.”jawabnya singkat dan segera membuat rencana karena dia harus bergerak cepat sebelum istrinya bertindak.
BERSAMBUNG...